Love Language

Love Language
Bos, I Don’t Like You



Ann mengumpat beberapa kali saat


pertama kali turun dari bus kota. Bagaimana tidak, bajunya yang sudah ia


setrika dengan rapi harus ternodai oleh tumpahan juice mangga milik perempuan


berseragam SMA di bus tadi. Sebenarnya ia ingin sekali memaki anak kecil itu


namun melihat wajahnya yang begitu lugu dan polos, membuat Ann mengurungkan


niatnya. Dan sekarang ia malah mengumpat tak jelas saking kesalnya dengan


dirinya sendiri yang tidak mampu marah dengan cara yang benar.


                Tangan kanannya


sedang menenteng berkas-berkas penting yang ia kerjakan di rumahnya kemarin.


Dan tangan kirinya kini menenteng tas selempangnya yang tidak pernah berhasil


ia selempang itu. Bukan karena tak ingin, ia hanya tidak menyukainya saja. Bagi


Ann, ia hanya cocok memakai tas ransel saja. Bahkan jika ia bekerja di kantor


swasta yang cukup terkenal sekalipun ia tidak akan menyukai hal-hal yang berbau


dengan fashion. Tapi apa daya, hampir seluruh dari hidupnya justru dikendalikan


oleh bundanya. Dan Bunda Ann adalah sosok yang sangat fashionable.


Seperti yang terjadi hari ini,


Ann dipaksa memakai tas hermes seri kelly berwarna coklat muda. Tidak perlu


ditanyakan lagi di mana ia mendapatkan tas branded tersebut, tentu saja dari bundanya yang terkenal sangat sosialita dan


mengerti fashion.


                Ann


melangkah dengan susah payah. Apalagi kini ia sedang mengenakan rok pendek yang


lumayan ketat, sehingga membuat langkahnya sedikit lebih lamban dari biasanya.


Sekali lagi Ann tidak terlalu cocok dengan gayanya sekarang, namun bundanya


selalu saja rewel tiap pagi dalam hal mengurusi segala sesuatu yang berkaitan


dengan anaknya. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Padahal Ann bukan


lagi anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.


                “Loh


Ann, sini biar aku bantu.”


                “Nggak


usah Dwi, aku bisa sendiri kok.”


                “Nggak,


nggak, biar aku bantu. Mari berkasnya sebagian. Repot gini juga, malah nolak


bantuan.”


                Ann


tersenyum lebar sembari menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi, “Makasih


ya.”


                “Makasihnya


pake benda berwujud dong. Kayak traktir makan nasi padang gitu. Lumayan kan aku


bisa irit jajan hari ini.”


                “Ternyata


nggak tulus bantuin. Tapi okelah, nasi padang bukan sesuatu yang sulit untuk


dikabulin kok.”


                “Ahhh


Ann memang temanku yang paling the best pokoknya.”


                “Lebay


deh.”


                Dwi


melirik Ann dari ujung kaki hingga ujung rambut, lalu sedetik setelahnya ia


berucap dengan sangat antusias, “Tunggu tunggu tunggu, seharusnya kamu memang lebih


cocok jadi atasan di kantor ini, Ann. Bukannya jadi bawahan yang ngangkut-ngangkut


kertas seperti sekarang. Benar-benar nggak cocok sama penampilan kamu.”


                “Aku?”


                “Ya iya


kamu. Kamu itu lebih dari sekedar kata ferfecto tau nggak Ann. Masih nggak sadar juga,”


jelas Dwi sembari terkagum-kagum dengan penampilan Ann sekarang.


                “Bisa


aja kamu, Dwi.”


                “Eh


tunggu dulu. Kamu tas baru lagi hari ini? Ya ampun ini kan tas limited edition Ann. Hidup kamu


beruntung banget sih. Andai aja bisa tukar nasib, aku bakal ikhlas kok Ann


kalau tukarannya sama kamu. Serius.” Dwi memasang wajah memelasnya tepat di hadapan


Ann sembari mengangkat tangan kanannya tepat di samping telinga, jemarinya ia


gerakkan hingga berhasil membentuk huruf V sempurna.


                “Bukan


milik aku Dwi, ini milik Bunda. Ku pinjam doang kok.”


                “Aku


heran deh sama kamu Ann. Ngapain kerja di kantor swasta kayak gini segala sih


kalau orang tua kamu udah kaya raya banget. Buang-buang waktu dan tenaga aja tau


nggak. Mendingan senang-senang sambil menikmati hidup.”


                “Kan


yang kaya orang tua aku aja, Dwi. Bukannya aku.”


                “Tapi


kan kamu bisa ngurusin bisnis mereka. Lebih banyak keuntungannya juga kan


dibanding ngarepin gaji di kantor kita yang nggak seberapa ini. Cuma sepuluh


persen dari harga tas branded kamu tau.”


