Love Language

Love Language
Saya Lelaki Sejati



“What?” Dwi yang sedang sibuk mengaduk kopinya langsung terlonjak kaget setelah mendengar jawaban dari Ann. Di luar dugaan, tetapi ia senang juga mendengar berita hangat barusan.


“Kok bisa sih Ann. Wah jadi makin seru nih kayaknya.”


“Seru gimana. Bunda dan Tante Audi gila parah sih. Masa ngerencanain hal-hal aneh kayak gitu. Baru mikirin aja, aku udah merinding duluan. Jangan sampai sama dia deh, amit-amit cabang bayi,” Ann mengetuk meja beberapa kali lantas beralih mengetuk kepalanya. Semacam ritual agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Entah mitos atau fakta, Ann pasti melakukan hal itu jika ada yang tidak ia kehendaki untuk terjadi.


“Wah, jadi sebentar lagi si Ann yang kudet ini bakal jadi pasangan hidup dari Leo yang tenarnya nggak ada tandingan.”


“DWIII lo berenti ngomong kayak tadi atau gue lakban mulut lo sampe nggak bisa ngomong lagi.”


Dwi sedikit kecewa dengan penawaran dari Ann barusan. “Serem amat Ann, sama teman sendiri gitu banget. Terus-terus, kelanjutan sama Leo gimana?” tanya Dwi dengan antusias. Si ratu kepo tentu sudah penasaran bukan kepalang ingin mendengar kelanjutan cerita dari Ann.


“Leo, kalian lagi ngomongin Leo siapa?” tiba-tiba saja suara berat yang hadir diantara obrolan keduanya membuyarkan rasa penasaran Dwi. Dengan begitu hati-hati ia mengalihkan pandangan ke belakang dan sudah melihat Bayu berdiri di sana dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu.


“Eh Pak Bos. Enggak kok, kita cuma bahas film yang tayang kemarin,” jawab Ann berbohong lalu pergi begitu saja meninggalkan pantry. Dalam hati ia mengumpat keras, menyesali jawaban yang ia berikan tadi kepada Bayu. Padahal ini adalah kesempatan baginya untuk membuat Bayu cemburu. Agar lelaki itu berhenti mengejar-ngejarnya lagi. ‘Emang dasar bego kamu Ann.’


\*\*\*


Leo yang sedang berada dalam pelukan Jun kini tiba-tiba terbangun setelah ia mendengar suara dering ponselnya yang begitu nyaring di telinga. Dengan mata yang masih tertutup rapat, ia berusaha untuk menjangkau benda itu yang berada jauh di atas nakas. Namun belum sempat tangannya menjangkau, tiba-tiba saja bibirnya mendapat hantaman hangat dari lelaki yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat. Jun yang masih menutup kedua mata langsung menarik tengguk lelaki yang berada di hdapannya itu agar bisa memperdalam ciumannya.


               “Please, jangan ke mana-mana dulu,” jelas Jun dengan manja sambil terus mengeratkan pelukannya.


               Leo yang luluh hanya bisa menurut begitu saja. Ia tentu tak beranjak dari tempatnya. Dan lanjut menutup matanya kembali. Mencoba hanyut dalam dekapan Jun yang membuatnya menjadi paling bahagia di dunia.


               Selang menit berikutnya, ponselnya ramai kembali dengan beberapa suara notifikasi yang tak henti-hentinya hadir mengisi kesunyian di sudut ruangan. Namun Leo mencoba untuk tetap abai. Sebab kini pelukan Jun justru jauh lebih menyenangkan untuk dinikmati ketimbang melirik ponsel yang ramai itu.


               “Inilah yang membuatku kesal dengan pekerjaanmu, Leo. Menganggu waktu saat kita sedang berdua saja.” Jun langsung bangkit dari tempatnya. Lelaki yang sedang diliputi kemarahan itu kini berdiri dari tempat tidurnya, tanpa menoleh lagi ia berlalu pergi meninggalkan kamar tidur mereka berdua.


               Sementara di atas kasur, Leo mengusap wajahnya dengan kasar, bersamaan dengan tangannya yang menjangkau benda yang sejak tadi berbunyi dan berhasil mengacaukan suasana romantis yang sedang terjalin antara ia dan juga Jun.


               Belum sempat Leo melihat notifikasi yang masuk di ponselnya, benda itu kembali berdering lagi dan menunjukkan sebuah nama yang Leo kenal dengan baik.


               “Emmm ada apaan Ce, nelpon subuh-subuh gini?”


               “Ha, berita?”


               Belum sempat Leo mendengar jawaban lagi, panggilan itu tahu-tahu sudah terputus begitu saja. Membuat Leo yang semula santai mendadak bingung dengan situasi yang sedang berlangsung. Dengan malas ia pun meraih remote TV yang juga berada di atas nakas.


