Leloro Neng Ati

Leloro Neng Ati
kembalinya panuragan



LORO ING ATI


Cerita ini hanyalah karangan penulis belaka,tidak ingin menyinggung atau merugikan pihak manapun ini hanya untuk hiburan belaka,jika ada kesamaan atau kemiripan tokoh dan latar tolong di maklumi karena ini hanyalah.


.........


Cahaya rembulan membuatku teringat oleh perkataan saat suara dalam mimpiku, bulan purnama, entah kapan bulan purnama datang, entahlah aku tidak sama sekali mengerti tentang dunia ini.


Hembusan angin malam tidak mampu menghapus kerinduanku tentang keluargaku disana, bagaimana jiwaku disana apakah sudah mati seperti difilm atau hilang tanpa jejak.


Bukan tanpa alasan kini aku duduk disalah satu bebatuan taman istana timur, kalian ingat dengan perkataan panuragan yang meminta bertemu setelah matahari terbenam,namun hingga saat ini dia belum datang kurasa jika duniaku sekarang jam delapan malam, entah sudah berapa lama aku menunggu lelaki itu,apa dia pikir dengan pakaian Jarit yang hanya menutupi bagian dadaku hingga tumit kakiku bisa menghilangkan rasa dinginnya malam.


Sesekali aku mengusap bahuku yang terekspos,apa dia lupa dengan janjinya oh tidak dia bahkan tidak pernah mengatakan hal itu sebuah janji.


Kulepaskan ikatan rambutku yang Hanya terbuat dari sobekan Jarit, kubiarkan helaian rambutku tertiup angin,suara langkah kaki mengalihkan perhatianku dari jajaran bintang,aku menoleh kearah ujung tugu yang bergambar singa dapat kulihat dengan samar seorang laki laki berdiri disana.


"Siapa dia"cicitku pelan, mungkin nyaris tak terdengar, dengan perlahan aku beringsut berdiri, tentunya aku waspada siapa tau kan dia seorang penjahat atau oh no,atau dia siluman bercadar Hitam yang seperti di drama drama Korea bagaimana ini, menyesal sekali ketika saat sekolah dulu aku tidak berminat bergabung dengan eskul karate.


"Ini aku sati,kau sangat menjengkelkan"apa dia bilang aku menjengkelkan bukankah dia yang pantas menerima sebutan itu dasar menyebalkan.


Aku menghela nafas panjang,aku perlahan berjalan kearahnya,yang kini sedang berdiri dan menatap rembulan"bukankah itu kau,aku bahkan sudah menunggumu Berjam jam lamanya".


Dia menatapku dan menyuruhku duduk diundang bebatuan yang ada di sampingku"bagaimana dengan pekerjaanmu".


Aku mengangguk"tentu seperti yang kau lihat aku baik baik aja"dia menyentil keningku"jika kau baik baik saja lalu bagaimana luka ditanganmu itu bisa tercipta".


'mati aku,bunuh aku, tenggelamkan aku kedasar jurang,aku lupa dengan luka ini, bagaimana cara menjelaskannya'


"Anu itu ,aduh gimana sih, maksudnya ini itu,aku it-".


"Sudah kubilang Jangan lakukan apapun!!!"sentaknya aku memejamkan mataku sebentar,kok sakit ya.


"Aku seorang pelayan tentu harus mematuhi sang tuan"ucapku datar,bisa gak sih kalo ngomong biasa aja gak usah pake bentak bentak kek gitu.


"Seharusnya kau perduli dengan dirimu"aku juga tau,dan aku juga gak mau aku terluka emang ya laki laki tuh kaya gini terus.


"Apa Barusan kau menghawatirkan diriku"dia hanya diam saja sambil menatap rembulan.


"Kemarikan tanganmu"ujarnya aku hanya diam, lagian aku masih kesal dan buat apa juga dia minta tanganku bukankah dia juga udah punya tangan sendiri.


