
Loro Ning ati
Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah buatan manusia.
.........
Pada abad ke 16 seorang laki laki sakit mandraguna hidup terombang ambing dalam pengembaraan,kini sang panuragan siapakah dia?.
Dia adalah seorang pendiri kedua Indramayu yang sering kali namanya di sandingkan dengan Raden Arya wilalodra yaitu nyi Endang darma.
Perjalanannya menuju tanah Sumedang larang akan dimulai merebut sebagian wilayah dengan taktik cerdiknya.
Panuragan berjalan menuju sebuah lereng bukit diujung perbatasan antara tanah Cimanuk, menatap hamparan rerumputan hijau yang tak mampu menutupi segala gegundahanya, entah sudah bertahun tahun lamanya panuragan mengembara dalam kesenian namun baru kali ini dirinya merasa tak memiliki siapapun.
Setelah selesainya urusannya ditanah Cimanuk dan pergi meninggalkan Raden Arya wilalodra di sana, dengan segudang rahasia yang dapat terkuak oleh sejarah,kini langkanya membawanya ke tanah Sumedang yang pada masa itu masih di pimpin oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih.
"Masih membekas luka lama yang masih basah, kerinduanku akan kasih sayang membuatku buta akan nikmatnya dunia,samapai kapan sebuah luka ini hanya mengering tanpa ada yang mengobati"panuragan mengubah wujudnya yang sebelumnya menjadi sosok wanita cantik bagaikan seorang Dewi,dan sekarang berubah menjadi lelaki perkasa yang sekujur tubuhnya dipenuhi dengan goresan luka yang belum mengering.
Awan yang semula cerah kini berganti menjadi hitam ke abu abuan,angin kencang seolah-olah ingin menyingkirkan siapapun yang berani menghalangi jalannya,petir mengkilat saling menyahut, panuragan yang bingung akan perubahan alam semesta mengangkat kepalanya ke arah langit dan saat itu sebuah cahaya putih muncul dengan munculnya sebuah bayangan seorang.
"Semua tindakan pasti ada balasan,semua dosa pasti ada penebusnya, sebuah kesalahan pasti ada resikonya"suara menggelegar disemua penjuru negeri panuragan memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kau, panuragan kau sudah menentang hukum alam yang ada,kau merubah wujudmu menyerupai perempuan dan merayu banyak pria,kau menyebabkan banyaknya peperangan dan pertumpahan darah, banyak kesatria dan orang berkuasa mati ditangan mu"suara itu kembali terdengar namun kali ini lebih tegas, panuragan bersujud lalu bersimpuh diatas tanah dengan memegenag dadanya.
"Biar ini yang akan menjadi penebusan atas semua dosamu wahai anakku,akan ku kirimkan kau ke Sumedang larang carilah Pring ayu,atas kelancanganmu yang merubah wujudmu menyerupai perempuan kau akan mendapatkan sebuah kutukan bila kau menggunakan ilmu perubahan wujudmu tanpa alasan khusus maka lenyaplah segala kesaktiamu anakku"petir menyambar kuat dengan kilat yang menyakitkan mata panuragan terpental entah kemana dan setelah itu alam pun kembali seperti semula.
Di waktu yang berbeda Laras mendengus kesal saat melihat kertas HVS ukuran A4 itu menunjukkan nilai UTS matematikanya yang benar saja hanya angka 77 yang tertera di sana bukankah satu angka lagi sudah tidak akan membuatnya mengulang ulangan atau remedial, nilai sialan kenapa selalu begitu salahkan otaknya yang tidak sekali bersahabat dengan angka angka itu,namun salahkan juga Laras yang tak pernah belajar.
"Mati aku,gimana aku bilang ke ibu sama bapak,mau minta bantuan nenek gak mungkin"Laras Mengacak rambutnya frustasi, sudahlah bukankah ini resiko orang yang malas belajar.
"Ras,ini tusuk kode siapa,widihhhh gila gila antik bener"Laras menengok ke arah sampingnya dan melotot melihat arina menegang tusuk konde pemberian nenek,aduh Laras mengingat pesan neneknya semalam, Laras langsung merebut kembali tusuk konde itu dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Itu punya nenek aku,dan gak usah kepo"Arina mencebikakan bibirnya kesal dan menatap Laras curiga.
"Ras,Lo bakal lanjut ke universitas mana"tanya Arina yang kini menyandarkan kepalanya di atas meja.
Laras mengedikan bahunya acuh dan sesaat kemudian Laras mendapatkan geplakan dari Arina"Lo mah gak pernah serius kalo masalah pendidik".
Laras mendelik tak terima,enak aja kalo Laras gak pernah serius sama pendidikan buat apa saat ini masih duduk manis di dalam kelas.
