Last Hope

Last Hope
Chapter | 5 |



Hai guys😊


kasih ❤


Nayla sudah berhenti menangis sedari tadi, namun isakan-isakan kecil masih jelas terdengar. devan juga tak ingin menganggu nayla, biarkanlah dia melepaskan semua kesedihannya.


saat devan selesai membayar tagihan makan malamnya bersama nayla. ia kembali ke tempat dirinya meninggalkan sang kekasih, namun nayla tak ada disana.


devan mencari di semua tempat dan akhirmya ia keluar menuju parkiran. ia sangat terkejut melihat seseorang menampar nayla disana, namun devan tak nisa mendengar apa-apa. ia melihat nayla yang menangis dan berlari lalu devan ikut mengejarnya.


"Kka..kamu tau dari mana kalau aku ada disini?" nayla mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah tampan milik devan.


"Kita ini bagaikan kunci dan gembok, kalau salah satunya menghilang maka yang satunya akan terus mencari, kita nggak akan pernah terpisah." devan menghapus bercak-bercak air mata di pipi nayla.


"Ish, gombal."


"Siapa yang ngelakuin ini."


nayla menatap manik mata devan, nayla meremas jari nya kuat saat mengingat tamparan yang di berikan papanya.


"Papa."


devan tau bila papa nayla adalah pengusaha yang cukup terkenal, tapi mengapa dia menampar kekasihnya. wajah devan kini terlihat sedang menahan amarah.


"Papa marah sama aku."


"Masalahnya?"


Nayla menggigit bibir bawahnya, ia belum siap membuka aib keluarganya bahkan kepada devan sekalipun.


"Bukan masalah besar kok." ucap nayla lalu tersenyum.


"Ini udah jam 10, ayo pulang nanti mereka nyariin." ucap nayla mengalihkan pembicaraan.


devan tau jika nayla sedang menyembunyikan sesuatu, tapi devan bukan tipikal orang yang ingin memaksa, ia lebih suka mengikuti alur.


"Ayo." ucap devan.


nayla berdiri dan memilih berjalan duluan, ia tau jika devan mengetahui bahwa dirinya tengah berbohong. mungkin ikatan batin diantara mereka terlalu kuat, terlebih lagi mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 3 tahun.


"Matamu tidak bisa berbohong aya, andai kamu tahu aku juga merasakan sakit yang sama." gumam devan.


entah mengapa saat nayla merasa sedih maka devan juga merasakannya, seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya sehingga ia seperti kesulitan bernafas.


♡♡♡♡♡


Devan kembali mengingat saat dimana dirinya dan nayla pertama kali bertemu. nama nayla sangat tidak asing di telinganya karna nayla merupakan gadis yang berprestasi.


"Hiks hiks."


Devan yang tertidur di rooftop mulai menggerjabkan matanya perlahan saat mendengar suara isakan kecil.


"Nayla hiks salah apa sih hiks, kenapa doa nayla hiks nggak pernah terkabul, nayla hiks juga mau dikasih kue sama papa hiks."


devan yang merasa terganggu langsung terbangun dan mengucek-ngucek matanya untuk mencari sumber suara itu. dia bangun dan bersandar di sofa rooftop lalu melihat seorang gadis yang menangis sambil memeluk kedua kakinya.


"Kalo nangis jangan berisik."


nayla tersentak dan mencari asal suara itu, ia menutup mata nya dari sinar yang menyilaukan mata dan terkejut saat melihat sesuatu yang ia cari.


"Lo siapa?"


"Orang yang lo ganggu tidurnya."


"Maaf." ucap nayla lalu menurunkan tangannya untuk menatap devan.


*saat itu devan sangat terpana melihat wajah gadis cantik didepannya*.


"Jangan bangunkan gue dari mimpi ini tuhan, surga mu bolong bidadari nya jatuh satu. siapasih yang nyuri selendangnya?!" batin devan.


devan tersadar dari lamunannya saat nayla menghapus air matanya dan beranjak meninggalkan rooftop.


"Eh tunggu dulu."


nayla menghentikan langkahnya, "Kenapa?"


"Nama lo?"


"Nayla Azila Patriawan, panggil aja Nayla."


"Nna..nayla juara olimpiade fisika?"


"Iya." jawab nayla singkat seraya mengangguk.


"Woahh." tanpa sadar devan memuji nayla, ia tak menyangka bila akan bertemu dengan nayla yang selama ini hanya ia ketahui namanya sebagai siswi yang membanggakan sekolahnya.


