Love Language

Love Language
Alan Leo Ferlian



“Ice americano here.”


                Leo


tersenyum saat seseorang datang dengan nampan berisi ice americano pesanannya. Bentuk wajahnya yang nyaris sempurna itu


memancarkan seutas senyum hangat. Senyum yang akan membuat siapa saja akan


jatuh hati padanya. Termasuk lelaki yang kini sedang mengantarkan segelas


minuman kepadanya.


                “Thanks dear. Hhh... I love it’s ice americano and


you, now and forever.”


                “And I love you to dear.”


                Leo


hanya tertawa bahagia hingga nyaris membuat giginya kering. Selepas kepergian


barista itu, ia segera meraih gelas minumannya dengan penuh semangat. Udara


yang begitu cerah, ditambah bunga-bunga yang bermekaran sempurna di halaman


kedai semakin menambah kesempurnaan hari bahagianya saat ini. Dan untuk


merayakan semua itu, tentu harus di sambut dengan segelas ice americano andalannya.


                Leo


yang hanya duduk sendirian beberapa kali melirik ke meja barista untuk


memastikan sesuatu, namun tidak ia temukan juga apa yang sedang ia cari. Lelaki


yang mengantarkannya segelas minuman menghilang entah kemana. Padahal ia masih


ingin melihat wajahnya yang begitu seksi.


                “Alan


Leo Ferlian, bukan?”


                Leo


menoleh, penasaran dengan suara yang baru saja menyebut namanya. Perempuan


dengan kemeja putih polos, rok warna cream selutut, dan beberapa tumpukan


kertas yang berada  di tangannya.


Perempuan itu tersenyum lebar, membuat Leo pun balas tersenyum padanya. Dalam


hati, Leo bertanya-tanya tentang siapakah sosok yang sedang berdiri di depannya


sekarang?


                “Maaf,


saya-“


                “Kenalin,


nama saya Dwi, Dwi Ayudira. Fans berat kamu,” ucapnya sembari mengulurkan


tangan, berharap akan dijabat oleh Leo.


                “Oh, salam


kenal Dwi.” Leo menyambut uluran tangannya, sembari mempersilahkan untuk duduk.


“Sudah pesan minuman?”


                “Tadinya


sih sudah, tapi setelah melihat kamu ada di sini saya jadi haus lagi.”


                Leo


tersenyum lagi. “Anda berlebihan sekali.”


“Boleh minta tanda tangan?”


“Tentu saja boleh. Bagian mana


yang harus saya tanda tangani?”


                Dwi


mengeluarkan kaos miliknya yang ada di dalam tasnya. Melihat plastik kaosnya


yang masih lengkap, Leo bisa menebak jika kaos itu pasti baru saja dibelinya.


Entah dibeli di gerai mana, yang jelas kaos itu adalah salah satu kaos brand miliknya.


                “ALF Colection. Tidak diragukan lagi,


anda memang LeoLover’s.” ucapnya sambil melirik Dwi dengan lirikan yang begitu menggoda.


                Leo


meraih kaos yang sudah dikeluarkan dari plastiknya. Setelah mendapatkan polpen


yang ada di dalam saku jasnya, ia segera membubuhkan tanda tangan di salah satu


sisi kaos itu. Sembari menulis kata-kata indah di bawah tanda tangannya.


                Semoga harimu selalu bahagia Dwi, -Alan Leo


Ferlian.


                Dwi yang memang sangat ngefans padanya sampai berkaca-kaca setelah


mendapat tanda tangan dari Leo. Sudah sejak lama ia menyukai lelaki itu. Bahkan


setiap kali Leo mengadakan konser ia selalu saja menyempatkan diri untuk


datang, hanya saja selalu gagal menemui Leo.Tetapi hari ini, entah mendapat


keajaiban dari mana, ia tiba-tiba saja bertemu dengannya bahkan dengan cara


yang tidak terduga sama sekali. Senang, tentu saja. Ia sangat senang dengan


pertemuannya hari ini.


