
“Besok aku akan ke Thailand,” jelas Leo saat makanan yang ada di piringnya sudah benar-benar habis tanpa sisa.
Jun yang sedang membersihkan sisa makanan di bibirnya sontak menatap Leo. Tanpa berkata-kata hanya pandangannya yang seolah berbicara.
“Akan ada konser selama satu minggu di sana.”
“Oh. Ya sudah pergilah.”
“Aku takut kamu akan rindu selama aku tidak berada di sisimu.”
“Bukankah aku yang harus mengatakan kalimat itu.” Jun berdiri, mengangkat piring kotor yang ada di atas meja , lantas langsung mencuci piringnya hingga bersih.
Leo mengikutinya hingga ke dapur. Berdiri di belakang Jun sembari memandangi lelaki itu yang terlihat sangat menikmati waktunya membersihkan piring kotor.
“Kau terlihat murung. Apa ada masalah?” tanya Leo lagi saat melihat wajah Jun yang begitu datar saja malam ini. Tidak semangat sebagaimana saat ia bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.
“Masalahnya adalah kau selalu lebih mencintai pekerjaanmu dibanding aku Leo. Apakah begitu sulit untuk melepas salah satunya. Harus berapa kali aku memohon agar kau berhenti saja menjadi seorang artis.”
Leo langsung memijat keningnya yang terasa sakit seusai mendengar permintaan Jun barusan. Setiap kali ia menemui kekasihnya itu, pasti selalu berakhir seperti ini. Segala topik pembicaraan pasti akan bermuara pada satu pertanyaan buntu: Berhenti saja menjadi seorang artis. Entah harus berapa kali lagi Leo berusaha untuk menjelaskan, hasilnya tetap saja sama. Jun selalu tidak menerima alasannya. Dan bagi Leo, sangat berat juga untuk melepas pekerjaannya begitu saja. Terlebih disaat puncak karirnya yang sedang cemerlang seperti sekarang.
Leo mengejar Jun yang berjalan menuju balkon. Sambil mendekat, ia memeluk Jun dari belakang sembari melihat ke atas langit. Setelah puas dan berhasil mendapatkan kata yang pas untuk ia utarakan kepada Jun, ia akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
“Ini bukan tentang kata lebih mencintai, Jun. Ku pikir tanpa aku jelaskan pun kamu sudah bisa paham bahwa aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu begitu pun dengan pekerjaanku juga. Kalian berdua sudah seperti napas yang sangat aku butuhkan. Tanpa keduanya, aku mungkin akan berakhir mati, Jun. Jadi ku mohon mengertilah.”
“Segala sesuatu apapun aspeknya hanya perlu sebuah pelatihan, Leo. Manusia itu bisa karena biasa. Kenapa tak kau coba saja untuk membiasakan diri menjadi orang biasa. Atau justru kau memang tidak ingin melakukannya?”
“Hhh. Haruskah kita membicarakan hal ini lagi sekarang? Aku sudah kelelahan setelah seharian bekerja Jun. Aku ke sini hanya untuk meredakan rasa lelahku, makanya aku menemuimu.”
Jun terlihat menghela napas. Menatap Leo dengan tatapan yang sungguh sulit untuk diartikan maksudnya. “Aku mandi dulu,” ucapnya lalu pergi meninggalkan Leo di balkon.
“Lagi dan lagi,” Leo bergumam pelan sambil melihat punggung Jun yang semakin jauh saja darinya hingga tidak terlihat lagi dari pandangannya. Setelah Jun benar-benar hilang, Leo lanjut melihat bintang, berusaha untuk menghitung jumlahnya meski tidak bisa ia simpulkan bahkan hingga pagi datang kembali. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, terlebih untuk mengusir segala rasa bosannya saat ini. Hingga getar ponsel tiba-tiba saja mengacaukan kegiatannya.
Leo berpikir sejenak, namun karena getar ponsel yang ada di sakunya tidak juga berhenti bergetar, ia akhirnya memutuskan untuk meraih ponsel itu, dan melihat layar ponselnya.
Bunda Kejam is calling...
“Bunda kejam?” ulang Leo sambil tersenyum tipis. “Gadis ini memang aneh. Bisa-bisanya menamai Bundanya dengan sebutan Bunda kejam.”
Awalnya Leo hanya memandang ponsel itu saja, mencoba untuk menimang-nimang keputusan yang harus ia ambil. Antara mengangkat panggilannya atau justru mengabaikannya saja. Namun ponsel itu tak berhenti juga berdering, sehingga Leo yang merasa sedikit terganggu akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilannya.
