Love Language

Love Language
Penyelamatku



... ...


“Astaga!” Jun mengelus dadanya beberapa kali sebelum akhinya ia duduk di sofa yang ada di ruang tamunya. Dengan wajah yang masih dipenuhi rasa kaget, ia berjalan perlahan.


               “Bukankah seharusnya kamu menghubungiku lebih dulu sebelum ke sini. Hampir saja aku mati mendadak karena kaget. Untung aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung,” lanjut Jun lagi seraya melepas kemeja yang ia kenakan.


               Leo hanya terkekeh senang melihat Jun terlihat begitu panik. Dengan wajah yang masih dipenuhi dengan tawa, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Menikmati setiap jeda yang masih ia miliki sekarang.


               “Ada apa? tumben ke sini tiba-tiba.”


               Leo melirik gelasnya yang berisi wine, meraih gelasnya, lantas memutar perlahan lalu menikmati sensasi dari wine tersebut. Setelah puas dengan adegannya barusan ia meletakkan kembali gelas itu, lalu beralih untuk melihat setiap inci dari lekuk wajah miliki Jun.


               “Tidak ada apa-apa. Hanya rindu saja.”


               “Rindu? Omong kosong apa lagi itu.”


               “Omong kosong katamu. Kau tak suka dirindukan lagi sekarang. Apa kedai kopimu itu sudah benar-benar mencuri duniamu dariku.”


               “Ya karena sudah hampir dua tahun lamanya aku tidak pernah lagi mendengar kata itu. Aku pikir kau sudah lupa cara menyebutkannya.”


               “Mau kutuangkan wine juga?” jelas Leo mencoba untuk menawarkan, tepatnya ia sedang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


               “Kamu sudah makan?” ucap Jun balik bertanya.


               Leo melirik Jun yang kini meninggalkan sofa. Lelaki itu kini berpindah menuju ke ruang dapur. Setelah melepas kemejanya dan hanya memakai baju koas saja, ia kembali bertarung dengan dapur. Terlihat Jun sedang mengeluarkan beberapa isi bahan makanan yang ada di dalam kulkasnya sekarang.


               “Spageti sepertinya bukan menu makan malam yang begitu buruk,” ucapnya tanpa melirik Leo sama sekali.


               “Jun kau pasti lelah bekerja seharian. Kenapa tidak pesan makanan saja. Itu lebih praktis. Dan kau tidak harus repot mengurus makanan.”


               Namun Jun tidak mengindahkan permintaan Leo. Ia justru tetap kokoh dengan keinginannya untuk memasak sendiri. Jun memang sangat senang memasak untuk Leo. Baginya, melihat Leo menikmati dan menghabiskan makanannya adalah suatu bentuk kebahagiaan tersendiri untuknya. Dan itulah yang selalu ia lakukan selama tujuh tahun bersama dengan Leo.


               “Ya sudah jika kau ingin memasak.”


               Leo akhirnya menyerah. Dengan wajah penuh kecewa, ia kembali ke ruang tamu. Menikmati waktu istrahat di sana sambil meneguk segelas wine dan juga mengamati tayangan televisi yang begitu membosankan baginya.


...***...


“Eriyajun, kau bisa memanggilku Jun,” ucap sang lelaki yang mengenakan mantel tebal berwarna biru malam. Ia mengulurkan tangannya di tengah hawa dingin yang begitu mencekam tubuh masing-masing.


Di tengah desau angin pesisir pantai, deburan ombak seolah menjadi kian mendekat ke permukaan kaki keduanya. Dengan bermandi pasir, mereka saling berbaring dengan wajah yang memandang langit. Tidak ada yang menarik di kejauhan sana, selain kerlip bintang dan cahaya rembulan yang hanya nampak sebagian.


               Keduanya saling bersebelahan, memeluk diri masing-masing. Berusaha menghangatkan tubuh dengan balutan mantel tebal berbahan bulu. Di tengah udara yang semakin dingin, keduanya malah memilih untuk tetap tinggal di pinggir pantai Jeju yang tampak begitu sunyi dari biasanya.


               Tidak ada janji sebelumnya. Keduanya justru dipertemukan semesta begitu saja. Dengan bermodalkan tubuh yang kokoh, mereka saling berbagi rasa, bertukar perjalanan hidup. Hidup yang sama-sama tidak mudah. Terpuruk dan hilang di tempat yang asing, lantas menemukan seseorang yang bisa memahami kondisi satu sama lain dengan cukup baik, bukankah merupakan hal yang paling sempurna. Namun meskipun tetap saja, tidak ada yang special malam itu, selain pantai yang benar-benar dingin.


