Love Language

Love Language
Tumpahan Kopi Panas



Entah sudah berapa kali Ann berbicara dengan dirinya sendiri saat berada di dalam taksi. Lebih tepatnya ia sedang mengomel tidak jelas dan nyaris membuat Dwi sahabat sekaligus rekan kerjanya itu naik darah. Bagaimana tidak, ditengah lelah sehabis bekerja Ann justru membuat situasi menjadi kian kacau saja. Apalagi saat adegan dramanya menumpahkan kopi panas di kemeja milik Leo. Dwi benar-benar tidak bisa mengerti lagi dengan jalan pikiran Ann yang rumit itu. Entah apa yang membuatnya menjadi begitu membenci Leo yang terlihat manis di mata Dwi.


               “Dia bilang apa barusan? Harga kemeja dia lebih mahal dari harga si Ann sebagai perempuan. Hello, emang dia pikir dia siapa berani-beraninya ngatain aku kayak gitu. Kemeja buluk gitu juga, aku bisa kok beli selemari. Dasar lelaki psikopat,” ketus Ann di dalam taksi yang sedang menyetel lagu Blackpink. Bahkan lagu yang berjudul Bombayah yang terkesan heboh justru kalah meriah dengan suara Ann yang benar-benar penuh dengan emosi.


               “Ann. Kamu sakit ya. Heran deh, ngerocos mulu dari tadi.”


               “Sakit apaan. Kamu tuh yang sakit. Masa ngefansnya sama artis songong dan nggak tahu aturan kayak dia. Nggak ada sopan santun lagi. Ihhh kalau aku mah nggak banget.”


               “Hhhh... ngomong sama kamu cuma buat tenagaku habis sia-sia tahu nggak. Tuhan, kok kantor jauh banget sih. Aku kan udah mau cepat-cepat sampai sana. Berada di dalam taksi kayak gini berasa lagi di neraka. Huhuhu.”


               Dwi menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Rasa lelah benar-benar telah menghinggapinya sekarang. Ia ingin tertidur saja, setidaknya di sana ia bisa bermimpi indah. Tanpa harus repot mendengar ocehan temannya yang tiada henti itu.


               Ann melihat Dwi sekilas, lalu memandangnya dengan kesal. Tidak ada gunanya ia mencari pembelaan dari Dwi. Sebab gadis itu sudah pasti akan memihak Leo. Sosok yang sudah sejak dulu ia kagumi itu.


               “Handphone aku di mana ya?” ucapnya sembari menggeledah isi tasnya. Namun tidak ia temukan juga. Hanya ada sapu tangan dan juga dompet di sana. Ponselnya hilang.


               “Perasaan tadi aku masukin ke dalam tas kok,” ucapnya lagi sambil memeriksa saku bajunya. Namun hasilnya nihil, tidak ada di sana juga.


               Kini taksi sudah berhenti di depan kantornya. Kantor terlihat sepi, sekarang sedang jam makan siang. Namun Ann dan juga Dwi sudah makan siang di lokasi syuting sebelum akhirnya ia kembali ke kantornya lagi.


               “Bangun Dwi, udah sampai,” ucap Ann sembari mengguncang tubuh Dwi agar segera bangun.


               “Udah sampai Ann?” Dwi membuka kedua matanya perlahan. Sambil mengucek matanya yang masih sangat berat terbuka, ia mengedarkan pandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dari taksi.


               Saat berada di loby kantor, Ann terlihat masih uring-uringan mencari ponselnya yang entah hilang ke mana. Dwi yang menyadari keresahan Ann, sontak bertanya. “Kenapa Ann?”


               “Ponsel aku di mana ya Dwi. Perasaan tadi aku masukin ke dalam tas deh. Kok nggak ada ya?”


               “Ponsel? Emang kamu simpan dimana Ann. Diingat baik-baik dulu. Kali aja kamu salah taro atau apa gitu.”


               “Enggak kok. Tadi pas habis makan aku ingat banget nyimpen di dalam tas. Tapi kok nggak ada yah.”


               “Bentar aku coba telepon dulu. Kali aja tertinggal di lokasi syuting.”


