
Netra Fadil mengerjap pelan. Ada-ada saja pemikiran Reyya.
"Iyain aja deh. Sekarang pakai salepnya ya?"
Reyya tidak menjawab.
Fadil juga enggan bertanya lagi, dia memilih fokus mengoleskan salep saja.
Fadil sebab sudah terbiasa dengan bau menyengat salep, dia bisa tahan tanpa penutup hidung sekalipun, tapi berbeda dengan Reyya dia sedari tadi sibuk menghalau bau yang tidak sedap pada penciumannya.
"Ganggu banget ya baunya?"
"Iya. Ganggu kaya yang beli salep!"
Kan, kalau di urut-urut yang selalu memulai perang itu ya Reyya tapi, dia saja yang ngga sadar diri.
Fadil merasa sudah cukup pertengkaran mereka satu hari ini. Kalau mulai lagi Reyya bisa ngambek entah kali ke berapa dan Fadil pun lelah menenangkan perawan satu ini.
"Gue mau tidur. Nanti gimana rencana syukuran malem pertama?"
Fadil tersenyum samar.
Syukuran ya kalau bahasanya Reyya? Lucu juga.
"Kalau lo ngga mau ya ngga papa. Gue syukuran sendiri aja. Lebih hemat malah."
"Ya namanya ngga syukuran dong. Harus sama-sama lah."
Fadil terkikik sebentar sambil masih fokus mengolesi salep pada belang Reyya.
"Suara lo kaya orang kurang nutrisi tau ngga sih? Udah coba deh di lepas, bakalan terbiasa kok kalau udah sering nyium baunya."
Reyya mendelik. "Ini nyengat banget ya asal lo tau. "
"Ngga ada yang bilang wangi ya disini."
Herman deh Fadil. Reyya malah cuek bebek diem aja.
"Udah selesai." Reyya melihat pekerjaan Fadil yang sedari tadi baru rampung. Memang si mungkin terlalu banyak belangnya jadi harus sabar buat olesin satu persatu.
"Udah jangan gerak-gerak. Kalau mau tidur ya tidur aja nanti gue yang jagain."
Reyya mengangguk sambil ingin memposisikan nyaman badannya tapi tangan yang menyumpal hidungnya membuat dia serba salah.
Reyya ingin miring tangannya pegal. Dia ingin terlentang sambil duduk posisi paling pas buat tangan yang menutup hidungnya, malah badannya yang tidak nyaman sekarang.
Fadil yang melihat itu juga merasa kasihan.
"Susah ya Rey? Makannya coba deh di biasain dulu. Baunya ngga seburuk itu kok."
Reyya rasanya pengin nangis.
Tapi satu ide terlintas di pikiran Reyya. Netranya berbinar menandakan dia yakin ini akan berhasil.
"Dil, gue ngantuk asli, efek obat dari dokter plus bau salep ini."
Fadil mengeryit. Mana ada bau salep jadi ngantuk? Tapi lebih baik diam saja dan mari dengarkan apa kelanjutan perkataan Reyya.
"Terus?"
"Gue susah posisinya. Kan kata lo harus tunggu kering dulu."
"Terus?"
"Bantu gue ya? Gue pengin tidur di gendong lo aja. Kan nanti kaki gue ngga kena apa-apa dan cepet garing tuh salep."
Gendong? Tidur di gendong?
Saking ngga sabarnya Reyya dia langsung berdiri dari duduknya. "Lemot amat si otak lo, gue praktekkin aja langsung."
Hah?
Baru akan menjawab, eh di Reyya udah nempel duluan, refleks Fadil langsung menangkap tubuh Reyya supaya dia ngga jatuh bareng ke lantai.
Reyya sekarang di gendong Fadil, bukan di punggung tapi di depan.
Huh, kelakuan perawannya emang ngga ngotak.
"Rey, lo ngga salah posisinya begini?"
Reyya tidak menjawab dia malah mengutarakan hal lain.
"Eh gue ada ide lagi. Lo ambilin parfum gue dong. Di atas lemari tuh, warna coklat."
Fadil membungkam suaranya dan menuruti perintah tuan putri.
Sudah dia ambilkan.
Kemudian Reyya dengan tanpa izin dari Fadil menyemprotkan itu di bahu kanan Fadil.
Sekarang semerbak kopi yang manis memenuhi ruangan. Wanginya harum juga menenangkan. Memang selera Reyya bukan yang feminim tapi Fadil suka hal itu.
"Nah dengan ini gue ngga usah tutup hidung lagi. Pegel tau Dil tangan gue."
Tidak menunggu respon Fadil, kepala Reyya langsung hinggap di bahu yang tadi sudah di semprot parfum itu.