"Apa sekarang kau tuli"aku mendengus kesal dan dengan keras aku menaruhkan tanganku yang terluka di atas tangan panuragan yang terulur.


"Bisa gak sih kalo ngomong biasa aja gak usah ngegas gitu"ucapku didepan wajahnya namun panuragan malah menatapku bingung.


"Kau mengatakan sesuatu"goblok sih,Lo sih ras udah tau hidup di zaman old malah ngomong bahasa young kan kaga lucu gitu.


Dapat kulihat dia merobek ujung Jarit nya yang terikat dipinggangnya"seharusnya kau bisa menjaga dirimu".


"Aku tau"


"Bagaimana bisa kau terluka seperti ini"aku menengok ke arah panuragan.


"Hanya menabrak seseorang"dia mengangguk.


Saat itu panuragan sudah selesai membebat lukaku dan menuntun tanganku untuk menyentuh dadanya,ya Allah bisa aja nih Om,adek teh jadi jedag jedug atuh Om mana kaga pake baju lagi.


"Kau merasakan setiap detakan jantungku yang berdetak jauh lebih cepat"aku mengangguk, lantas apa hubungannya denganku.


"Berarti kau masih hidup, itukan masalahnya"dia m nyentil dahiku kan salah lagi dah.


"Itu karena ulahmu"ulahku?apa yang aku lakukan.


"Aku,sejak tadi aku hanya diam"dia mengangguk lagi aneh nih anak lama lama jadi takut dah.


Aku menarik tanganku dari dadanya"kau tau aku hampir mati muda karena mendengar kabar kau terluka,ku kira kau terkena luka yang parah dan ternyaman hanya tergores pecahan kendi"apa tadi dia bilang hanya tergores,heol kalo hanya tergores tidak akan pernah berdarah sebegitu banyaknya, katakan saja aku alay Namum kenyataannya.


"Kau berlebihan"ucapku dia berdehem mengiyakan saja.


"Mungkin menang aku berlebihan,namun kau adalah tanggung jawabku disini"apa dia panuragan,sejak kapan dia berkata sehalus ini,tadi aja ngegas sekarang lemah lembut, emang ya laki tuh suka gini.


Oh ya aku sampai lupa dengan tujuan awalku kesini.


"Panuragan"panggilku.


"Kau memanggilku"ya iya dong masa manggil semak semak di depannya kan kaga normal.


"Kau ingat pemuda di rumah bordil kemarin"dia nampak diam dan mengangguk, Bagus dia mengingat nya kan gak susah untuk njelasin ulang.


"Lantas"tanyanya.


"Dia ada di sini,dan bahayanya dia mengenaliku dan dia seorang pangeran di sini"aku menatapnya khawatir sedangkan panuragan malah tertawa dasar sedeng orang lagi serius nih malah ketawa ketiwi.


"Kau baru tahu hal itu,aku sudah mengetahuinya bahkan sebelum aku menginjak ketahanan Sumedang larang"aku bertepuk tangan dan dengan senangnya aku menggeplak lengannya dapat kudengar dia mengaduh kesakitan, hilih ditabok segitu aja udah mengaduh, katanya sakit mandraguna.


"Dan kau memelototi ku"


"Itu salahmu"


"Menyebalkan"


"Kau mengatakan aku tampan"


"Iya"


"Kau mengakui itu"


"Eh?"


....


Pagi ini aku berjalan dengan tergesa-gesa menuju kediaman Raden Ranggatunggal entah apa yang ingin beliau sampaikan sehingga menyuruhku datang dengan cepat.


Dengan nafas Yang masih memburu aku mengentikan langkahku saat melihat Raden Ranggatunggal sedang duduk sambil memainkan seruling ditangannya,aku dengan nafas tersengal segala berjalan menyamping ke arah pendopo, dapat kulihat para burung merpati sedang mendengarkan alunan merdu seruling Raden Ranggatunggal,memang benar melodi ini adalah melodi yang paling indah yang pernah kudengar.


