Life Again

Life Again
Chepter 16



Sorry for typo


.


.


.


.


.


Raisa menghempaskan tubuh nya di sofa empuk yang ada di ruang keluarga. Beruntung sang nenek sedang pergi bersama sang tante nya, membuat Raisa sedikit senang karena ia tak akan kena marah lagi jika tidak tidur siang hari ini.


Namun dia harus mencuci pakaian begitu banyak, yang malah membuat nya lelah disaat dia harus senang. Karena lelah itu Raisa ingin tidur tapi dia tak bisa tidur jika tidak meminum obat tidur milik nya. Namun Raisa sangat malas untuk berjalan ke kamarnya.


Ia pun tak hilang akal, ia terus mengingat-ingat karena selain di kamar nya pasti di sini juga ada obat. Tau sendiri kan tante Raisa seorang dokter dan nenek nya juga biasa minum obat, jadi pasti di dekat sini ada tempat menyimpan obat-obatan.


Raisa pun berusaha berdiri dan membuka satu persatu laci yang ada di sana. Laci pertama ia buka tidak ada apa-apa, lalu beralih ke laci bawahnya namun tetap tidak menemukan nya. Raisa pun beralih pada lemari laci satu nya dan baru juga membuka nya ia bertemu dengan banyak nya obat yang ada di wadah dalam di laci itu.


Mata Raisa memancarkan bahagia, lalu ia mengambil wadah itu dan mencari obat tidur yang sama seperti miliknya. Setelah ia cari lumayan lama, akhirnya dia menemukan nya. Raisa mengambil satu butir obat itu lalu mengembalikan lagi kumpulan obat itu di laci.


Raisa mengambil botol minum nya, lalu meminum obat itu. Tetapi sebelum itu, dari belakang sebuah tangan segera mengambil satu butir pil itu dari tangan Raisa. Dengan kaget, Raisa pun melihat ke belakang. Sungguh terkejut saat melihat Laras tengah berdiri sambil menatap nya dengan tatapan api dan ada sebutir obat yang baru dia ambil dari tangan Raisa itu kini tengah di pegangnya.


"Kak Laras" Ucap Raisa kaget, lalu menutup kembali botol minumnya tadi dan meletak kan nya di tempat semula.


"Nggak capek lu minum obat tidur terus, kalau mau bisa tidur tutup mata bukan nya minum obat tidur. Dan lagi lu belum makan kan?!" Ucap Laras dengan sedikit nada tinggi. Membuat Raisa ciut, tapi ia teringat kejadian hari minggu. Membuatnya semakin merasa bersalah lagi.


"Ck, menyusahkan" Laras pun meninggalkan Raisa ke dapur, lalu membuang obat yang ada di tangannya ke tempat sampah dan beralih mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya tak lupa juga gelas berisi air putih. Kembali berjalan ke arah Raisa sambil membawa piring itu.


"Makanlah jangan nyusahin gw, disini cuma ada kita berdua. Awas lu aneh-aneh" Laras meletak kan piring dan gelas berisi air putih itu dengan kasar di meja depan Raisa lalu meninggalkannya. Sebenarnya tidak meninggalkan nya juga, karena Laras masih mengawasi Raisa dari dekat anak tangga.


Raisa menatap makanan di depannya dengan wajah tak minat. Kata-kata Laras terus berputar di kepalanya. Benar juga, dia tak boleh menyusahkan Laras yang tengah hamil besar itu. Raisa menyesali perbuatan nya, lalu mengambil piring itu dan memakan nasi dan lauk yang disajikan di piring itu.


Laras yang melihat dari kejauhan tampak memasang senyum bahagia, setidaknya Raisa tak akan merasa kelaparan selagi nenek nya tidak ada di rumah untuk memasak.


"Jangan sakit lagi yah Raisa" Lirih Laras.


*****


Keesokan harinya. Raisa rasa ada yang kurang saat masuk kedalam kelasnya, iya sepertinya ada salah satu kursi kosong di kelasnya. Raisa tau itu adalah kursi miIik Galaxsi, dugaan Raisa pasti Galaxsi yang pasti membolos sekolah.


Raisa duduk di kursinya dengan santai sambil sedikit mengobrol dengan Arsya dan teman-teman nya yang lain. Mungkin Raisa sudah melupakan masalah kemarin.


"Tumben Galaxsi nggak masuk Sya, apa dia bolos lagi?" Tanya Yuni pada Arsya.


Raisa yang mendengar itu langsung membolakan matanya. Sakit, tidak mungkin. Bahkan kemarin Galaxsi masih terlihat baik-baik saja.


"Emang dia sakit apa?" Tanya Raisa pada Arsya.


"Tau tuh, jarang-jarang tuh anak sakit" Ucap Keyra.


"Gw juga nggak tau, dia cuma chat gw katanya dia sakit dan gw suruh bilang itu pada pak guru" Arsya memperhatikan dirinya di cermin yang sedang ia pegang.


Ntah kenapa perasaan Raisa tiba-tiba tak enak. Tapi Raisa sebisa mungkin untuk berfikir positif, siapa tau saja Galaxsi memang sedang sakit oleh karena itu tidak masuk sekolah. Lagi pula dia bisa menanyakan pada Devan perihal Galaxsi sedang sakit apa, pasti Devan tau.


*****


Setelah dua jam bergelud dengan pelajaran. Akhirnya bel sekolah pun berbunyi, semua murid segera meninggalkan kelas masing masing begitupun juga Raisa. Dia ingin jajan di kantin.


Namun saat baru berdiri dari kursinya tiba-tiba dia mendengar suara yang tak asing di pendengarannya. Raisa pun berbalik melihat ke arah pintu kelasnya, terkejutnya dia melihat sosok Devan yang sudah berdiri di depan pintu itu sambil berbicara dengan Arsya di depan nya.


"Tumben ke kelas gw, ngapain? Mau ngajak gw ke kantin ya" Tanya Arsya dengan nada genitnya pada Devan.


"Pede banget lu" Balas Devan dengan sedikit kekehan.


"Terus lu ngapain ke kelas ini, lagian Galaxsi juga gk masuk kan" Saut Adja sambil mengangkat alisnya.


"Eh Galaxsi gk masuk?"


"Heum, masa lu nggak tau sih. Lu padahal sahabatnya kan!" Protes Keyra.


"Ngapain dia nggak masuk?" Tanya Devan.


"Dia bilang ke gw kalau dia sedang nggak enak badan dan tak bisa masuk sekolah. Dia bahkan mengirimkan fotonya yang sedang tiduran di kasur" Ucap Arsya dengan menyentuh lengan Devan.


Devan yang risih lalu menghempaskan tangan tangan Arsya dari lengannya, sontak membuat Arsya cemberut.


"Jadi lu kesini buat ketemu ama Galaxsi?"


"Nggak juga, minggir jangan ngalain jalan gw" Devan langsung main masuk saja ke kelas dan menghampiri Raisa yang masih berada di meja nya.


Tanpa mengucapkan apapun Devan langsung menarik tangan Raisa keluar dari kelas itu. Yang membuat Arsya dan teman-teman nya terkejut, dan dengan santai nya Devan mengucapkan kata ini pada Arsya.


"Gw mau ngajak pacar gw main basket" Lalu Devan menarik Raisa pergi dari hadapan gadis-gadis itu. Raisa hanya bengong otaknya masih loading, jadi dia hanya menurut saja kemana Devan akan membawanya.


Sedangkan Arsya sudah memasang wajah tak bertoleransi "Owh jadi, Ngajak musuhan sekarang lu Sa? Siapa takut" semiriknya.


Tbc...