
“Bunda. Jangan aneh-aneh deh. Ann lagi tidur kali.”
“Ih Ayah. Tidur gimana maksudnya. Orang Bunda baru aja dengar dia teriak kok. Suaranya kencang banget lagi. Teh Bunda aja sampe tumpah semua saking kagetnya. Jadi Ayah secara tidak langsung menuduh Bunda tuli, gitu?”
“Nggak Bun, bukan gitu maksud Ayah.”
“Tahu gitu nggak usah capek-capek ke sini. Lagian tadi Ayah juga kan yang nyuruh Bunda nengokin Ann di kamarnya, sekarang malah nggak percaya sama Bunda.” Adyana yang kesal kini segera memutar badan dan kembali lagi ke depan kamar Ann. Untuk memastikan sekali lagi tentang keadaan anaknya di dalam sana.
Aditya yang kini ikut khawatir sontak berdiri dari duduknya. Ia mengejar istrinya yang sudah jalan lebih dulu di depannya. Aditya pun mencoba untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan Adyana.
“Bun, jangan marah-marah gitu dong. Ayah cuman bercanda kok.”
“Bercanda kok di saat genting kayak gini. Kalau Ann beneran kenapa-napa emang Ayah mau tanggung jawab.”
“Ya jangan sampai kenapa-napa dong Bun,” jelasnya setelah tiba di depan kamar Ann.
“Ann, sayang,” teriak Aditya saat tiba di depan kamar Ann. Ia mengetuk beberapa kali, namun tidak ada jawaban sama sekali. Sementara Adyana yang kini sedang berdiri di belakang suaminya itu pun, mulai dihinggapi rasa khawatir. Ia benar-benar takut jika Ann sampai kenapa-napa di dalam sana.
Aditya yang panik, langsung mengeluarkan ponselnya, lantas menelpon seseorang.
“Kasep, tolong bawakan saya kunci cadangan kamarnya Ann, sekarang!” ucapnya dengan ketus. Setelah panggilan telepon terputus, ia kembali mengetuk pintu kamar Ann lagi. Aditya sungguh berharap orang yang ada di dalam dapat mendengarnya dan segera membuka pintu kamar untuknya.
“Permisi, ini kuncinya Pak. Ada apa ya? Kok kelihatannya serius amat Pak, Bu.”
“Kamu ini Sep, udah lihat majikannya lagi pusing malah banyak tanya gini. Udah sana, kamu balik ke bawah. Urusin pekerjaan kamu aja. Nggak usah kepo sama urusan kita berdua,” gertak Adyana.
“Maaf Bu, saya kan cuma penasaran.”
Aditya kembali pada tujuannya, sekarang ia hendak membuka kamar Ann dengan kunci cadangan yang sudah ada di tangannya. Namun belum sempat ia melakukan hal itu, pintu kamar sudah terbuka saja. Di depannya saat ini sudah ada Ann yang sedang berdiri dengan wajah fress sehabis mandi. Ann menatap Ayah, Bunda, dan juga Mang Kasep yang sedang menatapnya pula dengan wajah yang tak kalah terkejutnya.
“Ayah, Bunda, kalian kenapa? Kok berkumpul di depan kamar Ann kayak gini. Terus itu kunci cadangan buat apa, Yah?” tanya Ann penasaran.
Ayah yang semula serius, mendadak menghela napas lega. Ia bersyukur karena Ann tidak kenapa-napa, namun disatu sisi ia kesal pula dengan istrinya yang ternyata terbukti menyebar berita hoax kepadanya.
“Bunda kamu tuh yang heboh banget, bilang kamu kenapa-napalah. Padahal anaknya baik-baik aja kayak gini juga.”
“Ih Ayah, kok malah nyalahin Bunda sih. Lagian Bunda mana tahu kalau Ann baik-baik aja di dalam kamar. Bunda dengar suara teriakan Ann yang menggelegar ya Bunda panik dong. Eh pas nyamperin ke kamar, Bunda ketok-ketok kamarnya tapi tidak ada jawaban sama sekali, ya gimana Bunda nggak khawatir. Lagian kamu sih Ann, harusnya kalau memang ada di dalam kamar, ya jawab Bunda dong.”
