Love You Burik!!

Love You Burik!!
Fadil Yang Labil



Fadil kini bingung dengan dirinya.


Satu sisi dia seharusnya senang dengan Reyya yang menemukan 'calon jodohnya' secepat kilat bahkan saat Fadil belum genap seminggu bekerja sebagai perawatnya.


Tapi di satu sisi dia juga tidak suka dengan cara Reyya yang benar-benar berubah bukan jadi dirinya.


Suara tawa kini menginterupsi pemikiran Fadil. Fadil melirik ke sumber suara. Dia menghela napas sejenak.


Di depannya sekarang Reyya dan Sanding saling tertawa bergandengan tangan menyusuri jalanan yang lenggang malam ini. Fadil sendiri di belakang jadi pawang kalau-kalau Sanding nyosor duluan mungkin atau main tarik ke semak dan berbagai macam spekulasi negatif lainnya.


Selain itu dia juga merangkap jadi obat nyamuk.


Miris ya.


Tapi bukan obat nyamuk yang ada di pikiran Fadil. Dia malah berpikir bahwa Reyya tidak cocok dengan Sanding.


"Reyya terlalu manipulatif. Dia ngga suka banyak bicara tiba-tiba langsung cerewet, dia bahkan mau di grape-grape tangannya padahal baru meet up. Apakabar kalau besok-besok?"


Fadil menggumam lagi dalam hati sambil berjalan pelan dengan tatapan menyipit lurus pada satu objek yang sekarang masih asyik tertawa.


Fadil berpikir lagi. Zaman sekarang banyak hubungan toxic, dia tidak mau kalau Reyya masuk circle itu.


Saat netra Fadil masih takjim melihat tingkah dua orang di depannya tiba-tiba netranya melotot melihat dua mahluk itu kini berhenti dan saling merapatkan jarak.


Sial! Fadil bahkan baru membayangkan hal-hal itu tapi kini sudah di wujudkan.


Langsung Fadil berlari dan sampai di dekat mereka, tanpa suara Fadil memisahkan Sanding dan Reyya paksa.


Reyya hampir jatuh tapi Sanding sudah tersungkur duluan.


Tenaga Fadil kalau lagi tangsin ya begini.


"Apa-apaan sih Sadil!" Reyya marah sebab Fadil berulah menyebalkan lagi.


Fadil tidak menjawab, dia mengambil tangan Reyya paksa.


"Sorry Sanding, gue bawa Reyya pulang dulu. Emakanya pasti udah nyariin. Hati-hati lo di jalan."


Reyya ingin berucap tapi tidak di berikan ruang oleh Fadil. Reyya langsung di seret menjauh dari sana.


Sampai di pinggir jalan Reyya menghempaskan tangan Fadil kasar.


"Lo labil banget si Dil! Gue tadi udah hampir dapat jodoh yang lo bilang ya, kenapa malah di ganggu?!"


Fadil diam memandang kemarahan Reyya. Dia juga bingung kenapa malah menyeret Reyya paksa bukan menanyakan dulu kebenaran pemikirannya tadi.


"Lo mau apa tadi sama Sanding? Deket-deket banget kalian tadi tau. Gue bukan ngekang lo atau menghilangkan kebebasan yang lo punya, tapi jangan toxic Rey. Menurut gue, lo harusnya ngga bersikap sok cerewet. Lo harus memperlihatkan siapa lo sebenarnya. Kalau Sanding memang jodoh lo, dia akan menerima itu."


"Emang tadi gue ngapain?!" Fadil diam.


"Kan lo ngga bisa jawab." Reyya berjalan meninggalkan Fadil tanpa kata. Dia kesal dengan perawatnya itu. Entah maunya Fadil apa, Reyya benar-benar tidak mengerti cara pikiran lelaki itu.


"Eh Rey, nanti dulu. Lo main pergi aja, gue lagi mikir ini alasannya apa." Kembali lagi Fadil mengambil tangan Reyya supaya dia tidak pergi lagi.


Reyya mendesis sebal tapi tetap diam menunggu ucapan Fadil selanjutnya.


"Alasannya tadi gue kira lo mau apa-apa sama dia. Gue ngga mau aja hubungan pertama lo sama laki-laki malah ke arah negatif."


Reyya terdiam sejenak. Padahal tadi dia sudah bersiap menata kata untuk siraman pikiran Fadil yang gila ini, namun nyatanya dia yang di buat terdiam.


