Leloro Neng Ati

Leloro Neng Ati
sang pembunuh ketua pelayan



LORO ING ATI


Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah.


.........


Suara Auman serigala terdengar jelas menusuk telinga,suara itu bukan hanya satu namun saling bersautan, seorang pria dengan belati ditangan kekarnya sebercak darah yang sudah mengering terlihat jelas di beberapa bagian belati berukiran matahari dan singa.


Beberapa kawanan komplotan telah berdiri melingkari sang pemuda itu,satu persatu mata teduh yang kini berganti menjadi mengerikan menatap tajam kearah komplotan.


"Sudah ku bilang jangan lakukan kesalahan apapun"geram sang pria yang memakai pakaian serba hitam.


Mereka yang mendengar suara penuh amarah itu hanya menunduk takut.


Satu anak panah mengenai jantung sang komplotan"itu hukuman untuk yang ceroboh melakukan tugas"


Di lain sisi Larasati tengah berdiri di tengah alun alun kota dengan kedua tangannya yang di pancung,sebuah tuduhan  mengarah padanya.


Falasback on


Di pendopo timur Larasati sedang duduk ditemani dengan burung dara yang memakan biji jagung yang sengaja Larasati taburkan.


Tangannya asik menyulam sesekali Larasati meringis saat jarum sulaman menusuk jari telunjuknya,namun pikirannya kini sedang fokus pada Panuragan,entah sejak kemarin malam,laki laki itu tak ada dalam lingkungan keraton.


Sebuah senyuman terukir dibibir indahnya ketika sulaman terakhir telah terselesaikan,sebuah gambar dengan lukisan singa dan matahari saling bertentangan dan saling mengadu siapa yang paling kuat dan bersinar.


Sura serapan langkah yang saling bertubrukan mengalihkan atensinya.


Dari lorong jalan setapak menuju pendopo timur terlihatlah beberapa prajurit yang menuju kearah Larasati,


Matanya menatap kedatangan sang prajurit,yang sedikit menunduk kearahnya.


"Salam ndoro,kami diperintahkan oleh Gusti prabu geusan Ulun, untuk membawa jenengan ke tengah-tengah alun alun kota"ucap sang prajurit yang berwajah tegas berbadan tegak.


"Ada apakah gerangan Gusti prabu, memerintahkan hamba untuk datang ke alun-alun kota"Larasati menaruh rajutannya.


"Anda ditangkap atas pembunuhan ketua pelayan beberapa waktu lalu"ucap sang prajurit.


"Tangkap dia,dan seret ketengah alun alun kota"dua prajurit mencekal lengan Larasati.


Larasati memberontak, tunggu dirinya tak tau apa apa,bahkan saat kabar pembunuhan ketua pelayan dirinya,sedang berada dengan Raden Ranggatunggal.


Falasback off


Aku menatap lautan manusia didepanku, banyak orang saling berbisik dan ah bahkan ada juga yang dengan lantangnya mencelaku dan memakiku secara terang terangan,gila hukuman apa yang aku terima,bahkan aku tidak tau tentang dunia ini.


Aku menatap seseorang yang duduk disamping sang Gusti prabu geusan Ulun,siapa lagi jika bukan NYI Endang,aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang itu,aku disini mempertaruhkan nyawaku atas perbuatan yang sama sekali tak aku perbuat.


Aku meringis Ketika satu cambukan mendarat di punggungku, rasanya akan remuk saat cambukan lagi dan lagi menyapa punggung ku,bahkan aku sudah merasakan bau anyir dari tubuhku.


Apakah dia akan diam saja ,melihaku seperti ini,ah dia memang brengsek.


"Kami akan bertanya kepada mu nyai siapa yang menyuruhmu melakukan hal sekeji itu"ucap sang Gusti.


Aku rasanya ingin mengutuk pria yang kini duduk dengan angkuhnya.


"Su-sudah,aku katakan bu-bukan a-ku yang membunuhnya"


Prattt


Sial


Oh tuhan sepertinya aku menyerah, apakah ini akhirnya.


....


Beberapa komplotan dengan pakaian serba hitamnya saling berpencar disudut alun alun kota,bahkan ada seseorang yang menyamar menjadi penduduk biasa.


