Love Language

Love Language
Gadis Pengumpat



Leo terbangun saat menyadari


sinar matahari telah memenuhi kamar tidurnya. Bersenang-senang dengan


kekasihnya sepanjang malam membuatnya lupa dengan jadwal syuting yang harus ia


hadiri hari ini. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Ia sudah


terlambat dua jam yang lalu.


                “Sial,


kenapa Jun nggak bangunin aku sih. Telat gini kan,” umpatnya saat keluar dari


kamar. Dengan langkah terburu, Leo meraih jasnya, dan segera merapikan


kemejanya yang begitu acak-acakan. Bahkan kini ia lupa meletakkan kaos kakinya


di mana. Namun bukan waktu yang tepat untuk mengurusi hal sepele seperti itu.


Ia harus segera ke lokasi syuting sekarang. Sebelum manajernya mengucap sumpah


serapah lagi padanya.


                “Nggak


sarapan dulu?”


                Leo


menoleh. Saat mendapati Jun tersenyum di ujung sana, ia langsung


menggeleng-gelengkan kepala sembari menghembuskan napas berat. “Harusnya kamu


bangunin aku Jun. Kan sudah aku bilang, setiap detikku sangat berharga.


Sekarang aku baru saja kehilangan seratus jutaku karena buang-buang waktu di tempat


tidur tau nggak.”


                Jun


terkekeh di ujung dapur. Sambil menyodorkan roti bakar yang sudah ia tata di


atas piring. “Padahal sudah ku buatkan roti kesukaanmu loh.”


                “Lain


kali aja, aku udah telat banget nih, udah nggak ada waktu,” jelas Leo dengan


langkah terburu-buru. Tak lupa sebelum benar-benar beranjak pergi, ia


menyempatkan diri untuk mengecup kening Jun lalu lanjut mencium bibir lelaki


itu. Ciuman hangat yang sama sekali tidak dibalas oleh Jun.


                “Makanya


berhenti saja menjadi artis,” teriak Jun saat Leo sudah menghilang dari pintu apartemennya.


                Leo


yang sedang berada di dalam lift hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar


ocehan Jun yang itu-itu saja. Di setiap pertemuannya, pasti Jun akan memintanya


untuk berhenti saja menjadi artis. Namun tidak dapat Leo kabulkan permintaannya


itu. Bukan karena Leo tidak mencintai Jun, ia hanya tak bisa hidup jika harus


berhenti menjadi artis. Bernyanyi di depan fansnya, bermain film dan segala hal


yang berkaitan dengan pekerjaannya sudah seperti napas bagi Leo. Mungkin jika


ia tidak melakukan hal-hal menyibukkan itu, maka sama saja ia sedang membunuh


dirinya sendiri secara perlahan. Jika disuruh memilih antara Jun dan


profesinya, Leo tentu tidak bisa memilih salah satunya. Sebab keduanya adalah pilihan


yang cukup berat baginya.


                “Untung


saja ponselku mati total,” ucapnya saat menyusuri jalan Ibukota yang tidak


macet. Kali ini jalan raya sepertinya mendukung dirinya secara penuh. Macet


yang biasanya terjadi di daerah menuju kantornya, untuk hari ini justru lancar-lancar


saja. Tanpa macet sedikit pun. Dan sekarang yang harus ia pikirkan hanyalah


memikirkan alasan apa yang harus ia sampaikan kepada manajernya ketika tiba di


lokasi syuting nanti. Sebab Leo tahu betul jika manajernya pasti sudah marah


besar sekarang.


***


                “Haruskah


kita cancel acara hari ini saja Pak?


sepertinya Leo tidak bisa hadir di sini dan kasian juga para kru yang sudah


menunggu sejak tadi.”


                Ince


mengusap wajahnya beberapa kali, kesal dan marah dengan Leo yang tiba-tiba saja


menghilang entah di dunia belahan mana lagi. Ia sudah menelpon kediam rumah Leo


namun lelaki itu tidak sedang berada di rumah. Di apartemennya pun kosong.


Entah di mana lagi lelaki itu sedang berada. Sementara setahu Ince, Leo tidak


memiliki teman sama sekali apalagi pacar. Lelaki itu adalah sosok yang cukup


tertutup, tidak senang bergaul.


                “Saya


mohon tunggu sebentar ya Mbak, soalnya kalau jadwalnya di undur ke hari lain


bakal repot lagi. Jadwal Leo sudah sangat padat. Apalagi minggu depan ia akan


konser di Thailand, pasti akan sulit mendapatkan waktunya lagi. Beri saya waktu


satu jam lagi untuk menunggu.”


                “Hhh...


baiklah.”


                Ince


kembali duduk di kursinya sembari mengotak-atik ponselnya yang masih saja tidak


bisa menghubungi Leo sama sekali. Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan Leo.


Apakah lelaki itu akan datang atau tidak. Apalagi sekarang Leo tidak dapat


dihubungi sama sekali. Namun jika harus memidahkan jadwal Leo ke hari lain, hal


itu lebih tidak mungkin lagi. Jadwal Leo sudah benar-benar padat.


Memindahkannya ke hari lain hanya akan membuat jadwalnya yang lain menjadi


semakin kacau balau.


                “Silahkan


minumannya Pak,” tawar salah satu kru yang bertugas.


                Ince


hanya melirik kopi latte yang ditujukan padanya itu. Sebenarnya ia belum sempat


ngopi sebelum ke lokasi syuting, namun karena perasaannya sedang tidak karuan


sekarang maka kopi pun sudah tidak menarik lagi di matanya.


                “Iya


terima kasih. Tapi saya sedang tidak minum kopi,” tolaknya dengan sopan.