                “Saya


tidak menyangka kalau ternyata seorang Leo yang sangat populer dan hits, jauh


lebih ramah dari yang saya bayangkan sebelumnya.”


                Leo


hanya ngenyir saja tanpa membalas pujian Dwi lagi. Dwi yang sudah


berbunga-bunga karena Leo, buru-buru mengeluarkan ponselnya. Mengambil pose


yang menarik, lalu berselfie ria bersama dengan Leo selama beberapa kali


bidikan. Hari yang benar-benar indah untuk pegawai kantoran dengan tugas


menumpuk di meja kerjanya. Setelahnya, ia pamit pergi. Meninggalkan Leo seorang


diri lagi, sebagaimana yang berlangsung tadi.


                “Siapa?”


seseorang yang sejak tadi dicari oleh Leo kini muncul dengan wajah yang sedikit


kesal. Ia meletakkan waffle lalu ikut


duduk di kursi yang ada di depan Leo. Kursi tempat Dwi duduk sebelumnya.


                “Teman.”


                “Teman?


Sejak kapan kamu memiliki teman. Kok bisa aku sampai nggak tahu.”


                Leo tertawa


tipis sembari memegang dagunya yang lancip. Matanya menatap lawan bicaranya


seolah ada hal yang begitu menarik di wajahnya. “Maksudku fans.”


                “Inilah


makanya aku nggak pernah suka kalau kamu tetap memilih profesi menjadi artis.


Orang-orang akan sibuk mencintaimu. Padahal kamu kan hanya milikku seorang. POKOKNYA


HANYA MILIKKU.”


                “Kamu


cemburu?”


                “Kata


cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri.”


                “Berarti


sekarang kamu sedang tidak percaya diri.”


                “Bukan


seperti itu.”


                “Lalu


seperti apa?”


                “Hanya


                “Hanya,


tapi wajahmu terlihat sangat marah.”


                “Karena


aku tidak menyukainya.”


                “Berarti


cemburu.”


                “Ah


kamu terlalu banyak bicara. Sudah, makan wafflenya saja. Aku mau ke belakang


dulu. Masih banyak yang harus dikerjakan.”


                “Yakin


akan meninggalkanku lagi sendirian di sini.”


                “Aku


harus bekerja, Leo.”


                “Kalau


ada fans yang datang lagi kamu nggak akan cemburu?”


                “Terserah.


Pokoknya aku mau kerja, titik.”


                Tidak


seharusnya ia membiarkanku sendirian seperti ini, dihari jadi kita yang ke


tujuh tahun, ucap Leo dalam hati.


                Sejak


tadi kedai nampak sepi namun entah kenapa barista yang bernama Eriyajun itu terlihat


begitu sibuk. Sudah hampir satu jam Leo berada di kedainya namun ia hanya


datang sebentar untuk mengobrol lalu pergi lagi entah sedang mengerjakan hal


penting apa di pantry room. Leo hanya bisa mencoba untuk memahami tanpa


menghakimi. Ia hanya tidak ingin terlihat seperti seorang kekasih yang begitu


posesif. Baginya, Eriyajun adalah segalanya. Dan apapun yang akan membuat Eriyajun


bahagia pasti akan ia lakukan, termasuk untuk menunggunya hingga berjam-jam lamanya


di dalam kedai yang sepi itu.


                Mengingat


tujuh tahun sudah ia melewati hari-harinya bersama lelaki yang lebih akrab ia


sapa Jun itu, membuat Leo tertawa getir dalam hati. Entah sejak kapan perasaan


itu muncul, ia sendiri pun kurang tau persis. Yang Leo tahu adalah bahwa saat


bersama dengan Jun ia merasa tenang, merasa damai dan nyaman. Baginya pelukan


Jun adalah selimut paling hangat yang pernah ia temui. Kecupan lembut Jun ibarat ice americano yang membuatnya sangat candu.


