Love You Burik!!

Love You Burik!!
Di Pecat



"Gue ada ide! Gimana kalau kita adain tantangan buat lo Rey."


Semua orang kini menatap Riko. Rida dengan tampang bertanya, Reyya b aja dan Fadil yabg kini menahan napas.


Fadil tau kalau Riko sudah begitu komuknya dia pasti ada hal yang akan di lakukan.


Cepat-cepat Fadil menolak hal itu.


"Nggak boleh!"


"Boleh."


Tapi naasnya jawaban Fadil berbenturan dengan Reyya. Jadilah senyum Riko kembali lebih menyebalkan. Huh, Fadil ingin sekali menamparnya.


"Apaan sih Dil, gue kok yang di tanya malah lo yang nyolot." Sinis Retta berkata pada Fadil. Kemudian dia menghadap Riko dengan wajah tersenyum tipis, "Gue terima kok, Rik."


Fadil memutar matanya malas. Kalau seperti ini tentunya dia tidak bisa mencegah Reyya lagi.


Baiklah dia hanya bisa melihat apa yang akan terjadi.


"Oke! Gue mau lo ambil alih dulu toko ini. Jadi Fadil sekarang ngga punya wewenang apapun. Gue percaya lo bisa handle semuanya lebih baik dari Fadil."


Reyya jadi tertantang.


"Oke. Tapi gue mau ada keringanan, biar Fadil ikut campur juga."


Fadil menoleh pada Reyya. Hiks, dia terharu mendengar itu. Ternyata Reyya lebih menghargainya.


"Ikut campur bantu gue sebagai kacung."


Riko ngakak, Rida menggeleng ikut sedih di pihak Fadil. Beginilah definisi sudah di sanjung lalu di hempaskan! Sakit lah, masa nggak.


Fadil manyun ngga enak banget dilihat Reyya yang mati-matian menahan tawa.


"Kalau itu boleh banget kali! Biar sekali-kali ye kan, bos jadi pembantu."


Tambah panas kuping Fadil. Akhirnya dia tidak betah melawan dua setan sekaligus.


"Gue mau pulang! Selamat malam!"


Riko tergelak lagi dan Reyya tersenyum melihat tingkah Fadil yang jijay abis.


Tapi Reyya tidak tega dia jadi menyusul Fadil.


"Gue pamit juga ya guys."


"Hati-hati Rey. Dan kasian tuh Fadil. Ademin nanti ya." Rida berucap lembut. Rida berkata begitu sebab melihat raut Fadil yang nampak benar-benar macam di permalukan. Kasihan dia.


"Ashiap. Jangan khawatir. Nanti kalau tokonya udah ramai juga dia cengar-cengir sendiri."


Reyya akhirnya keluar toko dan menyusul Fadil yang sepertinya pulang sambil berlari. Sebab jejak laki-laki itu tidak Reyya temukan.


Padahal Reyya juga lari loh.


"His, nyusahin aja. Kalau mau ngamuk mah ngga kaya anak kecil gini juga."


Reyya berjalan menyusuri jalanan arah yang tadi. Dia tidak bawa ponsel jadi Reyya berjalan dalam kegelapan.


"Duh ini Kemana ya arahnya?"


Dan terjadi lagi..


Reyya lupa dimana jalanan tempat dia biasa pulang. Sungguh Reyya sangat lemah jika di suruh menentukan arah apalagi di malam hari begini.


Jadilah Reyya berjalan hanya dasar menebak, namun menjadikannya tambah salah arah.


Dia jadi menuju ke daerah yang amat sepi tanpa satu orangpun yang berlalu-lalang.


Reyya tidak takut dia hanya, ngeri.


Reyya tau semua hal buruk itu biasanya muncul dari pikiran sendiri. Oleh sebab itu tidak boleh membuat spekulasi yang tidak baik.


Reyya memutuskan untuk lurus jalan terus. Dia yakin kok akan ada jalan menuju rumahnya. Sebab dia mengingat sedikit-sedikit jalan yang pernah dia lalui ini.


Reyya melangkah menyusuri malam dengan lebih relaks. Pikirannya kini tidak nething lagi.


Tapi baru beberapa langkah Reyya tiba-tiba merasakan ada yang menepuknya.


Sebab tidak ada suara, Reyya tidak langsung berbalik, dia diam, berpikir harus kabur atau melawan.


Sialnya keberaniannya malam itu seolah pudar. Dia takut jadilah lari solusi yang tepat, tapi pertanyaannya lari kemanan?


