Love You Burik!!

Love You Burik!!
Diawasi Everytime



"Gue udah bangun. Gue tagih janji lo nanti."


Fadil menoleh. Sontak senyumnya mengembang. "Reyya!!" Fadil berteriak sambil langsung memeluk Reyya girang.


Sebegitu paniknya perawat satu ini dengan Reyya. Fadil bahkan sampai tidak ingat apa yang dia janjikan tadi dengan perawannya itu. Sekarang pokoknya yang dia tau Reyya sudah sadar dan otw sehat!


"Gue bingung banget tau nggak! lo kenapa si segala tidur di atas? mana kulit bintik-bintik begitu. Udah belang Rey jangan tambah warna lagi kulit lo, nanti keramean, dikira pasar lagi. Mana mau jodoh lo dateng kalau begitu kondisinya?"


Reyya sebenarnya masih lemas tapi dia tidak mau kalah argumen dengan Fadil. Mulut lakik satu ini benar-benar butuh di hajar.


"Cocok banget lo jadi lambe turah sumpah. Siapa juga yang kirim makanan seafood malam-malam?!"


Fadil diam sebentar. Dia berpikir korelasi antara bintik-bintik merah dengan seafood. Tidak lama otaknya konek.


"Lo alergi seafood Rey?! ya ampun."


Reyya baya memutar bola matanya malas. Kan, emang faktor umur gitu. Reyya yang malas kini kembali tidur lagi.


Semalam dia itu sebenarnya tau kalau alergi seafood tapi sudah kepalang lapar pun malas keluar rumah juga kemalaman untuk DO jadilah Reyya memakan seafood yang sialnya enakk sekali, membuat Reyya jadi tidak tahan untuk menghabiskan semuanya.


Dan hasil dari makan enak ya begini. Pukul dua pagi dia mulai gatal-gatal. Sampai Reyya ke kamar atas dan mengikat tangannya sendiri untuk tidak bergerak lagi.


Memang menyiksa tapi Reyya tau dia yang berbuat maka dia yang harus bertanggung jawab juga. Ini sudah hukum alam.


"Entah lo teledor atau sengaja, tapi Rey ini nggak baik buat kesehatan lo. Kalau lo mau seharusnya makan roti aja Rey."


Tidak ada sahutan saat Fadil bicara panjang lebar begitu.


Fadil menghembuskan napasnya panjang. Dia tau Reyya memang suka begini seenaknya saja meninggalkan obrolan.


"Yaudah. Mulai sekarang gue tinggal disini aja. Nanti gue ngomong sama Koko. Lo kalau di biarin sendiri bisa nambah warna lagi itu kulit. Gue yang repot kalau jodoh lo nggak ketemu ketemu."


Setelah mengucapkan isi pikirannya Fadil berlalu pergi entah kemana Reyya tidak perduli.


Yap, sebenarnya Reyya ini belum tidur. Dia hanya malas membahas saja kejadian yang sudah berlalu. Dan lebih malas lagi kalau Fadil mengomentari fisiknya yang dia sambungkan dengan jodoh.


"Udah bilang gue ngga mau ketemu jodoh gue."


***


"Ayo Rey, makan dulu terus lo minum obat."


Fadil dengan telaten menyuapi Reyya yang saat ini syukurnya mau diajak kompromi. Dia mau makan, dia juga mau menurut untuk tidak bekerja dulu hari ini. Terlepas, si Reyya punya pekerjaan atau tidak aslinya, Fadil bersyukur saja sebab manusia cuek ini mau bekerjasama.


Tadi dokter yang dipanggil Fadil benar datang tepat pukul setengah sembilan. Dia memeriksa Reyya dan memang betul ini akibat alergi seafood.


"Ini akibat alergi seafood. Sebaiknya jangan makan seafood sampai alergi ya benar-benar hilang. Selain itu saya rasa Nona kurang gerak atau olahraga."


Saat mendengar penuturan dokter tadi Fadil jadi makin yakin kalau kerjaan Reyya cuma di depan PC aja. Okelah, tugasnya kali ini bertambah lagi, yaitu membuat Reyya mau untuk sedikit melek akan kesehatan badannya dan aset untuk jodohnya kelak itu.


Suapan ke empat Reyya lahap dengan tenang. Fadil menghembuskan napas, "Rey, kita ganti pola hidup lo ya? lo udah janji untuk nurut sama gue kan? jadi apapun program gue buat new life pola, lo harus nurut. Right?"


