Love Language

Love Language
Apa Daya Tak Bisa Menolak



Ince, sang manager Leo datang dengan membopong setumpuk majalah yang ia dapatkan dari hasil pemotretan yang dilakukan oleh Leo beberapa pekan lalu. Ince yang begitu kerepotan dengan majalah-majalah yang menggunung kini mampu bernapas lega setelah ia tiba di kursinya. Di sana sudah ada Leo yang sedang duduk santai. Walaupun managernya begitu kelelahan, Leo justru tak berniat untuk menolongnya sama sekali. Lelaki itu hanya abai dan fokus dengan kegiatannya sendiri.


“Kamu nggak lagi sakit kan Le?” tanya Ince.


               “Sakit? Sakit apaan. Perasaan aku baik-baik aja.”


               Leo yang menyadari kedatangan Ince hanya melirik lelaki itu sekilas, lalu melanjutkan kembali kegiatannya dengan ponsel kesayangan yang tengah ia genggam dengan begitu eratnya. Sekarang ia sedang memilah milih foto terbaiknya untuk kemudian ia post di feed instagram miliknya. Tentu saja bukan foto alay atau semacamnya, melainkan foto produk dari klien yang bekerja sama dengannya.


               “Nggak gitu Leo. Soalnya tumben-tumbenan kamu mau ikut acara keluarga gitu. Biasanya kan kalau Bu Audi ngajak kamu ke acara keluarga, kamu mana mau pergi. Paling maksa-maksa Ince buat bohong kalau kamu lagi banyak jadwal. Iya kan?”


               “Oh soal Mama. Hari ini, acara pembukaan toko cake barunya. Kebetulan dekat studio juga kan. Jadi sekalian datang aja. Itung-itung ngucapin selamat juga ke Mama.”


               ‘Walau ada agenda selain itu juga sih,’ jelas Leo yang tentu saja hanya ia lontarkan di dalam hati saja.


               “Nggak nyangka seorang Leo bisa semelow ini juga. Jangan bilang gara-gara ditumpahi kopi panas sama karyawannya Pak Bayu kemarin, makanya kamu jadi aneh gini. Otak kamu nggak bergeser kan, waktu syuting iklan kemarin. Kalau kamu sampai geger otak dan semacamnya kan bisa bahaya, Leo. Cicilan mobil dan KPR rumah ince bisa gagal bayar semua kalau Leo nggak ada job.”


Leo yang sedang mencium aroma-aroma ejekan lewat ucapan manajernya itu, sontak menghentikan kegiatannya. Ia lantas mendonggak untuk melihat Ince yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Lelaki yang semula asyik tertawa itu, langsung menghentikan tawanya dengan sangat terpaksa.


“Maaf Le, tadi bercanda doang kok. Serius gitu tatapannya.”


“Jangan maksa saya buat nyari manajer baru ya, Ce.”


               “Eh jangan Le, bercanda doang kok itu. Beneran. Ince berani sumpah loh.”


Leo masih menatapnya dengan tatapan tajam yang ia miliki. Dan hal itu pun berhasil membuat Ince ketakutan.


“Sumpah, sumpah. Emang kamu berani pake sumpah pocong, ha?”


“Pocong, eh pocong. Buset dah, macam tak ada sumpah paling bagus aja, Le. Serem amat pembahasannya.” Ince langsung merinding saat berkhayal tentang pocong. Dan Leo yang melihat wajah tegang managernya karena terlalu takut itu langsung tertawa terbahak-bahak karenanya. Ince yang sadar diri pun hanya bisa memasang wajah sedih karena menjadi bahan bulan-bulan bosnya di pagi hari.


 “Gimana kalau kita order satu buket bunga sebagai hadiah untuk Bu Audi. Biar aku pesan sekarang ya, Le,” pinta Ince berusaha membujuk Leo.


“Serah kamu dah.”


Leo bergegas ke kamar kecil, dengan meninggalkan ponselnya di atas meja. Ince yang sedang membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, tanpa sengaja melihat ponsel milik Ann, yang ia temukan kemarin ketika masih berada di lokasi syuting bersama dengan Leo. Sambil berpikir, Ince berucap pelan.


“Leo ngapain sih masih nyimpan handphone milik wanita itu. Kasian kan dia, jadi nggak bisa pakai handphone lagi. Apa untungnya juga coba kalau dia ngambil mlik orang lain. Yang ada malah bikin susah aja.”


