Love You Burik!!

Love You Burik!!
Bertemu Jodoh?



Tepat tiga langkah barulah Reyya bereaksi.


"Berperan amat sih!"


Reyya berbicara sambil menghentakkan kaki keras-keras dan mendahului Fadil yang tadi lebih dulu jalan.


Ya begitulah jika perawannya sedang kesal. Sudah biasa, basi tingkahnya.


Fadil no komen, dia mengikuti saja Reyya dari belakang.


***


Jedar


Jederr


Jedorrr


Duarrrrr


Suara petasan membuat semua orang riuh, mengiringi ledakan petasan tadi.


Genaplah sekarang acara tahun baru, tahun telah berganti.


Fadil diam-diam memejamkan matanya berdoa semoga semua hal di tahun ini, tahun yang baru saja datang lebih baik dari semua tahun-tahun hidupnya sebelumnya.


Dia juga berharap semoga Reyya mendapatkan jodoh yang tepat.


Agak lama meresapi semua doanya, kini Fadil baru membuka mata. Satu hal yang dia cari adalah Reyya.


Perawannya yang kini entah kemana.


Tadi dia dan Reyya bareng, duduk bersebelahan malah. Tapi, dasar Reyya dia pasti tidak suka keramaian macam sekarang. Hilanglah dia. Fadil kini yang kebingungan.


"Ya Tuhan, tambah lagi doa Fadil, semoga tahun ini Fadil ngga akan kena darah tinggi."


***


"Permisi, gabung boleh?"


Reyya mengerjap pelan. Dia lamat-lamat mendengar suara seseorang di dekatnya.


Saat Reyya sudah sadar baru dia melihat orang itu.


Pemuda dengan hoodie dan celana pendek, terkesan santai juga apa adanya. Ya, bayangkan ya di tahun baru pasti banyak orang pergi dengan baju baru juga tapi dia malah biasa aja.


Namun Reyya tidak perduli.


"Silahkan." Hanya itu jawaban wanita dengan sweeter panjang warna peach dan celana jens plus sandal jepit yang diam-diam Reyya beli di dekat warung sini tadi.


Asalnya dia itu di pakaikan Fadil sneakers tapi karena panas jadilah dia beli sandal.


Orang punya uang kok susah, begitulah pikiran Reyya.


Dan alasan kenapa dirinya di bangku taman dan terpisah dari Fadil, klise aja si, dia mengantuk plus tidak suka keramaian macam begini.


Ini bising, terlalu ramai dan membuat Reyya pening. Jadilah dia menjauh dari orang yang kini membuatnya sebal. Niatannya malah, Reyya akan pulang duluan dan kunci pintu agar Fadil tidur di luar.


"Lo sakit?"


Reyya menghembuskan napasnya panjang.


Duh, ada saja ya orang yang mengganggu waktu tidurnya?


"Hem." Reyya menjawab singkat. Biarlah, entah di dengar atau tidak, itu bukan urusannya.


"Mau gue antar ke rumah sakit? Atau mungkin beli obat di warung?"


Reyya sebal. Dai ingin marah tapi, masih ingatlah istilah keramahan dengan orang yang baru dia kenal.


Akhirnya Reyya terpaksa bangun dan menghadap laki-laki itu. Lalu dia terpaksa tersenyum.


"Ngga usah, makasih ya, tapi gue lebih butuh lo diem, sebab gue mau tidur. Sebentar.. aja," jelas Reyya dengan penekanan kata dimana-mana.


Tidak di sangka respon laki-laki itu, dia malah tertawa.


"Lo lucu. Semua orang senang liat kembang api yang meletus di atas sana lo malah asyik tidur. Kalau begitu mah, mending di rumah aja."


Reyya jadi terpancing, dia ingin mengeluarkan unek-uneknya soal si Fadil.


"Nah itu! Gue udah bilang ngga mau ikut tapi tetep di paksa. Ya terdampar lah disini."


"Itu alasan juga lo pakai sandal jepit?" Reyya refleks melihat kakinya. Saat netranya sudah melihat itu, barulah Reyya ingat kalau dia pakai sandal jepit.


"Ya, sebab sneakers itu gerah banget."


Reyya bergeser sedikit. Dia jujur agak panik jika ada orang yang sedikit-sedikit lebih aneh tingkahnya dari dia. Macam orang ini yang tertawa sendiri.


Pergerakan Reyya di sadari oleh laki-laki itu, dia kini menghentikan tawanya.