***


"Reyya kemana sih?! Gue udah nungguin lebih dari sepuluh menit! Nanti lama di luar dikira gue nungguin pacar ngga bukain pintu. Kan mencemari nama baik namanya. Masa Fadil sama Reyya sih? Kan gue bapaknya." Fadil tertawa dengan ucapannya sendiri.


Persis kaya orang kurang se-on. Jadinya lebih miring ketimbang orang waras lainnya.


Atau mungkin efek lelah plus di gigit nyamuk-nyamuk nakal? Bisa jadi. Sebab sejak menunggu Reyya pulang Fadil selalu teplak sana teplak sini, mengusir nyamuk kembaran vampir itu. Cuma bedanya ngga punya taring.


Sampai Fadil jenuh setelah sepuluh menit stag aja hidupnya jadi santapan nyamuk, dia berdiri dan memutuskan untuk menyusuri jalan lagi dan melihat dimana sebenarnya perawannya terdampar.


"Jangan-jangan dia di culik?" Sontak langkah Fadil terhenti. Dia jadi agak was-was. Tapi pemikiran lainnya datang. Mana mungkin Reyya di culik, yang ada penculik yang kalah mental sama Reyya.


"Dia kan tangguh. Dua puluh tujuh tahun berdiri di kakiĀ  sendiri. Ngga akan ada masalah."


Fadil membuat spekulasi positif agar bisa menetralkan kecemasannya. Walaupun agak susah tapi bisa lebih tenang. Sampai suara seseorang menginterupsi pemikirannya tadi.


"Heh, lu orang!! Belum ada satu minggu lu orang udah mau celakai anak oe?! Lu becus nggak sih kerjanya?!"


Fadil berbalik dan sekarang dia syok bukan main.


"Ko-koko?"


"Apa heh?! Lu orang buat anak Oe mau di kroyok rame-rame, lu orang ada di mana?! Katanya perawat tapi ngga bertanggung jawab?! Lu orang udah janji sama Oe, tapi di percaya malah lu orang buat gedek aja! Sana lu orang pergi! Oe pecat lu orang sekarang juga! Dan dana sebagai investor yang Oe udah kasih balikin dalam waktu satu bulan! Ngga ada bantahan! Cepet lu orang pergi!"


Fadil bingung. Dia ingin menjelaskan tapi memang posisinya dia yang salah.


Fadil ingin berkata membela diri juga susah.


Fadil melirik Reyya, yang dilirik datar-datar aja mukanya.


Sumpah dia pengin banget maki-maki Reyya!


Ya walaupun ngga ada satu minggu dia kenal Reyya dan baru mau tidur satu kamar tapi kan, seenggaknya Reyya cegah ayahnya kek, bela Fadil kek. Ini malah diam aja!


Fadil kalau bisa ingin kutuk Reyya jadi batu!


Fadil menghela napas menetralkan emosinya.


Sudahlah, kalau dia mencak-mencak juga ngga guna, walau dia bicara juga ngga ada faedahnya.


Lebih baik pergi tanpa salam perpisahan terakhir dengan anak asuhnya yang kurang di hajar itu.


"Maaf sebelumnya, saya permisi Ko."


Fadil benar pergi tanpa melirik Reyya sedikit pun. Dia yang awalnya khawatir dengan keadaan perawan satu itu yang katanya mau di jadikan giliran, kini lenyap sudah. Tidak ada kata itu dalam otak Fadil.


Dia sekarang malah kecewa dengan Reyya.


Apa segitu tidak bermaknanya Fadil setelah seminggu kurang dia bersama Reyya? Apa Reyya tidak menganggapnya sebagai apapun? Ya apa kek, bukan tanpa status begini lalu bak di buang di pinggir kali, sungguh miris sekali.


"Ekspektasi gue terlalu tinggi."


Fadil berjalan cepat menuju gerbang pintu Reyya. Dia memantapkan diri agar tidak akan pernah jalan di depan rumah ini lagi.


Seumur-umur ini adalah kali pertama dia tidak dianggap. Biasanya dia yang begitu pura-pura tidak menganggap seseorang untuk sok Jual mahal tapi, duh, sekarang malah seperti boomerang. Fadil merasakan sakitnya.


Saat Fadil satu langkah lagi akan keluar dari gerbang, suara Reyya menghentikan langkahnya.


"Balik Sadil! Masuk rumah! Gue sekarang yang jadi investor lo."


Fadil bingung. Maksudnya apa coba?


Dia dilema memilih ucapan siapa.


Apa yang harus Fadil lakukan?


.


.


.


Bersambung...


Holaaa


Semoga suka yaaa


Love all.