
Selamat ulang tahun
selamat ulang tahun
selamat ulang tahun laura
semoga panjang umur!!
Tiup lilinnya
tiup lilinnya
tiup lilinnya sekarang juga
sekarang juga sekarang juga!!
potong kuenya
potong kuenya
potong kuenya sekarang juga
Setiap tahun gadis itu selalu bangun ditengah malam saat mendengar seruan orang-orang bernyanyi di samping kamarnya.
sudah sepuluh tahun gadis itu diam dikamarnya mendengarkan mereka yang merayakan ulang tahun putrinya.
gadis itu berangsung turun dari ranjang dan membuka laci meja, dia tersenyum sedih melihat betapa banyaknya lilin dan alat pemantik yang tersedia di sana.
dia mengambil lilin dan menghidupkannya menggunakan pemantik yang ada disana dan muncullah cahaya dari kamar yang redup itu. Inilah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap tahunnya.
Happy birthday to me
happy birthday to me
happy birthday happy birthday
happy birthday to me
gadis itu bernyanyi seraya memejamkan matanya sambil menahan isak tangis. gadis itu terus bernyanyi dan meniup lilinnya.
dia memejamkan mata dan berdoa dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Di usiaku yang ke tujuh belas tahun ini, pintaku hanya satu ya allah, aku ingin papa dan mamaku memberikanku surprise di tengah malam lalu bernyanyi tepat saat ulang tahunku tiba. Aku ingin mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan menghujaniku dengan kecupan dan doa."
"Aku ingin mereka memelukku ya allah, aku ingin mereka memujiku disaat aku dapat prestasi. Aku ingin dianggap ada hiks, sekali ini saja, aku ingin doaku terkabul. Amiinnnn."
setelah berdoa ia langsung mengembalikan lilin itu kembali ketempatnya dan secepatnya berbaring di ranjang lalu berpura-pura tidur karna mereka akan segera datang.
ceklek..
pintu kamarnya terbuka dan lampunya menyala, menandakan bahwa aktingnya akan segera dimulai.
suara derap kaki mendekat, degup jantungnya kian semakin cepat, itulah yang dirasakannya selama sepuluh tahun ini.
"Ngapain kita selalu datang kesini?"
"Sttt.. kamu jangan berisik mas nanti nayla bangun. kita dateng buat kasih nayla hadiah, kalo kamu inget, nayla juga ulang tahun sama kayak laura."
"Dia sudah besar, tidak perlu merayakan ulang tahun untuknya."
"Laura juga sudah remaja, tapi kamu masih memberikannya hadiah. tapi kenapa nayla tidak?"
"Itu karna nayla tidak membutuhkannya, sudahlah aku lelah cepat letakkan dan kita keluar dari kamar ini."
sepasang suami istri itu kini berada di depan seorang gadis yang terilhat damai dalam tidurnya. Wanita itu meletakkan dengan hati-hati sebuah kado di atas nakas lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
kemudian wanita itu berdiri dan pergi keluar kamar meninggalkan suaminya yang masih diam menatap ke arah gadis yang masih terlelap dalam tidur pura-puranya.
pria itu duduk dan menatap wajah gadis yang tak lain adalah putri kandungnya sendiri. putri yang selalu ia anggap tidak ada hanya karna dia terlahir dari rahim wanita yang tidak ia cintai di akibatkan perjodohan di masa lalu.
dia tau tindakannya ini sangat kekanakan yang tak pernah menganggap putrinya itu. padahal putrinya itu selalu membanggakan dirinya karna prestasinya di bidang akademik maupun non akademik.
putrinya tidak bersalah dalam hal ini, tapi hatinya. masih belum tersentuh untuk memperlakukan nayla sama seperti ia memperlakukan laura. Rasa tidak sukanya muncul saat ia mengingat siapa yang melahirkan gadis ini.
"Maafkan saya nayla." ucapnya kemudian meninggalkan kamar itu.
setelah kamar itu tertutup, gadis itu membuka matanya perlahan lalu duduk di tepi ranjang dan menatap kado di atas nakas.
