
Leo memandangi deretan karangan bunga yang sudah tertata rapi di pelataran toko kue milik mamanya. Tempat yang luas itu kini sudah terlihat sempit karena banyaknya pajangan ucapan selamat dan sukses yang berjejeran dengan sangat indah. Setelah lelah memandang Leo melangkah masuk ke dalam toko kue mamanya yang kini sudah ramai dengan tamu undangan. Beberapa diantaranya adalah teman-teman mamanya, dan ada pula beberapa rekan bisnis papanya.
“Selamat untuk pembukaan toko kuenya ya, Ma.”
Leo datang dengan membawa sebuket bunga lily berwarna merah muda, yang telah ia beli khusus untuk mamanya saat perjalanan menuju ke toko kue mamanya yang baru saja buka itu. Audi yang memang sangat menyukai bunga, langsung tersenyum lebar dan segera mencium anak kesayangannya itu. Leo hanya membalas dengan senyum kaku. Walaupun ia yang sudah membelikan bunga untuk mamanya namun itu semua ia lakukan, juga karena usulan dari Ince, managernya. Jadi bagi Leo tidak ada yang perlu ia banggakan di sini. Toh ia hanya sedang mengikuti nasehat seorang ahli sekelas Ince.
“Leo. Mama nggak nyangka banget loh kalau kamu juga bisa seromantis ini sama Mama. Senangnya punya anak kayak kamu,” ucapnya sambil tersenyum bahagia. Kini ia membawa Leo ke dalam pelukannya.
Teman-teman Audi yang sudah berada di dalam toko kue kini menatap anak dan juga Ibu yang sedang berpelukan dengan mesra itu. Mereka benar-benar merasa iri karena Audi memiliki anak yang romantis sekaligus sukses dalam karirnya, terlebih lagi Leo juga memiliki wajah yang tampan dan rupawan. Benar-benar paket komplit yang sengaja diutus Tuhan untuk membahagiakan Audi. Sangat jarang sekali anak seperti Leo dapat ditemui di jaman yang serba modern seperti sekarang ini. Biasanya, kebanyakan anak muda lebih senang menghabiskan uang untuk kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan orang tua. Namun di mata mereka, Leo adalah sosok yang berbeda. Itulah penilaian mereka dari yang dapat mereka lihat sekarang. Walaupun pada kenyataannya Leo sering membuat ulah juga. Hanya tak diekspos saja ke khalayak.
“Ma, udah dong. Malu tuh diliatin sama teman-temannya Mama.”
“Ih kamu tuh. Eh tapi makasih loh untuk bunganya. Jarang banget kamu mau ngasih Mama bunga. Mama senang banget deh dengan surprise hari ini.”
“Beneran senang, Ma?”
“Menurut kamu, Mama pura-pura senang gitu?”
“Ya siapa tahu. Mama kan jago banget actingnya.”
“Apa untungnya coba. Eh tapi kok tumben hari ini kamu nggak sibuk. Biasanya kan paling susah diajak ketemuan. Apalagi kalau harus hadir diacara nggak penting kayak gini. Kamu biasanya ogah-ogahan tuh.”
“Mama apaan sih. Nggak penting gimana coba. Bagi Leo itu, Mama yang paling penting.”
“Biasanya kan kamu pasti ada-adaaa aja alasannya. Entah inilah entah itulah. Pokoknya selalu penuh dengan alasan tiap kali Mama ajak ke acara-acara Mama.”
“Kan biasanya Ma. Sekarang beda cerita lagi, kan hari ini adalah hari special untuk Mama. Masa anak kesayangannya nggak nyempetin buat datang sih. Ya walaupun cuma bisa mampir bentar doang.”
“Kalau gini ceritanya, Mama jadi pengen buka toko kue setiap hari. Biar kamu selalu ada waktu terus buat Mama. Sama hadiah bunganya juga. Ah romantisnya. Mama jadi flashback ke masa lalu dulu, masa saat Papa kamu lagi ngejar-ngejar Mama. Persis banget romantisnya dengan kamu. Kayaknya sisi romantisnya Papa nurun di kamu deh.”
“Mama sayang, jangan mulai deh. Pake acara bahas masa lalu segala.”
