
“Ice americano here.”
Leo
tersenyum saat seseorang datang dengan nampan berisi ice americano pesanannya. Bentuk wajahnya yang nyaris sempurna itu
memancarkan seutas senyum hangat. Senyum yang akan membuat siapa saja akan
jatuh hati padanya. Termasuk lelaki yang kini sedang mengantarkan segelas
minuman kepadanya.
“Thanks dear. Hhh... I love it’s ice americano and
you, now and forever.”
“And I love you to dear.”
Leo
hanya tertawa bahagia hingga nyaris membuat giginya kering. Selepas kepergian
barista itu, ia segera meraih gelas minumannya dengan penuh semangat. Udara
yang begitu cerah, ditambah bunga-bunga yang bermekaran sempurna di halaman
kedai semakin menambah kesempurnaan hari bahagianya saat ini. Dan untuk
merayakan semua itu, tentu harus di sambut dengan segelas ice americano andalannya.
Leo
yang hanya duduk sendirian beberapa kali melirik ke meja barista untuk
memastikan sesuatu, namun tidak ia temukan juga apa yang sedang ia cari. Lelaki
yang mengantarkannya segelas minuman menghilang entah kemana. Padahal ia masih
ingin melihat wajahnya yang begitu seksi.
“Alan
Leo Ferlian, bukan?”
Leo
menoleh, penasaran dengan suara yang baru saja menyebut namanya. Perempuan
dengan kemeja putih polos, rok warna cream selutut, dan beberapa tumpukan
kertas yang berada di tangannya.
Perempuan itu tersenyum lebar, membuat Leo pun balas tersenyum padanya. Dalam
hati, Leo bertanya-tanya tentang siapakah sosok yang sedang berdiri di depannya
sekarang?
“Maaf,
saya-“
“Kenalin,
nama saya Dwi, Dwi Ayudira. Fans berat kamu,” ucapnya sembari mengulurkan
tangan, berharap akan dijabat oleh Leo.
“Oh, salam
kenal Dwi.” Leo menyambut uluran tangannya, sembari mempersilahkan untuk duduk.
“Sudah pesan minuman?”
“Tadinya
sih sudah, tapi setelah melihat kamu ada di sini saya jadi haus lagi.”
Leo
tersenyum lagi. “Anda berlebihan sekali.”
“Boleh minta tanda tangan?”
“Tentu saja boleh. Bagian mana
yang harus saya tanda tangani?”
Dwi
mengeluarkan kaos miliknya yang ada di dalam tasnya. Melihat plastik kaosnya
yang masih lengkap, Leo bisa menebak jika kaos itu pasti baru saja dibelinya.
Entah dibeli di gerai mana, yang jelas kaos itu adalah salah satu kaos brand miliknya.
“ALF Colection. Tidak diragukan lagi,
anda memang LeoLover’s.” ucapnya sambil melirik Dwi dengan lirikan yang begitu menggoda.
Leo
meraih kaos yang sudah dikeluarkan dari plastiknya. Setelah mendapatkan polpen
yang ada di dalam saku jasnya, ia segera membubuhkan tanda tangan di salah satu
sisi kaos itu. Sembari menulis kata-kata indah di bawah tanda tangannya.
Semoga harimu selalu bahagia Dwi, -Alan Leo
Ferlian.
Dwi yang memang sangat ngefans padanya sampai berkaca-kaca setelah
mendapat tanda tangan dari Leo. Sudah sejak lama ia menyukai lelaki itu. Bahkan
setiap kali Leo mengadakan konser ia selalu saja menyempatkan diri untuk
datang, hanya saja selalu gagal menemui Leo.Tetapi hari ini, entah mendapat
keajaiban dari mana, ia tiba-tiba saja bertemu dengannya bahkan dengan cara
yang tidak terduga sama sekali. Senang, tentu saja. Ia sangat senang dengan
pertemuannya hari ini.
“Saya
tidak menyangka kalau ternyata seorang Leo yang sangat populer dan hits, jauh
lebih ramah dari yang saya bayangkan sebelumnya.”
Leo
hanya ngenyir saja tanpa membalas pujian Dwi lagi. Dwi yang sudah
berbunga-bunga karena Leo, buru-buru mengeluarkan ponselnya. Mengambil pose
yang menarik, lalu berselfie ria bersama dengan Leo selama beberapa kali
bidikan. Hari yang benar-benar indah untuk pegawai kantoran dengan tugas
menumpuk di meja kerjanya. Setelahnya, ia pamit pergi. Meninggalkan Leo seorang
diri lagi, sebagaimana yang berlangsung tadi.
“Siapa?”
seseorang yang sejak tadi dicari oleh Leo kini muncul dengan wajah yang sedikit
kesal. Ia meletakkan waffle lalu ikut
duduk di kursi yang ada di depan Leo. Kursi tempat Dwi duduk sebelumnya.
“Teman.”
“Teman?
Sejak kapan kamu memiliki teman. Kok bisa aku sampai nggak tahu.”
Leo tertawa
tipis sembari memegang dagunya yang lancip. Matanya menatap lawan bicaranya
seolah ada hal yang begitu menarik di wajahnya. “Maksudku fans.”
“Inilah
makanya aku nggak pernah suka kalau kamu tetap memilih profesi menjadi artis.
Orang-orang akan sibuk mencintaimu. Padahal kamu kan hanya milikku seorang. POKOKNYA
HANYA MILIKKU.”
“Kamu
cemburu?”
“Kata
cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri.”
“Berarti
sekarang kamu sedang tidak percaya diri.”
“Bukan
seperti itu.”
“Lalu
seperti apa?”
“Hanya
“Hanya,
tapi wajahmu terlihat sangat marah.”
