
LORO ING ATI
Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah.
.........
Teruntuk angin
Kau menyapaku dengan damai, kedamaian itu perlahan lahan memberikan luka paling dalam yang jauh tak terlihat.
Hiruk pikuk ramainya pasar ibukota,cukup memakan perhatian para penduduk sekitar siapa lagi jika bukan si panuragan ah maksudku NYI Endang, bagaimana tidak mendapatkan perhatian khususnya perhatian memuja, wajahnya yang ayu nan anggun, kulitnya yang kuning gading khas tanah Jawa, bibir tipisnya yang berwarna merah muda,mata yang bulat berwarna hitam pekat.
Bahkan sepanjang perjalananku, semua orang saling berbisik dan bahkan ada yang menabrak pedagang lainnya karena dapat ku yakini jika mereka terpesona dengan NYI Endang.
"Apa kau tidak,risih sedikitpun Ketika mereka melihatmu seperti menelanjangimu Ayunda"ughh seperti lidah ini sungguh sangat asing saat memanggil seseorang laki laki dengan sebutan seperti itu.
Dapat kudengar dia terkekeh kecil, andaikan aku tidak tau jika sebenarnya dia adalah seorang laki-laki mungkin aku akan benar benar mengangguminya.
"Itu terdengar menggelikan,sati,ouh itu aku sudah biasa akan hal itu tenanglah"aku hanya ber oh ria saja, lagian apa peduliku.
"Sekarang kita akan kemana"dia meliriku sekilas dan kembali berjalan anggun"kita akan langsung ke keraton,dan seperti yang kita bawa kita akan memberikan beberapa makanan dari duniamu istilahnya kita akan bertransaksi atau barter"aku melotot wait,gila nih dia menggadaikan makananku oh tidak,ini tidak benar tentu saja aku tidak rela.
"Mana boleh begitu, aku tidak akan memberikannya".
"Apa aku perlu izinmu"ya tentu kau memerlukannya,ini barangku hei ingat barangku.
"T-tentu ini miliku, tentunya kau harus meminta izinku terlebih dahulu"aku menarik keranjang terbuat dari anyaman bambu itu ketanganku, pantesan saat dia memintaku memasukkan beberapa makananku kedalam keranjang,ku kira hanya untuk mempermudah penyimpanan namun aku curiga ketika aku menanyakan alasanya namun si panuragan itu maksudku Ayunda NYI Endang Hanya berkata.
"Kau akan tau setelah tiba di keraton".
Dan inilah rencananya dasar manusia licik untung ganteng kalo kaga udah aku tendang jauh jauh,tapi kaga berani juga sih sebelum aku tendang maka aku akan bertemu dengan malaikat maut dulu.
"Sudahlah aku hanya meminta beberapa makananmu".
"Terserah".
......
Saat ini aku sudah berdiri didepan gerbang utama keraton tidak terlalu besar seperti kerajaan yang pernah aku lihat di drama drama.
Hanya sebuah undukan batu-bata merah yang disusun Zigaz,dan ukiran yang cukup indah namun sederhana,dari sini aku belum bisa melihat istana Keratonnya.
Aku dan ayundaku NYI Endang berhenti sejenak saat seorang prajurit istana menghalangi jalan kami namun aku memincingkan mataku ketika sang prajurit terus menatap yundaku, dasar laki laki liat yang bening aja udah melotot aja, inget bini bang di rumah.
"Parapunten atuh Aa,kunaon atuh,kok jalan kita diberhentikan".
"Apa tujuan kalian datang kemari"aku mencebikan bibirku sudah tau aku datang kemari untuk berdagang Kenapa harus ditanya lagi sih.
"Saya dan adik saya sati, ingin berdagang tuan"aku rasanya mual ketika si prajurit tiba tiba tersenyum lembut ke arah yundaku dasar buaya, giliran aku mukanya kek mau kebelet kawin ae.
"Apa kau sudah membuat janji dengan Gusti prabu"yundaku menggeleng dan menyodorkan keranjang yang berisi mie instan,sarden,jus jambu, Cimory,ya Allah rugi aku si sini,tombok Mulu perasaan.
