
1
Terdengar bunyi suara pintu, selang menit berikutnya tampak sosok Leo yang sedang menutupi wajahnya dengan masker hitam dan kaca mata hitam yang senada dengan topinya. Lelaki yang hampir mirip malaikat pencabut nyawa itu perlahan melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang begitu sepi dan hampa. Di sana sepasang mata sedang mengawasinya tanpa henti.
“Untuk apa lagi datang ke mari, teman?” Jun yang sedang duduk dengan wajah datarnya langsung merebahkan tubuh di sandaran sofa setelah Leo tiba di hadapannya. Lelaki itu menekankan kata teman pada ujung kalimatnya tadi.
“Soal press conference itu aku minta maaf Jun. Benar-benar tidak ada pilihan lain. Tetapi mulai sekarang kamu sudah bisa kembali bekerja seperti semula kok. Semua masalah sudah ku bereskan dengan rapi tanpa cela. Hanya saja sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa lagi terlalu sering ke kedai kopi milikmu. Tidak masalah kan? Tetapi aku janji akan tetap menemuimu di apartemen ini kok setiap satu pekan sekali. Jadi tenang saja. tak perlu risau dan sedih,” jelas Leo mencoba untuk menjelaskan.
Namun suasana masih saja terasa sepi dan sunyi. Sejak kedatangannya tadi, Leo hanya berbicara satu arah tanpa ada Jun yang menanggapinya. Jun justru lebih banyak diam daripada mengeluarkan sepatah kata, sangat berbeda jauh dengan sikapnya yang gemar mengoceh.
“Jun, kamu marah ya?”
“Baiklah aku minta maaf. Aku memang salah karena mengatakan bahwa kita hanyalah seorang teman yang tidak terikat hubungan special. Tetapi itu adalah jalan satu-satunya Jun. Aku nggak mau karirku hancur hanya karena urusan ini. Lagi pula meskipun berbicara seperti itu di depan para wartawan, kita masih tetap sepasang kekasih bukan? tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu.”
“Heemm. Sepasang kekasih katamu?” Jun akhirnya berbicara.
“Tunggu sebentar lagi Jun. Jika sudah tiba waktunya nanti aku pasti akan berhenti dari dunia entertaiment. Tapi bukan sekarang. Karena masih banyak yang harus aku lakukan lagi sebelum pensiun dari sana. Aku mohon sabar sebentar ya. Tunggu sampai aku benar-benar siap mengakui semuanya”
“Lakukanlah apa yang membuatmu merasa lebih baik.”
“Benarkah? Jadi mulai sekarang kau tidak akan mempermasalahkan lagi soal pekerjaan dan kesibukanku.”
“Leo, mari akhiri saja hubungan ini. Tujuh tahun ku rasa adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah hubungan. Dan kau bisa memulainya kembali dengan orang baru.”
Jun berdiri dari duduknya. Tangannya yang panjang menjangkau jaket tebal yang ada di belakang Leo. Ia mengenakannya dengan begitu terburu-buru, lalu melesat pergi begitu saja bahkan tanpa sebuah kalimat perpisahan lagi.
“Jun, Eriyajun, apa yang kau lakukan.”
] Leo kembali menutup matanya setelah ingatan itu kembali megacaukan harinya. Genap seminggu sudah ia resmi berpisah dengan Jun, kekasihnya. Berpisah dengan Jun tentu saja bukan hal yang mudah baginya. Tanpa Jun, hidup Leo hanya sebatas makanan tanpa sebuah penyedap rasa. Hanya akan terasa hambar, tidak ada gairah untuk menikmatinya.
“Leo, sampai kapan kamu akan mengabaikan panggilan telepon dari mama kamu? Ince capek kali diteror mulu sama Bu Audi.”
Leo tak menggubris Ince yang sedang cerewet padanya. Leo hanya tertarik dengan lamunannya sendiri.
“Tadi pagi Pak Dion nelpon, dia nyuruh kamu pulang ke rumah hari ini. Bu Audi lagi enggak enak badan, katanya.”
“Emmm.”
