
Sorry for typo
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Raisa tampak lebih sehat dari sebelumnya. Walaupun masih rada pucat tetapi ia tetap mengatakan ia akan baik-baik saja kepada ibu nya. Dan pagi ini juga ibu nya akan pergi kembali ke kota untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Sepertinya penyesalan kemarin tidak membuat sang ibu jera sama sekali. Raisa dengan langkah semangat turun dari tangga sambil berpegangan erat kepada tangan sang ayah dan ibu nya.
Karena ini masih pukul 6 pagi jadi dapur dan meja makan sepi, biasanya mereka semua akan sarapan pukul setengah 7 tapi kali ini mereka sengaja Sarapan lebih dulu. Karena mereka ingin makan bersama dengan putri kesayangan mereka, Raisa.
"Sebentar, mama panas kan dulu masakan semalam" Raisa dan ayah nya hanya mengangguk dan duduk di meja makan.
"Raisa?" Panggil sang Ayah.
"Iya pa"
"Beneran mau sekolah sekarang? Wajahmu masih pucat lho sayang" Ucap sang ayah sambil mengelus tambut Raisa dengan sayang.
"Papa nggak usah khawatir, kalau Raisa libur terus kan nanti bakalan ketinggalan materi" Balas Raisa dengan senyuman hingga menampak kan lesung pipi nya.
"Sudah besar ternyata anak papa ini" Ucap sang ayah "Padahal dulu kamu suka banget minta bolos ke mama dan papa"
"Ihh papa, itu kan waktu Raisa masih kecil. Raisa kan sudah besar" Raisa menggembungkan pipi nya.
"Beneran sudah besar, yaudah mana ponsel nya biar papa hapus semua film kartun di ponsel mu" Sang Ayah mengulurkan tangan.
"Ahhh jangan pa, Raisa udah sulit lho ngumpulis semua itu. Masa mau dihapus, nggak lucu lho pa" Rengek Raisa sambil menyembunyikan ponsel nya.
"Katanya Raisa sudah besar jadi tontonan nya jangan kertun mulu dong"
"Kan kartun tidak ada batas usia pa. Jadi Raisa tetep bisa nonton wlee" Ucap Raisa sambil menjulurkan lidah.
"Kalian berdua ini ngapain sih, udah-udah ayo makan" Ucap sang ibu yang tengah menata makanan di meja makan.
Raisa pun meletak kan ponsel nya di meja makan sembari menatap sang ayah tajam "Awas lho pa pegang ponsel Raisa"
Sang ayah dan ibu nya pun tertawa, Raisa terlihat imut sekali walau saat kesal. Gemes nya minta ampun. Mereka bertuga pun akhirnya melakukan ritual sarapan pagi bersama sebelum ayah dan ibu nya kembali ke luar kota untuk bekerja.
*****
Galaxsi turun dari mobil nya dengan rasa malas. Terlihat kantung mata yang hitam yang menandakan jika dia kurang tidur, memang benar. Karena pertengkaran kedua orang tua nya tadi malam membuat Galaxsi tak bisa tidur hingga akhirnya ia meminum obat tidur dengan dosis tinggi. Tidak peduli apa yang akan terjadi dengan nya kemudian hari jika meminum obat itu berterusan.
Galaxsi tampak seperti mayat hidup walau dia begitu tetapi dia tetap tampan kok dimata para perempuan. Terlihat dua sahabat di kelas nya berlari mendekatinya lalu menepuk pundak nya.
"Hei bro lu sakit? Kenapa ada mata panda di muka lu" Ucap Rizal dengan nada goyonan nya.
"Gw nggak papa" Balas Galaxsi.
"Yodah yuk ke kelas" Kedua nya membalas dengan anggukan.
"Kalian duluan aja ntar gw nyusul" Galaxsi langsung berlari ke arah Raisa tentu saja itu membuat kedua sahabat nya terkejut tetapi yang mereka lakukan selanjutnya dalah hanya mengangkat bahu acuh lalu pergi.
