Love Language

Love Language
Siapa Cepat Dia Dapat



“Amira, kamu dari mana aja sih. Kok baru muncul dipermukaan,” jelas Liana saat ia baru saja menghampiri Ann dan juga bundanya. Wanita itu terlihat sangat senang karena bisa bertemu dengan Ann, atau yang ia sebut sebagai Amira. Amira adalah nama panjang Ann, Amira Annelia. Hanya saja kebanyakan orang hanya memanggilnya dengan sebutan Ann saja. Jika ada yang memanggilnya dengan sebutan Amira, maka dapat dipastikan jika itu adalah teman kecil Ann.


               “Kamu kapan balik dari Paris sih? Kok nggak ngabarin,” tanya Liana lagi sebelum Ann sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.


               “Kamu ini Li, masih aja secerewet dulu. Nggak berubah sama sekali.”


               “Hehehe, maaf Tante. Lagian Liana senang banget karena bisa ketemu sama Amira lagi. udah lama banget lo kita nggak ketemu kayak gini. Kangen tahu.” Gadis itu dengan riangnya merangkul Ann yang kini berdiri sejajar dengannya.


               “Amira, kamu kapan balik dari Paris sih?”


               “Udah dari setahun yang lalu, Li.”


               “Ha?” Liana tampak terkejut setelah mendengar jawaban dari Ann. Ia hanya tidak mengira saja jika ternyata Ann sudah lumayan lama menetap di Jakarta dan ia tidak mengetahui tentang hal itu sama sekali. Padahal sudah beberapa kali ia mampir ke rumah Ann namun tidak pernah sekalipun melihat teman kecilnya itu.


               “Serius setahun yang lalu?”


               Ann mengangguk pelan.


               “Kok aku nggak pernah liat sih. Padahal udah beberapa kali loh aku pernah singgah di rumah kamu. Tante Adyana juga nggak ngomong sama Liana.”


               Bunda Ann yang semula sibuk mencari keberadaan teman-teman gengnya seketika menoleh saat mendengar namanya dibawa-bawa dalam obrolan keduanya. “Kamu kan nggak pernah nanya Li, ya tante nggak ngomong juga lah.”


               “Iya sih, Liana nggak pernah nanya.”


               Belum sempat Liana menghabiskan rindunya kepada Ann, tiba-tiba saja obrolannya harus terhenti setelah seseorang datang menghampirinya, dengan diikuti seorang pembawa makanan dibelakangnya. Sepertinya ia memang sengaja menyuruh pelayan itu untuk menjamu tamu yang baru saja datang.


               “Jeng udah lama?” ucapnya sembari memeluk Adyana lantas mencium pipi kanan dan juga pipi kirinya. Tradisi seorang teman ke teman yang baru saja di temuinya.


               “Baru aja tiba Jeng. Selamat ya untuk pembukaan toko kuenya. Semoga semakin ramai dan jaya ke depannya,” jelas Adyana sembari memberikan sebuah bingkisan kepada Audi.


               Audi yang baru saja menerima bingkisan itu langsung tersenyum lebar saking senangnya. Tentu saja karena hadiah special dari Adyana. Audi sudah paham betul dengan temannya yang satu itu. Jika memberi sebuah hadiah, kisaran harganya pasti tidak tanggung-tanggung. Jika bukan tas branded limited edition pasti busana cantik yang dipesan langsung dari fashion design yang ada di Paris.


               “Ya ampun Jeng, pakai dikasih hadiah segala. Kan bukan acara ulang tahun. Jadi nggak enak.”


               “Nggak papa. Sekali-kali juga kok dan bukan hal yang cukup besar. Jadi nggak usah nggak enakan gitu,” jawab Adyana berusaha merendah.


               ”Eh silahkan dicicipi dulu makanan dan minumannya Jeng,” tawar Audi sembari menyodorkan makanan dan juga minuman kepada temannya itu. Setelah beberapa menit berdiri, ia baru sadar jika kini Ann juga ada di sana. Tepat berdiri di samping bundanya.


               “Ini bukannya Amira, ya?” tanya Audi berusaha untuk memastikan. Ia memegang salah satu lengan Ann sambil terus terperangah dengan penampilan Ann yang begitu memukau hari ini.


               “Iya, tante.”


               “Wah makin cantik saja setelah kuliah di Paris. Amira apa kabar?”


