Leloro Neng Ati

Leloro Neng Ati
penyamaran panuragan dan kebimbangan Larasati



LORO ING ATI


Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah.


..........


Sudah lebih dari dua hari panuragan telah angkat ke pertapaannya,dan sejak saat itu aku hanya berdiam diri bermodal harapan semoga panuragan cepat datang dengan wujud wanitanya, ini sungguh menyiksa hidup sendiri ditengah tengah hiruk piuk ramainya desa.


Selama dua hari ini aku mulai berfikir apakah cara ini benar, sebelumnya aku tidak terpikirkan untuk ikut campur dalam urusan dunia ini,dan tentunya tidak ingin merubah sejarah,namun aku teringat dengan ucapku saat berbicara dengan neneku malam itu,jika panuragan melakukan rencananya akan ada Peperangan besar dan perpecahan wilayah.


Aku membaringkan tubuhku di atas tikar bambu aku hanya melihat bayangaku sendiri hanya ada obor sebagai temanku selama ini, takut tentu aku rasakan,namun jika aku kabur,maka jauh lebih menakutkan dari gelapnya malam ini.


Beginikah rasanya hidup dalam kesendirian dan ditemani kegelapan,aku merasakan ketenangan namun bersama ketakutan yang lebih  nyata,aku merasakan jika kini aku benar-benar kecil di sini,kecil berarti aku tak bisa hidup tanpa adanya orang lain.


Dengan bangganya dulu aku pernah berkata jika aku bisa sukses tanpa bantuan siapapun dan bisa hidup di luaran sana dengan tanpa mengandalkan orang lain, Ternyata aku salah, hidup terasingkan dan sendiri bukanlah pilihan yang baik.


Aku mengambil tasku dan aku menemukan handphone yang baru aku sadari jika aku membawa benda ini kedunia ini,aku mengambilnya dan membukanya,tidak ada sinyal dan perjalanan jam terhenti berfungsi,aku menghela nafasku berat sampai kapan dirinya akan hidup terlantar di sini.


"Bukan waktunya untuk membuang waktumu anakku,kau disini tentunya memiliki tujuan, datanglah saat bulan purnama tiba ketempat yang sama seperti tusuk konde itu"


Aku terlonjak kaget ketika suara bagaikan bisikan terdengar menggema di telingaku, ayolah bukankah itu menyeramkan dengan keadaan gelap hanya disinari oleh obor disudut ruangan tiba tiba suara yang entah asalnya tiba datang.


Aku mengeratkan tanganku yang entah sejak kapan sudah meremas ujung jariku,oh ibuk tolong Laras, rasanya aku ingin menangis sekarang,mana panuragan tidak datang datang.


Sebuah cahaya putih muncul dan melahap tubuhku.


Aku membuka mataku perlahan, sinar itu perlahan menghilang digantikan oleh hiruk piuk orang orang yang membawa baki berisi makanan dan sepertinya sesajen, bahkan ada yang membawa buah buahan yang ditumpuk meninggi aku menyeringitkan dahiku bingung aku di mana.


"Ndoro putri, Gusti Prabu memanggil ndoro putri"aku mengalihkan pandanganku dan terlihat seorang wanita yang sangat ayu bahkan jika aku seorang lelaki aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.


Namun siapa wanita cantik itu.


"Pergilah,aku akan menyusul dengan adikku Larasati"ucap wanita cantik itu dengan senyumannya yang dapat membius siapapun,namun tunggu tadi dia memanggil namaku.


Dapat aku lihat seorang wanita paruh baya yang kutebak adalah dayang di keraton ini,dan saat aku melihat wanita itu dia sudah tidak ada ditempat semula,aku langkahkan kakiku menelusuri setiap sudut keraton entah keraton mana ini.