               “Eriyajun, nama yang unik. Aku Leo, Alan Leo Ferlian. Orang-orang biasanya menyebutku Leo, sebenarnya Alan juga bisa. Tetapi Leo lebih mudah diingat dan cukup singkat untuk disebutkan. Jadi Leo saja.” Setelah meraih jabat tangan dari Jun, ia tersenyum manis. Semakin terlihat manis karena tubuhnya yang kini dibalut pakaian berwarna coklat muda.


               “Jadi kau kuliah di Seoul,” lanjut Leo lagi.


               “Begitulah. Tapi hari ini aku telah resmi di DO.”


               “DO? Bukankah itu berita yang terlalu kejam untuk dibagi kepada orang baru sepertiku.”


               “Tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini Leo. Hanya sebutannya saja yang baru. Toh kenyataannya semua yang ada di dunia ini hanyalah sekumpulan sampah usang yang sudah peot, bukan.”


               Leo tertegun mendengar ucapan Jun barusan. Dengan wajah penasaran ia menoleh, “Kau menyebutku sampah?”


               “Hem. Bukankah kita berdua memang sampah. Aku terlantar di sini karena telah di hempaskan dari kampusku yang terhormat itu. Sementara kamu, bukankah kamu juga berada di sini karena tersingkir dari posisimu yang begitu agung dan mulia. Apakah aku salah, wahai sang bintang?”


               Leo meneguk air liurnya sendiri. Tidak dapat ia sangkal ucapan manusia sok tahu itu. Memang ia sedang terdampar di pulau ini karena sudah terlalu lelah dengan dunianya yang penuh dengan aturan. Bahkan untuk urusan menu makan siang saja harus diperdebatkan. Menjadi seorang bintang memang sebuah neraka bagi siapapun.


               “Haruskah para sampah sialan ini merayakannya bersama dengan sebotol wine. Sudah lama aku tidak menikmatinya.”


               Jun menoleh, seolah tak percaya dengan ajakan lawan bicaranya barusan. Sambil menaikkan kedua alisnya, ia bertanya pelan. “Wine?”


               “Bukankah itu ide yang cukup sempurna untuk menghabiskan sekaligus mengabadikan pertemuan kita malam ini.”


               “Oke, why not. Wine is a good drink. And I love it wine in a long night.”


               Leo membersihkan pakaiannya yang terkena pasir, setelah selesai ia segera naik ke mobilnya. Tentu saja bersama dengan Jun, seseorang yang baru saja ia temui itu. Teman pertamanya selama ia terdampar di tempat yang jauh dari rumahnya.


               Mobil Leo memasuki parkiran hotel bintang lima yang cukup mewah, yang berada tidak jauh dari pantai tempatnya bertemu dengan Jun tadi. Saat Leo mengajaknya untuk segera turun, Jun mengerucutkan bibrnya sambil menatap Leo dengan seksama. Mungkin ia sedang menantikan penjelasan dari lelaki itu.


               “Aku pikir kita akan ke dis-“


               “Aku tak suka keramaian. Di sana juga terlalu berisik dan sesak. Aku jadi tidak bisa menikmati wine dengan khidmat,” potong Leo sebelum Jun melanjutkan kalimatnya.


               “Oh.” Jun hanya beroh ria tanpa melanjutkan perbincangan lagi hingga ia berada di kamar hotel yang dituju oleh Leo.


               Saat pertama kali masuk ke dalam kamar, Jun cukup terkesan juga dengan luas dan kemegahan tempat itu. Namun setelah mengingat bahwa hotel yang ia datangi sekarang adalah hotel termewah yang ada di pulau Jeju, ia akhirnya mengangguk paham.


               “Sepertinya kau bukan bintang kere.”


               Leo melepaskan mantelnya dan melemparnya ke kursi yang dekat dengan pintu menuju balkon. Ia berputar menuju kulkas dan mengambil sebotol air minum dingin di sana. Setelah meneguk airnya, barulah ia menjawab Jun.


               “Buat apa jadi seorang bintang jika nanggung dan hanya setengah-tengah saja. Aku selalu memiliki prinsip, kerja total atau tidak sama sekali,” jelasnya yang diakhiri dengan senyuman. Ia tentu saja cukup berbangga hati dengan prinsipnya itu.


