
Sorry for typo
.
.
.
.
.
Raisa menduduk kan dirinya di salah satu kursi kantin, dia juga meletak kan semangkok bakso yang sudah ia pesan tadi di kantin. Raisa hanya duduk sendiri seperti biasanya, namun sekarang tidak di pojok, karena disana sudah ada yang menempati.
Raisa menikmati bakso nya dengan nikmat, tetapi itu awalnya. Sebelum tiba-tiba Devan datang dan menggangu acara makan bakso nya. Dia duduk di depan dirinya pas, dan seperti tak peduli akan keberadaan Raisa disana.
Raisa bingung, kenapa Devan duduk dengan nya. Lalu ia melihat ke sekitar kantin, ternyata masih ada bangku kosong. Lalu kenapa Devan duduk dengan nya?. Raisa meletak kan sendok dan garpu nya ke mangkok.
"Hei! Ngapain lu duduk sini, pindah sana ke meja lain. Ganggu gw tau" Ucap Raisa dengan kesal nya, sambil menatap nyalang Devan.
"Punya hak apa lu sama meja ini?" Tanya Devan.
"Apa butuh hak untuk mengusir orang yang tak tau sopan santun, main duduk aja di meja orang"
"Lagian kursi nya kosong"
"Ah serah lu dah gw pindah aja" Raisa berniat mau pindah meja, bahkan dia sudah membawa mangkuk di tangan nya tapi sebelum.
"Lu yakin masih gk penasaran tentang dua ibu Galaxsi"
Disitu Raisa langsung diam. Benar juga, dia kan bisa mencari tau dari Devan. Apalagi karena kemarin Devan gagal cerita gara-gara Galaxsi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Raisa pun memghembuskan nafas nya. Lalu kembali duduk di tempat nya tadi.
"Pokoknya lu harus ceritain secara rinci!" Tegas Raisa lalu meletak kam mangkok bakso nya kembali ke meja.
"Tapi ada syarat nya?" Raisa mengangkat alis nya bingung.
"Apaan?"
"Lu harus mau iku gw besok ke mall" Raisa langsung membola kan matanya. Apa? Mall? Tak salah dengar dia.
"Untuk apa?" Tanya Raisa.
"Nggak ada, cuma buat nemenin gw aja"
"Nggak ah, males banget gw" Raisa hendak pergi lagi, namun ucapan Devan kembali terdengar.
"Jadi gk mau tau tentang ibu nya Galaxsi?" Tanya Devan sambil mengangkat alis nya dan tersenyum licik.
Raisa sempat berfikir sebentar. Ia sebenarnya juga penasaran, tapi ia tak mau ikut ke mall dengan Devan emamg dia siapa main ngajak-ngajak anak orang ke mall. Baru kenal juga kemarin, kan Raisa jadi takut.
"Gk makasih! Gw bisa cari tau sendiri bye!" Tegas Raisa dan langsung pergi membawa semangkok bakso nya yang tinggal setengah porsi.
Sedangkan Devan hanya tersenyum saja dan sedikit tertawa "Dasar kucing" Guman nya lalu melanjutkan makan nya.
Raisa pun melanjutkan acara makan nya. Devan pun masih sempat-sempat nya melirik Raisa, tetapi Raisa tetap cuek dan mencoba bodo amat walau sebenarnya ia juga malu jika terus di pandangi seperti itu.
****
Raisa menduduk kan dirinya di sofa ruang tamu, terknya panas matahari telah membakar tubuh nya yang membuat wajah nya memerah karena kepanasan. Raisa bahkan belum sempat berganti baju, karena saat setelah melepas sepatu dia langsung duduk di sofa yang terkena ac karena ia tak kuat lagi dengan panas nya.
Kegiatan mendinginkan badan Raisa pun terganggu. Karena tiba-tiba Sonia datang dengan baju basah menghampiri Raisa yang tengah bersantai lalu menyiramkan sedikit air ke wajah Raisa.
Sontak itu langsung membuat Raisa terkejut dan berdiri.
"Apaan sih kak, kaget tau gw!" Ucap Raisa sambil mengelap wajahnya dengan tisu yang ada di meja.
"Pulang sekolah bukan nya ganti baju malah santai-santai, cepat sana ganti baju terus gantiin gw nyuci pakaian" Suruh Sonia.
"Kan ada mesin cuci, kenapa gk di mesin cuci aja?" Tanya Raisa kesal.
"Mesin cuci nya sedang rusak jadi lu harus nyuci baju pakek tangan ngerti" Sonia langsung pergi saja.
Sedangkan Raisa hanya menggela nafas lelah lalu naik ke kamar nya untuk berganti baju dan meletak kan tas nya. Baru kembali ke bawah untuk mecuci baju 4 orang yang ada di rumah ini kecuali Raisa karena dia baju nya sudah di laundry karna ibu nya yang menyuruh Raisa untuk melaundry baju nya agar tak memberatkan orang rumah jika mencuci pakaian.
Tapis sekarang, malahan Raisa lah yang mencuci baju milik mereka semua. Apa daya, Raisa hanya pasrah dan menurut saja. Selama 1 setengah jam itu Raisa habiskan untuk memcuci pakaian dengan menggunakan tangan. Ia pun juga harus menjemur pakaian sebegitu banyak nya. Tidak seperti hari minggu biasanya, kali ini seperti 2 kali lipat cucian numpuk dan sebalik nya dengan minggu biasanya.
*****
Devan memarkirkan mobil nya di halaman rumah mewahnya, maksudnya rumah milik orang tua nya. Saat akan masuk rumah tanpa sengaja ia melihat sebuah mobil yang tak asing bagi nya.
Devan terus meneliti mobil itu, namun sepertinya otak nya sedang tak mau bekerja sama dengan nya sekarang. Devan pun masuk kedalam rumah dan melupakan mobil di depan rumah nya tersebut.
Saat ia masuk, keadaan rumah sangat sepi, pasti ibu nya sedang pergi bersama geng sosialita nya. Tapi samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol, ia lupa bahwa ayahnya masih di rumah sendiri. Devan yang kepo langsung mencari sumber suara tersebut, dan ternyata sumber suara tersebut dari taman belakang rumah.
Ternyata suara itu berasal dari ayanya Devan yang tengah berbicara dengan seorang lelaki memakai stelan kerja. Dalam sekejam Devan ingat dengan lelaki itu, dia adalah ayah nya Arsya. Tapi Devan tidak berpikir lama, untuk apa ayahnya Arsya kemari?
Karena Devan tau. Mungkin saja ada sesuatu yang harus di bicarakan oleh ayahnya Arsya dengan ayahnya Devan dan pasti itu soal bisnis. Devan yang sudah muak dengan yang namanya bisnis tidak mau ikut campur dan memilih pergi saja dari sana.
"Saya pasti menerima"
Sekilas itu yang di dengar oleh Devan sebelum pergi. Namun ada sesuatu yang tanpa disadari oleh Devan tengah dibicaraakan oleh mereka, bukan sembarang bisnis. Namun lebih.
"Apa syarat yang anda mau?"
"Tapi mungkin syaratnya akan sangat berat, saya tidak bisa memastikan jika anda dapat melakukan nya"
"Saya pasti akan melakukan syarat itu, jika anda berinvestasi begitu besar di perusahaan saya. Karena saya sangat membutuhkan investor dengan cepat sebelum perusahaan saya bangkrut!"
"Hanya satu syarat yang sayang inginkan"
"Apa?"
Tbc...