
-Hari Senin.
Hari pertama masuk sekolah setelah akhir pekan, hari yang membuat rata-rata remaja malas masuk sekolah, bahkan tidak sedikit untuk membolos.
Rooney juga merupakan bagian dari remaja pemalas seperti itu, setiap hari senin pagi, dia akan berangkat ke sekolah dengan wajah mengantuk dan menguap sepanjang jalan. Tapi beda dengan hari ini.
Rooney berangkat dengan wajah ceria dan semangat, bahkan walau dia masih kurang tidur, raut wajahnya masih terlihat ceria. Tidak henti- hentinya Rooney tersenyum sepanjang jalan, aura positif terasa di sekitarnya.
Penyebab hal ini tidak lain adalah karena kejadian saat hari sabtu lalu. Hari pertama Rooney diajak main keluar oleh teman seumuran untuk melakukan hal menyenangkan, bukan untuk melakukan latihan melelahkan seperti yang Aji lakukan.
"Hmmph... Hmpphh... Hmmpphh... Ehehehe... Suasana pagi ini sangat cerah ternyata."
Rooney bersenandung riang seperti anak kecil, dia masih terus merasa senang walau baru diajak main satu kali.
Sesampainya di kelas, Rooney melihat teman- temannya sedang berkumpul di belakang kelas sambil mengobrol.
Merasa menjadi bagian dari mereka, Rooney berpikir untuk ikut bergabung dalam percakapan.
"Hei... Kalian sedang membicarakan apa?" Sapa Rooney pada mereka.
Namun, bukannya membalas dengan ramah, mereka justru menoleh dengan wajah kesal seolah-olah sudah diganggu oleh orang asing.
Deg
Untuk sekejap Rooney merasa kaget dan takut ketika melihat wajah kesal mereka. Namun dalam sekejap, wajah mereka berubah kembali menjadi wajah dengan ekspresi ramah yang biasa Rooney lihat.
"Owhh... Rooney toh, biasa lah ini, lagi ngobrolin tentang kemarin."
Melihat wajah mereka yang kembali ramah, membuat Rooney merasa lega. Dia berpikir jika mereka salah paham bahwa ada orang asing yang menyapa mereka.
"Tentang film horror itu yah?"
"Ah bukan, itu kan pas sabtu. Kami lagi ngomongin tentang makanan baru yang kami beli pas hari minggu kemarin. Rasanya agak aneh, tapi bikin ketagihan. Iya kan?"
"Hooh, padahal gua mau muntah cuman nyium baunya saja, tapi entah kenapa malah pengen lagi."
"Ahahhaha... Masokis loh!"
Rooney sungguh terkejut, dia tidak menyangka bahwa mereka ternyata pergi bermain lagi pada hari minggu.
"Eummm... Kenapa kalian tidak mengajakku?" Tanya Rooney pelan.
Tatapan mereka berubah menjadi dingin, tapi berubah lagi menjadi hangat. Lalu Farizi menjawab pertanyaan Rooney.
"Ahhh... Lu pasti kecewa karena gak diajak yah? Maaf yah, bukannya gak mau ngajak, tapi ini rencana dadakan si Fadhil nih, iya kan?"
"Ah iya, maaf yah, gua ngajak mereka pas lihat postingan makanan itu di sosmed pas malam minggu."
"Nah, terus karena kami gak punya nomorlu, jadinya kami gak bisa ngajak elu Ron. Maaf yah, tapi kami ini kan gak tahu nomor elu atau rumah elu, jadi yah terpaksa gak ngajak elu."
Rooney baru sadar kalau mereka belum bertukar kontak sama sekali, wajar saja jika mereka tidak bisa menghubungi Rooney selain di sekolah.
Lalu Rooney merogoh tasnya dan mengambil Handphone miliknya, "Oh iya, aku juga baru ingat, kalau begitu tolong simpan nomorku yah."
Rooney membuka Handphone miliknya dan akan menyebutkan nomor Handphonenya. Tapi mereka justru menolaknya bahkan sebelum Rooney menyebutkan satu nomor pun.
"Nanti saja deh Ron, HP gua lagi di tas, males buat ngambilnya nanti."
Tapi Rooney masih belum menyerah untuk memberikan nomornya, "Kalau begitu kutulis saja nomornya di kertas ini yah, nanti kalian tolong simpan dan kirim pesan padaku."
"Ok, santai saja, nanti gua kirim pesan ke elu."
Rooney menulis nomor ponselnya di secarik kertas yang kemudian dia berikan kepada Farizi. Setelah menerimanya, Farizi melanjutkan obrolan dengan santai seolah-olah Rooney tidak ada disana.
Rooney ingin bergabung, tapi bel masuk menghentikan niatnya.
"Hadeh, sudah bel."
"Yok! Bubar! Bubar!"
Mereka ber-empat bubar dan kembali ke bangku masing-masing. Rooney pun dengan enggan duduk kembali di bangkunya.
-Jam Istirahat.
Rooney ingin pergi ke kantin dan membeli nasi karena tadi pagi tidak sempat sarapan, namun ketika dia membuka dompetnya, dia baru sadar uangnya menipis.
Oh iya, kemarin kan Fadhil dan Alen meminjam uangku, belum lagi patungan makanan yang lumayan banyak, pantas saja sisa segini. Terpaksa, sepertinya aku hanya bisa membeli
roti dan susu saja.
