Love Language

Love Language
Balas Dendam



Ince tertawa puas sejak tadi. Melihat Leo dengan ekspresi wajah yang begitu kesal membuatnya sangat senang. Bukan karena ia senang melihat Leo menderita. Namun Ince hanya tidak habis pikir saja, jika ternyata di tengah ketenaran bintangnya itu ia harus mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan hari ini. Dan hal itu justru dilakukan oleh pegawai kantoran swasta pula. Benar-benar kejadian yang cukup menarik bagi Ince.


               “Udahlah Leo. Kapan lagi kamu terlihat menyedihkan di depan banyak orang. Justru kalau senang terus bakal nggak seru tau.”


               Leo yang sedang sibuk membersihkan kemejanya langsung mendonggak. Tatapannya yang tajam mampu dengan cepat membungkam Ince dengan tawa yang masih saja berusaha untuk ia tahan.


               “Ince nggak lucu. Kemeja harga ratusan juta milikku harus kotor sia-sia hanya karena syuting iklan sekelas ini. Pokoknya lain kali aku nggak mau syuting iklan lagi.”


               Leo melepaskan kemejanya setelah mencoba membersihkan dengan tisu namun tidak membuat nodanya hilang. Kini ia hanya menyisakan kaos polos saja di tubuhnya.


               “Segera buang kemeja sialan itu. Bikin hidupku tambah sial saja.”


               “Baru juga ditumpahi segelas kopi udah kayak kebakaran jenggot aja.” Ince berkata pelan sambil terus menahan tawanya.


               “Baru kamu bilang. Untung perutku yang kotak dan seksi ini nggak sampai melepuh karena kopi panas itu. Emang kamu mau kalau aku masuk rumah sakit dan harus dirawat inap selama sebulan karena cedera saat syuting. Manajer apaan yang nggak merhatiin kesehatan bintangnya sendiri.”


               “Ya ampun Leo. Nggak usah lebay gitu dong. Cuma air kopi doang kok. Nggak bakal bikin kulit melepuh juga kali. Paling bisa nyembuhin sakit perut kamu. Gimana, udah nggak sakit lagi kan sekarang?”


               Leo yang sadar dengan kebohongannya saat pertama kali tiba di lokasi syuting, kini langsung bungkam. Benar juga apa yang dikatakan oleh Ince. Selepas ditumpahi kopi oleh Ann, Leo menjadi sehat bahkan lupa dengan sakit perutnya. Ia yang semula lemas mendadak berteriak dan memaki Ann dengan penuh semangat. Dan hal itulah yang membuat Ince tak bisa menahan tawa. Ince tahu bagaimana Leo yang sangat peduli dengan penampilannya. Bahkan jika ada noda setitik saja dibagian pakaiannya maka ia tidak akan segan-segan untuk mengomeli Ince karena hal kecil itu.


               “Ah... nggak tau ah. Saya mau ngopi dulu sebelum pulang,” jelas Leo berusaha mengalihkan topik pembicaraan setelah kopi pesanannya sudah diantarkan oleh satpam yang bertugas di gedung tersebut.


               “Nggak takut ketumpahan kopi lagi?” Ince ikut duduk di kursi yang ada di depan Leo. Masih dengan wajah yang penuh dengan tawa mengejek.


               Leo tak lagi menjawab, ia hanya memasang wajah datar sembari meneguk ice americano kesukaannya.


               “Eh buset...” Ince langsung bangkit dari duduknya. Membuat Leo yang sedang asyik meneguk minumannya pun ikut terkejut.


               “Uhuk uhuk uhuk. Incee... kamu beneran mau bunuh saya.”


               “Habisnya Ince kaget, Leo. Ini siapa yang naro handphone di sini sih. Bikin kaget aja.” Ince langsung meraih ponsel yang tergeletak acuh di dekat pantatnya itu. Entah siapa pemilik ponsel tersebut, ia pun tidak tahu pasti. Yang jelas sekarang adalah ponsel itu sedang berdering. Di layar ponselnya hanya tertulis Pak Bos is calling...


               “Itu punya siapa Ce?”


               “Nggak tahu. Tiba-tiba aja ada di bawa pantat Ince waktu duduk tadi. Mungkin milik kru yang tadi kali. Bisa aja kelupaan karena buru-buru balik ke kantor.”


               “Ya udahlah biarin aja di situ. Paling kalau pemiliknya sadar barangnya hilang bakal balik ke sini lagi dan ngambil ponselnya.” Leo tidak ingin ambil pusing perihal ponsel yang ditemukan oleh Ince barusan. Tanpa berucap lagi ia lanjut menikmati minumannya.


               “Leo, kayaknya ini ponsel milik wanita yang numpahin kopi ke kemeja kamu deh,” ucap Ince saat melihat foto walpaper di layar ponsel tersebut.


               Leo yang semula acuh kini langsung tertarik dengan topik pembahasan Ince barusan. Ia meletakkan gelas minumannya beserta ponselnya di atas meja. Lalu melihat Ince dengan wajah penasaran. Ia ingin memastikan apakah yang diucapkan oleh Ince barusan adalah suatu kebenaran ataukah justru sebaliknya.


