Life Again

Life Again
Chepter 1



Sorry for typo


.


.


.


.


.


"Yak! Raisa"


Seorang gadis cantik menoleh ke sumber suara. Gadis dengan mata coklat, serta rambut berwana brown milik nya yang dikuncir rapi dan bibir cantik yang berwarna pink seperti cerry yang tengah tersenyum lebar.


Namanya Raisa ardyansya, seorang gadis SMA yang memiliki cantik mengesankan bagi semua orang tak terkecuali para siswa lelaki di sekolahnya. Tapi sayang nya ada beribu rahasia yang disembunyikan Raisa di balik senyum indah nya.


"Oh Arsya"


Raisa berlari mendekati gadis yang ia panggil dengan nama Arsya tersebut. Sebenarnya Arsya tak kalah cantik dengan Raisa tetapi tetap saja Raisa lebih cantik.


"Ayok ke kelas, kebetulan sebentar lagi bel bunyi" Ajak Arsya.


"Let's go"


Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas mereka. Melewati lorong sekolah yang penuh dengan suara ramai dari para siswa yang tengah melakukan rutitas paginya disekolah, yaitu belajar.


Hingga sampailah mereka di kelas yang bertuliskan XII-IPA1. Mereka berdua masuk kedalam kelas yang ramai tersebut, tepatnya itu juga kelas mereka juga.


"Kenapa kalian bareng?" Tanya teman Raisa yang beranama Yani yang tengah berkumpul dengan teman lain nya di meja nya.


"Kebetulan tadi ketemu di parkiran" Ucap Arsya lalu duduk di kursinya disusur Raisa.


"Lu ada masalah?" Tanya teman nya lagi yang bernama Keyra.


"Iya tuh tumben dateng-dateng udah lemes" Sambung temen nya lagi Adja. Raisa yang mendengar itu pun langsung menoleh ke Arsya.


"Gw capek setiap hari belajar terus" Jawab Arsya.


"Emang kenapa?" Tanya Raisa.


"Ya lu bayangin deh. Setiap hari kita sekolah kecuali hari minggu itu selama 6 jam di tambah les sekolah 1 setengah jam" Arsya meletak kan kepalanya di meja dengan malas.


"7 jam setengah? Tidak masalah, lagi pula kita juga istirahat tepat pada waktunya" Keyra berpindah posisi duduk di depan kursi Arsya.


"Benar juga tuh. Lagian kita juga masih bisa kumpul bareng buat cari wifi gratis yakan" Yang lain hanya tertawa mendengar candaan Yuni kecuali Arsya.


"Hey. Gw tau pasti ada masalah lain kan?" Raisa menepuk pundah Arsya membuat sang empu mendongak.


"Gw habis putus sama pacar gw" Arsya akhirnya pun jujur.


"Apa lu putus dengan pacar lu?"


Sontak kelima cewek itu langsung melihat kebelakang dimana ada seorang lelaki dengan seragam SMA tengah memegangi es krim di kedua tangan nya.


"Yak! Galaksi lu ngapain disitu. Mau nguping lu?" Ucap Arsya dengan nada marah nya serangkan Galaksi hanya cengar cengir sendiri.


"Oh jadi lu mau bolos sekolah gitu" Arsya langsung melipat kedua tangan nya di dada.


"Rasain lu, hajar aja dia Arsya" Adja hanya ikut menjadi profokator kedua teman di depan nya. Sedangkan Raisa hanya diam menyaksikan sambil mengukir senyum di bibir nya.


"Sini lu" Arsya langsung memukuli Galaksi dengan belasan pukulan tetapi Galaksi hanya cengar cengir karena ia sama sekali tak merasa sakit dengan pukulan dari tangan kecil Raisa.


Hingga tanpa diketahui ikat tali sepatu Arsya lepas dan membuatnya tersandung kedepan, beruntung Galaksi langsung menangkap Arsya dan memeluknya di waktu yang bersamaan.


