Love Language

Love Language
Rencana Ibu-Ibu Rempong



Ann mengerucutkan bibirnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sambil memikirkan permintaan Ayah dan juga bundanya, Ann melirik jam dinding yang ada di ruang tamu.


               “Ya udah deh, tapi kali ini aja ya Bun.”


               “Beneran?”


               “Hmm.”


               “Ahh Ann makasih loh. Bunda sayang banget sama Ann.”


               Adyana yang sudah terlalu senang kini mendekap Ann ke dalam pelukannya hingga Ann menjadi sesak napas karenanya. Aditya yang menyaksikan momen bahagia itu kini ikut tersenyum senang. Melihat anak dan istrinya akur seperti sekarang membuat kebahagiaannya menjadi semakin sempurna.


               “Sebagai hadiahnya, biar Bunda beliin ponsel baru,” ucap Adyana setelah melepas pelukannya.


               “Bunda...!”


               “Hehehe. Iya, iya deh, iya. Bunda minta maaf. Lagian ponsel buluk gitu masih aja dicariin. Kalau ponselnya hilang itu tandanya Tuhan emang udah nyuruh kamu buat beli yang baru Ann. Nggak peka banget sih jadi manusia.”


               Ann menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah bundanya yang sungguh sangat gemar menghambur-hamburkan uang. Menurut Ann, jika saja pasangan hidup bisa dibeli, mungkin sudah sejak dulu bundanya membeli pasangan untuknya pula. Bundanya memang sangat kaya raya dan sangat suka juga menghabiskan uang. Sungguh berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang sangat perhitungan jika ingin membeli sesuatu.


               “Lagian kamu kenapa sih Ann, suka banget membuat rumit hidup sendiri. Padahal ada jalan yang mudah malah pilihnya yang ribet. Ponsel hilang bukannya ganti baru aja malah capek-capek nyari yang hilang ke sana ke mari. Dibilang kerja di kantor Bunda aja, malah pergi ngelamar ke perusahan kecil dan hanya sebagai karyawan pula. Bunda heran deh sama jalan pikiran kamu.”


               “Bunda Adyana Pallery yang cantik dan baik hati, nggak semua hal bisa selesai hanya dengan uang. Bunda tuh suka banget menganggap uang adalah jalan keluar dari setiap masalah yang ada.”


               “Loh emang gitu kan kenyataanya Ann.”


               “Bunda terlalu matrealis.”


               “Ya bukan matrealis Ann, tapi faktanya memang seperti itu kan. Uang adalah segalanya. Di dunia ini, kamu aja tuh yang nggak berpikir kayak gitu.”


               “Kalau uang adalah segalanya, pasti anak Bunda sudah sepuluh sekarang,” ucap Ann dengan tegas sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan ruang tamu, yang masih menampung Ayah dan juga bundanya di sana.


               Di tempat duduknya sekarang, Adyana menatap punggung anaknya yang kian menjauh dari pandangannya. Kalimat terakhir dari Ann tidak bisa membuatnya abai begitu saja. Adyana yang memang sejak dulu sulit memiliki anak kini mendadak termenung. Ia sadar betul dengan ucapan Ann barusan, bahwa sebenarnya tidak semua hal dapat selesai hanya karena uang.


               “Nggak usah terlalu diambil hati Bun, ucapan Ann paling cuma bercanda doang kok. Udah, jangan cemberut gitu mukanya. Lagian Bunda juga sih pake acara menyudutkan Ann terus,” ucap Aditya, sedikit menghibur istrinya setelah melihat perubahan wajah dari wanita itu.


               “Kayaknya Ann ada benarnya juga, Yah.”


               “Pasti karena Ayah salah mendidik dia nih.” Aditya mendekap istrinya ke dalam dekapannya. ”Udah, Bunda nggak usah banyak pikiran gitu. Lagian kita nggak mau nambah anak lagi bukan karena nggak bisa kok, cuma kitanya aja yang nggak mau. Ann juga udah cukup buat kita bahagia.”


               “Bukan kita nggak bisa Yah, tapi kandungan Bunda yang udah nggak mempan.” Lewat suaranya, Aditya dapat mendengar dengan baik bahwa ada nada kekecewaan yang ikut di balik suara lirih itu.


               Adyana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, mencoba untuk menutup matanya secara perlahan, lantas menikmati setiap detik yang masih ia milik sekarang. Sambil menghirup oksigen, ia mengingat masa-masa ketika baru pertama kali mengandung Ann di perutnya dari hasil bayi tabung yang ia lakukan selama berpuluh-puluh kali percobaan.


               “Kayaknya anak kecil kita udah benar-benar tumbuh dengan dewasa sekarang. Bukan bocah cengeng yang gemar meminta es krim lagi.”


