Leloro Neng Ati

Leloro Neng Ati
panuragan



LORO ING ATI


Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah buatan manusia.


.........


Aku melangkahkan kakiku untuk memasuki rumah tetanggaku bercanda rumahku kawan ya kali masuk ke rumah tetangga.


Namun sebelum aku menegang kenop pintu sebuah cahaya putih berhasil melahap habis tubuhku,aku memejamkan mataku karena tak mampu menahan kuatnya cahaya itu.


Aku perlahan membuka mataku saat dirasa sinar cahaya itu mulai tak terlalu terang seperti tadi saat pertama kali aku membuka mata,burem gys yang pertama kali aku lihat ya kali langsung tiba terkejut gitu kaga epik.


Aku sedikit mengucak mataku saat pandangan ku mulai normal aku melebarkan mataku edan pikirku.


"Astagfirullah,gue dimana Maimunah"aku menatap sekeliling ku yang bukanlah rumah atau ruang tamu yang ku lihat hanya ada pepohonan dan pegunungan yang sangat indah dipandang,namun aku di mana ya kali aku bermimpi saat aku tidak tertidur aku melirik kantong kresek yang masih aku pegang dan bajuku juga tidak berubah masih menggunakan baju sekolah.


Arghhh


Apaan tuh ya kali ada singa yang suaranya kek curut kejepit"assalamualaikum ya ahli kubur"Laras Tertawa sendiri mendengar ucapannya,gila emang nih anak dan sarap.


"Ya Allah salam gue kaga di jawab dosa Lo penghuni hutan, waalaikumsalam".


Arghhh


Alamak saja eta ya Allah meni keus kieu pisan,aku menengok ke kanan dan ke kiri tadak ada siapapun yang Allah udah mah kaga ada siapapun.


"Punten atuh,Aa kasep Jeung teteh geulis Jangan gangguin saya atuh,saya masih kecil daging saya gak enak"ya Allah Napa malah promosi sih.


Arghhh


Kali ini suaranya lebih kencang Laras meneliti suara itu lagi namun ini bukan geraman suara hewan buas melainkan suara manusia.


Aku meneliti kembali suara itu kali ini aku yakin kalo suara ini adalah suara manusia dan suara itu aku yakini berasal dari balik semak belukar yang tak jauh dari aku berdiri dengan susah payah aku membawa barang belanjaan milikku dan berjalan ke arah semak belukar.


Ko deg degan sih,kalo bukan manusia gimana nih nasib Laras ya Allah lindungilah hamba.


Laras mengambil patahan ranting yang tergeletak untuk menyibak semak semak tersebut dengan perlahan namun pasti kek harapan jadinya ya.


Aku mengintip sedikit dari samping sebuah tangan yang bergetar hebat yang menjadi objek pertama aku lihat"eh saha iyeu".


Aku sekarang menaruh barang belanjaan yang riweh ini ke tanah dan menyibak semak semak yang tinggi nya hampir setinggi badanku.


"Widihhhh, eh astagfirullah mayit siapa ente"aku memundurkan langkahku kebelakang saat kulihat badan seseorang lelaki dengan tubuh kekar yang bertelanjang dada yang sedang tengkurap.


Namun langkahku terhenti ketika suara parau itu mengucapkan sesuatu"to-tolong".


Serem Njir,kalo dia penjahat dan nanti aku di culik aing teh kudu kumaha.


"To-tolong"aduh ko gue berubah jadi baik gini ya.


"Tolong,kagak, tolong,kagak, tolong, kagak, tolong"aku menghitung kancing bajuku dan itulah hasilnya.


Si Laras mau nolongin orang aja meni riweh ih, keburu meninggal gimana.


"Tolong aja deh"aku berjalan mendekati lelaki yang entah siapa ini,aku menyentuh pundak lelaki itu namun seperti ada sengatan listrik yang mengenai tubuhku,aku sedikit memundurkan tubuhku.


"Permisi tuan,maaf apa anda baik baik saja"pake nanya lagi nih mulut udah liat tuh orang sedang sakarat masih di tanya lagi.


"To-tolong"


Aku kembali m menyentuh pundaknya dan menahan sengatan listrik yang tak terlalu kuat itu perlahan aku membalikkan tubuhnya dan ternyata.


"Ya Allah Om kenapa Om ada di sini,mana kaga pake baju lagi aurat om ya Gusti"aku langsung memapah tubuhnya ke atas pahaku maksudnya kepalanya doang ya kali tubuh Segede gaban gue bisa nampungnya.


"Teri-makasih"perasaan gue belum ngapa ngapain dah terimakasih aja nih Om ganteng.


"Ya elah kaga ngapa Om"aku celingak-celinguk mencari sesuatu untuk membebat luka di dada kirinya yang terdapat luka basah yang bahkan belum mengering,mana gue bukan anak PMR lagi.


Aku menggapai kantong belanjaan milikku yang seingatku aku membeli beberapa alat kesehatan untuk di rumah,ada gunanya nih barang.


Aku mengambil kain kasa dan membebatnya menyilang dari dada ke arah punggung pokoknya kek gitu lah kaga paham ngomongnya gimana.


Aku mengambil botol aqua padahal mereknya v*t, namanya juga manusia ya khilaf aku gys.