“Loh kok jadi Ann yang disalahin sih. Orang Ann cuma mandi doang kok di dalam. Lagian Bunda sama Ayah kayak nggak tahu Ann aja. Ann kan kalau lagi mandi pasti berendam dulu sambil nyetel musik di ipod. Ann mana bisa dengar kalian teriak ataupun ketok-ketok.”
“Emang kamu kenapa teriak-teriak segala sih tadi?”
Kini gantian Bundanya yang balik bertanya setelah Ann selesai menjelaskan. Adyana masih penasaran dengan suara teriakan anaknya beberapa waktu lalu.
Sementara itu Ann baru menyadari kelakuannya tadi. Terlalu kesal usai menerima telepon dari Leo, ia menjadi kesal sendiri dan kelepasan berteriak kencang di dalam kamarnya sendiri. Ia terlalu terbawa emosi hingga tidak bisa mengontrol diri. Ia lupa jika kini ia sedang berada di rumah bersama dengan Ayah dan juga Bundanya.
“Hehehe, maaf Bun. Tadi itu Ann habis teleponan sama seseorang, terus dia ngeselin gitu deh pokoknya. Ann jadi nggak sadar dan teriak gitu aja saking kesalnya.”
“Emm wajar sih, habisnya nggak kamu, nggak Bundamu, emang sama-sama aneh. Ayah saja sampai heran sama kalian berdua. Kok bisa sama banget ya kelakuannya.” Ayah berlalu meninggalkan mereka. Ia kecewa karena sudah membuang-buang waktunya di situasi yang sama sekali tidak penting itu.
“Ih Ayah nih malah ngatain Bunda segala.”
“Emang gitu kan Bun.”
“Ya tapi tetap aja harusnya Ayah belain Bunda dong di depan Ann. Bukannya nyama-nyamain dengan Ann.”
“Kalian hoby banget sih bertengkar mulu. Ann jadi pusing dengarnya,” Jelas Ann sembari melewati kedua orang tuanya. Ia begitu semangat setelah mendengar bunyi bel rumahnya barusan. Ann sudah bisa menebak siapa yang datang sekarang.
“Chesee burger emang selalu datang di waktu yang tepat. Let’s go Ann. Perut kamu emang udah keroncongan sejak tadi,” jelasnya sembari membuka pintu rumah.
“Harus semangat Bun. Biar bisa makan chesee burger. Besok kan harus ketemu singa jantan. Kalau asupan gizinya nggak diperbaiki dari sekarang bisa bahaya. Nanti malah nggak ada tenaga buat balas dendam.”
“Singa Jantan? Yah, kayaknya anak kita emang aneh deh hari ini. Apa karena ponselnya hilang ya, makanya jadi stress gitu.”
“Bunda ini kok pikirannya ngelantur kemana-mana.”
“Itu tadi katanya singa jantan. Emang Ayah nggak dengar.”
“Ya siapa tahu yang dimaksud Ann itu pacarnya Bun.”
“Kamu punya pacar Ann? Itu tadi singa jantan maksud kamu apaan.” tanya Adyana saat Ann sudah kembali dengan menenteng chesee burger pesanannya.
Mendengar pertanyaan barusan membuat kedua bola mata Ann nyaris keluar saking kagetnya. Lagi-lagi Bundanya salah paham dengannya. Namun Ann hanya memilih diam saja tanpa berniat menjawab wanita yang sedang penasaran itu.
“Singa jantan itu bukan sebutan untuk pacar Bunda sayang, tapi untuk musuh. Ngomongin musuh buat aku makin nggak sabar untuk ketemu lelaki psikopat itu secepatnya. Bakal ku buat wajahnya hancur seperti cabe rawit yang diulek-ulek dengan penuh tenaga. Lihat saja tanggal mainnya,” jelasnya dalam hati. Ann membuka mulutnya lebar-lebar sembari menggigit chesee burgernya dengan penuh semangat. Emosinya yang sedang membara membuatnya sangat bersemangat dalam menyantap makanannya kali ini.
...***...
“Ahhh, kenyangnya.”
‘”Astagfirullah, Ann, kamu tuh udah kayak anak cowok aja tau. Kalau cewek itu harus kalem dong.”