               “Si gadis pengumpat itu?”


               “Sepertinya.” Ince memperlihatkan walpaper ponsel yang sedang dipegangnya. Sembari menyerahkan kepada Leo dan kembali duduk di kursinya lagi.


               “Sehabis gelap terbitlah terang. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan si gadis pengumpat itu jika tahu ponselnya ada di tanganku sekarang. Bakal aku pastiin dia akan bertekuk lutut di depan kakiku dengan cara yang sangat menyedihkan.”


               “Ih, seram amat. Jangan kasar-kasar sama orang, Leo. Nggak baik. Nanti citra kamu juga bakal ikut turun. Ingat ya, kamu itu public figur. Jadi nggak boleh sembarangan.”


               “Dia yang mulai duluan kok. Bukan salah aku dong kalau akhirnya balas dendam seperti ini.”


               “Udah ah, mainnya nggak usah sama pegawai swasta kayak dia. Tanpa diganggu pun hidupnya udah susah, Leo. Nggak usah cari-cari masalah. Udah, mendingan sekarang kita kembaliin ponselnya sama yang punya. Kasian tau. Pasti sekarang dia lagi sibuk nyariin.”


               Leo langsung menjauhkan ponsel yang sedang dipegangnya itu dari jangkauan Ince. Dengan cepat ia segera memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya. Tidak akan ia biarkan Ince merebutnya kali ini. Sebab ini adalah langkah awal baginya untuk membalas dendam kepada gadis yang sudah membuatnya kesal hari ini.


               Derrrttt...


               “Siapa lagi sih yang nelpon,” keluh Leo sambil mengeluarkan ponsel yang baru saja ia masukkan ke dalam saku celananya itu.


               Pak Bos is calling...


               “Pak Bos? Atau yang nelpon sekarang adalah Bayu. Emm diangkat aja kali ya,” ucap Leo berusaha bermonolog dengan dirinya sendiri.


               “Halo, Ann sekarang lagi di mana? Udah selesai pekerjaannya?”


               Leo berusaha mendengar dengan seksama sebelum ia akhirnya menjawab pertanyaan di seberang sana. Ia tersenyum puas saat mengenali suara yang sedang menunggu jawabannya itu. Tepat seperti dugaannya tadi. Yang menelpon barusan memang Bayu.


               “Halo. Halo Ann.”


               “Oh jadi namanya Ann.”


               “Ma-af bukannya ini nomernya Ann ya?”


               Suara yang ada di seberang sana mendadak hilang. Mungkin sedang bingung dengan jawaban Leo barusan. Atau bisa saja koneksi jaringannya yang sedang bermasalah.


               “Leo?”


               “Kalau bukan karena kamu, mungkin aku bakal nuntut perusahaan kalian. Jadi berterima kasihlah karena sepupumu ini masih cukup rendah hati untuk memaklumi kondisi pegawaimu yang tak becus itu.”


               “Maksud kamu Ann numpahin kopi di kemeja kamu. Beneran Ann yang lakuin?”


               “Numpahin kopi panas. Tolong digaris bawahi. Untung saja perutku yang seksi ini, nggak sampai melepuh karenanya. Niatnya bantuin kamu masarin iklan malah aku yang kena getahnya. Mana honornya nggak seberapa juga lagi.”


               “Masa sih Ann yang ngelakuin. Ann baik dan teliti kok orangnya. Nggak mungkin bisa sampai numpahin kopi segala. Terlebih ke kemeja kamu, Leo. Pasti hanya salah paham kok.”


               “Jadi kamu pikir aku lagi ngarang cerita. Hahaha, apa untungnya coba. Kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama karyawan lain yang juga datang ke lokasi syuting.”


               Terdengar Bayu menghela napas berat di ujung sana. “Ya udah, nanti aku bicara dengan Ann. Aku mewakili dia minta maaf yang sebesar-besarnya ya atas ketidakbecusannya mengurus pekerjaan. Nanti aku kirimin hadiah sebagai permintaan maaf.”


               “Oke bagus. Kalau perlu pecat aja sekalian. Bikin rusuh aja.”


               Tanpa menunggu Bayu membalas ucapannya, Leo langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Kini ia bisa tersenyum puas. Rencananya untuk membalas dendam ternyata didukung penuh oleh semesta.


               “Astaga Leo, kok ngomong gitu. Kasian loh si karyawan itu kalau beneran sampai dipecat.”


               “Biarin. Emang enak. Makanya, jangan berani berurusan dengan Alan Leo Ferlian.”


               Leo tertawa dengan puasnya sembari meneguk kopinya yang masih tersisa. Lewat tawanya kali ini, kepalanya sedang bekerja untuk memikirkan langkah yang akan ia tempuh selanjutnya untuk menuntaskan rasa kesalnya kepada Ann.