               Dalam hati Ann mengumpat pelan, jadi jika sekiranya aku nggak kuliah di Paris nggak tambah cantik gitu. Teman Bunda memang pada aneh-aneh semua. Heran.


               “Iya baik kok tante,” jawabnya singkat, tak ingin memperpanjang obrolan lagi. Sementara itu, Liana yang sudah paham dengan sikap mamanya hanya bisa tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. Audi memang tipekal orang yang asal cemplok sana cemplok sini. Udah kayak telur cemplok aja mulutnya, tetapi aslinya dia adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Terlepas dari ucapannya yang kadang menyinggung perasaan pendengarnya.


               “Bang Leo. Sini!” ucap Liana saat melihat abangnya yang baru saja muncul dari balik kerumunan tamu undangan. Semua orang yang ada di sana sontak menoleh termasuk Ann.


               Bang Leo? Ulang Ann dalam hati, dengan pandangan yang mengarah kepada lelaki yang kini menjadi pusat perhatian.


               “Eh, sayang. Sini!” Audi ikut menyapa. Melihat bagaimana wanita itu melambai dengan sangat antusiasnya membuat Leo mengumpat dalam hati, dan terpaksa harus ikut bergabung ke dalam lingkaran yang sungguh sangat membuatnya kesal setengah mati itu.


               “Udah lama, Tante?” sapa Leo kepada Adyana yang sedang tersenyum manis kepadanya pula.


               “Baru aja tiba, kabar kamu gimana Leo?”


               “Baik, Tan. Om Aditya nggak ikut?” Leo melirik kanan kiri mencoba memastikan keberadaan lelaki yang dimaksudnya itu.


               Mendengar jawaban dari Adyana benar-benar membuat Leo tidak percaya. Bagaimana tidak, gadis yang ia temui beberapa hari yang lalu dan berhasil menumpahkan kopi panas di kemejanya adalah anak dari teman dekat mamanya. Sosok yang sudah sejak lama dijodoh-jodohkan dengannya. Bahkan Leo masih menyimpan isi chat mamanya yang menyuruhnya untuk mampir di tempat Adyana. Apalagi tujuannya jika bukan untuk bertemu anak dari teman mamanya itu.


               “Kebetulan, Ann sama Leo bisa ketemuan di sini,” ucap Audi memecah keheningan yang ada. Beberapa kali wanita itu mengedip-ngedipkan matanya ke arah Adyana, hingga membuat Ann dan Leo menatapnya dengan bingung. Liana yang sudah mengerti gelagat mamanya hanya bisa tersenyum bahagia.


               “Benar banget Jeng. Lagian Ann sibuk kerja mulu, jadi selalu nggak ada waktu buat nyapa Leo. Leo juga pasti sibuk banget syuting sana sini.” Adyana yang sangat gembira dengan pertemuan Ann dan Leo, kini merangkul Ann dan sedikit mendorongnya ke samping agar jaraknya dan Leo bisa saling dekat satu sama lain.


               Mama apaan sih, aneh banget tingkahnya. Perasaan aku jadi nggak enak nih, batin Ann dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.


               “Diam-diam aja, kenalan dong Leo. Sejak kalian kecil kan belum saling kenal satu sama lain. Padahal dulu Amira sering banget main di rumah sama Liana.” Gantian Audi yang menyenggol lengan anaknya hingga berhasil menyentuh lengan Ann tanpa ia sengaja. Ann yang menyadari hal itu langsung menarik tangannya sedikit lebih jauh dari jangkauan lelaki itu.            


               Sebagaimana sikap Ann yang bingung, Leo justru lebih bingung lagi. Ia sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan mamanya saat ini. Sebab yang ia mengerti sekarang adalah, ia masih kesal dengan wanita yang ada di depannya itu.


               “Kok diam aja sih. Terpesona yah sama kecantikan Ann. Buruan ulurin tangan kamu, terus ajak dia bersalaman. Jangan bikin Mama malu Leo,” bisik Audi yang diselingi dengan senyum kaku kepada Adyana dan juga Ann.


               Aku, seorang Leo harus salaman dengan gadis nyebelin itu? Mama nggak salah, jelas Leo dalam hati dengan pandangan yang tak juga mau lepas dari wajah Ann. Bukan karena ia terpesona tetapi karena ia masih menyimpan dendam kusumat dengan wanita itu.


