
Sorry for typo
.
.
.
.
.
Arsya masuk ke dalam rumah dengan keaadan marah yang meluap-luap. Merasa di rendahkan oleh orang yang ia cintai sendiri, Devan pikir Arsya itu apa. Dengan susah payahnya dia berdandan demi bertemu Devan dan hanya mendapat jawaban singkat yang bahkan biasa di ucapkan anak kecil yang baru belajar bicara.
"Awas lu Van" Arsya menggenggam sofa dengan sangat kuat.
Tanpa sadar sang Ayah melihat itu dari tadi, bahkan saat Arsya di luar kebetulan saat itu ayah nya juga sedang di taman depan rumah dan tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan Arsya dan Galaxsi yang sangat singkat.
Sang ayah pun menghampiri sang putri kesangan nya dan duduk di sebelah Arsya lalu mengelus pundak sang anak. Arysa yang merasakan kehadiran seseorang langsung menoleh, dan menemukan sang ayah di samping nya.
Arsya langsung memeluk sang ayah dengan sangat erat sambil menangis.
"Pa, apa aku tidak cantik? Kenapa Devan sama sekali tidak terlihat tertarik dengan ku" Ucap Arsya dalam isak nya.
"Kamu cantik sayang, bahkan sangat cantik" Jawab sang Ayah.
"Tapi kenapa Devan seperti itu"
Kebetulan juga sang ibu tengah selesai berdandan lalu berniat turun untuk keluar dan tapi saat melihat sang putri yang menangis ia pun langsung mengahampirinya.
"Sayang ada apa?" Ucap sang ibu.
"Mama" Arsya pun beralir memeluk sang ibu, akibat nya baju sang ibu yang sudah terlihat rapi kini kembali lusuh karena Arsya.
"Ada apa sayang?" Sang ibu mengelus kepala sang anak dengan sayang sembari mengecup nya.
"Devan...dia tidak mencintai ku ma, tapi aku sangat mencintai nya" Arsya bahkan seperti memaksakan bahwa hanya ia yang boleh memiliki Devan sepenuh nya.
Sang mama pun mengangkat alis pada suami nya, ia juga butuh penjelasan. Hingga sang suami mengangguk paham dan menyuruh Arsya untuk ke kamar nya sebentar. Setelah itu ia menceritakan semua nya pada sang istri.
"Kurang ajar dia, dia anggap anak ku apa!" Ucap ibu Arsya yang merasa emosi dan tak terima.
"Aku juga begitu, dia pikir dia siapa"
"Ah aku ada ide" Senyum licik pun mengembang di bibir sang ibu dan langsung membisikan sesuatu pada sag suami di samping nya. Hingga mereka berdua pun akhirnya setuju dan tersenyum licik.
*****
Raisa pun sudah menyelesaikan sebagian tugas yang dari sekolah dengan Galaxsi. Karena penjelasan nya sangat panjang jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan besok saja setelah pulang sekolah.
"Btw besok gantian di rumah lu ya?" Ucap Raisa sambil membereskan alas tulis nya yang ada di meja.
"Kenapa gk disini aja, dirumah gw gk seru" Galaxsi memasuk kan buku nya di dalam tas dan menggantungkan nya di pundak nya.
"Emang apa yang seru di rumah gw?" Tanya Raisa yang tiba-tiba sewot.
"Disini banyak camilan jadi enak, itu juga kue biatan mama lu enak juga" Tunjuk Galaxsi pada piring yang tadi nya berisi kue kering kini sudah lenyap.
"Tapi mama ku itu beli bukan beli sendiri" Sontak Galaxsi langsung menggaruk tengkuk nya tang tak gatal. Sungguh malu sekali.
"Besok pokok nya di rumah lu! Done!" Raisa langsung memutuskan nya tanpa menunggu Galaxsi untuk angkat bicara.
