
Ann menendang kaleng bekas minuman yang tergeletak di pinggir jalan saat ia berjalan menuju rumahnya.
“Awww!”
Setelah mendengar suara pekikan seseorang yang berasal tidak jauh dari tempatnya, Ann yang sedang menunduk lesu itu sontak mendonggak dan melihat ke arah sumber suara. Mimik wajahnya berubah setelah melihat siapa yang sudah mendapatkan pukulan dari kaleng bekas yang di tendangnya barusan. Tidak berlangsung lama, semenit setelahnya Ann malah tertawa terbahak-bahak hingga membuat perutnya kaku.
“Dasar anak durhaka. Bukannya bantuin malah ketawa terbahak-bahak,” keluh wanita separuh baya yang kini sedang mengelus jidatnya yang memerah karena ulah kaleng bekas tadi.
“Lagian Bunda ngapain juga sih muncul di sana. Hahaha.”
“Ngapain, ngapain, kamu tuh yang ngapain nendang kaleng sampai sekuat itu. Harusnya waktu ngidam dulu, Bunda nggak nonton pertandingan bola setiap malam. Jadi gini kan hasilnya.”
“Ah Bunda bisa aja. Apa hubungannya ngidam sama tendangan Ann coba. Lagian Bunda ngapain sih sore-sore gini pake acara keluar rumah segala. Nggak kayak biasanya. Bunda nggak sakit kan?”
Secepat kilat Ann menghampiri Bundanya, mengulurkan tangannya dan meletakkannya tepat di kening wanita itu. Sambil bersikap seolah-olah seorang dokter, Ann berkata dengan antusias, “Ibu Adyana Pallery sepertinya anda sedang terkena demam ringan. Suhu badan diatas normal dan sepertinya sedang butuh asupan makanan sehat seperti chesee burger.”
Wanita yang bernama Adyana itu langsung mengerucutkan bibirnya, kesal dengan sikap anaknya yang benar-benar konyol itu.
“Kalau chesee burger mah bukan asupan makanan sehat kali, Ann. Sehat apaan. Makanan fast food gitu juga. Bilang aja kalau kamu nyuruh Bunda pesan makanan kesukaan kamu itu. Dasar anak nakal.”
Ann dengan cepat berlari, mencoba mendahului Bundanya. Sebab ia sudah hafal betul dengan adegan setelah ini. Sudah pasti Bundanya akan melayangkan sebuah pukulan maut di lengannya. Dan sebelum Bundanya melakukan hal menyebalkan itu, Ann harus segera kabur dari sana.
“Hei anak nakal, mau kemana kamu. Awas aja ya kalau sampai rumah. Bakal Bunda tangkap sampai dapat.” Adyana pun mengejar anaknya dengan susah payah. Namun tetap saja ia tidak bisa mengalahkan langkah kaki Ann yang sangat cepat.
“Hhh, kenapa aku harus melahirkan anak perempuan yang lebih mirip laki-laki sih. Salah apa aku di masa lalu Tuhan,” ucap Adyana sembari mengelus dadanya pelan.
...***...
“Ayah, Ayah, tolongin Ann. Ayah tolong,” teriak Ann saat baru saja memasuki pintu rumahnya dan melihat ayahnya sedang santai di ruang tamu sambil menikmati kopinya. Sebelum bundanya tiba, ia segera bersembunyi di balik punggung ayahnya yang kekar itu.
“Ada apa sih. Nih minum dulu. Masih ngos-ngosan aja udah maksain ngomong kayak gitu.” Ayahnya menyodorkan segelas air putih yang ada di atas meja.
Ann yang masih mengatur napasnya langsung meraih air minum yang diberikan oleh ayahnya. Namun saat ia melihat Bundanya sudah berdiri di depan pintu rumah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Ann dengan buru-buru meletakkan kembali gelasnya di atas meja lalu lanjut untuk bersembunyi di balik tubuh Ayahnya.