Oo sekarang Fadil tau jalan ceritanya. Ini bisa si di jadikan jalan keluar. Reyya juga nyaman terbukti dengan hembusan napas halus Reyya yang sekarang menggelitik tengkuk Fadil.
Tapi.. ini masalahnya, si Fadil bagaimana?
Duh, kayaknya ini balasan atas semua kebohongannya mengenai status gay.
Walau Reyya burik dia akui Reyya proporsional badannya. Jadi nempel sedekat ini di tambah napas Reyya yang terus-menerus menghantuinya membuat Fadil jadi banyak-banyak menghembuskan napas dalam-dalam.
"Sabar-sabar.. orang sabar nanti perusahaannya lebar.."
Poor Fadil.
***
Malamnya mereka sudah siap-siap dengan semua ke rempongan Fadil. Lebih tepatnya disebabkan karena Reyya.
Sudah pukul delapan yabg seharusnya mereka sudah sampai atau minimal lagi di jalan lah. Eh, tapi Reyya masih molor. Jadilah mereka siap-siap sampai mulur satu jam sendiri.
"Udah si Dil, ini kan malam, ngga usah pakai bedak. Ngga akan ada yang liat juga."
Fadil menggeleng.
FYI selain ingin merayakan malam pertama mereka, Fadil diam-diam juga ingin Reyya meet up sama jodohnya. Ya entah siapa kek, yang penting dia ada start dulu siap-siap.
Siapa tau kan, ada yang nyantol?
Apalagi ini kan malam tahun baru, pasti nanti banyak banget orang yang waktu deadline nikahnya tambah menipis.
Nah, bagus tuh buat si Reyya. Peluang besar lah istilahnya.
"Udah deh Rey. Diem aja lo. Lagian gue kok yang rempong buat dandanin lo, lo terima beres aja masih ngomel. Jadi diem ya? Atau mau gue cium?"
Plakkk
Reyya tertawa. Mampus Fadil!
Tadi Reyya akhirnya bisa geplak juga mulut nyebelin Fadil. Puas lah Reyya pengin nambah lagi malah.
"Ish jahat amat sih, Rey?"
"Lagian lo lama-lama nyebelin nya triple-triple bukan double lagi."
Fadil ingin mencak-mencak lagi tapi dia ingat waktu. Jadi dia urungkan niatannya itu.
Setelah polesan di akhir, tepatnya di bibir Reyya, selesai sudah Fadil make over nya.
"Selesai!" Setelahnya Fadil menilik hasil karyanya.
Ini bisa di bilang menakjubkan. Fadil suka.
Fadil memoles Reyya dengan make up tipis. Sesuai seleranya. Ya, ini si masih acuannya pada Fadil sebab, Fadil taunya juga make up yang begini. Dia pernah liat cara make up mantan pacarnya dulu.
Ternyata berguna juga ilmu tidak di sadari ini.
"Lo bagus juga make up-nya. Pernah jadi waria lo ya?"
"Mulutnya!" Ucap Fadil sambil menyentil jidat Reyya. Reyya mendelik.
"Ini ya, gue pelajari dari kekasih tercinta gue. Jadi ya ada manfaatnya juga lah bisa make over lo."
Reyya bergidik. Pikiran Reyya, pacar si Fadil ya laki-laki juga. Jadi agak merindinglah dia.
"Udah yuk lah. Nanti kemalaman lagi."
Reyya bukan beranjak dari duduknya, kini dia malah menyandarkan lagi kepalanya. Fadil menghembuskan napasnya panjang.
"Rey katanya lo mau pergi. Ayuk Rey nanti kemalaman."
"Santai aja kali Dil. Malam-malam makanan jauh lebih enak kok."
"Masalahnya, kita bukan cuma mau makan, sekarang mumpung ada perayaan jadi ikut liat persiapannya lebih menarik lagi."
Reyya melihat Fadil masih sambil bersandar kursi. "Perayaan apa?"
Fadil sudah duga jawaban ini. Huh, lihatlah bagaimana hidup satu orang bisa sampai setua ini dan dia bahkan tidak tau hari ini malam tahun baru?
Kalau di jelaskan pun nanti Fadil yang kena omel juga.
"Gue ngga mau manjain lo lagi. Sekarang mau ikut atau ngga terserah. Gue mau pergi sekarang."
Biar. Dia kesal dengan Reyya yang cueknya kebangetan. Masa tahun baru aja dia ngga tau, apalagi kode si doi nanti yang minta kenalan coba?
Sekarang Fadil sungguh pusing.
.
.
.
Bersambung...
Holaaa
Spesial new year!! Heppy Heppy ya semuaaa
Semoga di tahun baru besok cerita ini makin banyak pembacanya, makin banyak yang suka jugaaa..
Makin sukses juga othornya, hehe
Aamiinn..
Terimakasih sudah mau baca karya absurd ini.
Love all.