“Hehehe. Mama terlalu bahagia soalnya. Sering-sering kayak gini yah. Biar Mama juga bisa sering-sering merasa senang. Kalau senang teruskan bisa awet muda bahkan tanpa ke dokter perawatan kulit, Leo.”
“Mama ini, bisa aja. Iya iya, apasih yang nggak Leo lakuin buat kebahagiaan Mama.”
Mendengar gombalan Leo barusan membuat Audi kembali mendekap tubuh anaknya lagi. Ia memeluk Leo dengan sangat eratnya hingga anak itu menjadi sesak napas juga karena pelukan mamanya.
“Kalau gitu Leo mau ke sana dulu. Haus banget nih habis dipeluk sama Mama.” Leo menunjuk meja tempat makanan dan juga minuman yang sudah ditata dengan sangat rapi. Sebenarnya ia tidak begitu haus juga, namun karena kini ia benar-benar menjadi pusat perhatian Ibu-Ibu rempong teman-teman mamanya itu, sehingga membuat Leo menjadi sedikit risih.
Audi yang mendengar keinginan anaknya pun langsung mengangguk. Tentu saja ia akan membiarkan anaknya pergi untuk mencicipi minuman ataupun makanan yang ada.
”Iya sana gih. Makanannya enak-enak loh. Hehehe sekalian promosi.”
Leo hanya tersenyum mendengar bisikan mamanya. Audi memang selalu berhasil membuatnya tertawa dengan segala tingkah konyolnya.
“Maaf ya Jeng, gara-gara ngobrol sama Leo, saya jadi mengabaikan kalian. Eh ayo dicicipi makanannya,” jelas Audi sembari tersenyum manis kepada teman-temannya yang sudah sejak tadi mencuri pemandangan yang sedang terjalin dengan sangat indah antara ia dan juga Leo, anaknya.
Suasana toko kue milik Audi benar-benar meriah. Ada banyak teman-teman Audi yang datang. Meskipun tetap saja suaminya tidak bisa datang. Papa Leo memang termasuk pengusaha sukses yang hampir tidak punya waktu untuk hal-hal seperti acara pembukaan toko kuenya hari ini. Pekerjaannya yang begitu padat membuatnya sangat sulit untuk bisa ditemui. Bahkan pekerjaan papanya bisa mengalahkan padatnya pekerjaan Leo. Paling lelaki itu berada di rumah ketika waktu istrahat saja. Tapi tak jarang juga ia justru lembur hingga terkadang tidak sempat pulang ke rumah. Dan Audi sudah memaklumi hal tersebut. Karena itulah ia akhirnya memilih untuk membuka toko kue ini, karena ia ingin menyibukkan diri dengan hal-hal lain selain berada di rumah saja. Rumah sudah terlalu sepi setelah anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Hanya ada pembantu dan juga tukang kebun di rumahnya, dan mengobrol dengan mereka saja kadang membuatnya bosan juga.
“Liana dan Lato nggak datang Ma?” tanya Leo saat ia sudah tiba lagi di samping mamanya.
“Mama lupa lagi, kalau Lato hari ini minta dijemput di sekolah. Soalnya Pak Anang nggak masuk kerja. Istrinya lagi sakit katanya.”
“Mama yang harus jemput? Ya ampun Ma, si bocah tengil itu ngapaian manja banget sih jadi anak. Kenapa nggak pesan taksi aja. Ngerepotin.”
“Ih Leo! Nggak boleh gitu sama adik sendiri. Lato kan masih kecil, mana tahu pesan taksi sendirian. Lagian kalau dia kenapa-napa Papa kamu bisa ngamuk loh.”
“Ngomong-ngomong Papa nggak datang ya, Ma?”
“Tadi malam sih Mama udah ngomong sama Papa kamu, Leo. Tapi katanya hari ini Papa kedatangan klien dari Korea gitu. Nggak mungkin bisa ninggalin klien yang udah datang jauh-jauh dong. Lagi pula cuma acara pembukaan toko kue juga kok, bukan acara nikahan kamu.”
“Papa kok gitu sih. Nggak pernah banget ada waktu buat Mama. Sibuk kerja mulu.”