“Ann! Dasar anak nakal ya kamu. Mau kualat ya sama orang tua,” teriak Bundanya dengan penuh emosi.
“Ann semakin takut, sementara Ayahnya kini menatap keduanya dengan wajah penuh dengan tanda tanya. Kejadian seperti ini memang sudah sering terjadi dalam keluarganya. Bahkan hampir setiap hari ia menyaksikan anak dan istrinya itu bertengkar hingga berakhir kucing-kucingan seperti sekarang ini. Sambil membenarkan kacamatanya, ia tersenyum senang lalu menggeleng pelan.
“Kalian ini, nggak anak nggak Bunda, sama-sama bocah kelakuannya. Umur aja yang bertambah, tapi kelakuan tetap sama saja sejak Ann umur satu tahun hingga sudah sebesar sekarang.”
“Ayah, Bunda mana mungkin mulai duluan kalau Ann nggak mancing. Anak Ayah tuh, nakal banget. Bunda tuh kesal tau dibuat naik darah setiap hari sama Ann,” jelas Adyana sembari berjalan menghampiri anak dan juga suaminya.
Sementara itu, Ann masih saja betah bersembunyi di balik tubuh kekar milik Ayahnya. Tentu saja ia takut mendapatkan pukulan maut dari Bundanya. “Yah, tolongin Ann.”
“Dasar anak nakal, sini kamu, sini. Bunda bilang juga apa. Kemanapun kamu lari pasti bakal Bunda temuin.” Adyana tiba di depan anak dan suaminya. Tanpa mengulur waktu lagi, ia pun segera memukul Ann dengan menggunakan tangannya sendiri. Membuat anaknya itu menjerit kesakitan. Setelah puas, barulah ia duduk di samping Ann dan segera mencari ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
“Yah, Ann beneran anak Ayah kan. Kok bisa sih Ann punya Bunda sejahat Bunda Adyana. Jangan-jangan Ann ini anak pungut ya.”
Ayah Ann, pun langsung menggeleng-gelengkan kepala tak karuan, menyaksikan drama berikutnya. Terlebih saat melihat Ann memonyongkan bibirnya dan memasang wajah menyedihkan di depannya.
“Emang anak pungut. Bunda pungut di dalam perut Bunda sendiri.”
“Ihh Bunda. Jahat banget sih.”
“Ayah, mau pesan chesee burger nggak. Bunda tiba-tiba kepengen makan nih.” Adyana mengutak atik ponselnya sambil melirik Ann dengan wajah yang mengejek.
“Nggak ah, Ayah nggak suka fast food.”
“Ya sayang banget, padahal Bunda udah mau pesan. Terpaksa di cancel kalau gitu.”
“Bunda sayang, Bunda cantiknya Ann. Ahhh sini biar Ann peluk bentar,” jelas Ann mencoba merayu Bundanya.
“Aduh. Nggak anak, nggak Bundanya, sama-sama aja dramanya. Harusnya itu kalian jadi pemain film aja sana. Cocok banget kok.” Ayahnya meneguk kopinya sembari menyaksikan kekonyolan kedua wanita yang sangat ia sayangi itu.
“Apa aja deh. Asal kalian berdua senang. Ayah kan nurut-nurut aja orangnya.”
“Oke deh, jadi chesee burger jumbo 10 porsi ya.”
“Ha? Bunda mau ngapain pesan 10 porsi. Emang mau hajatan,” jelas Ann kaget dengan keinginan Bundanya barusan.
“Hehehe Bunda kepengen makan banyak hari ini. Tadi belum sempat makan sama sekali soalnya.”
“Hemm, Bunda.” Ayah memijat keningnya, melihat kelakuan istrinya yang benar-benar seperti anak kecil itu.