               Aditya terseyum, sambil mengingat momen-momen ketika Ann masih kecil dulu. Ia pun tidak mengira jika anak perempuannya yang begitu manja dan cengeng itu kini telah tumbuh menjadi sosok perempuan kuat dan hebat. Dan satu hal lagi yang membuat Aditya bangga kepada Ann, sikap mandiri anak itu yang sungguh enggan bergantung dengan kedua orang tuanya, terlebih jika hal itu menyangkut soal harta kekayaan.


***


“Ah Bunda, Ann beneran nggak pengen pergi di acara temannya Bunda itu. Please, boleh ya Bun. Ann tiba-tiba nggak enak badan nih. Kayaknya Ann lagi demam. Uhuk uhuk uhuk, tenggorokan Ann juga rasanya sakit banget kalau nelan sesuatu,” keluh Ann di atas tempat tidurnya.


               Sebenarnya sudah sejak jam enam pagi tadi ia bangun dari tidurnya, namun karena ia mengingat dengan jelas permintaan Bundanya semalam, Ann tiba-tiba saja malas bangun dari kasurnya meskipun sebenarnya ia sudah mengiyakan keinginan Adyana sebelumnya.


               “Ann pokoknya Bunda nggak mau tau ya. Kamu mau bikin Bunda malu ya. Bunda udah ngomong ke semua teman-teman Bunda semalam di grup whatsapp, kalau Bunda bakal ngajak kamu ke acaranya Jeng Audi hari ini. Pokoknya sekarang kamu mendingan buruan bangun, kita sarapan dan habis itu kamu mandi terus siap-siap.”


               “Bundaaa...”


               “Nggak ada tawar menawar ya Ann. Pokoknya kalau kamu nggak mau nemenin Bunda hari ini, Bunda bakal marah sama kamu selama seminggu. Ya terserah kamu mau pergi atau enggak.”


               Adyana segera keluar dari kamar Ann tanpa berkata-kata lagi. Wajahnya sengaja ia buat sedikit menyeramkan agar Ann takut kepadanya. Adyana hanya berharap Ann bisa berubah pikiran setelah ia memasang wajah datar seperti yang dilakukannya sekarang kepada Ann.


               Setelah melewati pintu kamar Ann, Adyana mundur kembali, menoleh dan melihat Ann dengan tatapan mematikan. “Ann, pilihannya ada sama kamu. Jadi jangan pernah salahin Bunda untuk setiap keputusan yang bakal kamu ambil,” ucapnya dengan datar. Setelah itu ia segera berlalu, tentu saja setelah usai membanting pintu kamar Ann dengan kencang.


               “Astaga! Bunda serius ngancem atau bercanda ya? Seram amat,” tanya Ann kepada dirinya sendiri setelah usai mengelus dadanya karena kaget mendengar suara pintu kamarnya yang begitu berisik.


               “Tapi aku beneran males banget ketemu sama temannya Bunda. Pasti pertanyaannya bakal aneh-aneh lagi. Nyebelin,” keluh Ann sambil menendang gulingnya ke lantai. Dengan wajah frustasi ia bersembunyi di balik selimutnya. Menurutnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk bermalas-malasan di atas kasur. Bukannya berkumpul dengan tante-tante rempong yang gemar bergosip.


               “Ann, orang yang nemuin handphone kamu, baru aja nelpon. Katanya hari ini dia nungguin kamu di Almamedian. Bunda udah iyain, Bunda bilang nanti kamu temui dia jam empat sore di sana.”


               “Loh emangnya kenapa. Bukannya kamu emang mau ngambil handphone kamu yang ada sama orang itu. Kan kebetulan Almamedian dekat dari toko cakenya teman Bunda. Jadi setelah kita dari tempat teman Bunda, kamu sekalian singgah ngambil handphonenya. Bunda nggak salah dong. Justru Bunda sudah sangat cerdas memberikan ide yang baik buat kamu.”


               “Terserah Bunda deh. Ann mau mandi.” Ann tidak lagi ingin berdebat dengan bundanya. Ia pun secepat mungkin mengakhiri perdebatan yang ia tahu tidak akan ada habisnya itu. Ann menutup pintu kamarnya dengan menyisakan bundanya yang masih memasang wajah kebingungan karena ulahnya yang serba tidak dapat dimengerti itu.


               “Loh, perasaan aku udah benar deh dalam memberikan solusi. Harusnya Ann senang dong karena orang yang mendapatkan handphonenya itu sudah mau berbaik hati mengembalikan kepada Ann. Udah gitu tempat ngambilnya juga kebetulan dekat banget dengan toko cakenya Jeng Audi.”


               Adyana menggaruk kepalanya yang tidak sedang gatal. Ia hanya sedang bingung dengan jalan pikiran anaknya yang tidak pernah sejalan dengannya itu. Dengan wajah yang masih saja datar dan bingung, Adyana menuruni anak tangga satu demi satu, berjalan menuju meja makan untuk menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh pembantu di rumahnya.