Aku duduk beringsut dibelakangnya agar Raden Ranggatunggal tidak terganggu dengan kegiatannya namun aku salah ketika Raden Ranggatunggal berhenti memainkannya dan berputar arah jadi menghadapku.


"Maaf Raden jika hamba telah mengganggu kegiatan Raden"ucapku sungguh sungguh.


Dia tersenyum"tidak apa apa,maaf telah memanggilmu sepagi ini".


Aku menggeleng tentu saja aku tidak keberatan jika disuguhkan dengan alunan seruling nya.


"Kau menyukai permainannya seruling ku"aku mengangguk antusias, bahkan jika di masa depan Raden Ranggatunggal ini akan menjadi seniman sejati yang digemari oleh anak anak muda.


Dia menyodorkan serulingnya ke arahku,aku menatap seruling itu bingung, untuk apa Raden Ranggatunggal ini menyodorkanku seruling bahkan aku tidak tau cara menggunakan nya,sejak kapan aku suka dengan seni.


"Kau ingin bermain"aku menggeleng.


"Maaf Raden aku bahkan tidak tahu cara yang benar menegang seruling itu"dia tertawa terbahak,tampan as sekali, keknya gula di Mpok Nori habis karena gulanya ke Raden Ranggatunggal semua.


Raden Ranggatunggal menarik tanganku dan menuntun tubuhku agar duduk dipangkuan nya, etdah ini kok posisinya laga aman ye.


"Apa ini terlalu dekat, bagaimana jika ada yang melihat"ucapku sedikit gugup gimana gak gugup coba,aku jadinya kek bocil yang dipangku bapaknya.


"Aku akan mengajarkanmu bagaimana"


Aku refleks mengangguk dan tertunduk tersipu malu akutuh mas.


"Apa tidak merepotkan"


"Tentu tidak"


Setelah itu dia meraih tanganku agar menegang serulingnya dan kini posisiku dan Raden Ranggatunggal seperti seseorang yang sedang berpelukan dari arah belakang.


Dia menengok kearah ku dari samping kiriku dan terlihatlah iris matanya yang berwarna coklat terang indah sekali, hidungnya yang mancung, bulu mata yang tak terlalu lentik namun panjang alisnya yang panjang seperti hunusan pedang,namun terkesan hampa.


"Kau tak akan bisa jika hanya memandangi wajahku saja Larasati.


Aku membuang wajahku,malu sekali, ambilkan aku ember sekarang.


Dia hanya tertawa lalu berbisik di telingaku"Jangan sering melakukan hal seperti itu dengan lelaki lain"aku hanya mengangguk rasanya mukaku akan berubah menjadi kepiting rebus.


Dilain sisi NYI Endang atau panuragan dengan mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan didepannya, dengan tergesa panuragan peri meninggalkan dari balik semak semak tempat dimana Larasati dan Raden Ranggatunggal sedang belajar bermain seruling.


"Tak kubiarkan kau melukai wanitaku".


Gys mau cerita....


Gue tuh kesel Bangi pagi tadi, ceritanya tadi pagi gue mo update nih dan apa yang terjadi saat nih part udah di publish malah hilang kata kata nya demi kolor Dora Emon gue,,,gue mo nangis tapi harus lakikkkkkkk!!!!! harus lakikkkkkkk!!!iye gakkk....


Dengan kesabaran yang masih ada gue ketik ulang padahal itu part Ter ngena bingittttt,, bahkan lebih dari 1500 kata woyyyyyy


Dan hilang begitu saja,napsu gue !!!!Gedeg!!!


Tapi gue udah tulis ulang walaupun part ini gak sepanjang yang kehapus dan gak sebanyak sebelumnya dan gak sama tentunya gue lupa woyyy ...


Dah lah nikmati saja apa yang ada tenang gue up 2 part seneng kan lu pada,,,iya gue tau Lo lagi guling guling,,kaga dah bercanda....


Hilih banyak bicit mari kita nunggu part selanjutnya...


Capcus...


Kecup online dari gue kalo yang real kan belum official nih wkwkkwk.