Sebut saja, Leo begitu tergila-gila dengan Jun. Hingga membuatnya lupa jika ia


telah mencintai seorang lelaki. Leo hanya menyakini satu hal bahwa cinta memang


buta adanya.


                “Sudah


menyiapkan hadiah untukku?” Tiba-tiba saja suara serak milik Jun kembali hadir


di sekitarnya. Kini lelaki itu sudah kembali dengan baju kaos putih polos yang


dibalut dengan kemeja kotak-kotak di bagian luarnya. Melihat penampilan Jun


sekarang membuat Leo yakin jika lelaki itu sudah selesai bekerja untuk hari


ini.


                “Harusnya


aku yang menanyakan hal itu. Menunggumu di sini ditengah jadwalku yang sangat


padat bukankah itu sudah termasuk sebuah hadiah?”


                “Kau


memang selalu tak ingin rugi sedikit pun.”


                “Setiap


waktuku adalah uang. Semenit di sini saja, uangku sudah lenyap berapa puluh


juta. Sekarang kamu masih berani berbicara soal untung rugi?”


                “Ya


sudah, biar ku beri kecupan dan pelukan hangat sebagai imbalan. Impas bukan.”


                Leo hanya


menaikkan kedua alisnya, puas dengan jawaban Jun barusan. Memang itulah yang ia


inginkan sejak tadi. Sudah seminggu tidak bertemu dengan kekasihnya, membuatnya


sangat rindu. Dan hari ini, ia akan puas untuk menghabiskan hari bersama dengan


Jun. Tentu saja setelah melewati drama panjang lebar dengan manajernya.


                “Sebagai


hadiah tambahan, akan aku belikan bunga mawar merah saat perjalanan pulang


nanti. Biar perayaan tujuh tahun kita kali ini menjadi semakin romantis,” Jelas


Leo seraya merangkul Jun untuk segera bergegas keluar dari kedai kopi milik


kekasihnya itu.


                “Bunga


bank sepertinya lebih menarik, Leo.”


                “Really?”


                “Yeah, I really dear.”


                “Oke, fine. Bank interest coming soon for you dear.”


                Mendengar jawaban dari Leo


barusan membuat Jun sontak mengecup pipi Leo dengan singkat dan cepat. Sebelum


ada yang melihat kemesraan yang sedang terjalin di antara mereka berdua.


                “You’re crazy. This is a public place dear. Oh


shittt.”


                Leo


yang baru saja dibuat terkejut oleh tingkah Jun yang sangat tiba-tiba, hanya


bisa memaki lewat mulut saja, sebab jauh di dalam lubuk hatinya yang paling


dalam ia memang sudah sejak lama menantikan kecupan itu. Dalam langkah dan


tawanya kali ini menuju mobil miliknya, ada kebahagiaan yang sedang mekar


dengan sempurna.


Kebahagian yang juga diiringi


dengan suara notifikasi yang berasal dari ponselnya. Dering yang


bersahut-sahutan persis bunyi detak jantungnya sekarang. Leo yang merasa gerah,


langsung memeriksa ponselnya yang sibuk itu.


Mom’s Audi Ferlian: Kapan kamu


pulang ke rumah?


Mom’s Audi Ferlian: Udah ketemu


Amira, belum?


Mom’s Audi Ferlian: Teman Mama


udah nungguin kamu dari seminggu yang lalu loh.


Mom’s Audi Ferlian: Jangan buat


Mama malu lagi kali ini.


Mom’s Audi Ferlian: Leo, kamu


baca pesan Mama kan?


“Oh, ****. Mama, ini neraka buat


Leo. Tidakkah kau mengerti itu?” Leo meletakkan kembali telepon genggamnya di


saku celana, rehat sebentar dan membiarkan mamanya diliputi rasa penasaran.