
Sorry for typo
.
.
.
.
.
"Ada apa sih? Kenapa ramai sekali sampai teriak-teriak" Seseorang wanita tiba² masuk kekamar sambil membawa nampan yang berisi sepiring biskuit dan 3 gelas minuman.
Mereka bertiga pun langsung teralihkan pangdangan nya. Terlihat dari wajah malas Galaxsi kepada wanita di depan nya, Raisa sedikit bingung akan hal itu.
"Jadi ini temen nya, cantik juga ternyata" Ucap wanita itu sambil memamerkan senyum nya pada Raisa dan Raisa membalas itu juga dengan senyuman.
"Ini minuman sama biskuit nya" Ucap Wanita itu kembali.
"Hei tante jangan percaya sama dia, dia itu wanita ular" Devan tiba-tiba membuka suara dan lagi dia membicarakan hal buruh tentang Raisa.
"Jaga ucapan lu ya" Raisa kembali ingin marah.
"Berantem lagi kalian, kulempar beneran ini lho" Bentak Galaxsi.
"Owh jadi kalian berdua yang berantem dari tadi, tante sampai kedengeran lho di dapur" Ucap wanita itu sambil tertawa. "Mau tante temenin biar anteng"
Wanita itu pun mengelus rambut Raisa dengan amat lembut, hingga Raisa merasa malu mendapatkan itu.
"Sudahlah ma, mama mending keluar aja. Nanti yang ada ganggu kita di sini" Ucap Galaxsi dengan amat ketus nya.
Tunggu sebentar? Biarkan Raisa berfikir sejenak. Wanita ini adalah wanita yang berbeda dengan wanita yang tadi membuka kan pintu untuk nya. Lalu wanita yang Raisa anggap kakak nya Galaxsi itu mengaku ibu nya tetapi kenapa Galaxsi memanggil wanita yang berbeda di depan nya dengan nama mama. Apa Galaxsi memiliki 2 ibu?
"Iya deh. Eh sebentar Galaxsi, mama mau minta tolong angkat kan air galon di dapur soalnya galon nya habis"
"Kenapa aku kan bisa suruh Devan"
"Lu aja lah kan lu anak nya" Devan langsung mengambil ponsel Galaxsi dan tiduran di kasur Galaxsi yang empuk. Tolong lah Raisa yang di landa kebingungan.
"Yaudah lah, Raisa gw tinggal bentar ya" Raisa hanya mengguk sebagai balasan.
Wanita itu pun pergi dengan Galaxsi dari kamar Galaxsi. Sedangkan Raisa yang dilanda kebingungan hanya melihat Devan, sepertinya dia bisa membantu. Tapi dia tak tahu cara memulainya untuk bertanya.
Devan yang melihat raut wajah bingung dari Raisa hanya tertawa, maklum lah Raisa belum paham akan keluarga Galaxsi yang amat merumitkan.
"Lu pasti bingung kan, karena Galaxsi punya 2 ibu?" Tanya Devan sambil memandangi Raisa. Raisa yang menemukan pencerahan langsung mengangguk.
"Mau tau penjelasan nya? Mau gw jelasin!" Lagi-lagi Raisa hanya mengangguk.
"Jadi--"
Ceklek
"Kita lanjutkan aja Sa" Ucap Galaxsi, Raisa yang tadinya amat penasaran pun langsung mengurungkan niatnya. Ia melihat Devan yang sudah mengangkat bahu nya acuh.
Raisa hanya menggela nafas pasrah. Dia pun kembali duduk di sofa tempat nya tadi dan mulai menulis seperti awalnya tadi. Sedangkan Devan ia hanya memandangi Raisa dengan tatapan yang tak bisa di pahami. Antara tertarik dan bernafsu.
*****
Laras harus pasrah saat mendapatkan hukuman untuk membersihkan meja makan, karena dia yang membuat meja makan berantakan karena acara ngidam nya yang aneh-aneh. Oleh karena itu sang nenek memarahinya.