"Sati, sebaiknya kau pergi dari keraton,sudah ku siapkan kuda dibelakang keraton, pergilah kearah timur dari sini, berlari lah sejauh mungkin, setelah urusanku selesai disini aku akan menyusulmu"aku mengehentikan langkahku ketika suara lembut itu terdengar seperti menekankan sesuatu,aku sedikit mengintip dibalik tirai jendela yang sedikit terbuka, wanita yang tadi berbicara dengan dayang.


"Kang mas panuragan, bisakah aku ikut bersamamu"aku menyeringitkan dahiku,itu oh itu adalah aku,wait ini sebenarnya apa sih ko bingung.


"Tidak sati,kang mas janji akan menyusulmu pergilah disana sudah ada kang mas Ranggatunggal"dapat aku lihat orang yang mirip denganku menggeleng kuat dengan Air Mata yang sudah berderai, kenapa?.


"Aku akan berjuang disini bersamamu"


"Pergilah"


"Kang mas"


Perpisahan yang menyedihkan namun apakah itu adalah...


Brakk


Wajahnya yang memerah menahan amarah, dengan satu hentakan wanita cantik itu telah terbanting,gila mental itu woy.


Entah mataku yang katarak atau gimana tiba tiba wanita cantik itu berubah menjadi laki laki yang aku kenali panuragan ya itu penuraggan, sedang apa dia,dan itu aku.


"Dasar penipu, Manusia licik"dengan lihainya pria bermahkota itu menghulu pedang namun ada seseorang yang  menahan hunusan pedang itu.


"Satiiiiii!!!"


Aku tersentak ketika sebuah tepukan mendarat di pipiku, dapat aku lihat seorang wanita berparas ayu oh tidak dia wanita yang sama seperti tadi,dia,dia panuragan ya dia panuragan dengan gemetar aku meraih wajahnya.


"Pa-panuraggan"dia tersenyum namun bukan senyum yang biasa aku lihat dia benar benar seperti seorang wanita.


"Ada apa denganmu"aku memejamkan mataku,bukan suara berat dan parau yang kudengar hanya suara lembut dan halus yang ku dengar.


Aku menggeleng"apa kau bersungguh sungguh dengan rencanamu".


Dia duduk dengan anggunnya aku sampai menelan ludahku berat betapa cantiknya dan sempurnanya manusia dihadapannya ini.


"Jika aku sudah sampai disini,lalu apa yang harus ku lakukan sati"aku menggigit bibirku panggilan itu begitu menyakitkan ketika terbayang dengan kejadian seperti mimpi tadi airamata dan ah sudahlah.


"Ku harap kau berhenti,dan menggagalkan rencanamu itu"sungguh seperti ada sebuah firasat sangat besar tentang rencana ini yang akan berdampak buruk aku berdoa semoga itu hanyalah sebuah firasat belaka.


"Apa kau meragukan hal ini, walaupun musuh didepan mata"aku menggeleng bukan itu maksudku.


"Aku hanya merasa jika ini salah"dia tertawa,dan menatapku,heii sadarlah Laras dia sekarang wanita Jangan gila.


"Itu hanya perasaanmu saja sati"aku menggauk,namun sedikit kesal kenapa dia tidak menanyakan alasanku bertidak seperti ini.


"Ya itu hanya perasaanku saja,dan kau tidak usah perduli dengan itu".


"Besok kita akan pergi ke keraton"


"Kau gila panuragan"


"Panggil aku NYI Endang darma atau NYI ingat itu"aku memutar bola mataku malas dan merebahkan tubuhku membelakanginya.


"Tadi kau bermimpi apa sehingga kau menitikkan air mata"aku sedikit meliriknya dan kembali memejamkan mataku.


"Apa kau perduli tentang itu"dapat kulihat dia pergi entah kemana, dasar menyebalkan bahkan versi wanitanya lebih menyebalkan dari pada versi laki laki nya.


Assalamualaikum gys aku up nih ,tapi part nya agak pendek gak papa ya gys,


Gue lagi males ngibicit nih jadi sudahi sampai sini.


Salam kangen dari author ye...


Next post


Capcus aje,,,,,,,,