
Silau.
Fadil rasa sekarang dia terganggu dengan cahaya yang sedikit menyilaukan mengganggu tidurnya. Fadil menggeliat mencoba menghindari itu. Tapi rasanya sedikit berbeda kini di sebelahnya mungkin ada bantal guling.
"Gue perasaan nggak pernah pakai bantal guling," gumam Fadil masih di bawah alam sadarnya.
Kendati masih memejamkan mata, dia juga agak penasaran dengan guling ini. Sedikit demi sedikit Fadil mencoba meraba.
Rasanya empuk, ada sarung bantalnya juga.
Dan sampai dia sadar, suatu hal ini salah.
Sit!
Fadil bangun dnegan tergesa setelah merasakan suatu hal yang berdetak pada gulingnya, tidak mungkin guling punya jantung kan?
"Reyya! ngapain lo disini?!" Kaget Fadil saat melihat wajah Reyya yang datar saja dengan posisi menghadap arah Fadil tidur tadi.
Ah, sialnya pemikiran dadakan Fadil ini benar. Jadi tadi dia meraba apa ya sampai mengerti detak jantung Reyya?
Hahhhh sudahlah. Kalau di tampar ya tampar balik aja, eh.
"Siapa yang harusnya ngomong gitu, heh? ini kamar gue Sadil!!"
Netra Fadil mengerjap, dia mencoba melihat semua isi ruangan yang dia tempati sekarang.
Aksen Jepara dengan batik yang di padukan, juga warna pastel soft tapi agak lebih kasar.
Benar, ini jelas identitas ruangan Reyya. Ruangan kesayangannya.
"Kenapa gue disini?"
"Mana aing tahu! gue punyanya tempe!" Fadil melotot. Benar-benar piktor bener pikiran Reyya. Dan setelah apa yang tadi terjadi bisa-bisanya dia membuat lelucon macam begitu?
"Lo kalo ngo--"
"Di kulkas," lanjut Reyyan.
Fadil menelan lagi suaranya yang akan keluar tadi. Oke, baiklah mungkin pikiran Fadil yang kotor. Baik baik nanti dia akan bersihkan.
"Oh, mungkin gue kecapekan kali ya, terus mau pulang malah jadi tidur di sini." Sedikit mengingat kejadian saat dirinya lelah dan hendak pulang Fadil jadi menguarkan suaranya lagi agar Reyya tidak salah presepsi.
"Maybe." Reyna turun dari kasurnya dan kini hendak melangkah keluar kamar tanpa memperdulikan sekitarnya, seperti sikap Reyya. Tapi entah kenapa Fadil merasa ini belum selesai.
"Eh, Rey. Lo baru bangun juga?"
Reyya diam saja. Fadil jadi uring-uringan. Entah kenapa dia sedikit bersalah dengan kilas peristiwa grape-grape guling tadi. Sampai agak lama tetap tidak ada sahutan dari perawan cuek itu.
Saat Reyya sudah membuka pintunya Fadil mencoba memanggilnya lagi.
"Rey, kalau gue pulang boleh ya? ini udah malam nggak enak sama tetangga."
Setelahnya baru pergerakan Reyya berhenti. Fadil bersyukur. Dia jadi tidak perlu mengejar Reyya hanya untuk menjawab hal sepele begini.
"Terserah. Tapi lo harus ke sini pagi-pagi dan bangunin gue sebelum jam 8."
Tanpa kata-kata lain, Reyya keluar meninggalkan Fadil sendiri.
***
Setelah pamit di kamarnya tadi, Fadil benar akan pulang tepat di jam tujuh malam ini.
Reyya sudah cek semu hasil pekerjaan Fadil, semuanya baik. Mulai dari kamar, dapur sampai kamar mandi luar pun dalam semua kinclong. Sangat memuaskan.
Itu sebabnya tadi Reyya pikir Fadil kecapekan sehingga tidak sadar tidur di sampingnya. Dan setelah Reyya bangun dia malah asyik melihati keringat Fadil yang nampak mengering di dahinya.
Rambutnya lepek, kaus pendeknya bau juga nampak masih lembab tapi saat itu Reyya dikagetkan dengan tangan yang tiba-tiba memeluknya, lalu--
"Gue pulang sekarang, Rey!"
