
Aditya menatap wajah anak dan juga istrinya yang benar-benar terlihat sangat cantik hari ini. Tidak salah ia menikahi Adyana dan karena itulah ia pun akhirnya memiliki gadis kecil yang juga tak kalah cantiknya. Meskipun tetap saja, Ann tetap lebih pantas disebut seorang lelaki dibandingkan seorang perempuan. Ann yang cuek dengan penampilan mungkin termasuk dalam salah satu alasannya kenapa akhirnya Aditya memilih kesimpulan tersebut.
“Anak Ayah cantik banget hari ini. Mau nemenin Bunda yah?”
“Anaknya aja nih. Bundanya nggak dipuji.” Adyana berkacak pinggang sambil memasang wajah datar lengkap dengan bibir manyungnya.
“Emm,” Aditya bergumam pelan, lalu bertingkah seolah-olah sedang berpikir. Tentu saja ia sedang mengumpulkan kalimat-kalimat indah agar bisa membuat istrinya makin jengkel lagi padanya. Seperti kebiasaannya selama ini. Membuat Adyana kesal hingga berakhir berceloteh tanpa henti persis burung beo yang cerewet.
“Emm, apaan. Jangan buat make up Bunda luntur lagi gara-gara harus marah-marah nggak jelas sama Ayah,” ucap Adyana berusaha membaca isi pikiran suaminya. Tatapannya tentu saja tidak lepas dari lelaki yang sedang tersenyum licik di depannya itu.
Aditya yang mendengar hal tersebut langsung tertawa terbahak-bahak karenanya. Jelas saja ia senang melihat istrinya yang berubah menjadi temperamen seperti biasanya. Persis sekali dengan tingkah dan sikap Ann. Mungkin karena di dalam tubuh Ann, darah bundanya lebih banyak mengalir dibanding darah ayahnya sendiri.
“Hahaha. Make up nya udah luntur seinci loh, Bun. Nggak mau dibenarin dulu.”
“Ayahhh!” Adyana yang sudah kesal langsung mencubit perut suaminya yang sedang bergoyang-goyang karena terlalu puas tertawa.
Sementara itu, Ann yang melihat tingkah konyol Ayah dan juga bundanya barusan, hanya bisa menggelengkan kepala. Ia heran saja dengan kedua orang tuanya yang setiap saat selalu saja bertengkar, seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Seolah pertengkaran adalah menu makanan paling wajib untuk mereka santap setiap harinya. Sudah semacam ritual, yang jika tidak dilaksanakan maka akan aneh rasanya.
“Kalau Bunda dan Ayah masih betah saling olok-olokan kayak gini, Ann kayaknya mendingan kembali ke kamar aja deh. Berdiri sambil menonton acara parodi keluarga membosankan kayak gini bikin kaki Ann jadi pegal tau. Mendingan tiduran di kasur sambil meluk guling. Lebih ada faedahnya. Bisa bikin tubuh Ann jadi lebih relaks.”
Dan kalimat Ann barusan berhasil membuat keduanya berhenti bertengkar. Ayah dan bundanya langsung menatap Ann dengan tatapan setengah memohon. Jelas saja Adyana yang sudah sangat capek menyiapkan banyak hal tidak akan mungkin membiarkan Ann kembali ke kamarnya begitu saja. Sebelum rencananya hari ini berhasil, Adyana tidak akan merasa hidupnya bisa tenang.
“Jangan dong Ann. Masa sih kamu nggak sayang sama Bunda.”
“Lagian Bunda, bukannya berangkat malah bikin drama nggak jelas kayak gini pagi-pagi. Udah tau Ann masih ngantuk banget. Malah dibikin makin ngantuk lagi, karena harus menyaksikan kalian berdua yang ribut mulu. Udah kayak tom and jerry aja. Ann penasaran deh, kenapa bisa kalian berdua nikah dengan latar belakang hubungan yang tidak pernah akur begitu.”
“Bunda beneran mau ngajak, Ann?” tanya Aditya ikut nimbrung diantara obrolan Ann dan juga Adyana. Lebih tepatnya ia berusaha mencairkan suasana yang semula tegang.