“Amm emm amm emm aja dari kemarin. Bu Audi beneran lagi sakit, Leo. Mama kamu butuh kamu sekarang. Ayolah, jangan buat mereka khawatir. Pulang sekarang, dan lihat Bu Audi. Jangan sampai kamu menyesal. Lagian ada masalah bukannya dihadapi malah lari dari kenyataan.
Leo sebenarnya sangat malas pulang ke rumah. Semenjak kasus yang menghebohkan namanya di seluruh media, Leo seolah menghilang dari keluarganya. Panggilan telepon, chat tidak pernah ia gubris sama sekali. “Emangnya hari ini nggak ada jadwal, Ce?”
“Udah, kamu pulang ke rumah sekarang. Untuk jadwal hari ini biar saya yang urus semuanya,” jelas Ince sambil merapikan berkas-berkas kontrak kerja milik Leo.
Setelah mendengar jawaban dari Ince, Leo tak lagi membuang-buang waktu. Ia langsung meraih kunci mobilnya dan segera menuju rumahnya. Tak lupa, saat dalam perjalanan ia menyempatkan diri untuk membeli beberapa bingkisan buah untuk mamanya yang sedang sakit.
***
“Mama udah baikan?” tanya Leo saat tiba di dalam kamar Audi. Di sana sudah ada papanya dan juga Liana yang sedang duduk menunggui Audi yang terbaring lemah di atas kasur. Dengan cepat, Leo menghampiri mamanya. Mencium kening wanita itu dan mengusap lembut rambutnya yang sedikit berantakan.
“Leo bilang juga apa Ma,nggak usah buka toko kue segala. Kalau udah drop gini jadi susah sendiri kan.”
Audi meminta Leo agar menuntunnya bangun. Ia ingin duduk sambil bersandar di punggung kasur miliknya. Leo yang mengerti dengan maksud mamanya pun langsung dengan sigap menyambut wanita itu.
Mulut Leo seakan terkunci rapat setelah mendengar pertanyaan mamanya barusan. Berpura-pura di depan para wartawan mungkin termasuk pekerjaan yang mudah untuk ia lakukan apalagi jika mengingat latar belakangnya sebagai seorang aktor. Namun jika sudah berhadapan dengan wanita yang telah melahirkannya itu, Leo merasa sulit untuk bisa berbohong. Leo tak mungkin tega membohongi mamanya, namun tidak mungkin pula jujur kepadanya, sebab ia terlalu takut untuk segala hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi.
“Kamu nggak kayak gitu kan Leo?”
“Leo, Mama kamu lagi bertanya kok diam aja,” celetuk Dion yang juga berada di dalam kamar itu.
“Ah, iya Pa.” Leo melirik Papanya sebentar. Wajahnya sudah tidak karuan, dan tangannya sedang ia genggam dengan erat agar tidak terlihat oleh orang yang berada di sana jika ia sedang gemetar. Sebisa mungkin Leo berusaha agar tidak terlihat lemah di hadapan anggota keluarga yang sangat ia sayangi itu. Tak mungkin Leo bisa membohongi mereka, dan tak mungkin pula ia mengecewakan keluarganya.
“Mama percaya kan sama Leo?”
Terlihat wanita yang sedang lemah itu menyunggingkan senyum tipis. Wajahnya yang masih pucat tetap menjadikannya cantik karena senyumnya itu. Leo mana bisa menghancurkan segara harapan-harapan mamanya hanya karena kesalahan yang tidak sepatutnya ia perbuat di hari lalu.
“Mama selalu percaya sama kamu kok.” Audi langsung mendekap anaknya dengan erat. Mengelus punggung Leo dengan lembut hingga tanpa ia sadari air matanya pun jatuh perlahan hingga mengenai punggung tubuh Leo.
“Anak Mama pasti selalu mejadi kebanggaan Mama. Nggak papa banyak berita yang berusaha menjatuhkan kamu, yang penting kenyataannya nggak seperti itu kan.”
Audi melepas pelukannya, matanya yang sembab karena air mata kini menatap anak kesayangannya yang tampak begitu kurus dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. “Mulai sekarang Mama bakalan lebih gencar lagi untuk ngatur kencan buta buat kamu. Umur kamu kan udah pas buat nikah sekarang. Menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Dengan begitu tidak akan ada lagi gosip murahan yang berusaha untuk menjatuhkan kamu di luar sana. Seorang bintang juga butuh pendamping hidup, bukan.”