               “Ini baru permulaan gadis bodoh. Jangan kira Leo bakal diam saja setelah dipermalukan di depan umum. Berani berbuat, harus berani menanggung akibatnya juga bukan. Ann, Ann, oke biar aku ingat dengan baik nama itu.”


...***...


“Huhhh. Semua ini gara-gara si lelaki psikopat Leo. Lihat aja kalau sampai aku ketemu lagi sama dia. Bakal aku ulek-ulek mukanya kayak cabe rawit busuk.” Ann berjalan menuju kursinya dengan wajah yang sudah kebakaran api kebencian karena Leo.


               “Ada apa sih Ann. Muka kamu kok datar gitu. Udah kayak aspal jalan tol aja.”


               “Aduh Dwi, kamu itu nggak usah nambah-nambahin masalah deh. Udah sana, urus pekerjaan kamu saja.”


Bukannya nurut, Dwi malah makin gila urusan saja. Jiwa kekepoannya sedang meronta-ronta sekarang. “Ada apa sih? Jangan bilang kamu dapat omelan lagi dari Pak Bos.”


“Paham bahasa atau tuli sih. Susah banget ngomong sama kamu.”


               “Hehehe, nilai mata pelajaran bahasaku memang rendah banget sih, Ann. Cuma rata-rata 60. Tapi aku nggak sebodoh itu kok. Makanya kamu cerita dong. Ada apa? jangan buat orang penasaran kayak gini.”


               Dwi sama sekali tidak mengindahkan ucapan Ann. Sebelum Ann menjawab pertanyaannya maka saat itu pula ia akan mendesak Ann agar segera berbicara.


               “Hhhh... Untung kamu teman aku satu-satunya, Dwi.”


               “Ya makanya.”


               “Pak Bos habis marah sama aku. Gara-gara drama numpahin kopi panas di kemeja Leo di lokasi syuting tadi. Nggak marah sih, tapi gimana ya ekspresinya. Emm kayaknya emang marah sih. Enggak tau ah, males aku bahasnya. Gara-gara si Leo psikopat nih, hidup aku jadi sial gini kan.”


               Bukannya menanggapi, Dwi justru tertawa ngakak. Saking ngakaknya, suara Dwi sampai menggema dengan kencang di telinga Ann. Terlebih kini mereka sedang berada di dalam lift.


               “Makanya kamu jangan suka usil sama orang. Tuh rasakan. Leo dilawan. Eh aku kasih tahu ya Ann. Ngelawan Leo tuh ibarat menyeberangi lautan tanpa pelampung dan tanpa perahu tau nggak. Sudah pasti kamu bakal tenggelam. Sisa nunggu waktu yang tepat aja. Makanya tobat, nggak usah cari masalah sama Leo. Lagian nih ya, Leo itu diciptain Tuhan hanya untuk disayangi, bukan untuk disakiti. Ngerti?”


               Ann yang muak dengan ucapan Dwi hanya bisa mengacak rambutnya hingga berantakan. Hidupnya benar-benar sial hari ini, dan hal tersial yang paling mengganggunya sekarang adalah, fakta bahwa tidak ada satu orang pun yang berada di pihaknya saat ini.


               “Ann, liat deh postingan Leo barusan.” Dengan antusiasnya Dwi menyodorkan ponselnya ke depan mata Ann. Agar temannya itu dapat dengan jelas melihat isi postingan musuh bebuyutannya itu. Ann yang semula malas akhirnya mengikuti perintah temannya juga.


               ‘Diam-diam mengusik, kemudian berbalik terjatuh, biar ada yang peduli bertingkah seolah tersakiti, padahal dialah sang tersangka utama. Hei manusia nakal, segera buanglah sifat ke-kecoa-nmu itu.’ Ann membaca caption yang baru saja dipost oleh Leo di feed instagram miliknya.


               “Ha? maksud Leo?”


               “Apalagi maksudnya Ann. Ini berarti babak permusuhan untuk kalian berdua baru aja dimulai, secara SAH. Leo baru aja ngumumin itu di beranda instagramnya bahwa dia sedang di usik kecoa. Kamu tahukan arti kecoa bagi Leo itu apa? itu cara dia memanggil musuh Ann. Leo kan paling benci sama kecoa. Dan kamu tahu juga kan bagaimana banyaknya followers dia Ann. Bisa kacau kalau fans dia tahu orang yang dimaksud Leo di postingan itu adalah kamu. Aku, bilang juga apa. Nggak usah berurusan sama yang namanya Leo. Bisa kacau, Ann. Dia tinggal posting saja, para fansnya yang bakal balas dendam.”


               Ann dengan lemas menutup kedua bola matanya hingga yang tersisa hanya sekedar gelap semata. Belum usai masalah yang satu ia urus, kini masalah baru datang kembali. Dan Leo, menjadi topik paling hangat yang ada di dalam isi kepalanya sekarang.


               “Leo, si lelaki psikopat gila itu. Apa yang bakal dia lakuin lagi selanjutnya. Kacau hidup Ann karena dia,” ucap Ann membatin.