“Karena
aku tidak menyukainya.”
“Berarti
cemburu.”
“Ah
kamu terlalu banyak bicara. Sudah, makan wafflenya saja. Aku mau ke belakang
dulu. Masih banyak yang harus dikerjakan.”
“Yakin
akan meninggalkanku lagi sendirian di sini.”
“Aku
harus bekerja, Leo.”
“Kalau
ada fans yang datang lagi kamu nggak akan cemburu?”
“Terserah.
Pokoknya aku mau kerja, titik.”
Tidak
seharusnya ia membiarkanku sendirian seperti ini, dihari jadi kita yang ke
tujuh tahun, ucap Leo dalam hati.
Sejak
tadi kedai nampak sepi namun entah kenapa barista yang bernama Eriyajun itu terlihat
begitu sibuk. Sudah hampir satu jam Leo berada di kedainya namun ia hanya
datang sebentar untuk mengobrol lalu pergi lagi entah sedang mengerjakan hal
penting apa di pantry room. Leo hanya bisa mencoba untuk memahami tanpa
menghakimi. Ia hanya tidak ingin terlihat seperti seorang kekasih yang begitu
posesif. Baginya, Eriyajun adalah segalanya. Dan apapun yang akan membuat Eriyajun
bahagia pasti akan ia lakukan, termasuk untuk menunggunya hingga berjam-jam lamanya
di dalam kedai yang sepi itu.
Mengingat
tujuh tahun sudah ia melewati hari-harinya bersama lelaki yang lebih akrab ia
sapa Jun itu, membuat Leo tertawa getir dalam hati. Entah sejak kapan perasaan
itu muncul, ia sendiri pun kurang tau persis. Yang Leo tahu adalah bahwa saat
bersama dengan Jun ia merasa tenang, merasa damai dan nyaman. Baginya pelukan
Jun adalah selimut paling hangat yang pernah ia temui. Kecupan lembut Jun ibarat ice americano yang membuatnya sangat candu.
Sebut saja, Leo begitu tergila-gila dengan Jun. Hingga membuatnya lupa jika ia
telah mencintai seorang lelaki. Leo hanya menyakini satu hal bahwa cinta memang
buta adanya.
“Sudah
menyiapkan hadiah untukku?” Tiba-tiba saja suara serak milik Jun kembali hadir
di sekitarnya. Kini lelaki itu sudah kembali dengan baju kaos putih polos yang
dibalut dengan kemeja kotak-kotak di bagian luarnya. Melihat penampilan Jun
sekarang membuat Leo yakin jika lelaki itu sudah selesai bekerja untuk hari
ini.
“Harusnya
aku yang menanyakan hal itu. Menunggumu di sini ditengah jadwalku yang sangat
padat bukankah itu sudah termasuk sebuah hadiah?”
“Kau
memang selalu tak ingin rugi sedikit pun.”
“Setiap
waktuku adalah uang. Semenit di sini saja, uangku sudah lenyap berapa puluh
juta. Sekarang kamu masih berani berbicara soal untung rugi?”
“Ya
sudah, biar ku beri kecupan dan pelukan hangat sebagai imbalan. Impas bukan.”
Leo hanya
menaikkan kedua alisnya, puas dengan jawaban Jun barusan. Memang itulah yang ia
inginkan sejak tadi. Sudah seminggu tidak bertemu dengan kekasihnya, membuatnya
sangat rindu. Dan hari ini, ia akan puas untuk menghabiskan hari bersama dengan
Jun. Tentu saja setelah melewati drama panjang lebar dengan manajernya.
“Sebagai
hadiah tambahan, akan aku belikan bunga mawar merah saat perjalanan pulang
nanti. Biar perayaan tujuh tahun kita kali ini menjadi semakin romantis,” Jelas
Leo seraya merangkul Jun untuk segera bergegas keluar dari kedai kopi milik
kekasihnya itu.
“Bunga
bank sepertinya lebih menarik, Leo.”
“Really?”
“Yeah, I really dear.”
“Oke, fine. Bank interest coming soon for you dear.”
Mendengar jawaban dari Leo
barusan membuat Jun sontak mengecup pipi Leo dengan singkat dan cepat. Sebelum
ada yang melihat kemesraan yang sedang terjalin di antara mereka berdua.
“You’re crazy. This is a public place dear. Oh
shittt.”
Leo
yang baru saja dibuat terkejut oleh tingkah Jun yang sangat tiba-tiba, hanya
bisa memaki lewat mulut saja, sebab jauh di dalam lubuk hatinya yang paling
dalam ia memang sudah sejak lama menantikan kecupan itu. Dalam langkah dan
tawanya kali ini menuju mobil miliknya, ada kebahagiaan yang sedang mekar
dengan sempurna.
Kebahagian yang juga diiringi
dengan suara notifikasi yang berasal dari ponselnya. Dering yang
bersahut-sahutan persis bunyi detak jantungnya sekarang. Leo yang merasa gerah,
langsung memeriksa ponselnya yang sibuk itu.
Mom’s Audi Ferlian: Kapan kamu
pulang ke rumah?
Mom’s Audi Ferlian: Udah ketemu
Amira, belum?
Mom’s Audi Ferlian: Teman Mama
udah nungguin kamu dari seminggu yang lalu loh.
Mom’s Audi Ferlian: Jangan buat
Mama malu lagi kali ini.
Mom’s Audi Ferlian: Leo, kamu
baca pesan Mama kan?
“Oh, ****. Mama, ini neraka buat
Leo. Tidakkah kau mengerti itu?” Leo meletakkan kembali telepon genggamnya di
saku celana, rehat sebentar dan membiarkan mamanya diliputi rasa penasaran.