"Kenapa papa selalu mengatakan maaf setiap tahun? apakan terlalu sulit untuk mengatakan 'selamat ulang tahun anakku'?" lirih gadis itu dan mulai menitikkan air matanya.
"Apa papa tidak sudi untuk mengecup dan mengusap kepalaku hiks."
Nayla mengingat saat usianya tujuh tahun dan laura empat tahun. nayla bertanya pada papanya.
"Pah aku nggak di kasih kue kayak laura?"
saat itu dimas sang papa pulang dari kantor dengan wajah ceria memeluk laura dan memberikan kue ulang tahun yang besar lengkap dengan lilin yang menyala.
nayla mencoba berfikir, hanya bundanya. yang memberikannya kue beberapa jam yang lalu sebelum bundanya keluar untuk belanja tapi papanya tidak pernah selama ini.
"Kamu sudah besar, laura masih kecil." Ucap dimas menatap nayla dengan tatapan datar.
Nayla menunduk, "Tapi nayla nggak pernah sama sekali dikasih kue dari papa sama mama, mama cuma marahin nayla tiap kali nayla minta kue. dan juga bunda selalu kasih nayla kue kecil." Lalu ia menatap kue kecil seukuran apel yang pas ditangannya.
Dimas yang melihat nayla seperti itu merasa tercubit, "nih" Dimas menyerahkan sebuah lilin dan alat pemantik membuat nayla bingung.
"Ini buat apa pah?" Ucap nayla lalu mengambilnya.
"Setiap kamu ulang tahun, bernyanyi, nyalakan, dan berdoa. lakukan sendiri setiap kamu ulangtahun, saya nggak ada waktu membeli dua kue sekaligus."
saat itu nayla bahagia karna pertama kali papanya memberikan sesuatu padanya. nayla saat itu masih polos dan menganggap barang pemberian papanya itu sangat berharga.
saat itulah dimana nayla melakukan hal yang diperintahkan setiap tahun hingga saat ini. Lambat laun nayla menyadari semuanya bahwa papanya sama sekali tidak menyukai dirinya.
Dia Nayla Azila Patriawan, seorang gadis biasa yang memiliki banyak kesedihan, mungkin kebahagiaan yang ia rasakan dapat dihitung dengan jari.
selama ini dia ingin di perlakukan seperti laura, adiknya yang selisih tiga tahun darinya. nayla juga bahkan tidak ingat jika papanya pernah memeluknya, pernah tersenyum padanya, dan mengucapkan 'nak' pada nya.
papanya itu selalu bersikap kaku dan dingin kepada nayla berbeda jika bersama dengan laura, papanya itu seakan bersikap seperti papa yang menyayangi putrinya.
papa dan mamanya di jodohkan di masa lalu tapi mereka tidak saling mencintai. nayla hadir di dunia ini karna tuntutan kakek dan neneknya.
hingga akhirnya mereka bercerai dan masing-masing kembali dengan orang yang mereka cintai, lalu nayla lah yang menjadi korban keduanya. Hak asuh anak jatuh ke tangan papanya karna dirinya perempuan.
nayla menyadari mengapa papanya saat itu hanya memberikannya lilin dan pemantik, itu karna nayla tidak berhak mendapat kasih sayang sama seperti adik nya laura.
laura anak bunda dan papanya, wanita yang dicintai papanya selama ini, maka wajar papanya memperlakukan dirinya berbeda.
mamanya juga tak pernah peduli dengan nayla, mamanya bahkan tak segan untuk membentaknya ketika dia pergi kerumahnya. Mamanya bahagia dengan keluarga barunya tanpa ada nayla yang notabenya putri kandungnya juga.
"Kamu jangan pernah kesini nayla, saya tidak mau suami saya marah karna kamu ada disini!!!"
Itulah yang selalu diucapkan mamanya tiap kali nayla datang berkunjung ke rumah mamanya saat ia ulang tahun.
nayla berharap mamanya menyambut dengan baik dan memberinya ucapan, tapi tiap tahun kalimat itulah yang selalu ia dengar dari mama kandungnya sendiri.
inilah kisah nayla, terangnya lilin tak membuatnya bersinar, malah sinar itulah yang mempergelap kehidupannya.
♡♡♡♡♡
1078kata💙