"Ehmm, nama lo?"


"Devan Atlanta Leoni, panggil aja devan."


sama seperti devan, nayla juga tak menyangka bila bertemu dengan seorang kapten basket cuek dan dingin yang selalu dibanggakan para teman perempuan SMP-nya.


Nayla menggeleng, "Nggak papa."


"Kata itu punya beribu makna."


"Bukan urusan lo juga."


"Itu urusan gue, lo yang udah ganggu tidur gue."


"Nggak ada hubungannya, lagian gue juga udah minta maaf." decak nayla.


"Gak cukup."


"Terus lo mau apa?!" ucap nayla dengan nada naik satu oktaf.


devan bangun dan menyeringai, "Kerjain semua tugas fisika gue selama sebulan, paham?!" ucap devan tepat di depan wajah nayla.


nayla memundurkan wajah nya saat hidung mereka hampir bersentuhan, "Gak mau."


"Gak.ada.bantahan." ucap devan penuh penekanan.


"Lo nangis karna nggak di kasih kue kan?"


"Nggak!! jangan sotoy."


"Kuping gue masih normal, gue denger jelas apa yang lo bilang."


"Terus gue harus bilang wow gituh?!"


"Kalau lo mau kue ayo, gue bisa kasih apapun yang lo mau."


"Gak perlu." ucap nayla ketus


"Udah nggak usah mahal, ayo gue traktir."


mata nayla melotot sempurna mendengar ucapan devan, "Gak mau!"


"Lo hari ini ultah kan? harusnya lo itu seneng karna lo itu orang pertama yang gue kasih kue. udah lah gue bakal rayain ulang tahun lo hari ini."


"Kita nggak kenal, dan lo langsung sok akrab gini?" ucap nayla lalu melipat kedua tangannya.


"Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak tau. oleh karna itu kita harus saling tau mulai sekarang."


sejak saat itu nayla dan devan saling mengenal, nayla tak habis pikir mengenai ucapan para siswi yang membicarakan devan bahwa dia itu orang yang pendiam dan dingin. namun saat bersama nayla devan menjadi orang yang cerewet dan terus nyerocos panjang lebar.


selama itu pula nayla dan devan semakin dekat, hingga dimana mereka saling menyimpan rasa dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.


devan menjadikan nayla sebagai kekasihnya saat mereka kelas delapan SMP. tak terasa kini mereka sudah berada di kelas dua belas SMA, yang berarti hubungan mereka sudah berjalan tiga sampai empat tahun.


♡♡♡♡♡


Devan dan nayla sudah sampai di depan gerbang rumah nayla. selama perjalanan pulang keduanya tak ada yang membuka suara.


"Makasih."


"Sama-sama."


"Emm, dan..maaf."


"Buat apa?"


"Kamu tau maksud aku."


Devan tersenyum hangat lalau memegang kedua tangan nayla, "Aku nggak akan maksa kamu buat cerita sama aku aya, aku bakal nunggu kamu sampai kamu siap cerita sama aku. percuma kalau kamu cerita tapi ujung-ujungnya bakal buat hati kamu sakit lagi." ucap devan panjang lebar.


nayla bersyukur mempunyai kekasih seperti devan, devan tak pernah menuntut apapun darinya. ia tak pernah memaksa nayla akan sesuatu.


"Aku cinta sama kamu van." ucap nayla tersenyum manis pada devan.


devan membalas senyum nayal dan menggenggam erat tangan nayla, "Rasa nggak perlu diungkapin aya, asal kamu tau, cinta aku lebih besar dari semuanya."


"Kura-kura memiliki empat kaki, tapi langkahnya sangat lambat. ikan tak mempunyai kaki, tapi tak ada yang meragukan kemampuan berenangnya. karna yang terpenting bukanlah jumlah, tapi percayalah semua orang punya takdir dan anugerahnya masing-masing. tersenyumlah bidadari ku, senyummu itu yang selalu kutunggu." lanjut devan.


"Copy Paste kata-kata dari mata sayang?." ucap nayla terkekeh.


"Dari lubuk hati ku yang paling dalam."


"Ck, lebay."


"Masuk gih, nice dream princess." ucap devan lalu mengecup kening nayla


"Nice dream too my prince, hati-hati."


♡♡♡♡♡


1099kata💙


Ig: Nzyl.ptr.