Leloro Neng Ati

Leloro Neng Ati
pemilik belati berlambang singa dan matahari



LORO ING ATI


Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah.


.........


Setelah kejadian kehilangan Larasati yang mendadak dan kericuhan yang terjadi di alun alun kota, keadaan keraton juga dihebohkan dengan hilangnya sang dewinnya siapa lagi jika bukan NYI Endang.


Tanpa sepengetahuan mereka sosok yang mereka cari kini sedang menatap wajah seorang perempuan yang masih tertidur lebih tepatnya pingsan mungkin.


Setelah beberapa waktu akhirnya kelopak mata itu terbuka.


"Kau,si brengsek panuragan"ucap perempuan yang bernama Larasati itu diakhiri gumaman.


"Kau sudah bangun nyiksana"ucapnya sedikit lembut, Larasati menatap horor kearah panuragan namun alih alih marah Larasati malah langsung terduduk namun rasanya seluruh tubuhnya terasa sangat sakit bahkan dibagian punggung rasanya seperti ranting pohon yang akan dipatahkan, hingga berbunyi krekkk.


Mengerikan


"Kau yang merencanakan semuanya"tanya Larasati langsung keinti masalahnya.


"Apa maksudmu"


"Pembunuhan ketua pelayan,kau yang melakukannya bukan"ucap Larasati yang kini menatap tajam panuragan matanya menatap sekitar tempat yang terlihat seperti gudang dan hap disana ada sebuah pedang dan anak panah dan ada beberapa belati yang bercorak singa dan matahari dibeberapa sisinya.


"Dan kau pemilik senjata berlambang singa dan matahari"


Dan panuragan hanya diam lalu berdiri dan hendak berjalan keluar namun suara Larasati mengentikan langkahnya.


"Kau ketua para bandit yang mengahlangi perjalananku saat bersama pangeran Ranggatunggal"


"Bukan aku"ucap panuragan tegas namun rahangnya yang mengeras.


"Lalu siapa"


"Kau!bukan urusanmu"


"Ini urusanku, nyawaku hampir menghilang gara gara masalah ini"


Larasati hendak turun dari sisi ranjang bangbu yang sudah sedikit tua.


"Istirahatlah,aku akan segera kembali".


.....


Di istana para prajurit sedang sibuk mencari seseorang ya seperti diawal NYI Endang yang tiba tiba menghilang entah kemana membuat satu keraton panik bukan kepayang namun pekikan seorang pelayan berhasil mengalihkan beberapa prajurit.


"Prajurit lihat dia NYI Endang bukan,dia terluka oleh anak panah"ucap seorang pelayan.


Para prajurit langsung bergegas menuju dimana NYI Endang yang sedang terkulai lemas denah anak panah yang menancap dibahu kanannya.


NamunĀ  Gusti prabu geusan Ulun lebih dulu menghampiri NYI Endang kekasihnya dan bopongnya tubuh NYI Endang menuju kediaman utama keraton.


"Cepat panggilkan tabib apa kalian tidak melihat kekasihku sedang kesakitan"


Para prajurit langsung undur diri mendatangi dimana tabib berada.


"Bersabarlah nyai,kau harus bertahan"


Ucap Gusti prabu geusan Ulun dengan khawatir,tidak tau saja jika seseorang yang sedang dikhawatirkan nya itu sedang asik tertidur dengan nyenyaknya.


Mana mungkinkah seseorang yang amat sakit Mandra guna sepertinya akan mati karena satu busur anak panah.


Para tabib datang dengan beberapa obat obatan dengan hormat tabib meminta ijin agar mengobati sang pujaan hati tuanya.


Dan Gusti prabu geusan Ulun pun paham dan menyingkirkan tubuhnya sedikit menjauh dari NYI Endang.


"Berikan yang terbaik untuk nya"


"Akan hamba laksanakan Gusti"


.....


Malam harinya Larasati Kemabli terbangun dari tidurnya, entahlah hari ini hanya tidur dan tidur yang dirinya lakukan.


Matanya mengelilingi ruangan yang hanya diterangi sedikit obor yang sedikit redup,kalo di pikir pikir sedikit menyeramkan namun tidak masalah toh diluar sudah banyak anak buah dari si panuragan itu,entah kemana perginya manusia itu bilangannya hanya sebentar namun sampai tengah malam ini belum kembali lagi.


Apa dirinya merindukan pira itu, jawabannya adalah tidak,apa keuntungannya jika merindukan pria aneh sepertinya.


Namun dilubuk hati yang paling dalamnya ada rasa khawatir tentang bagaimana keadaan pria itu dimana pria itu sekarang.


Tentu di istana bodoh.


Ah Larasati lupa jika kehidupan seorang pemberontak seperti itu hanya ada satu poin dalam hidupnya harga diri atau kematian.


"Kenapa kau belum tidur nyai"


"Kau merindukanku"


"Ap--"


Part pendek dulu ye,kaga ngapa kan


Udah paham kan siapa pemiliknya siapa yang dalangnya.


Gak usah dijelasin secara detail siapa yang melakukan siapa yang pelakunya bukankah dari kaliamt diatas sudah menunjukan siapa pelaku siapa pemilik dan siapa yang dalang utamanya namun belum samapai situ konflik belum dimulai sayang....


Nikmati pemanasan terlebih dahulu....


Kecup basah dari author ganteng


Vote