               “Hehehe, sepertinya kau orang yang cukup optimis. Hanya saja, tidak seharusnya kau berakhir di pulau kecil seperti ini.”


               “Kau mengejekku?”


               “Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. Itu fakta, bukan sebuah ejekan.”


               “Sama saja.”


               “Tidak sama. Jelas berbeda.”


               “Meski bagimu berbeda, tetapi tetap saja ucapanmu melukai perasaanku.”


               “Ya sudah, berarti sama saja.”


               Leo kembali menatap Jun. Seolah ada banyak tumpukan teka-teki yang sedang berusaha ia pecahkan. Dan kini ia menjadi kian penasaran dengan sosok yang baru ia temui itu.


               “Kau menarik, aku suka.”


               “Aku sudah sering mendengar hal itu. Bahkan sampai muak sendiri mendengarnya.”


               “Padahal aku pikir, aku yang pertama.”


               “Hanya saja sepertinya, kau yang pertama kali membuat jantungku berdetak hebat.”


               Hembusan napas Leo seolah berhenti detik itu juga. Rasa-rasanya ia tak dapat menghirup oksigen yang jelas-jelas melimpah ruah di udara. Bukan karena oksigen untuknya sudah habis, tetapi karena ia yang enggan untuk melakukannya. Kalimat Jun barusan lebih menarik untuk diperhatikan dibanding harus menghirup oksigen yang sudah tertumpah ruah tak jelas di udara.


               Sinar mata Leo seolah memberikan hasrat tersendiri bagi Jun. Wajahnya yang sempurna, membuat Jun tidak dapat mengelak jika lelaki yang kini sedang berdiri dengan kaos hitam polos di depan sana, memang sangat amat tampan. Dan juga bibir Leo yang benar-benar seperti apel manalagi, yang menggantung saat berbicara. Jun tidak sanggup lagi menahan diri. Dan satu kalimat tadilah yang keluar begitu saja dari bibirnya. Tanpa sempat ia rencanakan ataupun ia konsep sebelumnya.


               “Kau satu-satunya manusia yang membuatku ingin segera bercinta.”


               Malam itu, segalanya terjadi begitu saja. Tanpa pernah direncanakan ataupun dipikirkan sebelumnya. Seolah-olah Tuhan sudah mengatur segala halnya. Mulai dari perjumpaan yang tanpa disengaja, hingga pelukan yang tidak seharusnya. Dunia telah merubah segalanya menjadi sebuah hal yang cukup rumit untuk dipahami namun menjadi amat menyenangkan untuk dialami. Entah yang Leo lakukan salah ataukah benar, namun baginya, malam ini adalah malam paling bahagia yang pernah ia dapatkan selama menjadi seorang Leo.


               Di tengah udara dingin yang masuk dari pintu balkon yang sengaja dibiarkan terbuka, keduanya saling bersembunyi di balik selimut dan saling memeluk diri satu sama lain. Menikmati setiap detik waktu yang kian memabukkan meski tanpa tambahan wine ataupun sebotol vodka. Segalanya telah bersatu, membentuk perasaan yang saling menghangatkan satu sama lain. Musim dingin di pulau Jeju telah berganti warna menjadi hangat yang telah penuh dengan cinta yang begitu menggebu-gebu.


               “Kau adalah orang pertama yang telah merampas kesucianku yang sudah ku jaga sejak dulu.”


               Jun seketika menoleh, meneliti tiap inci dari bola mata lelaki yang kini sedang menatapnya pula dengan tatapan yang amat lelah. “Dan kau adalah seorang bintang yang berhasil membuatku percaya akan cinta.”


               “Kau percaya dengan cinta?”


               “Ini mungkin sebuah kesalahan. Tetapi perasaan siapa yang bisa menahan. Leo, tolong selamatkan aku sekali ini saja. Tetap seperti ini denganku. Aku yakin dengan begitu aku bisa hidup lebih lama lagi di dunia. Kamu satu-satunya harapanku.”


               “Maksudnya? Kamu-“


               “Kita bertemu lagi setelah aku kembali ke Jakarta.


               Di depan TV yang ada di apartemen Jun kali ini, Leo tersenyum tipis sembari mengingat kembali awal mula pertemuannya dengan Jun di Pulau Jeju. Pulau yang menjadi pelarian dan juga titik balik bagi hidupnya yang hampir saja hancur berkeping-keping. Jun adalah penyelamat baginya. Tanpa kehadiran Jun kala itu, mungkin kini sudah tidak ada lagi seorang Leo di dunia ini.


...*** ...