                “Aduh


lagi. Harusnya aku tidak memberi dia waktu luang kemarin. Jadi repot sendiri


kan.”


                “Sorry, tadi pagi aku mules sampai harus


bolak balik kamar mandi. Makanya telat,” ucap seseorang yang baru saja datang


dari arah belakang Ince.


                “LEOOO!”


                Leo yang


sudah bisa menebak raut wajah manajernya langsung memasang wajah lemasnya,


sebelum Ince semakin marah lagi padanya. Sebagaimana pekerjaannya sebagai


seorang aktor, sebisa mungkin Leo memainkan perannya sekarang. Peran seorang


lelaki yang sedang sakit perut parah mendekati stadium akhir.


                “Ini


aja perut aku masih mules banget. Tadi dokter bilang aku harus istrahat yang


banyak tapi karena ingat ada jadwal syuting iklan makanya aku maksain buat


datang.”


                “Aduh


Leo, harusnya kalau ada apa-apa segera kabari Ince dong. Tapi kamu sudah minum


obat kan?”


                “Aku


udah nggak sempat ngecek ponsel. Kayaknya ponsel aku mati total di rumah. Udah


kok, udah minum obat tapi masih agak sakit sedikit sih. Tapi untuk kerja


sebentar kayaknya masih oke,” jelas Leo berusaha sebisa mungkin untuk


berpura-pura. Ia memang sangat pintar dalam hal acting.


                “Ya


udah sekarang kita siap-siap untuk syuting. Sis, tolong di make up sekarang.” Ince setengah berteriak memanggil make up artis yang sedang bertugas di


sana.


***


                “Jadi


itu yang namanya Leo. Kamu kok bisa sesuka itu sama orang kayak dia sih, Dwi,”


ketus Ann saat melihat orang yang bernama Leo itu datang di lokasi syuting.


Saat Dwi menunjukkan foto Leo kemarin, Ann memang hanya melihat sekilas dan


tidak terlalu memperhatikan juga. Dan meskipun sebelumnya ia sempat memiliki


rencana untuk mendekati Leo, namun setelah melihat sikap lelaki itu Ann


mendadak mundur duluan.


                Bukannya


menjawab, Dwi justru senyum-senyum sendiri bagai orang gila saja. Bagi Dwi


tidak masalah jika ia harus menunggu lama, selama yang ia tunggu itu adalah


Leo. Namun tidak demikian dengan Ann. Sudah sejak tadi ia kesal karena harus


menunggu artis yang benar-benar ngaret itu. Bagi Ann, Leo adalah orang yang


tidak profesional. Tidak menghargai waktu yang ada. Untuk pekerjaan kecil saja


ia sudah mengacaukan semuanya, bagaimana bisa untuk pekerjaan skala besar


seperti sebuah hubungan pria dan wanita. Itulah yang membuatnya tidak lagi


tertarik untuk mendekati lelaki itu. Sebisa mungkin ia mengubur rencananya


kemarin. Mendekati Leo agar membuat Bayu menjauh darinya bukanlah rencana yang


baik malah makin membuatnya stress saja, itulah yang ada dipikiran Ann


sekarang.


                “Tidak


seharusnya dia menjadi artis papan atas yang cukup tenar dengan sikap ngaret


seperti itu. Dia pikir dia siapa bisa seenaknya saja membuat orang lain


menunggu. Memangnya dia Dewa, apa. Dasar artis tidak tahu aturan,” ketus Ann


disela-sela menyiapkan peralatan yang akan dipakai untuk syuting iklan.


                “Barusan


kamu bilang apa? hehehe, memangnya kamu nggak tahu siapa saya. Bahkan Dewa saja


kalah dengan ketenaran sang Leo. Harusnya kamu tahu itu gadis pengumpat.”


                Leo


yang baru saja berganti pakaian tanpa sengaja mendengar suara sumbang yang


berasal dari mulut Ann. Sebenarnya ia mengakui jika ia memang salah dalam hal


ini, namun membiarkan orang lain membicarakannya dengan buruk membuat Leo cukup


marah juga. Ia tidak bisa lagi menyimpan emosinya sekarang.


                “Gadis


pengumpat katamu?” mata Ann melotot melihat Leo. Ingin sekali ia menerkam


lelaki yang kini sedang berlagak sok tampan di depannya itu.


                “Harusnya


Bayu mengurus bawahannya dengan benar dulu sebelum mengajakku bekerja sama


dengan perusahaannya. Tidak punya sopan santun.”


                Leo


berlalu melewati Ann yang benar-benar terlihat kesal dengannya. Tanpa mengabaikan


Ann, Leo bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


“Tapi sudahlah, sekarang waktunya


untuk bekerja bukan untuk mengurusi kecoa seperti dia,” ucap Leo dengan nada


sinis setelah melewati Ann.


“What. Dia ngomong apa barusan? Kecoa?”


Ann memandang punggung lelaki


yang baru saja melewatinya sembari membisikkan kata-kata yang tak pas di


telinganya. Belum kelar emosinya mereda karena kegiatan syuting yang berjalan


dengan lamban hari ini, Leo justru membuatnya makin emosi lagi. Ann tidak tahan


lagi, dengan sekuat tenaga ia meremas cup


paper kopi yang ada di tangannya hingga nyaris penyot.


“Astaga Ann, gelasnya sampai


penyot segala. Tapi tunggu. Kayaknya aku punya rencana menarik buat lelaki sok


tahu tadi. Enak saja mengataiku kecoa. Kita lihat saja nanti, siapa yang lebih


pantas bersanding dengan kecoa yang menjijikkan. Aku atau justru dirinya


sendiri.”