
Sorry for typo
.
.
.
.
.
Raisa langsung melotot mendengar apa yang baru saja di ucapkan Galaxsi. Menjemputnya dengan "mobil" kendaraan yang membuat trauma besar di Raisa hingga sekarang.
"Nggak usah...gk udah jemput gw. Gw bisa naik ojek kok kerumah lu" Ucap Raisa dengan gugup.
"Emang lu tau rumah gw?"
"Gk tau juga sih, tapi kan gw bisa tanya lu" Jawab Raisa dengan polos nya.
"Ah bener juga yaudah minta nomer lu aja ntar gw kirim alamat gw" Galaxsi mengulurkan ponsel yang ada di tangan nya ke depan Raisa.
Raisa tidak begitu saja menerimanya, dia masih sempat-sempat nya tersenyum sambil memandangi ponsel Galaxsi yang di ulurkan ke dia. Galaxsi yang melihat nya sedikit bingung lalu dia segera membuyarkan lamunan Raisa dengan mengetuk kan ponsel nya di tangan Raisa.
"Oh iya mana" Raisa pun mengambil ponsel Galaxsi dan mengetik nomer ponsel nya disitu. Setelah mereasa puas dia pun memberikan kembali ponsel itu pada pemilik nya.
"Ntar gw terfon, gw balik ke kursi gw dulu ya dah" Galaxsi lalu pergi di kursi nya sendiri. Sedangkan Raisa tetap memandangi Galaxsi dari kursinya, seraya menghayal sedikit.
Saat ia sudah dekat, lalu pdkt dan bercaparan lalu ia menikah dengan Galaxsi dan memilik anak yang sangat menghemaskan.... Ah tidak. Raisa sadarlah itu hanya mimpi belaka, ia bahkan terlalu berhayal selalu tinggi.
*****
Setelah bel istirahat berbunyi. Disini lah Raisa berada, di lapangan bola basket yang baru tadi pagi di pakai anak IPS-1. Raisa tidak melakukan apapun di sana. Dia hanya duduk-duduk sambil meminum susu yang diberikan oleh Galaxsi tadi pagi.
Saat Raisa tengah melamun sambil memandangi ring bola basket, tiba tiba ada bola masuk kedalam ring tersebut yang membuat Raisa kaget. Dan ternyata di lapangan sana ada seorang laki-laki dengan baju olahraga tengah mengiring bola basket.
Tapi bukan itu saja yang membuat Raisa kaget, ternyata lelaki yang bermain bola basket itu adalah lelaki yang duduk bersama nya di kantin beberapa hari yang lalu.
Raisa terus saja memperhatikan lelaki itu bermain basket. Melihat rambut nya yang basah akibat keringat yang terus saja menari mengikuti gerak dari pemuda itu. Ah lagi-lagi Raisa terus berhayal.
"Sadarlah bodoh, lama-lama gw jadi penulis cerita jika begini" Raisa langsung memukul kepalanya pelan dengan tangan nya.
Hingga ia berhenti saat sebuah bola basket tengah berada di depan nya. Dia pun mengambil bola basket itu dengan hati-hati, lalu memandang lelaki yang tangah ada di tengah lapangan. Dengan sekiat tenaga pun dia melempar bola itu ke lapangan. Walau bisa dilihat itu seperti bukan sebuah lemparan.
Terlihat lelaki itu tersenyum sinis pada Raisa dan menggerak kan jari nya ke Raisa seperti berkata "kemarilah". Raisa yang merasa dipanggil langsung berlari ke arah lapangan.
"Ada apa?" Tanya Raisa dengan malas nya.
"Kenapa? Gw gk panggil lu kok" Ucap lelaki itu.
Raisa melirik nametag yang ada di seragam lelaki itu. Disitu tertulis 'Devan Dwi Aditya'.
"Terus ngapain tadi tangan lu gini² kayak panggil gw" Raisa pun menirukan tangan Devan yang seperti emanggil dirinya tadi.