“Kamu kenapa lagi ngomong sendiri, Ce?”


               Leo yang datang dari belakang Ince membuat lelaki itu menjadi sedikit kaget. Setelah melihat Leo, ia lantas menenangkan diri kemudian. “Ngapain masih nyimpan ponsel orang lain sih, Le. Kasian yang punya, loh. Kenapa nggak dibalikin aja.”


               “Pake nanya kenapa lagi. Ini namanya balas dendam secara cerdas, Ce. Anak itu harus diberi pelajaran biar tidak kurang ajar lagi lain kali. Apalagi sampai berani berurusan sama Leo.”


               “Ya ampun Alan Leo Ferlian, dia kan udah minta maaf.”


               “Terus menurut kamu, maaf bisa membuat kemeja saya bersih kembali. Nggak kan. Jadi udahlah, kamu nggak usah sok care kayak gitu sama dia. Nggak ada untungnya juga kan. Mendingan kamu ngurus kerjaan kamu aja sana, itu lebih ada faedahnya dan lebih menghasilkan cuan juga.”


               “Leo, ka-“


               Belum sempat Ince melanjutkan kalimatnya, Leo langsung mengangkat tangan, memberi kode kepada Ince agar mulut lelaki itu segera berhenti berbicara. Setelah Ince diam, Leo menjawab panggilan telepon dari mamanya.


               “Iya halo, Ma.”


               “Iya Mama. Leo selesaiin kerjaan dulu di sini baru on the way ke sana. Jarak studio dan toko kue Mama kan nggak jauh-jauh amat. Jadi bisa sampai di sana dengan cepat.”


               Setelah panggilan telepon terputus, Leo segera mencari tahu keberadaan Ince yang sudah menghilang entah ke mana.


               “Ince, Ce.”


               “Iya, aku lagi di kamar mandi, Le. Ada apaan.”


               Leo menghentikan teriakannya setelah mendengar suara Ince menggema di dalam kamar mandi. Tidak seharusnya ia mengganggu Ince yang sedang bertapa di dalam ruangan sempit itu. Ia pun mengurungkan niatnya, dan memutuskan untuk menunggu hingga Ince kembali dari dalam kamar mandi. Sembari menunggu, ia menghubungi nomer Bunda Ann. Nomer yang dipakai oleh Ann menelpon semalam kepadanya. Ia memang berencana untuk mengembalikan ponsel milik Ann hari ini.


*** 


               “Bunda, baju ini beneran berlebihan banget sih menurut Ann. Kenapa nggak baju kaos aja sih. Ini kan cuma acara pembukaan toko cake aja, bukannya acara pesta nikahan. Ngapain pakai dress segala sih. Lebay banget,” keluh Ann sembari memandangi dress mini berwarna biru langit yang kini ada di atas kasurnya.


               Sebenarnya Ann sudah siap berangkat sekarang. Gadis itu sudah rapi dengan celana jeans yang dipadukan dengan kaos polos putih. Rambutnya sengaja ia kepang, agar tidak terlihat terlalu berantakan. Dan kakinya pun sudah ia balut dengan sepatu sneaker putih andalannya.


               Hanya saja seperti biasa, bundanya menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan pakaian yang harus Ann kenakan. Sama seperti ketika ia harus menyiapkan pakaian dan juga tas untuk Ann kenakan ke kantornya setiap hari kerja. Dan begitulah sikap bundanya sekarang. Menyiapkan segala hal untuk Ann, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Ann yang merasa sedang dianiaya oleh bundanya secara halus, hanya bisa mengeluh tanpa henti. Meskipun ia tahu jika hal itu tentu tidak ada gunanya sama sekali. Sebab Adyana pasti akan bersikeras agar Ann mau mengenakan baju pilihannya itu. Dan Bunda Ann bukanlah wanita yang mau menyerah begitu saja. Sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan maka selama itu pula ia akan berjuang. Hal itulah yang selalu membuat Ann kalah di hadapan bundanya.


               Disela kesibukan Ann memandangi baju yang sudah disediakan oleh bundanya, kini wanita itu kembali datang dengan membawa peralatan make upnya yang menggunung. Ann yang melihat hal tersebut langsung melotot sempurna saking kagetnya.


