
Sekarang Fadil dan Reyya sedang duduk di satu kursi. Yap benar-benar satu kursi sebab tadi Reyya mengantuk dan merengek jika di tinggal Fadil ke luar. Alhasil mereka duduk di satu kursi berdua. Untung kursinya agak lebar.
"Rey Lo kalau tidur nanti aja," ucap Fadil sambil membenarkan kepala Reyya di bahunya yang sering jatuh saking ngantuknya.
"Diem ya Dil. Ini juga gara-gara kerempongan lo." Reyya menjawab seadanya.
Reyya yang memang jadwalnya istirahat dengan tidur jam satu siang ini tentu tidak akan kuat menunggu seprai yang di pesan dadakan tadi sampai. Belum lagi di cuci di tukang clean servis kilat, huh sudah habis malah waktunya untuk menunggu ketimbang tidur.
Alhasil bahu Fadil yang jadi korbannya.
"Gue ngga mau aja nanti lo tambah gatel-gatel Rey. Ini nggak bagus buat kulit lo."
Reyya tidak menjawab, dia malah lebih mengeratkan pelukannya pada Fadil supaya lelaki itu sesak napas dan diam.
"Eh, Rey! jangan kencang-kencang peluknya!!"
"Makannya lo diem ngapa Dil?! gue cuma mau tidur."
Huh, Fadil mengalah. Dia melihat Reyya sekilas yang kini sedang memejamkan mata menuju tidurnya. Sepertinya Reyya baru istirahat setelah kerja dari pagi, kasihan juga dia jika di ganggu atau di suruh menunggu nanti.
Tidak lama bel rumah berbunyi.
"Duh Rey, gue mau buka pintu. Lo tidur di meja rias dulu ya?"
Reyya diam saja. Tapi setelah Fadil tilik lagi meja riasnya, sama kotornya dengan lantai kamar ini.
Oke baiklah tidak ada cara lain selain menggendong anak perawan ini bersamanya.
"Baru kali ini gue di rempongin sama cewek, biasanya gue yang bikin rempong mereka."
Dengan telaten Fadil menggendong Reyya sampai pintu depan. Untung saja orang yang mengantar itu mau menunggu.
"Maaf ya Bu, lama menunggu," ucap Fadil sambil tersenyum.
Sebentar ekspresi ibu setengah abad ini --sepertinya-- itu melongo. Yah, Fadil tau apa yang dia, ibu itu lihat saat ini.
"Hehe, Ibu, ini anak majikan saya lagi tidur ngga tega di tinggal jadi sekalian di bawa."
Ibu itu tersenyum menggoda. "Masa? kelihatan lo kalian habis ngapain. Masa cuma antara kacung sama anak majikan, sih?" satu kedipan di dapat Fadil dari ibu tadi.
Dia sekarang yang melongo. Memeng mereka terlihat habis ngapain ya? dan kacung? ya lord dirinya rendah sekali.
"Dimana kamar mandinya ganteng? biar Ibu bersihkan semua kekacauan kalian secepat kilat!"
'Kekacauan kalian' sangat ambigu sekali bagi Fadil. Tapi, ya sudahlah. Dia tidak mau berdebat sambil gendong kingkong begini. Berat! nanti ngga menang debat, encok yang di dapat.
Fadil menuntun Ibu tadi ke kamar mandi. Setelahnya dia duduk sebentar di kursi meja makan dapur yang sayangnya, juga sama kotornya.
"Gila. Ini rumah kaya ngga ada penghuninya, debu bisa sampe setengah senti gitu!"
Kesal fadil tuh. Dia tidak ingin duduk tapi dia capek, duduk tapi nanti kotor juga. Pantes Koko cari perawat untuk anaknya. Dia pasti kesal sekali setiap hari melihat Reyya yang mungkin hanya main di depan PC saja tanpa melirik lingkungan sekitarnya. Sampai dapur sendiri sekotor begini.
"Ini si gue dobel kerjanya, bukan cuma jadi perawat, tapi plus pembantu rumah tangga."
Sekian banyak mengomel setelah menyadari posisinya saat ini, Reyya bahkan tidak terganggu sama sekali dengan ucapan Fadil. Heran kan? Sama Fadil juga.