“Udahlah Leo, lagi pula ada atau nggaknya Papa kamu di sini, toko kuenya tetap bakal buka kok. Jadi nggak usah ribet gitu dong. Kayak nggak tahu Papa kamu aja.”
“Tapi Ma tetap aj-“
“Leo, Mama lagi banyak tamu loh. Jangan mengundang perdebatan.”
“Hhh. Iya deh, Ma. Leo nggak bakal bahas masalah itu lagi.”
Leo menghembuskan napas berat karena pada akhirnya ia kalah debat lagi dengan mamanya. Setelah memperhatikan mamanya yang tampak sibuk dengan ponselnya, Leo jadi kepikiran sesuatu.
“Lato biar di jemput sama Ince aja, Ma.”
“Beneran?”
“Hem. Mama mana mungkin bisa ninggalin tempat ini. Nanti teman-teman Mama pada ngamuk semua lagi karena pemilik acara malah hilang entah ke mana. Kan lebih ribet lagi.”
“Tapi nggak ngerepotin Ince kan? Mama jadi nggak enak nih.”
“Mama apaan sih. Udah, Mama santai aja sana sama teman-teman Mama. Biar Leo telepon Ince dulu.”
Leo segera meninggalkan mamanya. Ia mencari tempat yang sedikit sepi agar bisa menelpon dengan nyaman. Tentu saja untuk menelpon Ince agar managernya itu bisa segera meluncur untuk menjemput Lato, adiknya di sekolah.
Setelah Leo menelepon, ia berniat untuk keluar sebentar dari toko kue milik mamanya. Ponselnya mendadak mati dan chargernya kebetulan disimpan di dalam mobil. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya. Leo kenal betul wajah yang sedang tertawa dengan lepasnya itu. Tidak mungkin bisa ia lupa bahkan setiap inci dari wajahnya sekalipun, Leo sungguh sangat hapal dengannya.
“Gadis itu?”
Leo benar-benar tidak habis pikir lagi sekarang. Mengapa wanita itu berada di sini. Dan kini ia pun seolah bertanya-tanya di dalam hati kecilnya, tentang apa gerangan yang kini membawa gadis itu ke hadapannya.
“Beneran dia nggak sih. Ah atau aku lagi halu kali ya. Tapi masa haluin muka dia. Nggak penting banget. Ahh nggak nggak nggak, pasti bukan dia. Aku lagi salah liat aja kali. Atau bisa jadi dia emang mirip aja kok. Lagian Mama nggak mungkin temenan sama orang rendahan kayak dia. Teman-teman Mama kan sosialita semua. Nggak mungkin dia. Pasti mirip aja, di dunia ini kan emang banyak orang yang memiliki wajah yang hampir-hampir mirip. Penampilannya juga beda kok, muka aja yang sama. Sudah jelas bukan dia. Udah ah, ngapain jadi mikirin gadis gila itu. Bikin emosiku jadi naik seratus tingkat aja.”
Setelah meyakinkan diri beberapa kali, Leo kembali melanjutkan tujuan awalnya untuk keluar dari toko kue mamanya. Secepat kilat ia menuju ke mobilnya, mengambil charger dan segera masuk kembali ke dalam toko. Meskipun kini, ia masih saja dipenuhi dengan bayang-bayang akan seorang wanita yang ia lihat sekilas sewaktu di parkiran beberapa menit yang lalu. Namun sebisa mungkin ia tetap bersikap abai.
Saat Leo masuk kembali ke dalam toko, seorang wanita melambai padanya dengan wajah yang sungguh sangat riang. Leo dapat mengenal wajah itu. Wajah menyebalkan yang membuatnya frustasi setiap hari karena tingkahnya yang konyol dan bersikap semaunya. Jika dilihat dari pakaian yang ia kenakan sekarang, sepertinya Leo bisa menebak jika perempuan itu sudah menghabiskan uangnya puluhan juta lagi hari ini. Memang hari ini ada beberapa notifikasi laporan pembelanjaan yang masuk lagi di ponselnya.
“Si anak kucing ngapain datang juga sih. Pasti mau bikin rusuh di tempat Mama.”