‘Lagi-lagi dunia hiburan menggemparkan media. Dan berita kali ini datang dari artis papan atas yang sedang hits beberapa tahun belakangan. Alan Leo Ferlian, menggemparkan dunia dengan tersebarnya beberapa foto mesra-‘


               Belum selesai berita tentangnya ia tonton sampai habis, Leo langsung memeriksa ponselnya yang kini berada di dalam genggamannya. Ia langsung membuka akun twitter miliknya dan dalam sekejap mata lelaki itu kembali menjadi trending satu di sana. Namun kali ini bukan dengan berita yang menyenangkan melainkan berita tak senonoh yang tidak seharusnya diketahui oleh seluruh dunia.


               Leo tidak berucap lagi, dengan cepat ia mengirim pesan kepada Ince, menyuruh managernya itu untuk segera melesat pergi menuju apartemen miliknya. Setelah pesan berhasil terkirim di ponsel milik Ince, Leo langsung mematikan ponselnya.


               “Sial, siapa yang sudah berani melakukan ini semua kepada Alan Leo Ferlian. Berani sekali dia.”            


               Beberapa kali Leo mengumpat saat ia memasang kancing bajunya. Dan dengan napas terengah-engah ia menghampiri Jun yang sedang memanggang roti di dapur. Lelaki itu tampak serius dengan pekerjaannya.


               “Jun, tidak usah berkeja dulu hari ini. Tetap di dalam rumah dan jangan sekali-kali keluar walau ada keperluan yang mendesak. Jika ada wartawan yang datang jangan pernah membuka pintu apalagi buka suara. Tenanglah sebentar, biar ku selesaikan semua masalah ini sampai beres. Okey.”


               Jun yang sedang sibuk langsung kaget dan tidak mengerti dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Leo barusan. Ia yang sama sekali tidak mengerti apa-apa, hanya bisa menaikkan kedua alisnya pertanda tak mengerti dengan maksud Leo.


               “Apa yang sedang terjadi?” jelas Jun saat melihat punggung Leo yang perlahan menjauh dari pandangannya hingga hilang di dalam apartemen miliknya. Jun tetap berdiri di tempat, menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia beranjak ke tempat tidur untuk membereskan kamarnya yang berantakan karena ulahnya bersama dengan Leo semalam. Ketika baru saja tiba di bandara semalam, Leo memang langsung melesat ke apartemennya. Setelah seminggu di Thailand, Jun adalah orang pertama yang ingin segera ia temui.


               Sementara itu, Leo yang baru saja tiba di depan pelataran apartemen miliknya lagi-lagi harus mengumpat karena kini pintu masuk sudah penuh dengan wartawan. Sudah pasti kawanan orang-orang dengan beragam kamera di tangan sedang menunggu kedatangannya di sana. Leo memukul stir mobilnya beberapa kali, kesal dengan keadaan yang tidak memihak padanya.


               “Gila, ini semua benar-benar gila sekarang. Apa yang harus aku lakukan.”


               Tak lama muncul mobil Ince tepat di samping mobil miliknya. Lelaki itu mengetuk kaca mobil Leo dan menurunkan kaca mobilnya sedikit agar keduanya mampu berbicara satu sama lain. Leo pun melakukan hal yang sama.


                “Lewat pintu rahasia. Menembus para wartawan tidak akan menyelesaikan masalah. Ayo, bergegas sekarang!”


               Mobil Ince melaju lebih dulu memasuki sebuah lorong kecil yang cukup untuk menampung satu mobil saja. Di antara jalan sempit yang gelap itu keduanya melaju dengan kecepatan tinggi hingga tiba di sebuah parkiran rahasia yang tersambung dengan lift VVIP yang bisa memberikan akses langsung ke apartemen milik Leo.


               Leo memang sengaja meminta pemilik apartemen untuk mendesain tempat rahasia itu khusus untuk dirinya. Berkaitan dengan pekerjaannya yang sering kali dikejar-kejar wartawan membuat Leo menyiapkan semuanya secara detail sebelum terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan. Dan beruntunglah ia karena sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari sebelum hal buruk menghampirinya, sebab kini ia bisa menikmati jerih payah kecerdasan otaknya itu.


               Pintu lift perlahan terbuka, membuat Leo dan Ince keluar dari sana dan segera menjatuhkan tubuh di atas sofa yang tersedia di ruang tamu. Leo melepas jaket yang menutupi tubuhnya, beserta topi dan juga masker yang ia pakai untuk menutupi wajahnya. Kini, dengan mata terpejam ia merebahkan tubuhnya yang lelah di tempat empuk yang sama sekali tidak bisa membuat tubuhnya nyaman dan tenang. Sebab pikirannya melayang ke mana-mana dan tidak ia temukan jalan keluar walau hanya sedikit saja.


               “Kenapa bisa berita tak senonoh seperti itu muncul di media?” tiba-tiba saja nada kesal yang berasal dari mulut Leo, mengisi kekosongan yang tercipta di dalam ruang luas yang hampa itu.