Adyana yang belum sepenuhnya mampu meredam emosi karena ulah suaminya itu langsung melotot sempurna setelah mendengar Aditya berbicara. Ia menatap Aditya seolah hendak menerkamnya suaminya sendiri. Persis elang yang sedang melihat mangsa dari dekat. Dan Aditya jelas langsung keringat dingin mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari istrinya itu. Dengan wajah yang menampilkan senyum paksa, lagi-lagi ia berucap pelan.
“Wah anak Ayah emang cantik banget ternyata. Hati-hati di jalan ya sayang. Jangan lupa titip salam sama Tante Audi. Bilang sama dia, kalau Ayah nggak bisa datang dan hanya bisa doain dari jauh aja. Semoga toko kuenya lancar dan sukses. Oh iya Ann, anak Tante Audi cakep loh. Hehehe”
Mendengar hal itu Adyana tentu langsung tersenyum manis sambil mengelus bahu suaminya dengan lembut. “Ayah bisa aja.”
Ann yang mendengar celutukan dari ayahnya barusan hanya memasang wajah datar saja. ia tak berniat menanggapi apalagi mngambil serius ucapan ayahnya barusan. Lagi pula bagi Ann, ukuran cakep ataupun jelek tidak ada urusannya juga dengan dia. Dan Ann sungguh malas mengurusi urusan orang lain, termasuk segala hal tentang si anak Tante Audi itu.
“Bunda, ingat untuk jagain anak Ayah, ya. Jangan sampai diganggu sama siapapun.”
“Kalau soal itu Ayah nggak usah khawatir, tanpa diminta pun sudah pasti Bunda jagain.”
Aditya langsung tersenyum lebar mendengar jawaban dari istrinya. Apalagi ketika Adyana mengacungkan jempol di depan dada, ia semakin tersenyum lebar lagi hingga berhasil menunjukkan deretan gigi putih miliknya.
“Yah, Ann berangkat dulu kalau gitu. Ayah juga jaga diri di rumah, jangan baca koran mulu.”
Ann tersenyum kepadanya ayahnya. Sambil meraih tangan ayahnya, ia membungkuk sedikit dan mencium punggung tangan lelaki itu.
“Hati-hati sayang,” jawab Aditya sembari mengelus punggung Ann.
“Iya. Bunda juga hati-hati. Pulangnya jangan kemalaman. Kasian Ann. Dia juga butuh istrahat, besok kan harus masuk kantor lagi.”
“Iya, Bunda ngerti kok. Cerewet amat sih.”
Aditya yang semula sibuk membaca koran kini mengesampingkan kegiatannya itu agar ia bisa mengantar istrinya dan juga Ann keluar, hingga di depan teras rumah. Di sana sudah ada mobil yang akan mereka gunakan. Karena hari ini Adyana adalah seorang Bunda yang sedang bahagia, sehingga ia memutuskan untuk menyetir sendiri tanpa di temani oleh supir pribadinya. Entah Seperti apa rencananya kali ini, namun mengetahui Ann ikut bersamanya benar-benar membuatnya sangat bahagia.
“Harusnya biar Ann aja yang nyetir, Bun. Kalau gini ceritanya kan Ann merasa berdosa banget sama Bunda.”
“Udah. Pokoknya kamu diam dan duduk manis aja di situ. Karena hari ini Bunda senang banget, jadi Bunda mau melakukan banyak hal. Termasuk nyupirin kamu.”
Sesenang apasih ngajak anak ketemu teman sosialita. Bukannya itu biasa aja. Lagian aku juga nggak ada hebat-hebatnya sama sekali kok. Cuman pegawai kantoran swasta dengan gaji yang kecil, kecil banget deh pokoknya. Posisiku di kantor juga tidak begitu menarik untuk dipamerkan di depan teman-teman Bunda yang terkenal sangat sosialita itu. Bunda beneran aneh hari ini, jelas Ann dalam hati.
