
Leloro neng ati
Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah buatan manusia.
.........
"Ono,cerita sejerone Aran Haurgeulis 'Haur'sing due arti bambu lan 'Geulis'sing due arti ayu atau cantik,lamon di gabung Ken,dadie, Pring sing ayu".
Nenek Halimah mengelus rambut hitam panjang milik Laras sesekali sunggingan indah tercipta di bibirnya indahnya yang telah termakan usia mungkin saat dulu nenek Halimah merupakan kembang desa di zamannya.
Laras yang hakikatnya tidak begitu tertarik akan hal berbau sejarah hanya mendengarkan cerita dari sang nenek sesekali Laras menguap dan mengusap air matanya yang keluar akibat saking seringnya Laras menguap.
"Dulu pada abad ke 16 negeri ini digemparkan oleh perempuan yang cantik jelita bahkan kecantikan sang wanita berparas ayu itu bisa menghanacur leburkan negri ini, tak dapat dihindarkan peperangan antara kerajaan besar terjadi, bahkan perang saudara pun tak terelakan"Laras memejamkan matanya meresapi setiap cerita dari neneknya entah kenapa perlahan tapi pasti Laras mulai sedikit tertarik dengan alur cerita ini.
"Pada masa peradaban ke-16, Dikisahkan Nyi Endang Darma berusaha membuat rencana untuk bisa mendapatkan hak kekuasaan daerah Sumedang Larang yang saat itu dipimpin oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih dengan cara merubah dirinya menjadi seorang wanita yang cantik jelita (konon awalnya adalah seorang lelaki). Tak sulit membuat Sang Prabu terpikat karena kecantikannya yang terlanjur mahsyur"
Laras mengerutkan keningnya bingung dia kira NYI Endang darma adalah sosok wanita namun ternyata yang dapat Laras tebak seorang laki laki yang sakti mandraguna yang merubah wujudnya menjadi sosok wanita cantik dengan berniat menjebak prbau geusan Ulun adji putih agar mendapatkan hak kekuasaan Sumedang larang jatuh pada tangannya, sungguh Laras ingin sekali bertepuk tangan betapa licik dan cerdiknya seorang nyi Endang darma ini.
Namun bukankah sedikit egois di sini hanya karena sebuah wilayah dia rela menciptakan peperangan dan perpecahan antara negri dan peperangan antar saudara bahkan dia mempermainkan perasaan seseorang di sini, mungkin Laras pikir jika apa yang dilakukan beliau tidaklah salah namun caranya lah yang salah bukankah cara perdamaian lebih baik.
Beginilah jika anak muda zaman sekarang yang diajak berpikir, bukankah zaman dahulu belum di dirikan nya DPR, istana presiden, mahkamah agung dan antek anteknya.
Mungkin prinsip orang terdahulu adalah nyawa dibalas nyawa, keringat dibayar pertumpahan darah, perjuangan dibalas kemenangan, pengorbanan dibalas kekalahan sang musuh,tidak ada sanak saudara tidak ada anak dan orang tua tidak ada yang dapat di percaya oleh diri sendiri selain dirinya sendiri.
Teman adalah musuh, keluarga adalah musuh yang nyata, petinggi adalah racun berbusa ,tahkta adalah perisai beracun yang bisa menikam kapan saja.
"Ini bukan hanya legenda pengantar tidur,memang belum ada yang berani menyatakan keaslian ceritanya,namun tusuk konde ini adalah bukti Panuragan benar nyata".
"Panuragan?"
"Itu adalah nama asli dari NYI Endang darma,Menurut Naskah Carios Walangsungsang, Nyimas Gandasari nama aslinya adalah Panguragan, merupakan anak angkat Ki Selapandan atau Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang".
Laras menatap hamparan bintang dari gemerlapnya malam,dari teras rumahnya sangat jelas bagaimana bintang saling berlomba lomba untuk siapakah yang paling bersinar dari ribuan bintang.
Matanya terpejam, entah mengapa rasa penasaran tentang sosok NYI Endang darma yang tak lain adalah panuragan, siapakah sosok itu mengapa kisahnya begitu rumit bahkan sejarahpun tak mampu menjelaskan sosok kedua pendiri Indramayu.
"Legenda tetaplah menjadi legenda,tak usah dipikirkan, itu masalalu tugasmu sebagai anak bangsa ini hanyalah menceritakan cerita ini ke anak cucumu agar kisah ini tak terputus seiringnya zaman yang silih berganti"Laras membuka matanya menatap wajah neneknya yang tentunya tak lagi muda namun gurat kecantikan masih terpancar jelas diwajahnya.
"Pegang tusuk konde ini, simpan baik baik ini adalah pemberian eang buyutmu, Jangan ceritakan dan kasih tau hal ini kepada siapapun"nenek Halimah memberikan tusuk konde perak berbentuk menyerupai bambu yang memiliki mata berwarna merah di ujungnya,Laras menerima tusuk konde itu sambil menatap neneknya bingung.
"Loh, Nek ko dikasih ke Laras sih,gak mau ah entar kalo hilang gimana,gak gak Laras gak mau"Laras hendak mengembalikan tusuk konde itu namun nenek Halimah menggelekan kepalanya dan tersenyum menatap wajah cucunya.
"Cah ayu, Ra baik menolak pemberian seseorang,nenek titipkan ini kepadamu cah ayu"Laras mendengus kesal dan menaruh tusuk konde itu ke kantong celananya dan kembali menatap neneknya.
"Nenek tuh kaya mau pergi jauh aja deh segala nitip segala".
Wihhh Alhamdulillah akhirnya up nih wkwkwkw, sorry guys serius gue ga ada niatan mau membelokkan sejarah sekali lagi cerita ini hanya fiktif belaka.
Tararengkyu