               Dwi mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Sambil berjalan menuju lift ia mencoba menghubungi nomor Ann. Berharap akan ada jawaban di balik panggilan teleponnya itu.


               Nomor yang anda tuju tidak menjawab, silahkan tinggalkan pesan suara setelah nada bip.


               Berkali-kali Dwi menghubungi nomor Ann, dan berkali-kali pula ia mendapat jawaban dari operator. Dwi yang pasrah hanya mampu menghembuskan napas berat, seraya memandang wajah Ann dengan memasang mimik wajah sedih.


               “Nggak diangkat Ann. Mungkin kamu lupa ngambil di lokasi syuting kali.”


               “Nggak tau ih. Perasaan tadi aku masukin ke dalam tas kok.”


               “Makanya jangan suka pake perasaan. Jadi gini kan.”


               “Apaan sih Dwi. Nggak lucu tau. Mana di nomer itu banyak yang nelpon lagi. Bisa kacau klien-klien kita kalau ponselnya beneran hilang.”


               “Ya semoga aja nggak hilang Ann. Atau kamu coba cek di sana aja. Siapa tahu beneran ketinggalan di lokasi.”


               Ann melirik jam tangannya. “Sepuluh menit lagi bakal ada rapat Dwi. Mana keburu kalau balik ke sana lagi sekarang. Kamu tahu sendiri kan sekarang lagi jam makan siang. Jalanan pasti macet parah.”


               “Iya sih. Ya udah deh, mendingan pulang kantor aja kamu mampir di sana. Satu jalur dengan rumah kamu juga kan?”


               “Iya. Semoga aja ponselnya ketemu.”


               Ann yang masih dengan raut wajah sedih kini berjalan menuju kursinya. Di ruangannya masih kosong, hanya ada mereka berdua saja di sana. Sepertinya pegawai yang lain masih berada di luar kantor.


               Ann yang belum sepenuhnya pulih dari rasa sedihnya sontak menoleh pelan. Menatap Dwi dengan wajah yang seolah bertanya maksud kamu apa, aku tidak mengerti?


               “Lagian pake acara ngata-ngatain Leo segala. Belum lagi kamu pake numpahin kopi di kemejanya juga. Mana kopinya masih panas lagi. Jahat banget tahu.”


               Setelah mendengar penjelasan dari Dwi, Ann langsung memutar kursinya agar membelakangi Dwi. Bibirnya terlihat monyong karena kesal. Dwi lagi-lagi berada di pihak Leo.


               “Dwi Ayudira, sebenarnya kamu itu teman aku atau teman Leo sih. Kok belain dia mulu.”


               “Habisnya kamu emang salah. Masa mau belain orang yang salah.”


               “Enak aja ngatain aku salah. Lagian nih ya, aku nggak pernah kali buat masalah sama orang lain. Ya kecuali dia yang cari masalah duluan.”


               “Kalau dikasih tau itu ya didengerin bukannya malah ngeyel gini, Ann. Entar Tuhan malah makin murka loh. Emang kamu mau kalau Tuhan murka?”


               “Ih Dwi, kok malah bawa-bawa Tuhan segala.”


               “Habisnya kamu nggak mau dengar sih.”


               “Belain aja terus si manusia sok tampan itu. Besok-besok kalau kamu mau minta traktiran nggak usah minta sama aku. Minta aja sana sama si Leo, Leo itu.” Ann menatap layar komputernya dengan wajah yang amat kesal. Tangannya ia silangkan di depan dada. Ponselnya yang hilang sudah cukup membuatnya terbebani dan kini Dwi malah menambah bebannya dengan mengatakan bahwa dirinya sedang terkena karma.


               “Ann, bisa ke ruangan saya sebentar.” Bayu tiba-tiba datang dengan menenteng jas di tangan kanannya.


               “Sekarang Pak?” tanya Ann antusias.


               “Tahun depan. Ya iya sekarang Ann. Ngapain saya manggil kamu sekarang kalau butuhnya besok pagi.”


               “Iya, yah.” Ann yang menyadari kebodohannya hanya bisa mengumpat dalam hati.


