
LORO ING ATI
Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah.
.........
Menyapa dengan cinta namun pamit dengan luka.
Kini aku sedang duduk setengah berujud didepan seorang wanita yang cantik dapat kulihat dia sepertinya ibu dari ratu negri ini atau sebagainya entahlah, sejak sekitar tiga puluh menit yang lalu aku berpisah dengan panuragan yang pergi ke istana pusat sedangkan aku berada di istana timur tidak apa apa ini sudah resiko.
Namun ku kira tugasku sebagai dayang hanya bersih bersih atau setidaknya mengantarkan makanan namun itu salah seperti sekarang aku di suruh untuk duduk diam didepannya tanpa melakukan apapun, sejujurnya ini tidak apa apa namun bukankah bosan jika hanya duduk dengan kepala tertunduk tanpa melakukan apapun dan sepertinya kakiku akan segera lumpuh karena menahan keram di kedua kakiku, ayolah jika alam menghukumku tidakah masih ada cara yang lebih manusiawi.
Aku sedikit mendongakan kepalaku untuk mengintip sedang apa manusia cantik yang kini sedang memakan daun sirih dan apu putih entahlah ini dinamakan apa jika di daerah kalian.
"Ampun Gusti,jika hamba lancang, apakah setidaknya hamba membantu para dayang lainya"aku menggigit bibirku ini gila benar benar gila, bagaimana tidak jika aku salah berbicara bisa bisa kepalaku akan segera berpisah dengan tubuhku.
Dapat kurasakan lemparan daun sirih yang kini tergeletak didepanku, apakah ini adab di sebuah kerajaan, sungguh tidak beretika.
"Lancang sekali mulutmu,kau hanya seorang budak di sini maka turuti semua yang tuanmu perintah"apa sungguh tadi dia bilang'budak',hello Miss apa aku tidak salah dengar aku hanya seorang dayang dan bukan budak.
"Maafkan hamba Gusti"aku lebih dalam menundukkan kepalaku.
"Pergi dari ruanganku"aku dengan melangkah mundur dengan masih posisi mirip seperti berjongkok,aku mengutuk wanita yang ada didepanku dimana panuragan, bukankah dia yang membawaku ke tempat seperti ini.
Dilain tempat NYI Endang sedang menuangkan segelas teh dengan senyumannya"apa yang sedang Gusti prabu pikiran apakah terjadi keresahan"ucap NYI Endang,namun sang raja hanya terdiam tanpa melirik NYI Endang sekalipun.
"Maafkan atas kelancangan hamba"dengan segera NYI Endang berlutut meminta ampun.
'jika bukan demi tanah Indramayu tak akan Sudi aku berlutut didepan musuh terbesarku'
"Tentu tidak,aku hanya berpikir sesuatu yang bahkan aku tidak tau harus berbuat apa tentang pikiranku"NYI Endang, memberikan segelas teh hangat kepada Prabu Geusan Ulun adji putih.
Dengan senang hati Prabu Geusan Ulun adji putih menerima secangkir teh dari NYI Endang"terimakasih nyai,dan diangguki NYI Endang.
"Apa kau sudah memiliki kekasih hati dalam hidupmu"ucap prabu geusan Ulun adji putih sembari menengguk tehnya.
"Ampun Gusti prabu, belum ada seseorang yang ada di hati hamba"
"Itu bagus"
"Maksudnya "
"Ah tidak"
'rencana kedua telah berhasil'
....
Ditengah pasar seorang laki laki tampan sedang bertarung dengan seorang bandit pasar, dengan kelihaiannya satu persatu bandit itu berhasil dikalahkan"jika Hanya memiliki kemampuan seperti latihan anak anak, lebih baik kau pulang dan carilah uang yang halal untuk anak istrimu".
Dia Raden Ranggatunggal bisa dibilang anak dari seorang selir, wajahnya yang tampan namaun mematikan,tak banyak dipungkiri Walaupun terlahir dari rahim seorang selir namun banyak putri raja yang dengan suka rela menyerahkan putrinya ke pelukan sang Raden bukan tanpa alasan, tentu karena ketekunan dan kecerdasan yang dimilikinya, wajah yang tampan, pintar,dan bijaksana bukankah itu yang didambakan para calon mertua.