"Gue pernah bilang kalau gue cocok juga. Kalau pola lo ngga cocok ya gue tentang lah."


"Ini urgent, Rey."


Reyya bukan orang yang suka berdebat. Dia jadi diam saja. Fadil kembali menghembuskan napasnya. Susah kalau begini. Dia harus banyak akal agar Reyya mau menuruti apa yang akan dia lakukan.


Rasanya Fadil lelah. Tapi dia kasian juga dengan Reyya. Ingin makan enak saja sampai begini. Ditambah sifatnya yang keras plus cuek, apa dia tidak merasa kesepian ya?


Fadil memantapkan diri. Dia tidak akan menyerah secepat ini.


Selesai entah ke suapan berapa Reyya ingin tidur lagi.


"Jangan tidur dulu Rey. Mending lo berendam air hangat gimana? gue ada obat gatal mungkin cocok buat sedikit mengurangi gatal lo."


Reyya mengangguk. "Nanti gue mau tidur sebentar."


"Oke lima menit. Gue siapin semuanya dulu."


Fadil menyiapkan semua hal. Mulai dari merebus air sampai mengatur suhu agar tidak terlalu panas. Selanjutnya Fadil mengikuti instruksi penggunaan obat. Lalu mencampur semuanya sampai siap di gunakan.


Senyum Fadil mengembang. Selesai sudah semuanya.


"Rey, lo udah bangun?"


Reyya nampak masih tidur dalam selimutnya. Fadil bergerak mendekat dan mencoba membangunkan Reyya.


"Iya Fadil, bentar." Reyya perlahan bangun dan mengerjap sebelum menuju ke kamar mandi untuk berendam.


"Lo rendaman aja sekitar satu jam supaya meresap kaya di marinate, kalau di makanan itu. Nggak bakal dingin kok, kan ini air hangat."


Reyya agak ragu melihat air dengan warna ungu yang sekarang ini memenuhi bethubnya. Tapi anggukan Fadil meyakinkan Reyya.


Oke baiklah. Dia akan mencoba menggunakan cara begini.


"Kalau udah panggil gue ya." Reyya tidak menjawab. Fadil keluar saja sendiri. Dia tentu masih banyak pekerjaan.


Sampai di kamar Reyya lagi. Dia kini membersihkan kamar perawannya itu. Fadil jadi ingat kata-kata dokter saat Fadil tanya cara paling ampuh untuk menghilangkan belang-belang macam di kulit Reyya.


"Bisa dengan salep tapi ya tentu akan sangat bagus jika menghindari semua makanan yang memicu itu. Ini kasusnya kan, alergi seafood tapi si pasien suka seafood. Jadi harus sangat di awasi."


Harus di awasi. Fadil mengangguk mengingat kata-kata itu.


"Oke mulai sekarang gue akan awasi lo everytime."


***


Sudah sekitar satu jam lebih, Reyya berendam dalam air. Tadi awalnya dia agak ragu tapi setelah sekarang rasanya emang lebih baik ketimbang sebelumnya. Rasa gatel Reyya sudah hilang. Lebih segar juga. Memang pepatah jangan menilai sesuatu dari covernya itu nyata si, sebab sesuatu yang mungkin tidak meyakinkan bukan berarti artinya demikian.


Reyya kembali ke kamarnya sendiri. Dia tidak memanggil Fadil sesuai keinginan perawatnya itu.


Sampai di kamar. Reyya membuka pintu dan perlahan melihat isi kamarnya sekarang. Niatan ingin berganti baju kini malah di kagetkan dengan semua hal yang mencengangkan.


"Fadil, lo apain kamar gue?"


Fadil menoleh. Dia yang sedang mendorong lemari kecil berhenti sejenak.


"Reyya? lo keluar dulu Rey, disini banyak debu."


Reyya memincing. Enteng sekali Fadil berucap sambil meneruskan pekerjaannya.


"Lo ngapain kamar gue Fadil?!"


Fadil menghembuskan napasnya, kembali dia berhenti dalam kegiatannya saat ini.


"Gue mau awasin lo everytime. So gue mau tidur di sini."


Fadil gila.


.


.


.


Bersambung...


Semoga suka yaa


Jangan lupa tinggalkan jejak


Love all.