"Eh sorry sorry kalau buat lo takut, gue tadi kelepasan aja. Sebab lo beda, lucu juga."


Aneh, dimana coba letak lucunya?


"Gue Sanding. Nama lo siapa?" Tangan Sanding terulur hendak berkenalan dengan Reyya. Tapi Reyya agak ragu. Dia tidak suka informasi tentang dirinya tersebar begitu saja, apalagi dengan orang asing.


Agak lama tidak ada respon Sanding memainkan tangannya sambil merayu Reyya lewat jurus tatapan pria itu.


Tapi dasar Reyya. Dia tetap diam saja.


Bahkan dengan di tatap oleh Sanding begitu dia jadi semakin risih. Reyya memutuskan hendak pergi saja.


Namun, belum terealisasi tiba-tiba seseorang mengambil tangannya dan menempelkan pada tangan Sanding yang mungkin sedari tadi sudah pegal menunggu sambutan tangannya.


"Nama dia Reyya. Dia jomblo kok. Lo bahkan bisa langsung tembak dia."


Reyya mendelik. Dia langsung tanpa permisi mencubit lengan Fadil keras-keras.


Fadil gila! Dia benar-benar orang gila!


Fadil meringis. Dia ingin berteriak malah, tapi demi menjaga image Reyya dia menahan itu semua.


Hello... ini ada calon jodoh Reyya loh, dia tidak boleh kehilangan kesempatan ini tentunya lah.


"Tenang aja. Gue bukan pacarnya apalagi suaminya. Dia sodara gue. Emang dia itu masuk kelas extraordinary jadi lo jangan kaget ya, nanti juga biasa."


Fadil mengucapkan itu cepat dan setelahnya dengan cepat dia mengambil satu tangan Reyya lagi yabg sedari tadi mencubitnya.


Huh, Fadil lega. Walau masih sedikit sakit tapi ngga apa lah. Ibaratnya yang terpenting adalah pelanggan ngga kabur.


"Setuju si gue. Dia emang beda." Ucapan Sanding di barengi dnegan tawa kecilnya lagi.


Reyya yang mendengar langsung mengambil tangannya kembali.


Hih, dia kesal. Kok dia jadi kaya di jual ya sama si Fadil? Memang benar-benar menjengkelkan!


Reyya tau kalau Fadil diutus oleh Ayahnya untuk merubah dia jadi lebih baik dan setidaknya pantaslah di mata laki-laki. Tidak tomboy macam dirinya sekarang, tidak cuek bebek, pun selainnya yang umum ada pada perawan yang masanya menikah sepertinya ini.


Tapi, Reyya tidak mau. Dia ingin sendiri. Toh dia sudah punya segalanya. Hidup sendiri lebih damai juga.


Tapi eh tapi, kalau Reyya menolak sekarang walau dia bisa saja melakukan itu, pasti Fadil akan lebih rempong lagi, menyuruhnya menghadiri kerumunan begini entah berapa kali sampai Reyya menemukan yang di sebut Fadil jodohnya itu.


Oke baiklah. Jadi untuk meminimalisir betapa sengsara hidupnya di masa mendatang dia mencoba berpikir satu hal.


Reyya tersenyum.


Reyya tiba-tiba menjabat tangan Sanding lagi.


"Betul! Gue ini sodaranya. Gue juga masih jomblo, dan tau ngga sih lo Sanding," Reyna menjeda ucapannya sebentar.


Refleks sanding menggeleng. Reyya tersenyum lebih manis. Kemudian Reyya mendekat. Dia mencondongkan diri pada Sanding.


"Gue juga lagi cari jodoh." Reyya menjauhkan badannya lagi dan terakhir dia berkedip nakal.


Sungguh melihat itu Fadil jadi geram sekali!


Dia melotot menyaksikan kegilaan Reyya. Banyak pertanyaan di benak Fadil.


Ini Reyya kerasukan atau apa? Perasaan tadi dia tidak mau berkenalan, bahkan bersalaman saja tidak mau, tapi satu detik dia berubah.


Sangat mencengangkan.


Sanding tersenyum, "boleh minta WhatsApp lo?"


Reyya menoleh pada Fadil dia tersenyum devil diam-diam.


Yess, ini seru, dia akan buat Fadil kelimpungan dengan tingkahnya.


.


.


.


Bersambung..


Semoga sukaa yaaa


Love all.