Raisa melihat ke sekeliling dan tidak ada siapapun di lapangan basket kecuali Devan dan dia?, apa jadi Devan menganggapnya kucing. Raisa langsung melotot ke Devan.
"Jadi lu bilang gw kucing gitu?" Galak Raisa walau memang masih terlihat menggemaskan.
"Gw gk bilang, tapi jika lu ngerasa yaudah" Devan memasuk kan bola basket ke ring basket dengan lihay nya.
"Hei dengan, Devan Dwi Adtya kalau gw--"
"Dari mana lu tau nama gw?" Potong Devan dengan nada dingin nya membuat Raisa langsung ciut. Raisa menunjuk Seragam Devan yang ada nametag nya.
"Kan ada namanya" Ucap Raisa dengan takut.
"Owh, kirain lu buntutin gw berhari-hari" Devan melanjutkan bermain basket sedangkan Raisa masih saja kesal.
"Emang gw gk ada kerjaan lain apa! Mau buntutin berhari-hari. Mungkin kalau gw ngelakuin itu pas gw udah gila" Balas Raisa dengan kesalnya dan kemudian pergi meninggalkan Devan di lapangan.
Devan yang memperhatikan Raisa yang kesal itu pun sedikit menarik ujung bibir nya. Raisa sangat lah imut saat lucu, dan bahkan ia bisa membuat Devan yang dikenal cuek dan dingin ini pun tersenyum untuk pertama kali.
Hingga seseorang datang sambil menepuk pundah Devan dan Devan yang merasa ada tepun di pundak nya langsung berbalik melihat siapa. Dan ternyata itu adalah Sahabat nya, Galaxsi.
"Ngapain lu senyum-senyum kek orang gila? Kesambet yah lu" Ucap Galaxsi sambil memberikan sebotol air mineral pada Devan.
"Mana ada" Devan membuka penutup air mineral itu dan langsung meminum nya.
"Oh ya... Katanya orang itu lu kemarin nyariin gw ke rumah ada apa?" Tanya Galaxsi sambil merebut bola yang ada di tangan Devan.
"Dia itu ibu lu tau" Koreksi Devan.
"Pokoonya dia lah, ada apa? Kenapa lu cariin gw, tumben"
"Gk jadi gw udah tau dan baru saja orang yang gw mau tanyain ke lu udah pergi dan gw juga udah tau tanpa tanya lu" Balas Devan yang cerewet panjang lebar dengan Galaxsi berbeda saat dengan orang lain.
"Ciee yang jatuh cinta" Goda Galaxsi.
"Apaan sih? Mana ada yang jatuh cinta" Elak Devan lalu merebut bola yang ada di tangan Galaxsi dan menggiring nya lalu memasukan nya kedalam ring.
"Kalau orang itu penasaran sama seseorang berarti dia itu sedang jatuh cinta, masa gitu aja gk tau" Ucap Galaxsi disertai kekehan kecil dari nya.
"Tau dari mana lu?"
"Gw lagi ngerasaain kok malah tanya gw tau dari mana" Balas Galaxsi sambil duduk di lapangan basket.
"Jadi lu udah main cinta-cintaan, gw aduhin bokap lu ya" Ancam Devan sambil mempar bola ke Galaxsi yang mana membuat air mineral milik Galaxsi langsung tumpah dan mengenai seragam nya.
"Anj**g lu" Galaxsi langsung berlari ke Devan sambil membawa bola basket, Devan yang merasa terancam langsung berlari untuk menghindar. Sedangkan Galaxsi tak patah semangat untuk mengejar sahabat nya yang kerlaluan nya ini.
"Sini woy" Teriak Galaxsi menggema di koridor.
Hingga Raisa yang sedang berjalan santai sendiri sampai mendengarnya, dan bahkan melihat dua manusia itu tengah kejar-kejaran melewatinya sambil membawa basket di tangan salah satu dari mereka sesekali tertawa.
Tbc...