               “Enak banget ya punya atasan sekaligus teman sendiri. Bisa sesantai itu kalau lagi ngomong.”


               Ann menoleh sebentar sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan atasannya. “Enak apanya. Kalau aku ngelakuin kesalahan seujung kuku aja pasti bakal diaduin ke Bunda. Serasa lagi dimonitorin sepanjang hari tau.”


Setelahnya Ann pun berlari dari sana. Meninggalkan Dwi yang sedang senyum-senyum tak jelas padanya dan melangkah menuju ruang pribadi Bayu, atasannya.


               “Tapi Pak Bos ngapain manggil aku segala. Bukannya sebentar lagi kita bakal meeting ya. Kenapa nggak nunggu meeting aja kalau cuma mau bahas kerjaan. Atau jangan-jangan? Ah Tuhan semoga saja dugaanku salah. Jangan sampai kejadian. Ponsel saja belum ketemu, ini nambah satu masalah lagi. Duh Gusti, kok hari ini Ann sial mulu sih. Huhuhu, sedih,” ucap Ann dengan lirih sebelum sempat mengetuk pintu.


Ann mengetuk pintu lebih dulu sebelum ia akhirnya masuk ke dalam ruangan atasannya itu. Di sana Bayu terlihat sedang duduk di kursinya sembari merapikan dasi miliknya yang sedikit miring seusai menikmati makan siangnya hari ini. Tanpa bersuara, Ann melangkah maju, lantas duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Bayu.


               Tidak ada suara apapun selain hening yang terasa sangat nyata. Bayu hanya menatapnya dengan tatapan yang entah memilki maksud apa. Ann tidak bisa menebaknya.


               “Kalau kamu mau bahas soal makan malam yang kemarin aku tunda, lebih baik aku keluar sekarang ya Bay. Aku masih banyak kerjaan. Lagi pula lima menit lagi kita bakal rapat kan. Dan aku belum menyiapkan apapun untuk meeting sebentar,” ucap Ann berusaha untuk berbohong. Sebenarnya ia sudah menyiapkan semuanya sejak tadi pagi, namun jika harus berada diantara hening dan harus dipandangi oleh Bayu seperti sekarang, ia jadi kurang nyaman juga akhirnya.


               “Kamu beneran buat onar di lokasi syuting?”


Tiba-tiba saja sepatah kata itu yang sontak keluar dari mulut Bayu. Benar-benar diluar dari dugaan Ann sebelumnya.


               “Maksudku, bukannya aku nggak percaya dengan kinerja kamu selama ini Ann, tapi mendengar seseorang bercerita tentang hal itu aku tidak bisa langsung mengabaikannya begitu saja. Maaf kalau membuatmu tersinggung.” Bayu berusaha berbicara sesopan mungkin.


               Dalam perjalanannya menuju ke kantor beberapa menit yang lalu, ia sudah berpikir keras tentang fakta yang baru saja ia dengar itu. Namun akan tidak adil pula jika ia tidak mendengar penjelasan dari sisi Ann. Dan ucapan yang ia lontarkan sekarang kepada Ann adalah kalimat yang sudah sejak tadi ia pikirkan dengan matang. Bukan apa-apa, Bayu hanya tak ingin jika perkataannya justru akan menyakiti perasaan Ann. Mengingat bagaimana Bayu sangat menyukai Ann selama ini, mungkin bisa dimengerti mengapa hingga akhirnya ia bersikap demikian hati-hati kepada wanita itu.


               Mimik wajah Ann benar-benar berubah. Bayu mempertanyakan soal kekacauan yang terjadi di lokasi syuting. Dan ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan atasannya itu. Apalagi jika bukan karena ulahnya yang menumpahkan kopi panas di kemeja milik Leo. Namun dalam benaknya ia pun bertanya-tanya tentang satu hal yang begitu penting.


Dari mana Bayu bisa tahu soal kejadian di lokasi syuting. Padahal staf kantor belum ada yang kembali ke kantor selain aku dan juga Dwi. Dan Bayu juga terlihat baru saja tiba di kantor saat menyuruhku untuk menemuinya tadi. Lantas bagaimana bisa ia tahu semuanya?