                “Jangan


lihat angkanya Dwi. Kalau kita patokannya dengan angka terus pasti nggak bakal


ada puasnya. Lagi pula aku kerja di sini karena memang suka dengan kerjaannya


kok, bukan karena alasan apapun itu. Apalagi kalau harus nyinggung soal gaji,”


ucap Ann dengan bijaknya.


                Sejak


dulu hingga sekarang, Ann memang selalu bersikap seperti itu. Tidak ingin


berdiri di atas kaki kedua orang tuanya. Meski terlahir dari keluarga yang


mampu, Ann tidak mau memanfaatkan hal tersebut. Ia lebih suka berjuang dari nol


untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


***


                “Laporan


mingguan sudah saya rangkum semuanya Pak, sisanya mungkin akan dikerjakan oleh


Dwi,” jelas Ann saat tiba di dalam ruangan atasannya.


                “Untuk


iklan kopi yang masuk kemarin gimana, Ann?”


                “Sementara


ditangani bagian kreatif, Pak. Setelah semua beres, akan segera saya laporkan


kembali.”


                Bayu mengurut


pelipisnya yang terasa berdenyut saking pusingnya dengan pekerjaan yang sedang


menumpuk. Setelah memeriksa lembaran laporan yang diberikan oleh Ann ia segera


beralih menatap wanita itu.


                “Sebentar


makan siang denganku saja ya?”


                “Makan


siang... maaf Pak tapi saya sudah ada janji dengan Dwi.”


                “Ann,


Ann. Dari dulu sampai sekarang pasti alasan kamu itu-itu mulu. Entah sudah berapa


kali kamu menolak tawaran atasanmu ini.”


                “Bukan


menolak tapi memang begitulah kenyataannya Pak Bos.”


                “Kalau


begitu hari ini biar saya antar pulang. Sebelum kembali ke rumah, kita bisa makan


malam dulu. Gimana?”


                Ann


berpikir sejenak, tepatnya ia sedang mencari-cari alasan untuk menolak.


Sebenarnya Bayu memang sudah sejak lama menyimpan perasaan dengannya namun Ann


selalu saja menolak, tidak memberi celah bagi lelaki itu untuk masuk ke dalam


hidupnya. Bagi Ann, Bayu adalah teman kecilnya yang kini menjadi atasanya di


tempat kerja. Tidak pernah lebih dari itu.


                “Bay


lain kali saja ya. Masa makan malam dengan bos yang super kece dan keren


seperti kamu dengan gaya yang amburadul kayak gini.” Ann menunjukkan sisa juice


santai, tidak formal lagi sebagaimana yang ia lakukan tadi.


                “Lain


waktunya kapan, Ann. Toh denganku kamu selalu tidak ada waktu bukan.”


                “Emm, pokoknya


kalau aku sudah ada waktu.”


                “Kamu sudah


pasti nggak pernah ada waktu kalau ku ajak pergi berdua.”


                “Ya


makanya nggak usah berdua.”


                “Huhhh...”


                “Bay,


nanti yah. Janji.” Ann memasang senyum manis di depan Bayu. Senyum yang selalu


berhasil membuat Bayu luluh hingga akhirnya pasrah dan pasti akan berujung


mengalah. Ia memang tidak bisa menang jika sudah berhadapan dengan Ann. Bahkan


jika dirinya adalah seorang atasan sekalipun ia akan tetap memilih mengalah


jika yang menjadi lawan bicaranya adalah wanita pemilik lesung pipi yang manis


itu.


                “Udah


nggak usah senyum-senyum lagi.”


“Siap Pak Bos.”


“Dan jangan pasang senyum manis


kayak tadi di depan orang lain. Cukup denganku saja. Sudah keluar sana, lanjutkan


pekerjaanmu.”


                Ann


lagi-lagi tersenyum. Meski ia tidak memberi celah bagi Bayu untuk menembus


hatinya namun melihat sikap posisef lelaki itu selalu berhasil membuat Ann


bahagia. “Siap Pak bos.”  Ann mengangkat


tangannya, hormat kepada Bayu lalu tersenyum puas. Setelahnya ia keluar dari


ruangan itu, lanjut ke tempat duduknya.


                “Hari


ini ada tugas apaan Ann?” tanya Dwi saat Ann sudah duduk di kursinya.


                “Ngurusin


iklan kopi dari klien yang datang kemarin.”


                “Hanya


itu?”


                “Sepertinya


untuk hari ini hanya itu Dwi.”


                “Eh


ngomongin kopi aku jadi ingat sama kejadian tadi pagi. Coba tebak aku habis


ketemu sama siapa di kedai kopi?” ucap Dwi dengan begitu antusias.


