
Leo terbangun saat menyadari
sinar matahari telah memenuhi kamar tidurnya. Bersenang-senang dengan
kekasihnya sepanjang malam membuatnya lupa dengan jadwal syuting yang harus ia
hadiri hari ini. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Ia sudah
terlambat dua jam yang lalu.
“Sial,
kenapa Jun nggak bangunin aku sih. Telat gini kan,” umpatnya saat keluar dari
kamar. Dengan langkah terburu, Leo meraih jasnya, dan segera merapikan
kemejanya yang begitu acak-acakan. Bahkan kini ia lupa meletakkan kaos kakinya
di mana. Namun bukan waktu yang tepat untuk mengurusi hal sepele seperti itu.
Ia harus segera ke lokasi syuting sekarang. Sebelum manajernya mengucap sumpah
serapah lagi padanya.
“Nggak
sarapan dulu?”
Leo
menoleh. Saat mendapati Jun tersenyum di ujung sana, ia langsung
menggeleng-gelengkan kepala sembari menghembuskan napas berat. “Harusnya kamu
bangunin aku Jun. Kan sudah aku bilang, setiap detikku sangat berharga.
Sekarang aku baru saja kehilangan seratus jutaku karena buang-buang waktu di tempat
tidur tau nggak.”
Jun
terkekeh di ujung dapur. Sambil menyodorkan roti bakar yang sudah ia tata di
atas piring. “Padahal sudah ku buatkan roti kesukaanmu loh.”
“Lain
kali aja, aku udah telat banget nih, udah nggak ada waktu,” jelas Leo dengan
langkah terburu-buru. Tak lupa sebelum benar-benar beranjak pergi, ia
menyempatkan diri untuk mengecup kening Jun lalu lanjut mencium bibir lelaki
itu. Ciuman hangat yang sama sekali tidak dibalas oleh Jun.
“Makanya
berhenti saja menjadi artis,” teriak Jun saat Leo sudah menghilang dari pintu apartemennya.
Leo
yang sedang berada di dalam lift hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar
ocehan Jun yang itu-itu saja. Di setiap pertemuannya, pasti Jun akan memintanya
untuk berhenti saja menjadi artis. Namun tidak dapat Leo kabulkan permintaannya
itu. Bukan karena Leo tidak mencintai Jun, ia hanya tak bisa hidup jika harus
berhenti menjadi artis. Bernyanyi di depan fansnya, bermain film dan segala hal
yang berkaitan dengan pekerjaannya sudah seperti napas bagi Leo. Mungkin jika
ia tidak melakukan hal-hal menyibukkan itu, maka sama saja ia sedang membunuh
dirinya sendiri secara perlahan. Jika disuruh memilih antara Jun dan
profesinya, Leo tentu tidak bisa memilih salah satunya. Sebab keduanya adalah pilihan
yang cukup berat baginya.
“Untung
saja ponselku mati total,” ucapnya saat menyusuri jalan Ibukota yang tidak
macet. Kali ini jalan raya sepertinya mendukung dirinya secara penuh. Macet
yang biasanya terjadi di daerah menuju kantornya, untuk hari ini justru lancar-lancar
saja. Tanpa macet sedikit pun. Dan sekarang yang harus ia pikirkan hanyalah
memikirkan alasan apa yang harus ia sampaikan kepada manajernya ketika tiba di
lokasi syuting nanti. Sebab Leo tahu betul jika manajernya pasti sudah marah
besar sekarang.
***
“Haruskah
kita cancel acara hari ini saja Pak?
sepertinya Leo tidak bisa hadir di sini dan kasian juga para kru yang sudah
menunggu sejak tadi.”
Ince
mengusap wajahnya beberapa kali, kesal dan marah dengan Leo yang tiba-tiba saja
menghilang entah di dunia belahan mana lagi. Ia sudah menelpon kediam rumah Leo
namun lelaki itu tidak sedang berada di rumah. Di apartemennya pun kosong.
Entah di mana lagi lelaki itu sedang berada. Sementara setahu Ince, Leo tidak
memiliki teman sama sekali apalagi pacar. Lelaki itu adalah sosok yang cukup
tertutup, tidak senang bergaul.
“Saya
mohon tunggu sebentar ya Mbak, soalnya kalau jadwalnya di undur ke hari lain
bakal repot lagi. Jadwal Leo sudah sangat padat. Apalagi minggu depan ia akan
konser di Thailand, pasti akan sulit mendapatkan waktunya lagi. Beri saya waktu
satu jam lagi untuk menunggu.”
“Hhh...
baiklah.”
Ince
kembali duduk di kursinya sembari mengotak-atik ponselnya yang masih saja tidak
bisa menghubungi Leo sama sekali. Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan Leo.
Apakah lelaki itu akan datang atau tidak. Apalagi sekarang Leo tidak dapat
dihubungi sama sekali. Namun jika harus memidahkan jadwal Leo ke hari lain, hal
itu lebih tidak mungkin lagi. Jadwal Leo sudah benar-benar padat.
Memindahkannya ke hari lain hanya akan membuat jadwalnya yang lain menjadi
semakin kacau balau.
“Silahkan
minumannya Pak,” tawar salah satu kru yang bertugas.
Ince
hanya melirik kopi latte yang ditujukan padanya itu. Sebenarnya ia belum sempat
ngopi sebelum ke lokasi syuting, namun karena perasaannya sedang tidak karuan
sekarang maka kopi pun sudah tidak menarik lagi di matanya.
“Iya
terima kasih. Tapi saya sedang tidak minum kopi,” tolaknya dengan sopan.
