Life Again

Life Again
Chepter 9



Sorry for typo


.


.


.


.


.


"Mama bangun...hiks ada merah-merah di kaki mama. Maaa adek takut" Seorang anak kecil terus menangis sambil melihat sang ibu yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kaki sang ibu.


"Maaa...ayo keluar. Papa udah keluar dulu, ayo maaa" Anak kecil itu terus menarik sang ibu untuk keluar tetapi apalah daya jika dia hanya lah seorang anak kecil. Mustahil dia bisa menggendong sang ibu walaupun hanya keliar dari mobil yang kini sudah di penuhi asap itu.


"Paapaaa....paaa papa mana, bantu adekk hiks...di mama ada cairan merah-merah" Anak itu tentu saja belum tahu darah karena terlihat saja bagaimana polos nya dirinya.


"Paaa bantu adekk"


"Maaa ayo keluar"


Sang anak pun terpaksa masuk kembali ke dalam mobil dan mendorong tubuh sang mama dari dalam mobil. Tidak sia-sia usaha gadis itu, setelah sekian lama mencoba akhirnya dia berhasil mengeluarkan sang ibu dari mobil. Lalu...


Duarrr!!


*****


"Mamaaaa" Raisa terbangun dari mimpi nya dengan keringan yang membanjiri wajah nya, tak hanya itu. Bahkan raut wajah nya terlihat ia tengah sangat ketakutan.


"Mama" Panggil Raisa sekali lagi namun tak ada yang datang.


Raisa menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal dan bersembunyi di selimut itu. Bibir nya terus mengucapkan kata mama yang tak kunjung datang.


Hingga terdengar pintu terbuka. Badan Raisa langsung bergetar hebat, hingga kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke kasur nya.


"Mamaaaaa" Teriak Raisa. Hingga tiba-tiba selimut dibuka paksa oleh seseorang.


"Ini mama sayangg" Orang itu ternyata adalah ibu nya sendiri. Sang ibu langsung memeluk Raisa dengan sangat erat, dia juga mengelus punggung Raisa dang berusaha menenangkan sang anak.


"Mama jangan tinggalin Raisa"


"Iya mama disini sayang, sudah lanjutin tidurnya yah" Ucap sang Ibu dengan penuh kasih sayang pada Raisa.


Sang ibu terus aja memandangi wajah Raisa yang tengah terlelap dengan sangat Damai nya. Tiba-tiba muncul rasa bersalah yang amat besar pada dirinya, penyesalan yang tidak mungkin bisa terbalaskan.


Waktu, tidak ada yang bisa memutar waktu kembali. Walaupun orang dengan berlimpah harta sekalipun tidak akan bisa memutar waktu yang sudah terlewatkan. Itu juga yang sang ibu rasakan.


Waktu yang telah ia habiskan untuk bekerja dan mencari uang hanya untuk kepuasan semata, sedangkan ia sama sekali tak melihat ke belakang dimana sang anak tengah berjuang melepaskan semua jeruji yang terus mengikat Raisa.


Berjuta maaf pun ia yakin tidak akan mampu untuk membalaskan kesalahan nya pada Raisa. Melihat anak yang ia anggap dulu sangat kuat kini telah terbaring lemah akibat kambuh nya membuat hati nya tak lagi bisa menahan sakit.


"Mama janji akan selalu bersama mu sayang" Ibu Raisa mengecup sayang kening Raisa lalu berbaring di sebelah Raisa sambil memeluk sang anak.


*****


Rumah yang awalnya sunyi, kini kembali riuh dengan suara teriakan dan kemarahan. Dua orang yang tidak ada henti nya membuat suara teriakan itu, membuat sang anak yang tengah tidur di kanar merasa terganggu dan tak tenang.


Pyarr!


"Berani sakali kau membawa madu mu itu kemari"


"Dia juga telah menjadi istriku"


"Kita bahkan belum bercerai!"


"Aku tak peduli, cepat bereskan barang-barangmu yang ada di kamar utama dan pindahlah di kamar tamu!"


Galaxsi berusaha untuk menulikan telinga nya dari semua keributan di luar kamar nya, hingga tanpa sadar air matanya menetes di pipi nya.


"Ma Pa kumohon hentikan" Lirih Galaxsi.


*****


Raisa berjalan perlahan menuju meja makan di bantu oleh sang ibu, terlihat langkah nya terputus-putus. Hingga akhirnya ia duduk di salah satu kursi meja makan dan kebetulan juga dia berhadapan dengan Laras yang tengah mengelus perut nya dengan amat sayang nya.


Ibu Raisa pun pergi untuk membantu sang nenek menyajikan makanan. Sedangkan rasa bersalah masih berada dalam diri Raisa hingga akhirnya dia pun berani membuka suara.


"Kak untuk kejadian tadi pagi, gw minta maaf ya. Gw bener-bener gk sengaja" Ucap Raisa dengan nada ketakutan nya.


"Lu bilang nggak sengaja, lihat pakek mata kalau jalan. Beruntung kak Laras nggak kenapa-napa" Sewot Sonia.


"Karena lu gw hampir kehilangan bayi gw tau nggak?!" Laras pun juga ikut membentak Raisa. Sedangkan Raisa hanya menunduk diam sambil menahan air mata yang akan keluar.


Tentu saja tanpa mereka sadari semua pembicaraan mereka sudah terlihat oleh sang ayah Raisa. Sang ayah tampak diam sambil memandang Raisa.


Tak lama para ibu rumah tangga pun menyajikan makanan di meja makan, terlihat wajah Laras yang tak mengenak kan membuat sang ibu nya sendiri bertanya.


"Kenapa wajahmu seperti itu sayang?" Ucap sang ibu yang yak lain adalah tante nya Raisa.


"Mood makan ku tiba-tiba hilang melihat orang yang hampir saja membunuh bayi ku ini satu meja dengan ku" Ucap Laras penuh emosi.


Ibu nya Laras pun akhirnya meminta ibu nya Raisa untuk menyuruh Raisa agar makan di kamar saja tetapi itu ditolak oleh ibu Raisa. Karena bagaimana pun Raisa tidak salah disini.


"Ma aku gk mood makan, aku pergi aja" Laras hampir saja berdiri dari kursi tetapi langsung di hentikan oleh sang ibu.


"Kak, tolong suruh Raisa untuk makan di tempat lain. Kakak tau kan Laras sedang hamil jadi dia juga harus butuh makan untuk bayi nya" Ucap sang tante.


"Raisa juga sedang sakit dia juga butuh makan" Bela ibu Raisa.


"Tetapi kan dia bisa makan di tempat lain"


"Tidak...."


"Sudah cukup, aku akan makan di kamar ku saja. Kak Laras bisa lanjut makan bersama saja disini. Aku permisi" Raisa pergi membawa sepiring nasi goreng dan sehelas air putih lalu pergi ke kamarnya.


"Ahh...maaf aku harus mengerjakan tugas kantorku dulu. Aku harus melewatkan makan malam ini" Ayah Raisa pun menyusul pergi ke kamar nya untuk merampungkan tugas kantor.


"Aku harus menemui putriku" Ibu Raisa pun juga ikut menyusul.


Sedangkan kini semua orang yang ada di meja makan mulai melahap makanan nya masing-masing, dan tampak tak peduli oleh keluarga kecil yang meninggalkan meja makan tadi.


Bahkan Laras tampak sangat nafsu makan, mungkin bawaan bayi nya. Tapi bukan kah dia tadi bilang tak mood untuk makan, tapi......ah yasudah lah sulit untuk menjelaskan nya.


Tbc...