               Ince menatap Leo dengan tatapan penuh selidik. Menarik napas perlahan dan menghembuskannya kemudian. Berulang-ulang ia melakukan kegiatannya itu hingga ia akhirnya memberanikan diri untuk segera bersuara.


               “Seharusnya aku yang nanya sama kamu Leo. Kenapa bisa foto tak senonoh seperti itu bisa didapatkan orang lain. Apa yang sedang kamu lakukan belakangan ini. Dan apakah yang ada di balik foto-foto itu adalah sebuah kebenaran?”


               Selesainya kalimat Ince, menjadi awal bagi tatapan tajam Leo untuk menjelajah ke wajah lelaki itu. Leo benar-benar memasang wajah serius, walau sebenarnya di dalam hati ia takut setengah mati juga.


               “Kamu gila ya, Ce. Gimana kamu bisa menjadi menager yang baik kalau kamu saja tidak percaya dengan artismu sendiri. Memangnya kamu pikir saya lelaki seperti apa?”


               “Bukan begitu, Leo. Hanya saja tidak mungkin ada abu, jika tidak ada api. Mana mungkin foto itu bisa tersebar dan meramaikan dunia jika tidak ada yang terjadi antara kamu dengan lelaki itu. Kamu pikir mudah mengedit foto seperti itu?”


               “Stop Ince, stop. Bukannya ngasih solusi malah makin memperparah keadaan. Kalau kamu nggak percaya sama aku, mending kamu pulang sekarang dan nggak usah datang ke sini lagi. Tidak ada juga gunanya kita bekerja sama selama ini. Toh kamu sama saja dengan yang lainnya. Hanya ingin senangnya saja.”


               Ince terdiam, berusaha mencerna maksud dari Leo. Cukup lama ia menciptakan suasana hening diantara dirinya dan juga Leo. “Oke, aku bisa aja percaya sama kamu seratus persen tapi dengan bukti yang menyebar luas sekarang bagaimana aku bisa yakin begitu saja Leo. Bukan hanya satu dua orang yang tahu tentang ini semua tapi seluruh dunia. Bagaimana aku bisa membantu menyelesaikan masalah ini jika kamu saja tidak ingin jujur denganku. Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Setelah itu baru kita pikirkan jalan keluar yang paling baik dan aman.”


               “Aku nggak gitu Ince. Nggak mungkin juga. Aku normal, aku lelaki sejati. Jadi hentikan omong kosongmu itu. Ini semua hanya salah paham. Dia hanya teman, kita memang kadang-kadang jalan bareng. Bukannya jalan sebagai sepasang kekasih. Pasti ada yang ingin menjebakku.”


               “Teman? Sejak kapan Leo punya teman. Kok Ince sampai nggak tahu.”


               “Ince kan nggak pernah bertanya, gimana bisa tahu.”


               Ince yang mendengar penuturan dari Leo kini menarik napas panjang seraya berpikir keras untuk jalan keluar yang baik bagi Leo. Melihat wartawan yang sudah sejak tadi tidak meninggalkan apartemen, membuat Ince semakin kalut saja. Bagaimana Leo bisa bekerja dengan tenang dan damai jika situasinya genting seperti sekarang. Belum lagi jika kontrak kerjanya dibatalkan oleh beberapa pihak. Bisa rugi besar mereka.


               “Jalan satu-satunya adalah press conference. Menjelaskan semuanya di hadapan wartawan agar seluruh dunia bisa tahu kebenaran yang ada. Para fans juga pasti sedang menunggu klarifikasi sekarang.”


               “Really? Press conference. Apakah tidak ada yang lebih sulit dari itu? Kenapa tidak take down saja berita yang beredar” Leo menghembuskan napas berat. Sejak dulu, ia memang sangat malas untuk press conference.


               “Lakukanlah saja Leo. Hanya tiga puluh menit kok. Akan aku pastikan tidak lebih dari itu. Jika terus-terusan seperti ini, kita tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Bagaimana bisa kita terus-terusan bersembunyi seperti buronan kayak gini. Bukankah kamu ingin bekerja dan menghasilkan uang lebih banyak lagi.”


               Leo terdiam. Kata-kata Ince memang benar. Hidup seperti buronan tentu saja tidak akan membuat hidupnya tenang. Bahkan jika ia pindah ke luar negeri sekalipun di sana orang-orang tetap akan membicarakannya, sebab berita itu sudah menyebar luas hingga ke seluruh dunia.


               “Makanya segeralah mengencani seorang perempuan, sejak dulu kamu selalu enggan berpacaran. Padahal banyak yang ngantri di luar sana. Kalau kamu punya pacar kan pasti media nggak bakal meliput hal yang aneh-aneh. Kalau kamu betah ngejomblo gini, orang-orang juga pasti bakal ngira kamu beneran homo, Leo.” Ince menepuk bahu Leo dengan pelan sebelum akhirnya ia menghilang pergi bergegas ke dapur.