"Aku membawa beberapa jenis makanan dari negeriku tuan"dia melihat dan memeriksa dibantu teman-temannya namun sepertinya prajurit itu terlihat kebingungan.
"Ini makanan jenis apa,apa ini beracun"aku tertawa dalam hati,ya kali makanan beracun dibawa ke kerajaan emangnya aku punya nyawa sepuluh.
"Boleh kau ijinkan kami bertemu dengan Gusti prabu,jika berkenan".
Sudah lebih dari satu jam aku berdiri di depan gerbang ini, katanya sebentar ko malah seabad,dan lihatlah si panuragan itu hanya berdiri dengan anggunnya dengan senyumannya.
"Permisi tuan,apa kau lupa membawa seorang gadis lemah bersamamu,aku tau kakiku terasa ingin patah sekarang"aku menyondongkan kepalaku kedepan mukaku namun bukan jawaban yang aku terima namun sebuah telapak tangan yang mendarat di bibirku.
"Kau bisa diam,kau akan menggalakkan rencana kita".
Emang jika bertanya bisa menggagalkan rencana,kurasa tidak.
Kini aku dan yundaku sedang berlutut didepan seorang laki laki yang sama miripnya seperti mimpi waktu itu,ah mungkin itu rajanya.
"Mohon ampun Baginda,saya NYI Endang darma dan dia adiku sati kami seorang pengembara dari negeri seberang,kami disini ingin berdagang jika Baginda Gusti prabu mengizinkan hama mohon izin berdagang di daerah kekuasaan Gusti prabu"aku hanya ikut main aja, sebenarnya aku gak ngerti tentang tata Krama dikeraton.
"Dari negeri manakah dirimu berasal, seorang gadis cantik sepertimu ku kira kau berasal dari kasta kesatria"NYI Endang tersenyum simpul dan hal itu membuat sang raja terjatuh dalam pesonanya.
"Hamba memang tidak terlahir dari rahim seorang bangsawan,namun dengan segenap hati hamba,hamba merelakan diri hamba untuk negeri ini"aku hanya bertepuk tangan dalam diam bagus juga.
"Bagaimana jika kau bekerja di keraton sebagai pelayan pribadiku"ucap sang raja yang tersenyum ke arah NYI Endang,buset ko aku jadi fuguran ye.
"Itu sebuah kehormatan bagi hamba Gusti,namun bagaimana dengan adik hamba"raja itu Tersenyum dan beralih menatap ku.
"Kau,biar dia menjadi pelayan di pendopo timur,akan ku pastikan adikmu hidup dengan baik".
Kami pamit undur diri dengan membawa keranjang yang tadi,kok melenceng dari rencana.
"Apa kau merasa jika ini melenceng dari rencana semula"dia meliriku.
"Tidak apa,tapi niat awal kita berhasil walaupun dengan cara yang berbeda"dia tersenyum aku hanya bisa pasrah dan pasrah.
"Kau dan aku akan terpisah mulai saat ini"dia menghentikan langkahnya"datanglah setelah matahari terbenam di taman timur aku akan menunggumu disana dan sebisa mungkin saat itu kita saling memberikan informasi"aku menghela nafasku berat,apa aku bisa kali ini hidup sendiri tanpa panuragan dan bersosialisasi dengan orang orang di Dunia ini, entahlah,mari kita jalani saja.
"Kau wanita dirumah bordil itu kan"
"Mampus kenapa tuh orang ada di sini sih gawat"
"Apa kau berbicara sesuatu"
"Ah tidak"
Combek bebeh,,,,maaf part pendek tapi gak papa dah ....
Gue lagi lemes nih ceritanya butuh semangat dari kualian ya elah ngode nih beauty,,kaga ngapa dah..
Moga suka ye ma cerita nya,,,
Tau ah bebel dah otak gue....
Dari pada banyak bicit yang kagak jelas masih mending sodakoh bintang dah ah...
Lupain sama perbicitan....mari kita nunggu
Next post
Capcus......