Setelah membersihkan meja makan Laras berniat ke kamar nya, karena perutnya sedang kram. Mungkin karena banyak bergerak. Tapi langkah nya terhenti saat sampai di kamar Raisa, sang sepupu.
Sebenarnya ia masih marah soal kemarin pada Raisa, tapi ia sadar tak seharusnya ia begitu. Ia tau Raisa pasti tak sengaja, lagian itu juga salah nya. Bermain hp sambil berjalan.
Laras juga sedikit penasaran soal kamar Raisa, karena kamar itu selalu terkunci dan tak ada siapapun yang bisa masuk kamar itu kecuali orangtua Raisa dan Raisa nya sendiri. Dan juga karena ibu nya Raisa lah yang membuat larangan itu. Ntah apa alasan nya.
Laras meletak kan telapak tangan nya di pintu ber-cat putih tersebut. Ia dapat merasakan dingin dari pintu tersebut, apakah Ruangan Raisa juga sedingin pintu nya? Apa dia tidak kedinginan?
Laras kemudian beralih pada gagang pintu dan berusaha membuka nya tetapi sia-sia, pintu itu tetap terkunci dan kunci nya selalu dibawa oleh Raisa.
Laras pun akhirnya menyerah dan pergi ke kamar nya sendiri yang terletak di sebelah Raisa. Lagi-lagi ia harus membuang jauh-jauh rasa penasaran nya yang amat besar ini.
*****
Keesokan hari nya, Raisa menjalani hari nya seperti biasa. Bangun pagi, mandi, bersiap sekolah, sarapan bersama lalu berangkat sekolah. Dan hari ini adalah hari penting karena ini adalah hari pertama kali dihidupnya dia dapat persentasi di depan kelas bersama orang lain, karena dari tahun-tahun yang lalu Raisa akan selalu sendirian karena tak mendapat pasangan.
Semua murid sangat sunyi di kelas, mereka sedang mendengarkan dua orang murid yang tangah persentasi di depan. Sambil menunggu giliran, begitu pun dengan Galaxsi dan Raisa.
"Sekian dari kita Terimakasih"
Seluruh kelas langsung bersorak tepuk tangan dan mereka berdua yang tadinya maju pun duduk di kursi nya masing masing.
"Baiklah, sekarang giliran Galaxsi dan Raisa" Panggil pak guru. Mereka berdua pun segera berdiri dari tempat duduk nya secara bersamaan dan berjalan ke depan.
Mereka pun memulai dari salam dan melanjutkan ke inti persentasi, mereka bicara secara bergantian. Bukan hanya berbicara tetapi mereka juga memperagakan gerakan saat berbicara, mereka berdua sudah merancang itu semua dari kemarin.
Hingga persentasi pun berakhir dan seluruh kelas bertepuk tangan pada mereka kecuali Arsya yang merasa itu semua membosankan. Tetapi setelah itu Arsya bersemirik pada Raisa.
Mereka berdua pun bertos ria dan saling mengucapkan kita berhasil. Raisa bersyukur, karena jika tidak ada persentasi ini ia tidak mungkin akan bisa sedekat ini dengan Galaxsi yang status di hati nya adalah lelaki yang ia cintai.
"Kita berhasil" Ucap Raisa.
"Iya kita berhasil" Balas Galaxsi.
Sementara Galaxsi juga begitu. Beberapa tahun ia tak mengenal pasti Raisa walau sekelas, kini dia dapat berkenalan dan menjadi sangat akrap. Dan senyuman indah di bibir Raisa kini juga telah menjadi candu nya.
Tanpa Raisa sadari juga sebenarnya ada seseorang lain dari kelas berbeda juga tengah memikirkan nya dirinya. Senyuman Raisa yang selalu terbayang dalam otak Devan membuat dirinya tak bisa fokus dalam pelajaran sehingga membuatnya di keluarkan dalam jam pelajaran. Tapi walau begitu ia tak marah.
"Apa otak gw udah pindah ini" Guman Devan.
Tbc....