"Aelah serah lu deh" Galaxsi akhirnya pasrah saja. "Gw pulang dulu oke, bye cepat sembuh"
"Iya sama sama"
Galaxsi pun pergi dan menghilang dari balik pintu rumah Raisa. Sedangkan Raisa hanya tersenyum sambil berhalu ria tentang Galaxsi, ia juga penasaran bagaimana rumah Galaxsi.
Setelah semua itu Raisa berniat pegi ke dapur untuk meletak kan bekas gelas dan piring yang sudah kosong. Tapi saat setengah jalan tanpa sengaja Raisa menabrak Laras yang berjalan di depan nya sambil bermain hp.
Brakk
Sontak Laras langsung jatuh dengan perut buncit nya itu. Tak lama karena Laras mulai merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Raisa yang panik langsung meletak kan nampan nya di lantai dan membantu Laras.
"Kak Laras, kakak nggak papa kan?" Tanya Raisa sambil memegangi tangan Laras.
"Akhhh, Sa perut gw sakit bang..akhh"
Raisa semakin panik saat bersamaan ia melijat darah mengalir dari ************ Laras. Kejadian itu pun tanpa sengaja terlihat oleh sang nenek dan sang nenek pun langsung menghampiri mereka berdua.
"Astaga sayang kamu kenapa?" Sang nenek langsung melepas tangan Raisa yang memegangi Laras dengan kasar.
"Akhh nekk....perutku sakittt" Ritih Laras semakin kuat hingga membuat semua penghuni rumah berkumpul di ruang tengah.
"Ada apa ini?" Ucap Ibu Raisa.
"Lihat anak mu, dia sengaja celakain Laras seperti ini" Ucap nenek sambil menunjuk Raisa. "Sonia cepat telfon ibu mu suruh pulang sekarang juga" Lanjut sang nenek dan Sonia segera melaksanakan tugas nya.
"Aakkhh nekk sakittt...."
"Sabar sayang sebentar, nak bantu nenek bawa Laras ke kamar nya" Ayah Raisa pun langsung mengangguk dan membantu sang nenek membawa Laras ke kamar nya.
Sedangkan Raisa tiba-tiba menangis dan badan nya bergetar sangat hebat. Matanya seakan tak bisa berpaling dari genangan darah yang ada di lantai, Ibu Raisa yang melihat itu langsung menghampiri Raisa dan memeluk nya.
"Jangan di lihat sayang, lihat saja mama" Ibu Raisa berusaha mengalihkan pandangan sang anak dari genangan Darah tersebut tetapi Raisa tetap melihat itu dan terus menangis.
Hingga terpaksa sang ibu harus menutupi mata sang anak dengan telapak tangan nya dan memeluk sang anak dengan sangat erat.
"Sudah mama bilang jangan dilihat" Ucap sang mama kembali, bukan nya diam Raisa malah semakin menangis keras.
'Mamaaaa....jangan hiks tinggalin adekkkkk'
'Ma ada cairan merah-merah'
'Mama tangan adek ada merah-merah, maa adek takut'
"Mamaaaaaa" Ucap Raisa sangat lirih.
"Iya sayang mama di sini, sudah jangan dilihat yah" Karena Raisa tak kunjung tenang, maka sang ibu membawanya ke kamar nya untuk menenangkan sang putri.
Sang ibu pun menduduk kan Raisa yang masih terisak dan terus menyebut nama mama itu di kasur, sedangkan ibu nya berjalan ke kamar mandi untuk mengambil sesuatu.
Setelah mengambil yang dibutuhkan. Sang ibu langsung memgeluarkan dua butir obat dari tabung obat yang di pegang nya. Dengan perlahan ia membuka mulut Raisa dan memasukan dua butir obat itu kedalam mulut Raisa. Raisa yang ingin memutahkan pil itu langsung di tahan oleh sang ibu dengan menutup paksa mulit Raisa dengan tangan nya sendiri.
"Maafkan mama sayang" Ucapan terakhir dari sang ibu. Lalu menidurkan Raisa di kasur nya.
Tbc.....