Life Again

Life Again
Chepter 5



Sorry for typo


.


.


.


.


.


Raisa memasuki pekarangan rumah nya yang sepi oh tidak maksudnya rumah nenek nya. Ia pun membuang permen karet yang ada di saku hoodie nya lalu berlari memasuki rumah.


"Dari mana saja?"


Baru juga masuk, Raisa sudah di kejutkan oleh suara dingin milik sang tante. Raisa yang sedang menutup pintu itu pun memejamkan matanya sebentar lalu membuang nafas. Dan kemudian berbalik.


"M..maaf tante ta..tadi aku keluar sebentar" Jawab Raisa dengan gugup dan jantung berdegup kencang.


"Kenapa tidak izin?"


"Ma..maaf tante" Raisa semakin menunduk kan kepalanya.


Saat itu pun kedua sepupu Raisa pun ikut bergabung dan melihat Raisa dari dapur rumah. Mereka seperti tengah berbisik sesuatu sambil menatap Raisa, Sonia seperti sedang tersenyum senang sedangkan Laras terlihat tersenyum sendu ke Raisa.


"Tidak ada makan malam atau pun makan sehari untuk besok dan tidak ada uang jajan untuk hari esok" Sontak Raisa langsung mendongak kan matanya.


"Tapi tante-"


"Tidak ada bantahan"


Tante Raisa pun langsung pergi meninggalkan Raisa yang masih menunduk sambil menahan tangis nya. Karena tak tahan ia pun langsung berlari ke kamar nya dan menutup nya dengan keras.


Raisa bersender di pintu dan terisak sangat keras. Ia mengunci pintu kamar nya dan kembali menangis sambil memegang gagang pintu. Ia melempar topi nya dengan asal kemudian melepas hoodie nya dan berjalan menuju kamar mandi.


Raisa menatap dirinya sendiri dengan cermin. Menatap dirinya yang kosong, sedari tadi bibir nya tak berhenti mengucapkan 'mama' walau tak bersuara. Ia mengambil empat buah obat yang ada di lemari kaca kecil di kamar mandi dan memasuk kan nya langsung ke mulutnya tanpa air.


'Uhuk...uhukk'


Walau sedikit batuk Raisa tetap berusaha menelan obat itu dan kemudian dia kembali tenang dan tatapan nya berupah menjadi tajam ke arah kaca. Aura nya berubah menjadi lebih gelap.


"Lo bodoh"


Raisa lalu langsung terjatuh di lantai dingin kamar mandi. Matanya terlihat sayu dan bibirnya masih mengucapkan kata 'mama' tanpa suara. Hingga akhirnya di pun menutup matanya dan pingsan.


*****


Arsya sedari tadi hanya diam saja sambil tersenyum melihati foto seseorang yang ada di ponsel nya. Senyuman nya seperti orang yang sedang jatuh cinta, berulang kali ia mengelus dan tak jarang bicara sendiri dengan foto itu.


"Lu bakal jadi milik gw Devan, dan pasti milik gw"


Arsya sudah seperti orang gila. Bahkan dia tak keluar untuk makan malam dan malah berguman sendiri dengan foto. Gila memang, dia anatara terobsesi atau memang cinta.


*****


Ternyata alarm nya lah yang membuat suara berisik. Raisa dengan bibir pucat nya pun menghampiri alarm nya dan mematikan nya.


"Gw harus cepetan mandi dan berangkat sekolah"


Raisa kembali menyiapkan seragam dan masuk ke kmar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai ia pun memakai seragam nya dan menyiapkan buku yang akan dia bawa ke sekolah.


Setelah selesai semuanya, Raisa pun keluar dari kamar dengan tas yang ada di pundak nya. Tentu saja dengan bibir pucat serta mata sayu nya. Ia berniat berjalan ke meja makan tapi langkahnya terhenti ketika ia ingat kata-kata tantenya.


"Tidak ada makan malam atau pun makan sehari untuk besok dan tidak ada uang jajan untuk hari besok"


Seketika itu dia langsung berlari keluar rumah. Berusaha berlari secepatnya agar dia bisa segera juga sampai di sekolah dan tak melihat keluarga nya. Tanpa ada yang orang lain ketahui, sebenarnya Raisa sangat tertekan.


Ia harus menurut semua kata keluarganya, ntah nenek lah atau tante lah bahkan sepupunya. Jika dia tidak menurut makan tante nya akan mengadu pada mama nya sehingga mama nya dengan lembut akan selalu mengingatkan Raisa.


Jika dia tidak boleh membantah apa kata orang tua, ntah itu menek atau tante sama saja. Jika dia berani membantah itu arti dia adalah anak yang durhaka karena berani dengan orang tua. Itu lah kata mama Raisa. Sedangkan papa nya hanya akan diam dan menatap anak nya iba, ia ingin mengajak anak nya untuk tinggal bersama di luar kota. Tapi selalu di tolak oleh sang istri.


Sekolah terlihat ramai seperti biasa. Banyak anak murid yang berjalan menuju gerbang sekolah begitupun dengan Raisa, walau bisa di lihat. Langkah yang sangat pelan serta bibir pucat itu tetap berada padanya.


Tetapi beruntunglah Raisa sampai kelas dengan selamat. Tidak seperti hari biasa nya dia akan selalu ikut ngerumpi bareng temen-temen yang lain. Kini Raisa malah langsung duduk dan meletak kan kepalanya di meja sambil memegang perutnya yang sakit karena tiba-tiba magh nya kambuh.


"Lu nggak papa kan?" Tanya teman dari kursi depan Raisa.


"Nggak papa kok" Balas Raisa dengan lirih.


Raisa semakin menekan perutnya. Sakitnya tak tertahan lagi, benar-benar sangat sakit. Seperti di tusuk-tusuk jarum rasanya. Raisa bahkan hampir menangis karena sakitnya.


"Raisa"


Hingga suara Galaxsi pun mampir kedalam indra pendengaran nya Raisa. 'Sial' Batin Raisa. Kemudian sambil menahan wajah sakitnya Raisa pun memutar tubuhnya ke samping berhadapan dengan Galaxsi.


"Ini gw balikin uang yang kemarin gw pinjem, terus ini yogurt buat lu karena udah kasih gw es krim kemarin"


Raisa pun menerima itu semua sambil tersenyum "Iya makasih" Ucap Raisa.


"Sa! Lu sakit? Kenapa nada bicara lu pelan banget?" Tanya Galaxsi sambil berjongkok di samping meja Raisa.


Galaxsi menatap wajah dan bibir Raisa yang pucat, mata yang sangat sayu. Kemudian dengan mengumpulkan tekat yang berani. Galaxsi pun berniat menyentuh dahi Raisa, tetapi keinginan itu harus pupus karen tiba-tiba dari arah belakang ada yang lempar Galaxsi dengan suatu benda.


"Apa sih?" Tanya Galaxsi sambil menghadap ke belakang.


"Lu ngapain di meja Raisa, sini bereng kita main game" Ucap Teman Galaxsi. Kemudian Galaxsi berniat pamit pada Raisa untuk pergi dulu.


Namun sebelum itu Raisa sudah mengalihkan pandangan nya ke arah jendela. Galaxsi pun menghela nafas dan akhirnya dia pun beranjak dari meja Raisa.


Sebenarnya hati Galaxsi ingin tetep disini sambil melihat Raisa, ntah kenapa rasanya sangat sedih melihat Raisa seperti tadi. Jauh berbeda dari kemarin, mana Raisa yang ceria nya?


Tbc...