
"EKHMM!!"
Fadil mengerjap. Dia mengusap wajah kasar mengharap otaknya normal kembali.
"Siapa lo?"
Ah, Fadil menoleh dan melihat perempuan dengan pakaian kaos kebesaran juga celana big size yang membuat dia seperti orang-orangan sawah plus kumis agak tebal itu.
Aneh, juga buat Fadil ingin ngakak. Tapi Fadil masih ingat investornya juga nasib perusahaannya jadi dia mencoba berpikir normal lagi.
"Selamat siang, perkenalkan saya Fadil Ramdani, perawat Anda sekarang. Saya di tugaskan langsung oleh Koko, Ayah anda."
"Oo perawat baru.."
Fadil mengangguk. Dia juga menyunggingkan senyum semanis mungkin.
Kata orang kesan pertama itu harus baik, supaya semua urusan kedepannya bisa lancar.
"Mingkem lo. Pasta gigi lagi mahal."
Eh, Fadil di sindir ya?
Fadil melihat anak Koko itu kini masuk tanpa menunggunya. Dia ikut saja masuk. Perawat kan harus menjaga dan merawat majikannya.
Saat masuk rumah dua lantai ini, Fadil akui ini rumah yang bagus. Interior juga desainnya benar-benar ala rumah zaman sekarang, Fadil rasa juga ada aksen ala klasik disini.
"Siapa nama lo?"
"Fadil Ramdani."
"Usia lo?"
"27 tahun."
"Oke cukup. Ayah bener cariin sesuai umur gue. Itu lebih baik ketimbang sama nenek-nenek."
Fadil diam saja saat anak majikannya itu bergumam sendiri.
Dari gumaman tadi, Fadil tau satu hal bahwa sebelum dia ada mungkin beberapa orang atau hanya satu orang yang merawat anak majikannya ini.
Tapi, merawat macam apa ya?
Dilihat dari fisik saja dia itu sehat dan bugar kok. Cuma style dan juga kumisnya itu yang agak buat merinding.
"Lo tau nama gue?"
Fadil mengangguk. "Reyyana Dwi Sesa umur 27 tahun tinggal sendirian dan.. agak cuek."
Reyya kini mengangguk. "Jadi lo udah tau apa tugas lo?"
Fadil menggeleng. "Untuk spesifik belum tapi, sebagai perawat maka saya harus merawat kamu."
Fadil ingat benar saat dia akan pulang Koko berucap agar tidak memberi tahu anaknya apa tujuan sebenarnya dia mencarikan perawat.
"Lebih tepatnya lo harus menuruti semua perintah gue. Right?"
Fadil mengangguk. "Oke."
Sepertinya Fadil tau maksud Koko untuk membuat Reyya siap sampai bertemu jodohnya. Ya, penampilan yang bisa di bilang aneh itu, mungkin yang buat Koko hawatir mengenai anak perempuannya ini.
Jika Fadil pribadi, tentu tidak mau di suguhi modelan perempuan macam begini. Kurang instagramable kurang kondanganable juga, jadi langkah pertama dia harus mengubah penampilan Reyya dulu.
Asyik berpikir sendiri Fadil taunya di tinggal pergi. Untung netranya masih menemukan jejak Reyya yang masuk ke ruangan sebelah tangga.
"Eh, saya panggil kamu nama saja ya? supaya lebih akrab."
Reyya tidak menjawab.
Ah, iya dia baru ingat lagi kalau Reyya itu type orang yang cuek bebek.
Fadil masuk ruangan juga. lagi-lagi dia suka dengan desain di dalam sini. Warna temboknya berbeda. Sekarang aksen seperti ukiran kayu Jepara dengan batik di padukan jadi satu dengan gradasi warna pastel yang soft.
Uh, ini menakjubkan.
"Wah, ini kamu sendiri Rey yang desain? bagus! ngga nyolok tapi ngena aura menenangkan nya."
Freya berbalik sebentar melihat perawat barunya. Dia sedikit lega, perawatnya punya sisi melek seni yang bagus.
"Eh Sadil, bantuin gue."
Fadil menghentikan penilaiannya, dia segera menuju Reyya yang masih duduk. Menghadap mungkin dua PC yang nampak seperti di satukan.
"Kamu kreator ya? atau youtuber? atau freelancer? PC kamu keluaran terbaru! wah ini kalau buat di kasir pasti cepet ngitungnya. Speak nya bagus, aku dul--"
"Lo mantan MC bola ya? crewet amat!"
Fadil diam. Tapi tidak lama dia tertawa geli.
Fadil jadi membayangkan bagaimana jika dia menjadi MC bola, duh skill dewa nya pasti keluar.