Sedangkan Galaxsi kini tengah berdiri di belakang Raisa yang tengah mengunci sepedah nya. Dan saat Raisa berbalik.
"Eh ayam puter balik" Latah Raisa yang tak terduga dan itu membuat Galaxsi tertawa terpingkal pingkal.
"Apa? Ayam hahahah...puter balik lagi....hahaha" Tawa Galaxsi sambil memegangi perutnya yang sakit karena tetawa.
"Apaan sih lu ngaketin tau" Ketus Raisa.
"Padahal gw nggak ngapa-ngapain lho" Bela Galaxsi sambil merapikan seragam nya yang sedikit kusut karena tertawa tadi.
"Terus tadi di belakang gw, ngapain coba?"
"Oh iya ya"
"Youdah sana minggi gw mau ke kelas" Raisa menggeser tubuh Galaxsi yang menghalangi jalan nya.
Raisa berjalan dulu menjauh dari Galaxsi sedangkan Galaxsi mengikuti nya di sebelah Raisa sambil menggandeng tangan Raisa.
"Hei! Apa-apaan ini?" Raisa menepis tangan Galaxsi yang menggenggam tangan Raisa. Walau sebenarnya ia mau sih di pegang tangan nya malah mau banget. Tapi kan juga malu di lihatin satu sekolah apalagi jika Arsya yang lihat.
"Memang kenapa?"
"Lu siapa gw, main megang-megang tangan gw aja" Raisa berlalu pergi meninggalkan Galaxsi.
Galaxsi kembali mengejar Raisa dan berlari kecil di samping Raisa. Raisa berusaha tak peduli dan cuek, tapi apalah daya dia tidak dapat menyembunyikan pipinya yang merah karena malu.
Hingga sampai lah di kelas dan saat Raisa sampai di kelas, Raisa di kejutkan oleh seorang siswa yang tengah bersender di tembok dengan kaki Arsya yang menginjak betis siswa itu.
Raisa sempat terdiam lalu tiba-tiba tangan nya di tarik oleh Arsya untuk mendekat, Raisa tampak bergetar saat dihadapka dengan siswa yang tadi di injak Arsya penuh dengan lebam.
Galaxsi yang baru tiba pun tampak syok juga. Dan dia hanya bisa berdiri di pintu kelas bengong.
"Arsya, lu apain dia sampek gini?" Tanya Raisa.
"Lihat lah si ******** kecil ini, kau tau apa yang dia lakukan" Arsya langsung mengambil ponsel nya yang ada di meja dan menyalakan sebuah rekaman.
'Bagaimana jika Raisa, senior kita kelas 12 Ipa2. Dia terlihat cupu lihatlah penampilan nya dia seperti seorang ****** murahan, bagaimana kalau kita jadikan dia ****** beneran'
Arsya langsung mematikan ponsel nya dan melemparkan nya ke sebelah nya yaitu Keyra. Raisa sangat terkejut, benar-benar terkejut. Dia memandang tak percaya pada siswa yang penuh babak belur itu. Dia merasa tak kenal dengan junior nya ini, tapi sepertinya dia mengenal Raisa.
"Gw cuma memberikan apa yang pantasnya dia terima, seharusnya kau berterimakasih padaku" Bangga Asya seperti dia sedang melakukan hal terpuji saja, memukul orang saja saja perbuatan kriminal.
Raisa juga bingung kenapa tiba-tiba Arsya berubah jadi membela dia, ada apa ini?. Apa dunia sudah berputar sehingga membuat otak Arsya berputar juga.
"Lu gk mau kasih pelajaran sama dia?" Tanya Arsya sambil menginjak perut siswa itu.
"Akkkhhh.....aku minta maaf, sumpah gk akan aku ulangin lagi kak" Ucap siswa itu, tetapi tiba-tiba.
Bugh!
Tbc...