               “Bunda!” Ann menelan liur beberapa kali sebelum akhirnya ia bisa mengeluarkan sepatah kata. Disaat kondisi genting seperti ini Ann memang tidak mampu berkata-kata. Terlalu banyak kejutan yang disuguhkan bundanya hari ini. Namun tidak satupun diantaranya yang Ann suka dari itu semua. Sebab Ann sungguh benci menjadi wanita rempong yang harus stylish apalagi jika sudah berurusan dengan bedak dan lipstik. Ann muak dengan benda asing itu.


               “Sini biar Bunda poles wajah kamu dulu, habis itu baru deh pakai baju cantik ini.”


               “Bunda, Bunda, Bunda tunggu dulu. Ini kita sebenarnya mau ke mana sih. Bukannya cuma mau ke acara pembukaan toko cakenya teman Bunda aja ya. Kok aneh banget sih. Pake dress segala, udah gitu muka dicemong-cemongin juga. Kayak mau ke kondangan aja.”


               “Aneh gimana. Kamu tuh yang aneh. Anak perempuan itu emang harus gini kali penampilannya, Ann. Kamu aja tuh yang terlalu santai pake banget untuk urusan penampilan. Masa penampilan kamu gembel gitu sih. Memangnya kamu mau buat Bunda malu di depan teman-teman Bunda.”


               “Aduh Bunda, nggak gini juga dong. Ann beneran nggak niat buat dandan apalagi memakai baju lebay kayak gini. Iyyuuuhhh nggak banget. Baju kaos aja ya Bun, ayolah. Baju Ann nggak gembel-gembel amat kok.” Ann mengacak rambutnya frustasi dengan semua keinginan bundanya yang sama sekali tidak mampu ia terima itu.


               Adyana tentu tidak ingin kalah begitu saja. Setelah menerima telepon dari Audi dan mengetahui bahwa anak dari temannya itu bakal ikut datang di acara pembukaan toko kuenya tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan emas tersebut begitu saja. Apalagi, mereka berdua memang sudah sejak lama merencanakan hal itu. Perjodohan antara Ann dan juga anak Audi. Hanya saja belum ketemu dengan waktu yang pas saja karena kedua anak mereka adalah anak-anak yang gila kerja.


               “Ann, kamu tahu teman-teman Bunda kan. Mereka itu pada modis-modis semua. Apalagi dia tahu kalau kamu lulusan dari sekolah mode di Paris. Masa nggak ngerti model sih. Lagian Bunda heran deh sama kamu. Udah capek-capek dimasukin sekolah fashion tapi sama sekali nggak ngerti fashion. Kamu itu perempuan Ann, bukannya laki-laki. Jadi bersikap sesuai jenis kelamin kamu dong. Ayolah, jangan bikin Bunda malu.”


               “Ann bukannya nggak ngerti fashion Bun, tapi Ann nggak nyaman aja memakai baju kayak gini. Ann lebih suka yang simple-simple aja. Bunda ngertiin Ann juga dong. Lagi pula teman Bunda pasti ngerti juga kok kalau Ann nggak suka yang terlalu mencolok, terlalu berlebihan kayak gini. Diakan kenal Ann sejak kecil, jadi pasti mereka nggak bakal kaget kalau liat Ann yang biasa-biasa aja. Ann nggak suka pura-pura di depan khalayak hanya untuk menarik perhatian orang lain, Bun.”


               “Ann, ikuti kata Bunda atau kamu mau kalau Bunda marah sama kamu selama sebulan?”


               “Yah Bunda, tadi bilangnya seminggu. Terus sekarang malah dinaikin lagi menjadi sebulan. Ann heran deh sama Bunda-Bunda jaman sekarang. Suka banget liat anaknya sendiri menderita.”


               “Udah cepetan sini. Kita udah telat nih gara-gara kamu mengulur waktu terus.”


               “Bunda...” rengek Ann sekali lagi. Ann masih saja berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan bundanya.


               “Nggak ada tawar menawar ya, Ann. Pokoknya hari ini kamu ikutin keinginan Bunda. Lagi pula nanti kamu pasti bakal berterima kasih kok sama Bunda.”


               “Terima kasih? Terima kasih apaan coba. Nggak ada terima-terima kasih ya, Bun. Ini namanya terima penderitaan.”


               “Kita lihat aja nanti,” jelas Adyana sambil diikuti senyum penuh makna.