"Malah ketawa! cepetan ini! lepasin kumis gue."
"Eh, kamu bukan kumis asli ini?"
Oke, Fadil mencoba diam sambil bergeser lebih dekat dengan Reyya.Fadil lihat Reyya masih fokus ke PC nya dia tidak menghiraukan keberadaan Fadil sedikit pun.
"Ini kumis palsu buat apa Reyya? kamu emang habis ngapain?" tanya Fadil sambil memulai melepaskan kumis Reyya itu.
Fadil sebenarnya bukan bebal, tetap bertanya walau Reyya sudah bilang dia tidak boleh banyak bicara, Fadil hanya ingin Reyya mulai mengubah sifatnya agar lebih interaktif.
Biasanya cowok suka yang begitu kan? ya, mungkin Fadil pengecualian.
"Gue abis ngonten. Dan tadi ceritanya jadi bapak-bapak cantik."
Ada ya konten begitu? Fadil jadi penasaran.
"Konten apa? edukasi?" Reyya ngakak.
"Eh zaman sekarang kalau lo mau banyak uang ya harus ikut pasar. Mana ada pasar edukasi macam ulas buku matematika melejit dengan subs dan view jutaan? yang ada prank yang begitu!"
Fadil diam-diam berpikir. Kalau dilihat sekarang Memeng begitu si faktanya. "Jadi kamu konten prank begitu?"
Reyya menggeleng. "Game. Gue ngonten main game sambil ngasih trik burik naik level dan sebagianya."
Oo Fadil tau sekarang. "Ngga terlalu unfaedah banget lah. Gue kan mengajari ilmu, dan mungkin mereka bisa jadi gamers sukses, kita ngga tau kan?"
"Ya, gue rasa juga begitu."
Eh, Fadil membekap mulutnya sendiri. Kok dia bisa kebablasan berbahasa gue elo, yang sebagian orang merasa itu kurang sopan?
Duh kalau dia di pecat nanti nasib perusahaannya akan bagaimana?
"Eh, sorry sorry gue ngga sengaja. Eh,"
Ya ampun! Fadil menggeplak kepalanya. Kenapa dia jadi latah plus kaya orang saling begini ya?
Fadil yang salting disisi lain Reyya tertawa keras.
Geli dia itu melihat laki-laki kok kelakuannya seperti si Sadil ini. "Eh Sadil. Nama Lo aja kaya bubur yang dari ketela itu ya, tingkah lo ikut lurus kaku bin aneh deh!" Reyya terbahak lagi.
Ah, Fadil ingin mengoreksi namanya tapi si Reyya tidak memberikannya jeda.
"Santuy aja kalau sama gue. Pake aja bahasa lo gue, kita jadi lebih akrab kok. Gue lebih suka itu malah. Jadi lo nggak usah sok nggak enak oke?"
Fadil mengangguk. Dia juga tersenyum sambil menghela napas dalam. Bayangan perusahaan yang ambruk kini bisa berdiri lagi.
Fadil melanjutkan tugasnya tadi mencopot kumis Reyya.
"Udah selesai."
Reyya mengangguk dan sebentar menilik kaca samping PC nya, melihat seberapa mulus pekerjaan Fadil.
"Oke good.Untuk first step lo udah bagus. Jadi lo harus ingat-ingat ya jadwal gue pake kumis kaya gini itu setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu. Kalau hari Minggu random si sesuai request para bocah onlen itu."
Fadil mengangguk lagi. Dia mencoba mengingat jadwal pemakaian kumis itu.
"Kumis barunya lo udah ada?"
"Udah, tapi kayaknya kurang stok nanti gampang beli di marketplace aja."
Fadil mengangguk.
Eh tapi, kalau Reyya bergantung dengan semua hal yang serba online dan instan, mana bisa jodohnya datang?
Fadil harus cari akal untuk membuat Reyya mau untuk keluar atau sekedar menunjukkan dirinya dengan dunia luar.
"Lo selalu di rumah gini, Rey?"
Reyya diam saja.
Fadil melirik, ternyata dia sedang fokus mengetik sesuatu. Fadil jadi kepo apa yang sebenarnya pekerjaan anak itu sekarang. Kok dia bisa punya rumah sebagus ini?
"Eh lo udah selesai kan? kita ke step dua ya. Tapi gue mau tanya dulu."
Fadil menghentikan pemikirannya, dia kini mengangguk lagi.
"Lo gay kan? soalnya gue request sama Ayah buat cari yang gay kalau calon perawatnya laki-laki."
Eh kok gitu?
.
.
.
Bersambung...
Hayoo kira-kira apa jawaban si Fadil or Sadil yaa??
Jangan lupa tinggalkan jejak..
Love all.