Reyya membuang muka sejenak. Dia jelas tidak mau dilihat Fadil sedang melamun apalagi memikirkan dirinya. Euh! bisa-bisa dia akan di ledeki suka lelaki gay macam Fadil begini.
"Cepetan keluar. Gue mau kerja," balas Reyya sambil berlalu kembali ke, entah kemana.
Kini giliran Fadil yang merasa tidak enak. Dia jujur masih terbayang kelakuan tidak sengajanya tadi. Tapi, dia malu juga untuk mengungkap itu.
"Oke. Take care Rey. Jangan lupa makan. Nanti gue pesenin DO ya. Gue.. pulang dulu. See you."
Kan, Fadil malah hanya mengucapkan hal itu dengan nada kaku. Dia tidak akan bisa mengungkap hal tadi tersirat apalagi dengan model macam diskusi.
Fadil melangkah keluar rumah. Dia menilik langit dulu. Syukurlah tidak mendung. Tapi, jarak rumahnya dengan rumah Reyya agak jauh dan itu perlu ngangkot dua kali dan jalan kaki sebentar baru sampai.
"Fighting. Gue kan abis tidur pasti tenaganya banyak."
Padahal mah nggak. Kalau Fadil mau jujur dia belum makan sejak sekitar sepuluh jam lalu. Dia pun belum minum sekitar 5 jam lalu dan sekarang dia ingin minum. Tapi malu lah, masa balik lagi dan minta ke Reyya?
"Mampir dulu deh ke toko, atau tidur di sana aja."
Senyum Fadil kembali mengembang. Beginilah enaknya punya usaha sendiri. Jika kepepet dan ingin sesuatu bisa lah sesekali ambil gratis.
Bayangan perusahaan yang akan berdiri memutar lagi di pikiran Fadil.
Ah, dia harus ekstra kerja keras mulai saat ini.
***
"Gue tau lo pasti udah lepas segel nih."
Suara Tawa keras kini terdengar dari Riko kutukupret. Fadil tau dia sekarang sedang di ejek. Kesal, dia mencebik sengit.
"Piktor mulu lo! kagak di kasih jatah ya sama Rida?"
Plakk
Hisss sudah kena sembur kini malah di geplak mulutnya. Dasar Riko kurangajar!
"Mulut lo! jangan keras-keras! nanti ada orang yang denger."
"Wah, berarti bener dong?"
"Mengalihkan pembicaraan aja lo!"
Ah, sudahlah Fadil capek. Dia akhirnya memilih diam saja dan mengambil air dingin. Tadi itu, Fadil baru sampai dan malah langsung di sodorkan pertanyaan unfaedah begitu. Jadi baru bisalah dia minum sekarang.
Tapi kalau dipikir-pikir ada sedikit sisi benarnya juga sih omongan si Riko tadi. Secara nggak langsung Fadil tadi udah ngga suci tangannya.
Dia udah..
"Engak! nggak ada gituan." tanpa sadar kini Fadil malah membuat satu suara keras yang makin membuat Riko penasaran.
"Ngapa lu, Dil?"
Fadil menghembuskan napasnya panjang. Ah, dia jadi ingat tentang janji DO nya tadi.
"Ngga apa, gue inget soal janji sama Reyya."
Riko diam. Entahlah dia sedang apa, tapi kini Fadil beralih ke ponselnya dan mencari menu yang mungkin cocok dengan Reyya.
Baru awal pekerjaannya jadi dia tidak tau kesukaan Reyya apa. Dia memilih makanan yang dekat plus banyak di pesan saja. Semoga Reyya suka.
"Jadi namanya Reyya?"
Fadil beralih ke Riko dia mengangguk asal. Tiba-tiba Riko menepuk bahu Fadil pelan. Fadil mengerutkan keningnya bingung. Biasanya jika sudah begini kelakuan Riko, dia pasti mau mengucapkan kata-kata mutiaranya.
"Ati-ati Dil, nanti lo terjebak cinlok. Saran gue si, pertebal iman, rapatkan penglihatan, singkirkan perasaan. Kalau udah gitu amantul lah pokoknya lo dari kata cinlok atau sepadannya."
Hah?
Fadil kok jadi merinding ya?
.
.
.
Bersambung...
Holaaaa
Semoga suka dengan part ini yaaa
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Love all.