Uh, Fadil memang benar-benar contoh ayah idaman.


"Lo cocok jadi bapak gue sumpah." Reyya terbahak.


Fadil jadi ikut tertawa.


Dia tidak mengelak akan hal itu. Entahlah, setelah merasa tanggung jawab akan kehidupan Rryya mungkin jiwa kebapakannya muncul begitu saja.


Dia tentu tidak rela orang yang dia rawat malah di rusak begitu saja.


"Lebih tepatnya, tangan kanan bokap lo. Jadi lo jangan sampai gitu Rey. Kasian kan orang tua lo kalau sampai punya mantu toxic."


Reyya manggut-manggut. Dia ngantuk.


"Pulanglah Dil. Dongengan lo basi banget."


Fadil mengatupkan senyumnya. Baru saja dia berdamai dengan Reyya tapi naasnya anak satu ini membuat perdebatan lagi.


Di toko Fadil.


Di sinilah mereka sedang terdampar. Reyya tadi entah pikiran dari mana membuat permintaan tiba-tiba ingin ke toko Fadil.


Sebelumnya saat di jalan Fadil cerita sedikit soal tokonya yang tidak jauh juga dari tempat mereka tadi merayakan tahun baru.


Tapi setelahnya Reyya malah merengek ingin menuju ke Toko Fadil. Jadilah mereka disini sekarang.


Baru sampai, Fadil di sambut Riko dan Rida, yang kini melihatnya dengan type wajah yang.. heran, bingung dan entahlah.


"Eh udah lama lo Rid?" Fadil berinisiatif meluruhkan sedikit kecanggungan tadi.


Rida tersenyum, "baru kok. Tadi abis lihat kembang api di lapangan."


Fadil melihat Riko sejenak. Ternyata sahabatnya itu sedang melihat ke arah Reyya plus dengan senyum anehnya.


Fadil tau pasti pikiran Riko sedang berkeliling entah ke mana arahnya. Dan entah sampai kapan berhentinya.


"Eh kenalin Rid, ini Reyya."


Rida tersenyum pada Reyya dan menjabat tangannya juga.


"Semoga betah ya sama Fadil," ucap Rida pelan.


Reyya hanya membalas sekenanya. Sepertinya Rida salah paham akan hubungannya dengan Fadil.


Tapi, Reyya enggan meluruskan lah. Fadil saja mengenalkannya hanya dengan nama tanpa embel status apapun.


"Yok masuk masuk, anggap aja rumah sendiri." Riko yang berucap tanpa beban walaupun yang punya ada di depannya sedang menoleh malas.


Riko tidak ambil pusing. Sudah biasa dia kurang ajar, jadi sekalian saja masuk satu grade yang sama, minta di hajar.


Sampai di dalam Reyya kini melihat dalam toko Fadil yang mirip minimarket.


Isinya banyak, barangnya juga lengkap. Tapi kok dari latar Fadil menjadi perawatannya berarti tokonya sepi.


"Payah banget si lo Dil. Toko kaya gini sepi? Bagus loh, ini juga barangnya lengkap." Reyya berucap sambil melangkah di sisi Fadil dan Rida.


Fadil melirik sebentar Reyya yang mengomentari tokonya.


"Masih merangkak Rey. Ini juga baru buka lagi."


Reyya tidak puas dengan jawaban Fadil. Dia memincing tidak suka.


"Alasan lo, merangkak-merangkak. Ngga mau di salahin lo ya? Harusnya tuh intros diri lo Dil."


Fadil mengerjap tidak tau.


"Sebenarnya tempat yang lo pilih bagus kok. Tapi mungkin kurang promo aja."


Fadil mengikuti arah pandang Reyya. Tidak biasanya nih si Reyya serius begini. Fadil jadi penasaran apa yang perawannya ini akan sampaikan selanjutnya.


"Maybe?"


Reyna mendengus. "Kan, gue bilang apa. Coba deh lo juga buka toko online. Di marketplace kek, atau di mana kek, sekarang kan modelan online semua."


"Nah betul tuh Dil." Rida menyahut.


Sedangkan Riko kini tersenyum lagi menilai percakapan mereka di belakangnya.


Dia jadi penasaran dengan anak asuh Fadil.


Fadil tersenyum miring. Sepertinya akan bagus jika dia melakukan sedikit tes kecocokan.


.


.


.


Bersambung...


Semoga suka Yasa


Love all.