Love You Burik!!

Love You Burik!!
Mampus Fadil



Paginya Fadil ke rumah Reyya jam tujuh. Dia sudah siap dengan semua hal yang di butuhkan perawannya itu.


Tadi malam Fadil sudah membeli bubuk obat anti gatal. Walau belum tau penyebab pasti Reyya belang-belang macam zebra sebab si doi ngga mau jawab kalau Fadil tanya, jadi otak Fadil berpikir lebih baik menyiapkan semuanya sesuai peluang-peluang penyebabnya.


Nanti kalau salah atau ngga cocok, gampang beli lagi.


Dia ini sekarang harus banyak pekanya dengan Reyya yang ternyata super cuek bebek. Bukan sedikit lagi seperti yang di ucapkan Koko.


Fadil bukan hanya berbekal bubuk anti gatal dia juga ada bekal lainnya. Mulai dari bekal makan sampai strategi yang sudah dia rancang sejak malam hari. Fadil ingin status perawatnya cepat selesai jadi dia tidak boleh jalan kaki lambat dalam menyusuri trek kehidupan ini, tapi dia harus berlari.


Fadil sampai di rumah, bagus jika di lihat dari depan ini. Seperti sebelumnya dia memencet bel dulu, tapi sayangnya sampai lima kali pun dua kali lipatnya dia tidak mendapatkan jawaban.


"Reyya kupret! pasti masih molor!" ingin sekali Fadil banting semua hal yang dia bawa saat ini. Dongkol lah dia. Ini Fadil di kerjain atau apa? kok sikap Reyya seperti bukan orang dewasa yang punya pekerjaan? masih molor di jam setengah delapan?!


Pertanyaannya, kalua dia kerja perusahaan mana yang mau mempekerjakan karyawan macam si Reyya ini?


"Sabar.. sabarr.. kata pepatah, orang sabar perusahaannya lebarrr jadi sabarr.."


Mulut Fadil komat-kamit membacakan mantra agar dinding kesabarannya bertambah tebal. Dia juga sambil berpikir untuk caranya masuk bagaimana.


Ini situasi yang serba susah.


Pertama Fadil tidak punya nomor Reyya, jadi dia tidak bisa menelpon perawan itu.


Kedua dia juga tidak tau nomor telepon rumah, itu pun dia tidak yakin ada di rumah ini atau tidak.


Ketiga, tidak ada siapapun di rumah ini kecuali Reyya!


Jadi gimana mau meminta tolong? siapa yang akan menolong? minta tetangga Fadil tidak berani nanti dia di sangka calonnya Reyya lagi.


Masih dengan komat-kamit dia melirik jam dan menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit. Dua puluh menit lagi menuju jam delapan. Bayangan perusahaan yang ambruk kembali lagi, membuat Fadil mendesah dengan raut yang amat nelangsa.


Duh, gini amat hidupnya ya. Baru punya toko satu saja sudah di hadapkan dengan peliknya mahluk bumi yang paling sempurna kedudukannya ini.


Fadil mondar-mandir. Baik kakinya maupun otaknya kini macam mengeluarkan asap. Kasat pun menyesakkan. Tiba-tiba Fadil berhenti. Dia mendongak ke lantai dua.


"Satu-satunya cara ya dari lantai dua. Gue nanti lewat balkon dan dobrak aja jendela kamar kosongnya. Kata Reyya semua kamar kecuali kamarnya ngga pernah di kunci."


Tanpa ba bi bu, Fadil merangkak menuju ke lantai atas lewat saka rumah Reyya yang syukurnya tidak macam di film-film yang tinggi besar. Ini masih amanlah untuk orang manjat macam maling kayak Fadil ini.


Dengan sekuat tenaga Fadil akhirnya sampai. Dia menuruti otaknya sesuai rencana pertama tadi yaitu, mendobrak jendela kamar atas. Namun, saat akan di dobrak, tiba-tiba rasa dongkol kembali muncul.


"Ohhh pantesan ngga denger!! tidurnya kebo tambah tempatnya di lantai atas lagi! makin kebo kuadrat itu perawan!!"