Berbeda dengan seorang pria dengan baju hitam bertopi jerami itu,yang dibalik topeng nya tersemat semirik yang amat mengerikan,kepalan tangannya yang kini menyembulkan beberapa otot tangannya.


Matanya bertemu dengan seorang gadis yang terduduk lemah diatas podium hukuman dengan sesekali merintih kesakitan.


"Tunggu aku Larasati,ini belum berakhir, biarkan semuanya terkuak"


Lelaki itu berjalan menjauh dari kerumunan dan di ikuti tangan kanannya.


"Tuan apa yang akan kita lakukan"


"Bersiap"


Sang tangan kanan itu menganggukan kepalanya dan pergi kearah timur yang di sana terdapat kawanan komplotan.


"Akan ada jiwa yang mati untuk hari ini"


"Kau bekerja dengan bagus "


Aku sedikit terbatuk ketika sang algojo memnendang tubuhku, naiklah jika ini garis takdir nya akan aku terima.


Satu anak panah bertanda singa dan matahari menancap tepat disamping tubuhku,aku diam membeku ketika hampir saja panah itu mengenai kepalanya.


Apakah zaman ini sangat mengerikan.


"Siapa itu, prajurit cari penyusup itu"perintah sang prabu geusan Ulun yang kini berdiri dengan gagahnya,kau hanya diam membeku menatap anak panah di hadapanku,gambar ini mirip dengan rajutan yang aku buat,apakah ini yang membuat ku ah sialan.


Aku hendak meraih anak panah itu namun sialnya satu anak panah itu meleset mengenai samping kiriku,dua kali nyawaku melayang karena dua busur panah.


Lalu munculah beberapa komplotan berpakaian berwarna hitam dari seluruh penjuru,bahkan beberapa warga ada yang terluka namun anehnya panah yang mengenai para rakyat tidak sampai menelan korban,panah itu hanya mengenai kaki ,lengan dan area yang tidak fatal.


Ini bukan motif pemberontakan atau pembunuhan masal,namun konspirasi.


Aku melihat ke arah NYI Endang yang hanya duduk Santai sambil menyesap tehnya, untuk kesekian kalinya aku menganggapnya gila.


Situasi seperti ini masih Santai sambil menyesap secangkir teh ini sungguh luar biasa.


Aku menggelengkan kepalaku ketika rasa pusing menghantam kepalaku,dapat kulihat si NYI Endang ah tidak maksudku panuragan yang mengabur,dan sebelum aku menutup mataku dapat ku lihat NYI Endang itu perlahan lahan menghilang seperti bayangan.


Dan semuanya gelap.


Pertumpahan darah terjadi, pangeran Ranggatunggal Sendari tadi mencari Larasati yang sudah tidak ada diatas podium hukuman,kemana perginya wanita itu,jika kabur Tidka mungkin, karena bahkan tadi dirinya melihat kondisi Larasati yang sangat tidak dibilang baik,dan itu terlihat konyol untuk kabur dengan waktu sekejap mata.


Peperangan tetap terjadi,namun seorang wanita sedang tertidur pulas mungkin lebih tepatnya adalah pingsan.


Seorang laki-laki duduk diatas tanah sambil menatap sang wanita dengan tatapan kosong.


"Tuan apakah sebaiknya kita mengundang tabib"ucap lencana sang tangan Kanan pria misterius yang berada di pasar.


"Tidak, itu akan mengundang kecurigaan nantinya, kecuali nyawa tabib itu akan menghilangkan detik itu juga".


"Bagaimana dengan penyamaran NYI Endang"


"Aku sudah mengaturnya"


Satu lengguhan terdengar dari bibir Larasati,sang pria yang kini terduduk sedikit mencondongkan tubuhnya.


"Panggilkan rawe kemari"perintah pria itu.


"Baik tuan"


Perlahan mata yang sejak tadi tertutup kini membuka kelopak matanya.


"Kau--"


Assalamualaikum beb ya Allah maaf ya gue gak update udah berapa bulan gila aja ya,


Sorry gue sibuk sidang ,dan gue udah kelas 12 jadi taulah seberapa sibuk gue...