“Ma,” ucap Leo dengan wajah memelas. Baru saja Leo bersimpati kepada mamanya kini wanita itu mulai lagi untuk menjodoh-jodohkannya dengan seorang perempuan. Memikirkannya saja Leo sudah pusing duluan. Bagaimana jika sudah menjalaninya, bisa kiamat dunia. Lagipula di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Jun, hanya Jun seorang. Sungguh tidak ada yang mampu menggantikan lelaki itu di hatinya. Bagaimana bisa ia menjalin hubungan dengan perempuan sementara ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenisnya.
“Mama nggak mau dengar alasan lagi mulai sekarang. Karena selama ini kamu selalu menolak keinginan Mama, lihat apa yang menimpa kamu. Jadi digosipkan sana sini kan. Kalau kamu memiliki seorang pacar yang nyata, media nggak bakal nyari cela buruk untuk kamu lagi Leo. Malah pamor kamu sebagai seorang aktris papan atas bakal lebih naik lagi jika kamu memiliki seorang pasangan. Apalagi kalau pasangannya sama anak teman Mama yang satu ini. Di jamin bakalan trending satu di mana-mana. Diakan anak tunggal dari pengusaha terkaya di sini. Siapa yang nggak kenal dengan keluarga Pallery, seluruh dunia saja tahu dia itu siapa.”
“Leo bisa nyari sendiri, Ma. Ngapain dicariin segala sih. Lagian Ann kan...”
“Dimana-mana itu, pilihan orang tua pasti yang terbaik Leo. Iyakan Pa?”
“Kalau Papa sih, bagaimana senangnya kamu saja Leo,” jawab Dion dengan mata yang tak lepas dari telepon genggam miliknya.
“Aku sih setuju kata Mama,” Liana mengedipkan mata sambil tersenyum kepada mamanya. Dua wanita itu kini bersatu membentuk formasi untuk meluluhkan Leo.
"Tuh adek kamu saja setuju sama Mama.”
“Tapi Ma.”
“Kalau kamu menolak, Mama bakal nyimpulin bahwa gosip yang sedang beredar memang benar adanya. Buktinya kamu nggak mau kencan dengan perempuan. Dan Mama pasti sedih banget kalau ternyata gosip itu benar kenyataan. Pa, anak kita-“
“Oke, oke, oke, Leo bakal turutin kemauan Mama,” potong Leo sebelum mamanya berpikiran lebih jauh lagi.
Leo yang didesak keadaan hanya bisa pasrah tanpa banyak berkomentar. Masalah demi masalah perlahan menghampirinya sekarang. Belum kelar ia menyelesaikan kegalauannya pasca putus cinta dengan Jun kini mamanya kembali membawa masalah baru dengan mengatur jadwal kencang buta untuknya bersama Ann. Pekerjaan yang sangat-sangat dibenci oleh Leo. Selain karena buang-buang waktu, juga karena ia sama sekali tidak tertari dengan seorang perempuan.
“Kalau gitu biar Mama atur jadwal sama bundanya Ann dulu. Ann kan cukup sibuk kerja juga.” Audi menatap anaknya cukup lama, sinar matanya menyalurkan kegundahan, Leo dapat membaca itu. “Kamu datang dan pendekatan dengan Ann saja, Mama udah senang banget loh.”
“Iya Ma, iya, Leo tahu.”
Leo hanya bisa pasrah. Keadaan mamanya yang sedang drop seperti ini membuatnya tidak bisa menolak permintaan wanita itu. Leo mana tega melihat mamanya sedih. Menyaksikan wanita itu lemah dan tak berdaya seperti sekarang saja, hatinya sudah cukup merana.
Tiba-tiba ucapan Ince beberapa waktu lalu memenuhi pikirannya. ‘Makanya kamu segeralah mengencani seorang perempuan, dengan begitu orang-orang tidak akan berpikiran aneh lagi tentang kamu.’
Apakah dengan berpura-pura memiliki seorang kekasih, mampu menutupi kenyataan yang sebenarnya aku simpan dengan sangat rapat selama ini?