Aku menyuruhnya untuk sedikit mengangkat kepalanya untuk meminum air yang aku sediakan dengan patuhnya dia langsung mengangkat tubuhnya aku meringis ketika sesekali Om ganteng meringis kesakitan.


"Om Kenapa bisa dapet luka kaya gini"


"Om?"aku mengangguk dan menatap Om ganteng yang kini memejamkan matanya sambil perlahan membaringkan kepalanya diatas pahaku,kan keenakan tuh anak.


"Apa itu Om"


"What the f**nk"nih orang ko bego sih masa kaga tau.


"Jadi gini Om itu semacam sebutan untuk lelaki yang udah tua "dia mengangguk dan membuka matanya.


"Apa aku setua itu"aku langsung menggeleng cepat mana ada tua keriput pun tidak berani bersinggah dikulit maskulin itu,ya Allah berdosa sekali aku ini.


"Enggak ko"


"Terus kenapa engkau memanggilku dengan sebutan Om tadi"aku menganggukkan kepalaku dan menatapnya.


"Saya juga bingung"lah kenapa gue bingung ngelag nih otak.


...


"Kenapa kau berada di tengah hutan sendirian nyiksana"aku menaruh tasku di salah satu bebatuan dengan panuragan ya tadi aku sempat berkenalan dan aku juga baru tau kalo aku kini berada di dimensi waktu yang berbeda mungkin pada abad ke 16 san, dramatis sekali hidup hidup ini.


"Entahlah,aku juga tidak tahu"dia menatapku dengan tatapan menyelidik,aku membalas tatapannya enak aja menatapku seolah-olah ingin menelanjangiku.


"Kenapa"tanyaku ngegas ya dong gak terima kalo ada lelaki memandangiku dengan tatapan menjijikkan seperti itu.


"Kau dari negeri mana"tanya panuragan aku menatap kosong kearah langit yang kini telah berwarna oranye mungkin sebentar lagi akan malam.


"Kau tau lautan"dia mengangguk dan menaiki bebatuan yang sangat besar yang berada tak jauh dari tempatku duduk.


"Kau tau samudra"dia kembali mengangguk dan kini menatapku.


"Jadi intinya kau dari negeri mana"


Aku mendengus tidak sabaran sekali ini dude"sabar atuh meni keus arek ki'ih buru buru terus"dia menyeringitkan dahinya.


"Kau dari tanah Sunda"aku mengangguk dia yang awalnya duduk kini telah berdiri dengan tatapan waspadanya,nih orang kenapa.


"Apa kau orang dari kerajaan Sumedang larang"aku memiringkan kepalaku aku bukan orang Sumedang.


"Bukan,hei kenapa kau jadi sepanik itu"dia kembali duduk namun tatapannya kini kian menajam.


"Dari mana tempat kamu berasal,pakaimu yang aneh dan cara bicaramu yang sepertinya bukan dari negeri ini"


Aku menatapnya"kau tau sebuah negara dengan penduduk terbanyak ke 4 di dunia dan memiliki pulau yang banyak disana aku berasal"dia memejamkan matanya lagi,aduh Kenapa aku salah Mulu sih.


"Kau jangan membodohi aku nyiksana".


"Apa aku terlihat sedang membodohi mu tidak kan"


"Aku berasal dari dunia yang jauh dari sini, bahkan disana aku pernah bertemu seseorang yang mirip denganmu"aku menghela nafas panjang kesal juga lama lama.


Dia meraih kantong belanjaan ku,dan berjalan meninggalkanku yang kini terbirit-birit mengejar langkah panjang geblek emang.


"Ya Allah, tunggu apa mana gue boncel lagi,eh malah ngatain diri sendiri".


"Sebentar lagi akan malam sebaiknya kita mencari tempat untuk bersinggah".


Aku berhasil menyusul langkanya dengan nafas yang memburu eth dah mau modar gue.


"Kita akan kemana"


"Entah mungkin malam ini kita malam ini bermalam beralasan dedaunan,apa kau tidak masalah"aku senyam senyum gimana ya mau keberatan tapi ya kumaha geus lah jalani aja.


"Gak papa neng mah hayu ae asal.ada om ganteng".


"Apa itu ganteng?".


Aku menggeplak kepalaku dan berjalan mendahului panuragan menyebalkan memang.


"Apa kau marah"aku mengabaikan pertanyaannya.


"Apa kau marah karena aku tak mengerti apa yang kau katakan"dia mencekal lengan ku,ih nyebelin bisa gak sih diem aja .


"Enggak ko aku cuma mau cepet tidur"dia mengangguk dan m nyeretku ke arah semak semak yang tidak terlalu tinggi dan sedikit bagus buat tidur.


"Apa kau lelah"aku mengangguk dia menaruh kantong belanjaan ku,dan dia membabat semah itu dan menumpuk potongan semak semak itu menjadi sebuah kasur pinter juga nih Om.


"Terimakasih"dia menggauk.


Wes wes, lanjut apa enggak nih, maklum ye ceritanya agak mabrul adul, nikmati dan syukuri apa yang ada ye..


Yokkk lah capcus aje


Next post....


Muachh


Kecup manis dari author.