
Cup
Fadil terdiam. Si Reyya malah terkikik geli melihat reaksi Fadil itu.
"Eh, sorry. Salah kasih respon. Tapi biasa aja kali. Gue bukan lakik, pure perempuan ini."
Fadil unmood. Iya justru karena lo perempuan! Jadinya begitu reaksi si Fadil, Reyya! Ingin sekali Fadil berkata begitu tapi nyatanya dia cuma memutar bola matanya malas.
Reyya benar-benar, selalu membalik suasana secepat kilat.
"Ih ngambek si Dil. Jangan dong.." kini Reyya berucap sambil memeluk Fadil lagi. Dia juga mengusap-usap pipi Fadil yang ternyata halus juga.
"Tapi by the way, thanks ya. Berkat lo gue jadi lega."
Fadil diam saja.
Reyya kini mencebik. Kok sekarang malah kaya di tukar posisinya ya? Si Reyya yang jadi Fadil dan Fadil yang jadi Reyya?
"Sadil ih gue lagi serius tau!"
Fadil masih diam. Reyya tidak kehabisan akal, dia menggelitik Fadil.
Dia pernah lihat tuh biasanya orang sejenis Fadil itu lebih rentan ngga tahan dengan gelitikan.
Tapi nyatanya Fadil tidak begitu.
Reyya kembali mencebik, dia merasa gagal buat Fadil berbicara lagi.
"Ngggak seru lo!" Akhirnya Reyya menyerah dan beranjak dari posisi peluk Fadil tadi.
Nah setelah ucapan kesal Reyya baru Fadil tertawa.
Memang Fadil menyebalkan ya tetap menyebalkan di semua situasi hidup Reyya.
"Idihh ngambekan!" Ucap Fadil sambil kembali memeluk Reyya. Si Fadil jadi teringat kelakuan Reyya tadi. Dia akan membalas perilaku menyebalkan Reyya.
Cup.
"Upps salah respon. Sorry sorry, gue ngga sepenuhnya sadar Rey."
Tapi respon Reyya di luar ekspektasi, Reyya malah tertawa.
"Balas dendam gitu ya? Ngga kreatif banget si Dil. Kalau balas dendam tuh gini dong,"
Reyya tidak meneruskan perkataannya dia kini mendekat pada Fadil, tapi otak Fadil tidak bisa menebak apa yang akan anak perawannya itu lakukan.
Dan satu detik setelah kelakuan Reyya yang kedua kali ini, Fadil merinding.
Reyya mengecup leher Fadil.
"Nah itu baru kreatif! Ngga niru gue. Lo itu ha--"
"Rey please walau gue gay. Tapi jangan mancing untuk hal yang terlalu begitu. Gue ngga suka."
Suka banget padahal si Fadil. Tapi dia masih waras dengan siapa dia berhadapan.
Belum menjawab Reyya sudah di tarik duluan. Dari duduknya. Padahal dia mau menjahili Fadil lebih dari tadi loh.
"Yok, sekarang lo harus tidur. Tapi sebelum itu bersih-bersih dulu. Cuci muka cuci kaki dan cuci pikiran! Kau otak lo isinya kecupan mulu apalagi ke gue, gue sumpahin lo suka sama gue."
"Idih! Amit-amit!"
Fadil tidak perduli. Dia terlalu geram dengan tingkah meresahkan perawan satu itu.
Ya ampun, kalau misal Reyya sesukanya mengecupnya sembarangan Fadil jelas sangat keberatan.
"Udah cepet, dan jangan lupa cuci muka."
Reyya malas asli, si Fadil benar-benar rempong sekali.
***
Setelah sesi persiapan tidur. Sekarang ada sesi lain lagi rupanya. Si Fadil memang benar-benar tidak punya kerjaaan.
"Pakai aja kenapa si Rey?! Tinggal di oles udah rampung selesai!"
"Nggak!"
Fadil menghela napas. Sekarang dia sedang sabar membujuk anak perawannya memakai krim malam dan skincare supaya wajahnya lebih glowing lah minimal. Tapi Fadil lebih inginnya Reyya mirip kaya perempuan aja. Kan kalau perempuan gini ritualnya sebelum tidur.
"Gue biasa cuma pakai sabun wajah aja. Udah cukup kok udah glowing nih, nih." Reyya menunjukan mukanya yang menurut Fadil b aja.
