Last Hope

Last Hope
Chapter | 2 |



Hai guys:)


kasih ❤


"Aku lelah, rasanya tak sanggup lagi bertahan diposisi yang menyiksa ini." ~ Np.


•••••


Nayla menghentikan langkahnya di depan pintu rumah saat mendengar suara orang-orang yang berdebat.


nayla mengintip disana ada papa, bunda, kakek, dan neneknya yang tengah berdebat. nayla melihat jika bundanya menangis begitu pula dengan neneknya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya sebagai putriku!! hanya laura putriku satu-satunya."


"Kamu sungguh keterlaluan dimas, nayla juga putrimu, darah dagingmu!!"


"Aku tidak mencintai ibunya maka anak itu tidak berhak mendapat kasih sayang dariku!!"


"Istigfar dimas, apa salahnya jika sekali saja kamu memperlakukan nayla sama seperti laura!!"


"Aku tidak bisaa!!"


"Mas tahan emosi kamu, kamu sudah meninggikan suara kamu didepan ayah dan ibu."


"Cuihh, tidak usah pura-pura bodoh, ini semua gara-gara kamu!! kamu perempuan yang membuat putra saya seperti ini!"


"Berhenti menyalahkan istriku mah, dinda tidak ada hubungannya dengan semua ini!"


"Ada dimas!! andai perempuan ini tidak ada maka kamu dan sonya tidak akan bercerai dan membuat nayla menjadi korban!!"


"Cukup!! aku dan sonya sepakat bercerai karna memang kami tidak saling mencintai. bahkan sonya juga sudah menikah dengan lelaki yang di cintainya ibu!!"


"Tapi jangan nayla yang kalian jadikan korban! apa salah nayla dalam hal ini!! anak mu itu tidak tau apa-apa dimas, jika kamu pikirkan bagaimana perasaan nayla saat kamu memanjakan laura didepannya? bagaimana perasaan nayla saat kamu tidak pernah datang kesekolahannya untuk mendampingi nayla menerima penghargaan? bagaimana perasaan nayla setiap tahun saat kamu memberikan surprise ulang tahun pada laura sedangkan nayla hanya kamu berikan lilih dan pemantik sialan itu!!!!"


"Aku tidak peduli mah, sampai kapanpun putriku hanya laura satu-satunya, kalau papa dan mama lupa ini semua gara-gara kalian, andai saja kalian tidak menjodohkan aku maka semuanya tidak akan seperti ini, andai saja kalian merestuiku dan dinda maka nayla tidak akan ada dan menderita!!"


sudah cukup nayla mendengarkan perdebatan orang di sana, hatinya sudah cukup tersayat. nayla meninggalkan perkarangan rumahnya dengan keadaan menangis, yang penting saat ini nayla butuh tempat untuk menangis.


nayla tiba di tepi danau yang tidak jauh dari rumahnya, nayla menangis kencang mingingat ucapan papanya.


"Hiks..hiks.. nayla salah apa pah."


nayla menepuk dadanya berkali-kali mencoba. menghilangkan rasa sakit yang menghimpit di dadanya. nayla menangis kesakitan jika mengingat dia adalah anak yang tak diinginkan di dunia ini.


nayla mengingat kembali dimana kedua orang tuanya menolak keinginan nayla kecil berusia tujuh tahun yang ingin ditemani menerima piala lomba menggambar.


Flashback on


"Papa nayla dapat juara satu!!"


nayla datang menghampiri papanya yang tengah menemani laura bermain di ruang tamu.


sementara dimas hanya diam dan menatap nayla sekilas lalu kembali fokus pada laura.


"Papa." nayla hendak menghambur ke pelukan dimas tapi dengan cepat dimas menahan tangan kecil nayla.


"Saya belum mandi jangan peluk." nayla mengangguk lemah dan duduk di dekat dimas memperhatikannya yang tersenyum melihat laura cukup lama.


dimas saat itu menoleh melihat nayla yang diam dengan tatapan kosong ke depan. dalam hatinya dimas juga tidak tahu kenapa sulit memperlakukan nayla sama seperti laura.