Adyana geleng-geleng kepala melihat gaya Ann yang benar-benar sangat mirip dengan tingkah lelaki. Setelah selesai makan Ann langsung bersandar di sofa, lantas menaikkan kedua kakinya di atas meja, lalu mengusap perutnya yang sudah hampir meledak karena chesee burger pesanan Bundanya yang begitu banyak.
“Ya gitulah. Ann sama aja kelakuannya dengan Bunda jadi nggak usah banyak protes,” celetuk Ayah ditengah ocehan istrinya.
“Tuh kan, Ayah nyalahin Bunda lagi. Bunda heran deh, kok di mata Ayah, Bunda selalu saja salah sih. Nggak ada baik-baiknya sama sekali.”
Aditya tertawa kecil melihat wajah Adyana yang kini berubah menjadi kesal. Ia memang sengaja menggoda istrinya. Bagi Aditya, melihat wajah Adyana berubah menjadi merah padam adalah hal yang paling indah untuk dipandangi. Itulah mengapa ia sangat senang membuat istrinya marah-marah tak jelas setiap harinya.
“Ann, besok kamu ada kegiatan apa?” tanya Adyana kepada Ann.
“Besok?”
“Iya besok. Besok kan weekend jadi kamu pasti nggak kerja dong sayang.”
Ann berpikir sejenak tentang jadwalnya besok pagi. “Nggak ada Bun. Kenapa?”
“Nah kebetulan dong kalau gitu. Berarti besok kamu temanin Bunda ke acara peresmian toko cakenya Jeng Audi.”
“Ha? Ann ikut Bunda ke acara teman-teman rempong Bunda itu. Ih nggah mau ah. Mendingan Ann tidur di rumah aja, daripada ikut acara Bunda yang nggak jelas itu. Lebih ada manfaatnya kalau Ann tidur. Lagian nih Bun, kalau weekend itu emang paling pas kalau dirayain dengan cara tidur dari pagi sampe sore. Bukannya malah keluyuran nggak jelas kayak rencana Bunda barusan.”
Mata Adyana langsung melotot setelah mendengar ocehan anaknya itu. Terlebih saat mendengar Ann menjelek-jeleknya teman gengnya.
“Nggak jelas gimana. Kamu tuh yang hidupnya nggak jelas. Ayo dong Ann. Teman-teman Bunda selalu bawa anak mereka loh kalau kita pada ngumpul. Sisa Bunda aja yang nggak pernah ngajak anak Bunda sama sekali. Kalau Bunda punya anak selain kamu, pasti Bunda nggak minta kamu untuk ikutan kok. Emang kamu mau lihat Bunda sedih hanya karena hal sepele kayak gini. Sisa ikut doang juga. Apa susahnya sih.”
“Aduh Bunda, Ann benar-benar malas ikutan acara kayak gituan. Nggak cocok dengan Ann. Pokoknya besok Ann cuma mau di rumah aja.”
Mendengar perdebatan antara anak dan juga istrinya membuat Aditya menghentikan kegiatannya yang tengah asyik membaca koran. Ia melirik Ann, lantas berpindah melirik istrinya. Kini keduanya saling diam, namun nampak jelas sekali wajah Adyana yang terlihat sangat kecewa. Aditya seketika mengingat curhatan istrinya beberapa bulan lalu tentang teman-temannya yang gemar ditemani oleh anak-anak mereka.
“Yah, Bunda juga mau dong pamerin anak Bunda satu-satunya didepan teman-teman Bunda. Masa Bunda aja sih yang nggak pernah ngajak anak Bunda. Bunda juga capek kali bohong ke mereka terus kalau Ann masih kuliah di luar negeri. Masa harus bohong sampai mati. Kan nggak lucu, Yah.”
Aditya melepas kacamatanya lantas meletakkannya di atas meja. Setelah meneguk kopi dinginnya,ia berkata pelan. “Udahlah Ann, sekali-kali kamu temani bundamu juga dong. Bunda kan nggak sering-sering juga minta ditemani kayak gitu. Lagi pula kan cuma ketemu teman-teman Bunda doang kok. Palingan makan dan minum sebentar habis itu udah balik ke rumah lagi.”
“Tapi Yah. Ann beneran nggak suk-“
“Kasian Bunda Ann. Masa kamu nggak sayang sama Bunda sih. Minta ditemani doang kok. Paling cuma beberapa jam doang. Udah kamu pergi aja!”