Ann yang sudah kepanasan usai berkejar-kejaran dengan Bundanya, kini segera melepas jas kantornya. Ia hendak bergegas ke kamarnya untuk mandi sebelum pesanan chese burgernya datang. Namun saat ia hendak berdiri dari duduknya ia tiba-tiba saja teringat dengan ponselnya yang hilang siang tadi.
“Bunda, bisa pinjam ponselnya sebentar. Ponsel Ann hilang tadi siang. Kayaknya ketinggalan di tempat syuting iklan deh. Ann mau coba calling kali aja diangkat.”
“Kalau hilang ya beli baru aja Ann. Nggak usah kayak orang susah gitulah. Iya kan, Yah.”
“Ih Bunda kebiasaan deh hambur-hamburin uang. Gaji nggak seberapa juga malah nyuruh beli hp baru aja. Nggak, nggak, pokoknya Ann mau hp Ann aja. Sini pinjam hp Bunda bentar.”
“Nih.”
Setelah Ann mendapatkan ponsel Bundanya, ia segera meninggalkan tempat itu. Berjalan menuju kamarnya sembari menghubungi nomer ponsel miliknya.
“Ah ternyata nyambung. Semoga aja ponsel aku berada di tangan orang yang baik,” jelas Ann sambil membuka pintu kamarnya.
“Halo,” ucap Ann dengan nada yang begitu pelan dan lembut.
“Halo, apa kabar Ann.”
...***...
“Ahhgrrrt...”
Ann berteriak dengan kencangnya hingga membuat seluruh isi rumahnya menjadi kaget dan panik. Bundanya yang sedang menikmati teh hangatnya pun harus menumpahkan tehnya karena kaget.
“Bukannya itu Ann, Yah?”
“Ann kenapa ya Bun?”
“Nggak tau. Perasaan waktu pamit tadi dia baik-baik aja deh.”
“Atau gara-gara ponselnya hilang ya Bun, makanya jadi stress gitu. Bunda coba cek ke kamarnya gih,” pinta Aditya, Ayah Ann.
“Ayah kebiasaan deh, nyuruh-nyuruh Bunda terus kerjaannya.”
“Hehehe.”
Adyana meletakkan tehnya yang belum sempat ia nikmati itu karena kekacauan yang disebabkan oleh Ann. Dengan wajah yang sedikit kesal dan juga penasaran ia melangkah menuju kamar anak satu-satunya itu.
“Ann, Ann, kamu kenapa sayang? Are you oke?” tanya Adyana sembari mengetuk pintu kamar anaknya. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Membuat Adyana semakin panik saja.
“Ann, kamu nggak papa kan. Buka pintunya dong, sayang.”
Hampir dua menit lamanya Adyana berdiri dengan mengetuk pintu kamar Ann, namun belum juga ada jawaban dari dalam sana. Sehingga Adyana yang kini mulai panik dengan segera berlari ke lantai satu di rumahnya untuk memanggil suaminya yang masih saja bersantai ria di atas sofa. Dengan napas yang terengah-engah, Adyana menghampiri lelaki itu.
“Yah, hmmm, Yah, itu...” jelasnya dengan suara yang terputus-putus. Adyana berusaha untuk tenang sebentar agar sekiranya ia bisa melanjutkan ucapannya barusan.
Aditya yang kini sedang membaca koran mingguan sontak menyingkirkan benda tersebut saat mendapati istrinya dengan napas yang terengah-engah. Dengan wajah yang tak kalah kagetnya, ia menatap Adyana. Mencoba memberi kode kepada istrinya untuk segera melanjutkan ucapannya.
Adyana yang masih saja belum bisa berbicara kini langsung meraih gelas yang ada di atas meja, meneguk air minumnya hingga habis tak tersisa, lalu menghembuskan napas pelan setelahnya.
“Huhhh... Anak kita Yah, Anak kita nggak buka pintu kamarnya dan nggak ada suara sama sekali di dalam sana. Ann kenapa ya kira-kira. Atau jangan-jangan Ann...”