Saat mobil yang dikendarai oleh Adyana sudah meluncur memecah jalan raya, Ann justru sibuk memandang ke luar jendela. Melihat satu demi satu gedung tinggi yang ia lewati dalam perjalanan menuju toko kue milik teman bundanya itu. Karena hari ini hari weekend jalanan lumayan sepi kendaraan. Mungkin karena kebanyakan orang hanya menghabiskan waktu mereka untuk beristrahat dan berada di dalam rumah saja bersama dengan keluarga masing-masing.
“Lagi mikirin apasih. Serius gitu mukanya,” tanya Adyana seusai menoleh sekilas dan mendapati anaknya yang sedang sibuk melihat ke luar jendela mobil.
Ann yang semula serius meneliti satu demi satu bangunan yang ia lewati kini berpaling untuk melihat bundanya yang sangat semangat menyetir. Ann lantas melempar senyum lebar, seolah berkata kepada bundanya: gapapa kok, Bun.
“Nggak kok Bun, nggak lagi mikirin apa-apa. Ann lagi ngeliat bangunan aja.”
“Kamu ini kayak nggak pernah lihat bangunan aja. Bukannya setiap hari kamu lewat sini ya kalau ke kantor.”
“Kan Ann naik bus kota Bun. Mana bisa ngeliat. Apalagi kalau Ann harus berdiri karena penumpang lagi membeludak, ya nggak ada waktu buat merhatiin lah. Orang fokusnya ke mana-mana juga. Mana ada waktu buat merhatiin bangunan di pinggir jalan.”
“Lagian kamu tuh aneh banget tau Ann. Udah dibeliin mobil tapi malah senang naik bus kota yang sumpek-sumpekan. Dikasih yang mudah kok malah nyari yang ribet. Kamu aja tuh yang kayak gitu. Kalau anak teman-teman Bunda, pasti bakalan kegirangan kalau dibeliin sesuatu sama orang tuanya. Lah kamu, hp hilang aja malah ngos-ngosan buat nyari hpnya sampe nelpon ke sana ke sini, bukannya beli baru aja biar nggak ribet.”
“Itukan mereka Bun. Lagian Ann malas ah bawa mobil sendiri. Jalanan Ibukota kan suka macet parah. Bikin lelah di jalan aja.”
“Makanya nyewa supir pribadi dong, Ann. Kamu udah disekolahin tinggi-tinggi sampai ke Paris sana tapi kok otaknya nggak dipakai dengan baik gitu sih.”
“Gaji nggak seberapa malah sok-sokan mau nyewa supir. Bunda ada-ada aja deh idenya.”
“Nah makanya nggak usah kerja di sana. Kerja di tempat Bunda aja. Bunda siap ngasih gaji yang tinggi kok. Bahkan bisa mengalahkan gaji bos kamu di sana. Sepuluh kali lipat gaji bos kamu kalau perlu.”
Ann hanya bisa terdiam. Ia tahu jika bundanya memang tidak senang melihat dirinya menderita, namun Ann selalu menolak pertolongan itu karena ia ingin mandiri, tanpa harus berdiri di atas kaki kedua orang tuanya. Sebab baginya, hidup glamour diantara bayang-bayang orang tua hanyalah sebuah awal penderitaan baginya. Jika ia sudah terbiasa bergantung dengan orang lain maka selama itu pula ia akan membutuhkan orang tersebut. Sementara tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan napasnya sendiri pun akan hilang jika sudah habis masanya nanti.
Suasana di dalam mobil menjadi hening, tidak ada obrolan lagi hingga mobil berhenti di parkiran toko kue milik teman Bunda Ann. Saat ia turun dari mobil, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggil namanya. Cukup dekat dan jelas, hanya saja wajah sang pemilik suara masih terlihat samar karena diterpa pantulan cahaya matahari yang begitu silau.
“Amira.”
Ann kaget, siapa yang sudah memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Dan jika melihat wajah perempuan yang sedang melambai padanya sekarang, ia benar-benar lupa. Tidak bisa ia tebak sama sekali.
Adyana yang baru saja usai menutup pintu mobilnya pun ikut melirik ke sumber suara. “Oh, Liana. Teman kecil kamu, Ann. Masa nggak ingat sih.”
“Ha, Liana?” Ann kaget namun sedetik setelahnya ia tersenyum lepas hingga menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi sembari balas melambai kepada perempuan itu juga.