Huh, kalau bicara soal Reyya, walau baru satu hari membuat Fadil dongkol plus penasaran juga. Sebenarnya seperti apa kehidupan Reyya setiap hari? Kenapa dia tidak tinggal saja dengan Koko yang bisa di bilang cukup mampu malah lebih, jika hanya sekedar menampung satu anggota lagi.
"Ada apa sebenarnya dengan semua hal ini? gue makin penasaran."
Fadil akan melakukan 'sambil menyelam minum air' dia menyelidiki kasus ini sambil menjalankan waktu tugasnya sebagai perawat. Semoga saja fakta yang ada tidak banyak memberatkan pikiran kedepannya. Semoga saja prasangaka buruknya tidak nyata.
***
"Udah selesai!! boleh lanjut lagi deh kalian. Kalau capek dan mau panggil PB clean servis lagi, saya dengan senang hati melayani."
Totalitas tanpa batas. Macam Fadil saat menerangkan proporsinya kemarin malam. Ah, dia jadi teringat waktu itu.
Ibu tadi tersenyum lebar.
Fadil sudah memindahkan Reyya ke kasur, sekarang dia mengantar Ibu clean servis ini ke depan sebagai penghormatan saja. Bagaimana pun kita harus memberikan satu sikap santun pada semua orang.
"Hati-hati ibu di jalan."
"Pasti! Eh, saya punya saran," Ibu tadi yang sudah hampir sampai ke tempat motornya berada berbalik lagi menuju tempat Fadil berdiri.
"Mandi dulu sebelum mulai lagi. Pakai sabun paling wangi, pasti nanti dia klepek-klepek, dan jadi deh!! lalu jangan lupa telpon saya lagi kalau sudah selesai!"
Fadil meringis. Dia sepertinya sudah mendapat kedipan tiga kali dari Ibu-ibu hari ini. Sungguh hari yang sial.
"Bu.. Bu, dia aja taunya saya gay, mana bisa begituan?"
Kalau Ibu tadi dengar sudah di tertawai Fadil dari tadi.
Tafsir Ibu clean servis sungguh jauh dari garis realitas kehidupan.
***
Fadil kini sudah sampai di kamar Reyya lagi. Dia melanjutkan bersih-bersihnya.
Tadi sebelum ada Ibu clean servis dia hanya menumpuk semua pakaian kotor Reyya di kamar mandi. Jadi sebenarnya belum dia bereskan sama sekali kekacauan kamar perawan ini.
Fadil mengambil sapu dan kini membereskan lantai kamar. Di sapunya semua bungkus makanan ringan juga minuman yang berserakan. Ada laptop juga yang masih menyala dan di biarkan saja. Ada beberapa tumpahan makanan dan minuman yang sampai berbekas di lantai.
Reyya benar-benar jorok! untung Fadil punya alasan bertahan, jika tidak dia sudah hengkang sedari tadi siang.
Oke jangan membuat panas suasana. Dia hanya cukup membereskannya saja dan nanti dia akan pulang.
"Sabar Dil, sabar.. habis ini lo bisa pulang dan tidur seenaknya di rumah."
Meyakinkan dan terus meyakinkan lagi. Tidak bosan pikiran Fadil berkata sabar. Dari mulai membersihkan kamar sampai selesai dan lanjut membersihkan kamar mandi luar plus dapurnya yang menyambung jadi satu ruangan.
Semuanya kinclong setelah mungkin dua jam lebih Fadil bersih-bersih.
"Huhhh akhirnyaaa.."
Cuci kaki, cuci tangan dia langsung kembali ke kamar perawan yang naasnya belum bangun juga.
Fadil mencebik, katanya time ia money tapi malah di buat untuk molor saja waktunya.
"Rey, bangun, ini udah sore gue mau pulang. Rey.."
Beberapa kali Fadil mencoba membangunkan Reyya tapi sayangnya perawan itu kebo juga. Dia tidak merespon sedikit pun.
Sebab lelah, kini Fadil malah tidak sadar perlahan terlelap di samping Reyya.
Hoho.. apakah ucapan clean servis itu mungkin saja menjadi kenyataan?
.
.
.
Bersambung...
Hayo apa yang terjadi berikutnya??
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Love all.