Semua pasang mata di kelas itu langsung melihat mereka dan bertepuk tangan dengan riyuh. Raisa yang melihat itu sedikit terkejut, maka dia langsung mematap ke lantai dengan rasa cemburu.


"Wow boleh kah gw nonton sekali lagi drama nya?"


"Kalau di Replay kayaknya seru"


"Ulangin lagi dong"


Kurang lebih seperti itu kata-kata yang keluar dari mulut para siswa siswi di kelas mereka. Raisa yang kelewatan cemburu langsung duduk di kursinya dan melihat kejendela. Mencoba mengabaikan keadaan.


"Sudahlah kalian berhenti, lihat kan dia malu" Ucap Galaxsi dengan cengar cengir sambil memandang Arsya yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.


"Coba lu hibur dia dulu, katanya dia baru putus dengan pacarnya tau" Ucap Yuni yang diangguki oleh seluruh gadis yang tadi ngerumpi bareng kecuali Raisa.


"Gw udah denger tadi. Jadi gimana?" Galaxsi memandangi wajah Arsya yang bersembunyi di balik kedua telapak tangan nya lalu dengan perlahan dia membuka kedua telapak tangan Arsya. "Bagaimana dengan pantai?" Lanjutnya.


Ingin rasanya Raisa berteriak cemburu:v


Sebenarnya Galaxsi dan Arsya tidak memiliki hubungan khusus, mereka hanya sahabat tetapi melihat apa yang mereka lakukan membuat Raisa merasa cemburu. Karena memang bukan sekali mereka seperti ini melain kan sudah berulang kali, tetapi mereka tetap mengatakan bahwa hubungan mereka tak lebih dari sahabat.


"Lu ikut nggak?" Raisa tiba-tiba tersadar dari lamunan nya dikala Adja menyenggol bahunya.


Saat Raisa menoleh saat itupun ia sempat berkontak mata dengan Galaxsi, namun karena gerogi ia langsung menunduk malu.


"Gw ada urusan, maaf gk bisa ikut" Raisa tetap berusaha tenang agar tidak salah bicara.


"Padahal seru loh kalau sama lu, yaudah deh gw hargain keputusan lu" Arsya pun kembali ke tempat duduk nya setelah puas memeluk lelaki yang ia bilang sahabat itu.


Hingga tak lama guru datang sehingga mereka semua kembali ke tempat duduk nya dengan tenang dan Raisa tidak perlu lagi berkontak mata dengan Galaxsi yang mana membuat nya tambah grogi.


Pelajaran matematika memang membosankan apalagi untuk muris yang bodoh seperti Raisa, mungkin itu sudah seperti vidio yang melelahkan untuk terus di tonton. Tapi beruntung bel istirahat berbunyi lebih cepat karena para guru harus segera rapat jadi Raisa tak perlu memusingkan rumus aneh lebih lama.


"Ke kantin yuk" Ajak Keyra pada Arsya.


"Galaxsi kan sudah janji bakal ngajak jalan-jalan nanti, udah jangan sedih lagi. Kita kan juga bakal ikut iya kan Yun?" Ucap Adja.


Yuni langsung mengangguk kan kepalanya sebagai tanda setuju. Arsya pun akhirnya menerima ajakan Keyra dan mereka berempat pergi ke kantin bersama.


Raisa yang melihat itu ingin rasanya gabung bersama mereka tetapi ntah kenapa dalam hatinya dia berusaha menolak dan menganggap mereka tidak pantas dengan orang seperti dirinya.


Hingga Raisa hanya diam di kelas sendiri selama jam istirahat. Bahkan ia tak peduli dengan perutnya yang lapar karena memang dia tidak ikut sarapan pagi bersama keluarganya tadi pagi.


Keheningan memang sudah menjadi teman Raisa sejak kecil, kecuali jika teman nya ada yang sedang mengerti Raisa maka dia akan mengajak Raisa ke kantin tidak seperti tadi. Raisa memang tidak mudah di tebak, dia juga pendiam dan tertutup.


Tbc