               Derrrttt...


               “Eh buset. Astaga ngaagetin aja nih handphone.” Adyana lagi-lagi mengelus dadanya saat terkejut dengan suara getar ponselnya sendiri yang ada di genggaman tangan kanannya itu. Setelah melihat nama yang menelponnya barusan, ia tersenyum lalu lanjut mengangkat panggilannya.


               “Iya halo Jeng.”


               “Iya jadi kok. Ini saya lagi siap-siap.”


               “Kan Ann udah balik dari Paris, jadi sekalian saya mau ngajak dia juga. Kalian semua kan udah penasaran banget sama anak saya. Sekalian sama rencana kita yang sempat tertunda itu.”


               “Ha? kebetulan banget, kok tumben dia nggak sibuk Jeng?”


               “Anak jaman sekarang emang susah dimengerti dan diatur Jeng. Saya aja kewalahan ngurusin anak saya padahal cuma satu orang aja loh Jeng. Tapi ya begitulah. Namanya anak-anak, mau dia salah bagaimana, ya tetap aja nggak bakal bisa buat kita marah lama-lama.”


               “Iya gapapa kok, yang pentingkan hari ini bisa kesampaian. Jangan marah-marah sama anak Jeng, mulu. Kasian dia.”


               “Oke Jeng. Nanti lanjut di toko cake Jeng Audi aja. Bye.”


               Adyana senyam-senyum sendiri seraya meletakkan ponselnya di atas meja. Setelahnya ia menggeser kursi dan duduk di sana sambil memandangi menu sarapan pagi ini. Tak lama, suaminya datang.


               “Pagi, Bun,” ucapnya sambil mencium kening istrinya.


               “Pagi, Yah.”


               “Bunda kok kelihatannya senang banget hari ini. Ada berita baik apa nih.”


               Adyana mengambil roti yang sudah diolesi selai, lalu memberikan kepada suaminya. “Pokoknya hari ini Bunda senang banget, Yah.”


               Aditya meliriknya, mulai penasaran dengan apa yang baru saja terjadi dengan istrinya itu. Sambil menikmati rotinya, ia kembali bertanya kepada istrinya. “Ada apaan sih? Ayah jadi penasaran.”


               “Em atau karena Bunda bakalan pergi dengan Ann ya, makanya seceria ini,” ucap Aditya lagi setelah mengingat kejadian semalam setelah ia usai menikmati chesee burger bersama dengan Ann dan juga istrinya itu.


               “Itu salah satunya, Yah.”


               “Salah satunya. Berarti masih ada hal lain lagi yang buat Bunda sampai sebahagia sekarang.”


               “Ayah ingat nggak anaknya Jeng Audi.”


               “Audi, teman dekat Bunda?”


               “Iya Ayah, Audi yang bantu-bantu waktu acara nikahan kita dulu.”


               “Oh iya, Ayah ingat. Kenapa dengan anaknya. Kalau nggak salah anaknya ada tiga orang kan. Em paling tua kayaknya cowok. Ayah kadang lihat sih, kalau anaknya yang pertama itu.”


               “Nah menurut Ayah gimana?”


               Aditya yang tidak mengerti dengan arah pertanyaan istrinya itu, kini menatap Adyana dengan tatapan penuh tanya, seolah ingin berkata padanya, apanya yang gimana, Bun?


               “Maksud Bunda, gimana anak pertamanya jeng Audi. Cakep nggak?”


               Ayah menghembuskan napas pelan. Dari aroma perbincangan istrinya sekarang, ia sudah mengerti kemana arah pembicaraan selanjutnya.


               “Nggak usah terlalu maksain kehendak, Bun. Lagi pula Ann sudah cukup dewasa kok untuk menentukan pilihannya sendiri. Bunda nggak usah ngatur segala.”


               “Ayah, ini bukan soal ngatur atau gimana, tapi demi kebaikan anak kita. Cuman satu loh, Yah. Ayah mau kalau Ann berada di tangan orang yang salah. Pokoknya kita harus menyiapkan semuanya dengan baik dan sempurna. Bunda nggak bakal rela kalau Ann sembarangan milih apalagi jika menyangkut soal pasangan hidup.”


               “Ayah cuma mengingatkan saja. Jangan sampai Ann merasa terbebani karena hal ini. Apapun alasannya, bukankah tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan anak kita. Apalagi jika hal itu berhubungan dengan masa depannya sendiri. Karena yang terbaik bagi kita belum tentu terbaik juga menurut Ann Bun.”


               “Pokoknya Bunda nggak mau tahu. Bunda tetap kokoh dengan rencana Bunda dengan Jeng Audi.”