               Ann pun balas menatap Leo. Tentu saja ia tak ingin kalah dengan lelaki itu. Saat menyaksikan rentetan kejadian yang sedang meliputinya sekarang membuat Ann mendadak teringat dengan ponselnya yang kini berada di tangan Leo. Ann tentu tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Sebab ia sangat yakin jika Ann hanya berdua saja dengan Leo, maka lelaki itu sudah pasti akan memberikan ponselnya dengan diiringi sebuah syarat. Dan pasti syarat yang akan membuatnya sedikit repot. Apalagi dengan kondisi Leo yang sangat, sangat membencinya.


               “Eh, tenyata Leo sang bintang yang ada di beragam acara televisi itu, anaknya Tante Audi. Dunia emang sempit banget ya. Oh iya Bun, tadi Bunda bilang kalau orang yang menuin hp Ann minta ketemuan di Almamedian ya?” Ann melirik bundanya sekilas. Adyana tentu mengangguk setuju dengan penjelasan anaknya barusan.


               “Iya, katanya nanti ketemuan di sana.”


               “Nah, orang itu sebenarnya Leo, Bun. Dialah yang nemuin hp Ann yang ketinggilan di tempat syuting kemarin. Kebetulan banget ya, kita bisa ketemu di sini.” Ann yang sedang bertingkah sok manis, kini menatap Leo. Senyuman yang tentu saja membuat Leo kebakaran jenggot karena kesal.


               “Oh ya, jadi yang nelpon pagi-pagi itu kamu Leo?”


               “Ha,” jawab Leo dengan kaku. “Iy-yya, Tante.”


               “Wah Jeng kebetulan banget ya. Kalau jodoh mah emang ada-ada aja ya jalannya.” Gantian Audi yang bersuara. Dan suara sumbangnya kali ini berhasil membuat Ann maupun Leo menatap Audi dengan penuh selidik.


               “Hehehe, jadi ke mana-mana gini. Oh iya Leo, ponsel Ann mana?” lanjut Audi lagi setelah mendapat tatapan mematikan dari anaknya itu.


               Leo lagi-lagi beralih melirik Ann, menghembuskan napas pendek lantas berucap dengan lantang dan jelas. “Ada kok diii mobil. Entar aku ambilin. Atau mau ngambil bareng sekarang?”


               ‘Sial, aku kalah cepat dari dia lagi. Belum sempat ngerjain, malah dikerjain lebih dulu.”


               “Cieee abang, jadi sekarang udah pake acara bareng-barengan nih.” Liana yang sejak tadi hanya diam seketika bersuara. Dan kini ia pun melirik abangnya dengan lirikan centil yang menggoda. Tentu saja ia sedang mengusili kakaknya yang kini terlihat manis di depan Ann.


               “He anak kucing, jangan bertingkah aneh gitu ya di depan abang. Mau, nggak dapat jatah belanja bulan depan.”


               “Ih abang, sadis gitu sama adik sendiri.”


               Adyana dan Audi hanya bisa tersenyum senang melihat keriuhan yang sedang berlangsung. Ann yang menyaksikan pertengkaran ringan antara kakak beradik itupun akhirnya membuat ia ikut tertawa juga. Di matanya, Leo memang sosok kejam yang menakutkan. Dan terbukti sekarang dengan sikap kerasnya kepada Liana.


               “Bun, Ann mau ngambil ponsel dulu ya,” pamit Ann kepada bundanya. Membuat Leo sedikit terkejut karenanya. “Leo, hp aku ada di mobil kamu kan?” lanjutnya lagi yang berhasil menciptakan umpatan kecil di mulut Leo. Ann yang bisa melihat umpatan itu hanya bisa cekikikan dengan penuh kemenangan.


               “Em, ia ada di mobil kok. Biar gue ambilin,” pinta Leo sebelum ia berbalik badan untuk mengambil langsung ponsel itu di dalam mobilnya yang berada di parkiran. Namun Ann tidak tinggal diam begitu saja. Ia lantas ikut mengejar Leo yang sedang keluar untuk mengambil ponselnya.


               “Jadi Alan Leo Ferlian sang bintang itu anaknya tante Audi. Kok beda banget ya sama tante Audi dan Om Dion.”


               Leo yang mendengar suara risih yang sedang berkumandang di belakangnya kini sontak menoleh. Dengan wajah memerah, ia mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk Ann tepat di depan matanya.


               “Kamu...”