Life Again

Life Again
Chepter 3



Sorry for typo


.


.


.


.


.


Raisa memilih duduk di tempat duduk paling pojok yang ada di kantin sekolah nya dan pastinya dia selalu sendiri. Walau begitu ia tidak akan merasa sepi karena kantin memang tempat yang ramai dan dia tak akan menemukan kata sepi disini.


Sambil menikmati pangsit lezat kesukaan nya, Raisa sesekali mencuri pandang pada lelaki yang tengah duduk dengan teman nya di meja lain. siapa lagi jika bukan Galaxsi dengan kedua teman nya.


Apalah daya Raisa jika diri nya hanya bisa melihat sosok Galaxsi yang sudah lama menjadi Idol yang selalu ia impikan setiap malam saat tidur. Biarlah rahasia ini dia simpan sampai kapanpun hingga tak ada orang yang akan tau.


"Boleh gw duduk sini?"


Raisa langsung mengalihkan pandangan nya pada lelaki yang tengah menatapnya sambil berdiri di dekat meja nya dan lelaki itu membawa semangkuk pangsit di tangan nya.


"Oh...sialahkan"


Lelaki itu pun duduk di hadapan Raisa, membuat Raisa tak lagi bisa menikmati wajah indah Galaxsi yang sudah mencadi candu nya.


"Btw lu dari kelas mana?" Tanya Lelaki itu secara tiba-tiba, Raisa yang memang dasarnya pemalu, menjadi salah tingkah.


"Eum..gw dari kelas 12 Ipa1" Balas Raisa.


"Owh"


Dan lelaki itu kembali melanjutkan makan nya. Sebenarnya Raisa ingin bertanya sesuatu kepada lelaki itu, tetapi kembali pada awalnya jika dia seorang pemalu jadi mau tak mau di mengurungkan niat nya yang baru setengah itu.


Jadi, mungkin Raisa hanya tutup mulut dan makan dengan benar agar tidak salah tingkah di depan lelaki yang bahkan tak ia kenal itu. Walau mereka satu sekolah dan terlihat seumuran.


******


Setelah pulang sekolah seperti biasa, Raisa akan berganti baju, membersihkan diri lalu makan siang dan setelah itu ia akan berdiam diri di kamar sambil menonton vidio youtube yang nonfaedah.


Awalnya dia bisa saja sambil melaksanakn ritual harian nya, namun karena bosan akrinya ia pun memberanikan diri untuk keluar rumah. Jam sudah menunjuk kan pukul 2 siang berarti semua penghuni rumah sudah tidur siang. waktu yang tepat.


Setelah memakai hoodie hitam dan mengambil dompet nya yang ada di laci nakas nya dan topi di lemari lalu dengan perlahan Raisa keluar dari kamar nya. Berjalan mengendap endap saat melewati kamar sang nenek dan kamar saudara nya yang kedua, setelah berhasil melewati kamar itu Raisa langsung berlari untuk membuka pintu rumah dan keluar. Tak lupa menutupnya kembali.


"Panas sekali astaga" Guman Raisa sambil menyeka keringat yang ada di kening nya. Lalu kembali berlari dengan amat kencang di trotoar.


*****


Galaxsi membanting ponsel nya di kasur karena sangking kesalnya karena ia selalu kalah main. Bukan apa-apa hanya dia sedang kepikiran oleh kata-kata seseorang.


Seseorang yang tak lain adalah sahabat nya sendiri. Siapa lagi jika bukan Arsya, ntah apa yang terjadi tetapi ucapan Arsya terus menerus terngiang-ngiang di kepala nya.


"Seperti yang gw bilang kemarin, jika emang ada seorang perempuan yang suka sama elu di kelas kita. Dan jika lu pengen tau siapa dia maka lu harus deketin gw sama sahabat lu yang nama nya Devan itu"


Galaxsi meremas rambutnya dengan frustasi. Dia sangat ingin tau siapa orang yang menyukai nya selama 3 tahunan ini, rela sekali orang itu menghabiskan 3 tahun nya hanya untuk mencintai lelaki sepertinya.


Dia ingin tau, tetapi terlalu sulit melaksanakan syarat yang diberikan Arsya. Devan adalah sahabat nya sedari kecil yang memiliki sikap yang cuek dan dingin, bahkan walaupun mereka sudah dibilang berteman cukup lama. Tetapi tetap saja Galaxsi masih trauma saat dulu Devan tak sengaja melempar was bunga karena kalah bermain game.


Maka sejak itu Galaxsi memiliki sebuah prinsip 'lebih baik mengalah, daripada terancam'. Tetapi walau begitu Galaxsi tetap sangat senang bersahabat dengan Devan, dibalik sifat nya yang cuek dan dingin kadang Devan juga perhatian saat Galaxsi lalai atau melakukan kesalahan, maka Devan lah orang sang sabar menghadapi nya.


Setelah sekian lama nya melamun, Galaxsi di kejutkan oleh pintu kamar nya yang tengah di buka oleh seseorang. Galaxsi yang setelah melihat siapa orang itu langsung memalingkan wajah nya dan menyembunyikan wajah nya di balik selimutnya.


"Sayang bangun dong, kamu kan belum makan dari kemarin. Makan dulu yuk"


"Nggak mau ma, pokoknya nggak yah nggak" Galaxsi malah semakin menutup dirinya dengan selimut dari sosok wanita yang ia panggil dengan sebutan 'ma' maka sudah pasti jika wanita itu tidak lain adalah ibu nya sendiri.


"Ayo dong sayang nanti kamu sakit kalau nggak makan"


"Aku bilang nggak tetap nggak, sebelum mama dan papa batalin perceraian kalian maka aku nggak akan mau makan" Galaxsi merajuk layaknya anak kecil yang mogok makan karena tidak di belikan mainan.


"Sayang, kamu harus ngertiin mama dong. Mama dan papa itu sudah nggak cocok lagi"


Galaxsi langsung bangkit dan melempar tatapan tajam pada sang ibu nya "Tidak cocok apa ma. Kalian dulu terlihat baik-baik saja tapi setelah mama berkencan dengan pria lain semua jadi berantakan, kalian sering bertengkar, teriak-teriak saat malam, dan apa sekarang! Kalian mau cerai lalu aku mau di buang di asrama gitu" Ucap Galaxsi yang sudah kelewatan kasar kepada ibu nya sendiri.


"Sayang kamu harus percaya dengan mama, yang selingkuh duluan itu papa mu nak. Mama hanya membalas dendam saja pada papa mu dan membuktinya jika mama juga bisa selingkuh jika papa mu selingkuh"


"Ck! Kalian sama saja, lama-lama bisa gila aku mendengarkan kalian bertengkar terus di rumah ini. Lebih baik aku pergi kalian berdua tidak pecus menjadi orang tua"


Galaxsi langsung menyaut ponsel dan hoodie nya yang ada di kursi lalu memakainya dengan cepat sambil belari keluar dari kamar nya.


Hati ibu mana yang tak sakit melihat anak nya sendiri mengatai sang ibu yang sudah membesarkan nya selama ini. Tetapi ini memang salah sang ibu juga, jika sang ibu tidak memutuskan balas dendam dengan sang ayah yang juga sedang selingkuh maka dia tidak akan di benci sang anak seperti ini.


"Maafkan mama sayang, mama memang seorang orangtua yang buruk dan juga istri yang sangat bodoh. Mama minta maaf sayang"


Tbc...