“Halo, apa kabar Ann?”
“Apa kabar Ann? Kamu tahu nama saya? Kok-“
“Bermain-main dengan ponsel milik orang lain ternyata semengasyikkan ini yah. Beruntung sekali aku bisa mendapat hadiah yang setimpal hari ini. Ternyata Tuhan masih memihak orang-orang baik.”
“Maksud kamu?”
“Jika ingin mendapatkan ponselmu kembali, siapkan permohonan maaf untukku lebih dulu. Dan jangan lupa untuk mengganti kemeja limited edition yang sudah kau tumpahi kopi di tempat syuting tadi.”
Leo dengan puasnya langsung mematikan panggilan teleponnya secara sepihak tanpa memberi jeda untuk Ann agar bisa berbicara.
“Kamu terlihat sangat bahagia, habis teleponan dengan siapa?” tanya Jun yang kini tiba-tiba muncul dengan tubuh yang sudah fress sehabis mandi.
“Ah, tidak. Bukan siapa-siapa kok. Hanya mainan baru saja, semacam kucing ingusan yang lucu dan menggemaskan.”
“Ha? Semacam kucing yang lucu dan menggemaskan. Tetapi sejak kapan kamu suka kucing, Leo?”
“Ahhh ini, itu Jun. Emm maksudku, ah udahlah nggak usah dibahas. Nggak penting juga kan.”
Jun yang semula biasa saja kini menatap Leo dengan tatapan tajam yang penuh dengan keseriusan. Ada semburat keingintahuan yang sedang meliputi pikirannya saat ini. Namun sepertinya Leo tidak memberinya banyak penjelasan. Hanya sebuah jawaban samar yang entah apa maksudnya. Tanpa berhenti menatap, Jun berjalan perlahan menghampiri Leo.
“Kamu nggak lagi selingkuh dariku kan?”
“Apaan sih Jun. Emangnya aku bisa berpaling dari kamu.”
“Ya, why not. Hari esok emang siapa yang bisa tebak, Leo.”
“Obrolannya kok jadi serius gini. Udah ah, ganti topik.”
Leo segera beranjak dari duduknya. Perlahan lelaki itu kembali ke balkon tempatnya tadi sedang bersantai. Bukan karena ia masih ingin menatap bintang, namun karena kali ini arah pembicaraan Jun sudah tidak mampu untuk ia alihkan lagi. Leo memang sangat mencintai Jun dan hampir tidak ada rahasia sedikit pun yang ia sembunyikan darinya. Hanya saja, entah kenapa hari ini ia seolah enggan untuk bercerita kepada Jun perihal Ann.
“Ngapain harus cerita, kan dia hanya gadis bodoh yang nggak ada penting-pentingnya sama sekali. Aku memilih nggak cerita sama Jun bukan karena ingin selingkuh atau semacamnya kok. Hanya karena dia memang tidak penting saja untuk diceritakan. Leo kamu sedang tidak membuat kesalahan, jadi bersikap biasa saja. Jangan panik seperti ini,” jelas Leo berusaha bermonolog dengan dirinya sendiri.
Setelah Leo merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, ia segera kembali ke dalam, menghampiri Jun yang terlihat sedang duduk santai di sofa sambil menikmati cemilan yang ada. “Kira-kira besok gimana yah wajah kesal gadis bodoh itu. Sungguh tidak sabar melihat wajahnya yang kusut karena berhasil ku bodohi malam ini,” bisiknya dalam hati, dengan senyum licik yang berusaha ia sembunyikan dari Jun.
Tanpa berucap lagi, ia mengambil tempat di samping Jun. Kedipan matanya seolah menjadi kode agar kedua insan itu segera berpindah ke dalam kamar. Di sana Leo mendekap tubuh kekasihnya sembari mencium bibir lelaki itu dengan cukup intens hingga berakhir pada sebuah pelukan hangat yang berhasil membuat kasur berderit sempurna. Malam yang panjang telah membawa keduanya ke dalam ruang lain yang begitu indah untuk diutarakan. Hanya saja dalam dekapan Leo kali ini, bayang-bayang Ann tak juga lepas dari pikirannya. Entah karena rasa kesalnya yang terlalu berlebihan ataukah karena sesuatu yang lain yang tak juga ia pahami maksudnya. Satu hal yang pasti, bahwa kecupan dan pelukan Jun malam ini masih saja membuatnya mabuk kepayang. Entah hingga kapan hubungan terlarang itu akan terjalin tanpa hambatan.