Kabut dongkol menyelimuti Fadil, dia tidak pandang strata apalagi gender saat ini. Dobrak ya dobrak lalu menjalankan tugas tuan putri, selesai! dia akan resign setelah ini!


Fadil rasa dia tidak di hargai sama sekali saat ini. Walau sebagai perawat plus kacung tapi ya dia mau kalau Reyya sedikit menurut dengan perkataan Fadil.


Pokoknya Fadil ingin membangunkan paksa Reyya sekarang!


Tapi nyatanya setelah sudah dengan mudah mendobrak jendela yang untungnya jauh dari kasur tempat tidur Reyya, Fadil yang akan marah-marah dan minta resign di kejutkan dengan penampilan Reyya saat ini.


"Ya ampun Reyya!! kulit lo kenapa merah-merah begini?!"


Tentu tidak ada jawaban. Jika ada yang jawab horor jadinya.


"Agak panas juga. Ishh.. lo kenapa si Rey." Fadil sekarang khawatir. Dia melihat tempat dimana Reyya tidur. Untungnya ini tidak kotor macam lantai bawah. Mungkin ada yang membersihkan sebelum Reyya tidur disini.


Ini kondisi benar-benar darurat.


Fadil mendobrak pintu dulu. Dia menggendong Reyya untuk ke kamar bawah agar dekat dengan dapur. Fadil akan mencoba mengompres Reyya.


Sebelum mengompres dia teringat barangnya di depan, dengan cekatan dia membuka pintu utama dan mengambil semua barang-barangnya yang telah di siapkan.


Selesai mengambil dan mengatur semua. Dia menuju dapur dan tinggal fokus mengurusi Reyya.


"Moga aja bisa normal lagi."


Fadil sebenarnya takut-takut juga bingung. Ini jelas bukan hal sepele untuk dia diam saja tanpa memberi tahu pada keluarga Reyya soal keadaannya tapi dia juga ragu sebab Reyya seperti type anak yang tidak mau merepotkan orang tua. Dia jadi takut salah pilih keputusan. Alhasil dia bungkam saja dan fokus menyembuhkan panas Reyya dulu.


"Rey bangun dong.. gue bingung kalau lo ngga bangun-bangun kayak gini.." Fadil jujur. Dia saat ini bahkan sambil mewek berharap Reyya cepat bangun mendengar dia yang euhh begini. Tapi nyatanya perawan itu masih diam saja.


Fadil makin mewek.


Duh dia harus bagaimana dan harus apa lagi?


Fadil sudah kompres. Dia juga sudah menghubungi dokter untuk ke rumah Reyya sekarang. Tapi kedua hal itu belum membuahkan hasil juga.


Reyya masih panas, bintik-bintik macam cacar itu juga tidak mau hilang. Pun dokter saat pagi begini belum mulai dinas. Kata asistennya dia masih setengah jam lagi konfirmasi pada dokter untuk datang tepat waktu.


Ya ampun, tepat waktu bagaimana? kan butuhnya sekarang. Fadil jadi makin pusing dan bingung di tambah nethink soal kondisi Reyya pun perusahaannya.


Sampai-sampai Fadil memikirkan dan menyambungkan kejadian tempo lalu soal grape-grape guling. Dia berpikir bahwa gara-gara ulahnya Reyya jadi begini.


Makin paniklah si Fadil. Berulang kali menelpon asisten dokter yang Fadil pesan tadi, tapi tidak kunjung mendapatkan respon.


Entah pikiran dari mana tiba-tiba Fadil mengucapkan begini, "Reyyy! ih gue janji deh gue bakal minta maaf soal grape-grape guling kemarin! gue janji kalau lo bangun gue mau cerita dan minta maaf. Janji Rey!!"


Mungkin menurut Fadil Reyya akan bereaksi dan langsung sembuh.


Dan di luar dugaan. Perawannya itu menyahut,


"Gue udah bangun. Gue tagih janji lo nanti."


Mampus Fadil!


.


.


.


Bersambung...


Semoga suka yaa


Jangan lupa tinggalkan jejakkk


Love all.