"Ini pakai Rey." Fadil berkata tegas membuat Reyya mencebik lagi. Dia sebal ih sama Fadil.
Kan lagi-lagi Fadil membahas soal jodoh.
"Lagian lo duit dari mana si? Toko lagi merangkak aja gaya-gaya an lo ke dokter kecantikan. Mahal kan itu? Mending di buat jadi tabungan aja Sadil!"
Fadil menggeleng. "Gue ngga pakai uang sendiri kok. Ini uang investor Ayah lo, Rey. Gue pikir kebanyakan sisanya, Ayah lo kasihnya kan akalau di hamburkan uangnya. Jadi.. tanpa ada niatan mau korupsi gue membuat uang itu lebih bermanfaat untuk anaknya. Dan dampak positifnya kan ada sama gue juga."
Reyya mengernyit. Kenapa Fadil dapat dampak positif dari hanya membeli semua keperluan kecantikan wajah?
"Ya tadi, sebab nanti jodoh lo akan datang lebih cepat."
Huh, Reyya kira apa. Ternyata yang di maksud Fadil masih seputar jodoh. Mood Reyya untuk menanggapi Fadil jadi hilang.
"Pakein lo aja."
Tanpa permisi kini Reyya rebahan di pangkuan Fadil. Dia mengantuk setelah lelah berjalan plus menangis tadi.
"Lo beneran ngga pernah pake ginian Rey?"
Reyya mengangguk. Dia memang benar tidak pernah memakai semua hal semacam itu.
Fadil heran sih, masa di umur setua ini Reyya tidak pernah mengenal skin care? Tapi wajahnya ya lumayan lah bersih tidak ada noda.
Mungkin ini definisi bersih natural yang sesungguhnya? Tanpa skincare dan sebagainya hanya satu produk saja?
Fadil tidak bertanya lagi dia mengaplikasikan pembersih muka dulu kemudian berganti krim malam yang tertulis sudah mengandung skincare di dalamnya.
Tapi saat olesan ke tiga Reyya membuka matanya. Fadil mengangkat satu alisnya, Fadil juga berhenti mengoleskan krim wajah itu, pikiran Fadil mungkin Reyya mau bicara sesuatu.
Reyya agak ragu bertanya tapi sedari tadi dia penasaran dengan argumen Fadil.
"Lo beneran mau resign? Sebab soal yang tadi?"
Fadil berpikir. Tidak lama Fadil berucap sambil melanjutkan olesan krim malamnya.
"Lo maunya gimana? Kau gue si terserah lo aja."
"Gue? ya jawaban kaya pas tadi. Lo kan udah denger sendiri."
Fadil menilik netra Reyya. "Oh yang begini, Sadil! Balik ke rumah! Gue yang jadi investor lo!"
Reyya tertawa sambil neplak pipi Fadil. "Ngga menye-menye juga kali mulutnya! Alay lo!"
Fadil tersenyum ketika lagi-lagi Reyya tertawa. Perawannya ini mulai sedikit ada peningkatan lah. Ngga sia-sia si Fadil kerjanya.
"Tapi by the way, nama gue itu Fadil. F. A. D. I. L. Bukan Sadil. Huruf F dan S beda ya. Gue jadi meragukan lo lulus TK atau ngga deh. Jangan-jangan.."
"Apaan! Gue lulus peringkat pertama dulu TK ya. Mama kasih kado gue bando, dan sampai sekarang itu masih ada. Noh di lemari. Sampai luntur itu warnanya juga tetap gue simpan!"
"Dan panggilan Sadil itu ya biar beda aja. Lagian bagusan Sadil juga kaya nama bubur tradisional gitu, tapi gue lupa namanya apa."
Fadil mendengus tapi dia tertawa juga. Memang Fadil itu tingkahnya aneh. "Itu candil ya, bubur candil, bukan Sadil! Kejauhan itu Reyy.."
Reyya tertawa lagi. Dia rasa sejak ada Fadil moodnya kaya roller coaster, tapi Reyya lebih merasa banyak bahagianya ketimbang ketegangannya.
Dan dengan itu dia merasa lebih hidup dunianya.
"Sadil.."
Fadil yang masih fokus mengaplikasikan krim malam yang sebentar lagi rampung menoleh pada netra Reyya.
Reyya tersenyum, "sayang.. Sadil!"
Cup.
Ya ampun, Fadil di kecup lagi.
.
.
.
Bersambung...
Holaaa
Semoga suka yaaa
Love all.