Dengan senyumannya Raden Ranggatunggal menaiki kudanya tujuannya adalah menemui sang ibu yang sudah lama tak dijumpainya,rasa rindu sudah tak terbendung lagi namun sebuah tugas harus menahan kerinduan itu dan sekarang waktunya telah tiba.
Raden Ranggatunggal turun dari kudanya dan diserahkan kepada prajurit yang telah sigap di sisinya"apa kau melihat ibuku"
"Ampun Raden,hamba tidak melihat yang Gusti ibu"Raden Ranggatunggal tersenyum dan menepuk pundak prajurit itu.
Sebuah bangunan yang tak cukup besar dan tak terlalu banyak penjagaan, Raden Ranggatunggal berjalan menaiki undakan tangga dengan sesekali menyapa para pelayan yang hendak hilir mudik keluar maupun masuk kendalem.
Namun saat Raden Ranggatunggal Hendak membuka pintu kamar ibunya, seorang gadis menabrak tubuhnya sehingga tubuh Gadis itu hampir terhuyung ke belakang dan mungkin terjatuh namun dengan sigap Raden Ranggatunggal memegang tangan Gadis itu.
"Ma-maaf,hamba tidak sengaja"Raden Ranggatunggal menyeringitkan dahinya, sepertinya dirinya baru melihat pelayanan ini walaupun tidak terlihat wajahnya karena gadis didepannya terus menunduk.
"Tidak apa-apa nyai, lebih baik kau bereskan pecahan kendi itu,dan jika hamba boleh tau apa nyai merup--".
"Aww"gadis itu yang merupakan Laras atau sati meringis ketika pecahan kendi itu menggores tangannya, dengan refleks Raden Ranggatunggal menarik tangan Larasati dan menghisap ditepat dimana luka yang kini mengeluarkan darah,dan Larasati meringis sepontan menarik tangannya dan menatap siapa yang dengan lancangnya memegang tangannya dan saat itu juga Raden Ranggatunggal juga sedang menatap Larasati
"Kau wanita dirumah bordil itu kan"
"Mampus kenapa tuh orang ada di sini sih gawat"batin Larasati.
"Apa kau berbicara sesuatu"
"Ah tidak"dengan buru buru Larasati mengemasi pecahan kendi itu walaupun dengan tangan yang berdarah karena beberapa kali tergores oleh pecah kendi itu,namun bukan itu masalahnya tapi laki laki yang ada didepannya, disini dirinya sedang menyamar dan panuragan kini lelaki itu telah menjelma menjadi seorang gadis dan saat Larasati berjumpa dengan Raden Ranggatunggal bersama panuragan bukan NYI Endang.
"Kau terluka,biar pelayan lain yang membersihkannya,ikut aku untuk membersihkan lukanya"Raden Ranggatunggal Hendak menggapai lengan Larasati namun Larasati menolak dan berkata"tidak usah Raden hamba akan mengobati luka ini nanti".
"Tidak, luka ini juga terjadi karena diriku dan dari itu aku yang berhak mengobati"
"Tap--".
"Ini perintah dari seorang pangeran".
"Sudah kubilang Jangan lakukan apapun"
"Aku seorang pelayan tentu harus mematuhi sang tuan"
"Seharusnya kau perduli dengan dirimu"
"Apa Barusan kau menghawatirkan diriku"
Holaaa sayang,,,, ceilah sayang sayang kek crocodile aje gue,,, kagak dah tujuan gue di sini mau menyapa kalian nih ye kurang Baek apa coba gue.....
Pasti kalian ngomong gini,,,"nih author kok binyik bicit ye"
Kaga ngapa gue mah dah, ikhlas Rido suka suka kalian aje dah,,,
Bebeh hari ini gue update nih tapi part ini paling pendek dari part lainya kalian kaga ngapa kan,maafken aye,,,
Gue sempet sempetin bikin nih cerita di tengah tengah kesibukan gue yang lagi PKL demi kalian tercinta Alaya bener dah gue (baru nyadar).
Gue mah cukup doa biar sehat sehat terus biar bisa endingin nih cerita dah...
Hilih banyak bicit mari kita markicob next post....
Jan lupa sodakoh bintang...
Gys Jan lupa sholat...
Lope yu dahhh muachh