"Aku tuh bukanya gak serius Rin,cuma emang bawaannya kaya gini gak bisa berbaur sama mata pelajaran aja".
Bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran hari ini telah berakhir, Laras langsung mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan Arina yang kini masih sibuk memakai sepatunya.
"Njir,Ras tungguin ngapa"Laras acuh tak acuh mendengar jeritan arina dan lanjut berjalan menuju gerbang kemerdekaan.
Laras menghentikan langkahnya ketika handphonenya bergetar,dan saat melihat siapa yang menelponnya ternyata si ibu ratu siapa lagi kalau buka ibunya.
"Halo Bu"
"..."
"Gak mau ah"
"...."
"..."
"Iya,dahh"
Laras memesan ojek online sebelum memesan Laras berdoa semoga Babang ojolnya dapet yang tamvan"ya elah ribet amat nih hidup mau naik gojek aja mesti berdoa".
Tak lama Babang ojolnya Dateng namun sepertinya doa Laras tidak terkabulkan saat yang datang bukanlah Babang ojol tamvan namu Babang om om gak papa yang penting pulang dengan selamat.
Laras sudah sampai di depan minimarket dekat rumahnya tadi memang sengaja ojolnya Laras turunkan di minimarket biar sekalian dan biar saat pulang Laras jalan kaki aja.
Laras mencincing hasil belanjanya,Laras kira ibunya memesan tidak terlalu banyak ternyata ini seperti belanja bulanan lihatlah tiga Kantong kresek yang cukup besar dengan susah payah Laras bawa untuk keluar dari minimarket,saat Laras sibuk dengan kantong belanjanya seseorang menabraknya sehingga mau tak mau Laras jatuh terjerembab kebelakang dengan kantong belanjanya yang jatuh menimpanya.
Sebuah tangan kekar terulur didepan Laras yang kini sibuk menatap belanjaannya yang berserakan"ih om kalo jalan liat liat dong,kan jadi tumpah"sewot Laras dan merapihkan belanjaannya, seseorang itu yang uluran tangannya tidak dibalas malah ikut berjongkok didepan Laras dan membantu memunguti belanjaan milik Laras.
"Kamu panggilan daya Om?"ucap pria yang kini sedang memunguti senack milik Laras.
Laras mengangguk dan merebut Snacknya dari tangan pria itu"seharusnya om tuh tanggung jawab dan minta maaf kek"omel Laras,laki laki yang sudah berhenti memunguti belanjaan Laras mengangkat kedua alisnya bukankah tadi dirinya berniat membantu pemudi di depannya namun dia sendiri yang melarangnya.
"Tadi saya sudah mbantu anda,tapi anda yang melarang saya"ucap pria itu mengambil kantong belanjaan milik Laras yang sudah rapih.
"Oh ya lupa"ucap Laras tanpa dosa,lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya,ada ada aja kelakuan anak jaman sekarang.
"Ya sudah biar saya antar anda pulang dan maaf tadi sudah menabrak Anda"Laras mengangguk dan berjalan mendahului pria yang kini hanya berdiri diam di belakangnya.
"Loh ko gak jalan,jadi gak sih ngasih tumpangannya, maafnya saya terima".
"Cewek aneh"gumam lelaki itu namun masih terdengar samar-samar di telinga Laras.
"Tadi ngomong apa".
"Enggak"
"Oh iya saya emang baik ko,jadi gak enak nih dipuji sama om ganteng"bisa ae Lo Ras.
Lelaki tadi hanya menggelengkan kepalanya pasrah dengan bocil didepannya ini,Aya Aya wae sih sia teh.
"Eh Om ganteng ngomong ngomong tararengkyu ya udah ngaterin Laras Pulang,dan sori sori nih Om Laras kaga bisa ngajak om ganteng masuk soalnya bapa orangnya gualak bener dah"ucap Laras sambil me gambil kantong belanjaan miliknya dari tangan pria itu.
Sedangkan pria itu hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan perkarangan rumah Laras, sombong amat tuh cowok,sabar Ras Untung ganteng Om nya.
"Ceilah,balgu amat lu Om, Untung aku baek,orang cantik man masa bodo"Laras berlalu hendak membuka pintu rumahnya namun sebuah cahaya putih sangat terang memakan tubuhnya dan akhirnya.
"Widihhhh,eh astagfirullah mayit siapa ente".
Mari kita bertemu di perbacotan no hibah ye,,,
Makin gak jelas kan ceritanya,kalo gue sih bomat,kalo suka ye lanjut kalo gak sreg ya kudu lanjut,kaga becanda keles surem amat hidup kalian,kalo gak sreg yeee gue kaga maksa ye biak kalian suka.
Silakan dengan hormat ane persilakan kalian memilih keputusan masing-masing,alay bet dah.
Next post,,,,,
Capcus