“Aduh
lagi. Harusnya aku tidak memberi dia waktu luang kemarin. Jadi repot sendiri
kan.”
“Sorry, tadi pagi aku mules sampai harus
bolak balik kamar mandi. Makanya telat,” ucap seseorang yang baru saja datang
dari arah belakang Ince.
“LEOOO!”
Leo yang
sudah bisa menebak raut wajah manajernya langsung memasang wajah lemasnya,
sebelum Ince semakin marah lagi padanya. Sebagaimana pekerjaannya sebagai
seorang aktor, sebisa mungkin Leo memainkan perannya sekarang. Peran seorang
lelaki yang sedang sakit perut parah mendekati stadium akhir.
“Ini
aja perut aku masih mules banget. Tadi dokter bilang aku harus istrahat yang
banyak tapi karena ingat ada jadwal syuting iklan makanya aku maksain buat
datang.”
“Aduh
Leo, harusnya kalau ada apa-apa segera kabari Ince dong. Tapi kamu sudah minum
obat kan?”
“Aku
udah nggak sempat ngecek ponsel. Kayaknya ponsel aku mati total di rumah. Udah
kok, udah minum obat tapi masih agak sakit sedikit sih. Tapi untuk kerja
sebentar kayaknya masih oke,” jelas Leo berusaha sebisa mungkin untuk
berpura-pura. Ia memang sangat pintar dalam hal acting.
“Ya
udah sekarang kita siap-siap untuk syuting. Sis, tolong di make up sekarang.” Ince setengah berteriak memanggil make up artis yang sedang bertugas di
sana.
***
“Jadi
itu yang namanya Leo. Kamu kok bisa sesuka itu sama orang kayak dia sih, Dwi,”
ketus Ann saat melihat orang yang bernama Leo itu datang di lokasi syuting.
Saat Dwi menunjukkan foto Leo kemarin, Ann memang hanya melihat sekilas dan
tidak terlalu memperhatikan juga. Dan meskipun sebelumnya ia sempat memiliki
rencana untuk mendekati Leo, namun setelah melihat sikap lelaki itu Ann
mendadak mundur duluan.
Bukannya
menjawab, Dwi justru senyum-senyum sendiri bagai orang gila saja. Bagi Dwi
tidak masalah jika ia harus menunggu lama, selama yang ia tunggu itu adalah
Leo. Namun tidak demikian dengan Ann. Sudah sejak tadi ia kesal karena harus
menunggu artis yang benar-benar ngaret itu. Bagi Ann, Leo adalah orang yang
tidak profesional. Tidak menghargai waktu yang ada. Untuk pekerjaan kecil saja
ia sudah mengacaukan semuanya, bagaimana bisa untuk pekerjaan skala besar
seperti sebuah hubungan pria dan wanita. Itulah yang membuatnya tidak lagi
tertarik untuk mendekati lelaki itu. Sebisa mungkin ia mengubur rencananya
kemarin. Mendekati Leo agar membuat Bayu menjauh darinya bukanlah rencana yang
baik malah makin membuatnya stress saja, itulah yang ada dipikiran Ann
sekarang.
“Tidak
seharusnya dia menjadi artis papan atas yang cukup tenar dengan sikap ngaret
seperti itu. Dia pikir dia siapa bisa seenaknya saja membuat orang lain
menunggu. Memangnya dia Dewa, apa. Dasar artis tidak tahu aturan,” ketus Ann
disela-sela menyiapkan peralatan yang akan dipakai untuk syuting iklan.
“Barusan
kamu bilang apa? hehehe, memangnya kamu nggak tahu siapa saya. Bahkan Dewa saja
kalah dengan ketenaran sang Leo. Harusnya kamu tahu itu gadis pengumpat.”
Leo
yang baru saja berganti pakaian tanpa sengaja mendengar suara sumbang yang
berasal dari mulut Ann. Sebenarnya ia mengakui jika ia memang salah dalam hal
ini, namun membiarkan orang lain membicarakannya dengan buruk membuat Leo cukup
marah juga. Ia tidak bisa lagi menyimpan emosinya sekarang.
“Gadis
pengumpat katamu?” mata Ann melotot melihat Leo. Ingin sekali ia menerkam
lelaki yang kini sedang berlagak sok tampan di depannya itu.
“Harusnya
Bayu mengurus bawahannya dengan benar dulu sebelum mengajakku bekerja sama
dengan perusahaannya. Tidak punya sopan santun.”
Leo
berlalu melewati Ann yang benar-benar terlihat kesal dengannya. Tanpa mengabaikan
Ann, Leo bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tapi sudahlah, sekarang waktunya
untuk bekerja bukan untuk mengurusi kecoa seperti dia,” ucap Leo dengan nada
sinis setelah melewati Ann.
“What. Dia ngomong apa barusan? Kecoa?”
Ann memandang punggung lelaki
yang baru saja melewatinya sembari membisikkan kata-kata yang tak pas di
telinganya. Belum kelar emosinya mereda karena kegiatan syuting yang berjalan
dengan lamban hari ini, Leo justru membuatnya makin emosi lagi. Ann tidak tahan
lagi, dengan sekuat tenaga ia meremas cup
paper kopi yang ada di tangannya hingga nyaris penyot.
“Astaga Ann, gelasnya sampai
penyot segala. Tapi tunggu. Kayaknya aku punya rencana menarik buat lelaki sok
tahu tadi. Enak saja mengataiku kecoa. Kita lihat saja nanti, siapa yang lebih
pantas bersanding dengan kecoa yang menjijikkan. Aku atau justru dirinya
sendiri.”