                Ann


hanya mengerucutkan bibirnya sembari pura-pura berpikir. “Siapa? Pacar kamu


mungkin.”


                “Aduh


Ann, kan aku nggak punya pacar. Gimana sih.”


                “Kalau


gitu calon pacar.”


                “Ini


lebih dari calon pacar Ann.”


                “Calon


suami?”


                “Aduh


kamu tuh ya.”


                “Emang


siapa sih, kayaknya kamu senang gitu.”


                “Aku


habis ketemu sama Leo. Alan Leo Ferlian, Ann. Gila banget kan.”


                “Leo?


Siapa tuh?”


                Dwi


langsung menepuk jidat karena kesal dengan dirinya sendiri. Ia lupa jika Ann


tidak tertarik dengan hal yang berbau selebriti. Ia mana tahu Leo itu siapa.


Mungkin yang Ann tahu hanyalah naruto dan jurus-jurusnya. Dwi sendiri heran


mengapa ada jenis manusia seperti Ann ini.


                “Lo


manusia tipe apasih Ann. Aneh banget, masa nggak tahu Leo sama sekali. Padahal


dia artis papan atas loh. Di pinggir jalan aja gambarnya terpampang nyata di


mana-mana. Kok lo bisa-bisanya nggak tau.”


                “Gue


mana ada waktu merhatiin jalanan Dwi. Udah ah, daripada ngomongin orang yang


nggak jelas dan nggak penting juga mendingan kamu lanjut kerja.”


                “Iya


nyonya kudet.” Dwi memutar badannya dan mendorong kursinya menjauh dari Ann.


Gagal sudah niatnya untuk memamerkan pertemuan berharganya dengan Leo hari ini.


Berbicara dan mengajak Ann mengurusi seputar dunia artis sama seperti memberi


makan kucing dengan sampah plastik. Benar-benar sesuatu yang mustahil terjadi


di dunia Ann.


                “Ann?”


                “Emm.”


                Dwi


yang belum juga puas, kini memutar kursinya dan mendorongnya lagi menuju ke


tempat duduk Ann hingga tidak ada lagi jarak antara mereka berdua. Sambil


tersenyum lebar, Dwi mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.


                “Leo


cakep loh Ann, yakin kamu nggak bakal terpesona.” Dwi menyodorkan ponselnya di


depan Ann sembari menunjukkan potretnya bersama Leo tadi pagi.


                Ann


melirik sekilas lalu memutar bola matanya karena muak dengan arah pikiran Dwi


yang terkesan aneh menurutnya.


                “Biasa


aja.”


                “Biasa


gimana. Kalaupun Leo disandingkan dengan Pak Bos yang udah jelas cakep, sudah


jelas Leo yang bakal menang, Ann. Kok lo malah bilang biasa aja sih. Awas loh,


bisa diserbu sama fansnya Leo kalau dengar lo ngomong kayak tadi.”


                “Orang


emang biasa aja kok. Kamunya aja yang terlalu lebay. Lagian nih, kalaupun aku


terpesona dengan si Leo itu, emang dia bakal suka balik sama aku gitu. Enggak


kan. Jadi udah nggak usah halu. Mendingan lanjut kerja aja sana.”


                “Nah


justru itu kata berusaha diciptakan Ann. Selama Leo belum menjadi milik siapa-siapa


lo belum gagal Ann. Pokoknya pantang mundur sebelum menang.”


                “Ihhh malah


ngawur gini ceritanya. Udah ah, aku mau lanjut kerja aja.”


                Ann


memutar kursinya agar segera menjauh dari tempat temannya, Dwi. Tangannya


perlahan membolak-balikkan dokumen yang kini ada di hadapannya. Matanya tertuju


di balik kertas-kertas itu namun kini pikirannya melayang ke mana-mana. Sesaat


ia kepikiran kalimat Dwi barusan. Entah mengapa ia mendadak tergiur dengan


rencana Dwi untuk mendekati Leo. Bukan karena ia tertarik apalagi terpesona


dengan lelaki itu, hanya saja ia merasa butuh alasan agar Bayu bisa segera


menjauh darinya. Memang sudah sejak lama ia menderita karena Bayu yang selalu


saja mengejarnya tanpa henti. Dan memilih menjalin hubungan dengan lelaki lain


sepertinya bukanlah alasan yang konyol. Meskipun dengan memilih Leo sebagai


pasangan adalah salah satu hal konyol juga untuk dilakukan.


                “Leo


Alan Ferlian. Apa dia melebihi hebatnya Dewa, sehingga diagungkan banyak orang


tanpa henti?” ucapnya lirih dalam hati.