"Juara satu dalam hal apa?" tanya dimas. membuat nayla kembali antusias.


"Nayla juara satu menggambar pah, terus kata bu guru nayla harus di dampingi orang tua, papa mau kan nemenin nayla besok?"


dimas bangga jika mendengar nayla mendapat juara di usianya yang masih tujuh tahun, tapi jawaban dimas lagi-lagi membuat nayla sedih.


"Saya tidak bisa, saya harus menemani laura imunisasi, ajak mama kamu saja yah."


lagi-lagi laura yang menjadi prioritas papanya hingga nayla mengeluarkan pertanyaan yang menohok dimas.


"Papa nggak sayang nayla yah? papa cumah sayang laura kan? papa juga nggak pernah meluk nayla, papa nggak pernah cium nayla kayak cium laura, papa nggak pernah gendong nayla, papa nggak pernah nganterin nayla sekolah, papa benci nayla yah?"


nayla kecil turun dan berlari ke kamarnya, nayla menangis di balik selimutnya. tanpa sadar dimas yang melihat nayla menangis tersedu-sedu di sana, bahkan hal itu belum mengetuk pintu hati dimas untuk berlaku adil pada nayla.


hingga esok harinya nayla diantar sopir menuju ke rumah sonya mamanya. nayla tersenyum melihat sang mama sedang menyiram tanaman.


"Mama!!"


"Ngapain kamu kesini?


nayla terkejut mendengar suara sonya yang terkesan dingin, hingga nayla bersembunyi di balik tubuh pak tarno sang supir.


"Anu bu, non nayla mau mengatakan sesuatu." pak tarno meraih tubuh nayla kecil yang sedang ketakutan.


"Apa?


nayla memilin tangannya, "Emm, mama mau nggak nemenin nayla ke sekolah? nayla dapat juara satu menggambar mah, kata bu guru harus ditemenin orang tua."


"Saya ngak bisa, saya sibuk, suruh papa kamu saja."


"Papa juga nggak bisa mah, katanya harus nemenin adik laura imunisasi."


"Ya sudah suruh kakek dan nenek."


"Tapi kata bu guru harus orang tuanya nayla mama."


"KALAU SAYA BILANG SIBUK YA SIBUK, SAYA TIDAK PUNYA WAKTU MENGURUSI HAL YANG BERSANGKUTAN DENGAN KAMU!!!"


nayla terkejut bukan main hingga tak sadar dan masuk kedalam mobil dengan tubuh gemetar karna ketakutan akibat bentakan dari mamanya.


Flashback off


"Nayla capek, nayla nggak sanggup lagi hiks, kenapa hiks doa nayla nggak pernah terkabul hiks."


nayla menangis hingga tiga jam lamanya dan kini hari sudah semakin sore. nayla bergegas pulang, takut orang mencarinya, meskipun nayla sangat berharap papanya sekali saja mau mencemaskan dirinya.


dering ponsel nayla menghentikan langkahnya, nama devan tertampang nyata disana.


"Halo"


"Ingat jam 7"


"Iya aku inget kok"


"Dandan yang cantik buat aku"


pipi nayla bersemu merah mendengar ucapan devan.


"Hmm"


"Are u okay"


"Im okay"


"Kamu nangis?"


nayla tersentak, "En..enggak kok, jangan sotoy"


"Suara kamu serak, jawab jujur nayla"


jika devan sudah memanggil namanya bukan dengan sebutan aya, maka dipastikan devan sedang menggeram menahan amarahnya.


"Aku serius aku nggak nangis"


"Setidaknya aku selalu berusaha ada untuk kamu aya, itu tandanyaa aku berhasil"


"Kamu sudah cukup menemaniku selama ini devan, aku bersyukur kamu selalu ada, jangan tinggalin aku ya"


"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu"


nayla menggigit bibir bawahnya, ingin sekali nayla mengatakan semua pada dirinya namun tak bisa, nayla tidak suka dikasihani.


"Love you nayla"


"I Love you to devan"


tanpa nayla sadari bahwa ada devan yang bersembunyi di balik pohon menyaksikan dirinya yang menangis.


♡♡♡♡♡


1000kata💙