Saat hendak ke kantin, kelompok Farizi menyapa Rooney dan mengajaknya makan bersama.
"Oi Ron! Mau ke kantin kan? Ikut dong, kita-kita lagi gak bawa makanan."
Rooney tidak keberatan, bahkan senang jika diajak seperti ini, "Ah iya, ayo kita ke kantin."
"Yoklah!"
Mereka ber-lima pergi ke kantin, Rooney berjalan paling belakang tepat di belakang Fadhil dan Alen. Kemudian Rooney memikirkan uang yang dipinjam oleh mereka. Mereka bilang akan menggantinya di sekolah, tapi sampai sekarang tidak terlihat niat mereka untuk membayarnya.
Ukhhh... Aku ingin menagihnya langsung, tapi rasanya akan canggung jika kutagih langsung. Nanti saja deh, mungkin di kantin mereka berdua akan mengembalikan uangku. Pikir Rooney mencoba positif.
Di kantin, mereka pergi ke salah satu kedai dan melihat-lihat makanan yang ada. Sebenarnya Rooney sudah tahu akan membeli apa, tapi karena yang lain sepertinya masih belum tahu, dia sengaja berpura-pura melihat-lihat agar bisa bersama mereka.
Kemudian Farizi dan Anwar membeli makanan yang mereka inginkan, Rooney pun ikut bergegas membeli roti dan susu.
Namun, Rooney baru menyadari bahwa Fadhil dan Alen tidak membeli apa pun, padahal ketika mereka makan bersama sebelumnya, mereka berdua adalah yang paling banyak makan.
Rooney pun bertanya kepada mereka berdua, "Anu... Kalian berdua kenapa tidak membeli apa pun?"
Fadhil dan Alen menjawab dengan wajah yang terlihat sedih, "Yahhh... Karena kemarin jajan makanan mahal, uang kami habis deh, orang tua gua juga belum ngasih uang lagi, makanya sekarang nggak beli apa-apa dulu."
Mendengarnya, Rooney merasa sedikit prihatin. Dia lupa bahwa keduanya kesusahan karena perilaku sendiri, jadi tidak seharusnya Rooney mengasihi mereka.
Namun, justru Rooney malah membantu mereka lagi, "Eummm... Jika kalian mau, biar aku saja yang bayarkan dulu."
Wajah mereka berdua langsung berseri ketika mendengar tawaran Rooney, "Serius nih? Wanjir, baik banget lu."
"I-Iya, tapi aku hanya bisa membelikan kalian roti saja yah."
"Sudah ditraktir aja gua sudah seneng, makasih yah, gua beli ini deh."
"Makasih yah, kalau begitu gua beli roti ini."
Mereka berdua dengan senang memilih roti yang mereka mau, namun pilihan roti mereka justru membuat Rooney terperanjat.
Roti sosis dan roti daging? Itukan mahal sekali, aku saja biasa beli roti stramberry atau susu saja.
Rooney panik melihat roti yang dipilih oleh mereka berdua, dia tahu kalau uangnya tidak akan cukup jika harus membelikan 2 roti mahal tersebut. Tapi, melihat ekspresi mereka yang terlihat senang, Rooney pun memaksakan dirinya untuk tetap mentraktir mereka.
"Kalau begitu kesinikan dulu, biar aku bayar dulu yah."
"Ok, nih, sekali lagi makasih yah."
Rooney pun membayar roti mereka dan dirinya sendiri, tapi dia menaruh kembali kotak susu yang awalnya ingin dia beli agar uangnya cukup.
Namun ketika Rooney melakukan pembayaran, uangnya masih tidak cukup juga. Tidak mau membuat Fadhil dan Alen kecewa, Rooney akhirnya mengganti roti miliknya yang semula roti susu menjadi roti tawar yang lebih murah. Akhirnya uangnya pun cukup.
Setelah selesai membayar, barulah Rooney merasa sedikit menyesal dan berat hati karena mentraktir mereka.
Padahal aku tadi tidak sempat sarapan, tapi malah berakhir makan roti tawar tanpa minum. Sementara mereka malah kubelikan roti paling mahal disini.
Belum, ditambah fakta bahwa mereka masih belum mengembalikan uang yang mereka pinjam pada hari sabtu, membuat Rooney makin menyesal.
Namun, ketika Rooney menyerahkan roti itu kepada mereka berdua, ekspresi senang dari keduanya membuat Rooney menekan rasa tidak enaknya. Dia mulai berpikir jika seorang teman memang harus membantu meski sedikit menderita.
Tanpa Rooney sadari, pemikirannya itu malah menjerumuskannya pada penderitaan.
...****************...
-Hari Rabu.
Entah sejak kapan, entah dari mana mulanya, yang pasti saat ini, Rooney menjadi terbiasa untuk mentraktir teman-temannya.
Rooney semakin ringan mengeluarkan uang untuk dipinjam oleh mereka dengan diberikan janji-janji manis kalau mereka akan segera menggantinya. Rooney terus percaya pada perkataan mereka hingga lupa bahwa mereka sudah berhutang banyak padanya.
Awalnya hanya uang kecil untuk sekedar membeli makanan atau alat tulis, walau sedikit berat karena ada banyak orang sekaligus yang meminjam padanya, Rooney yang terbiasa hemat masih bisa meminjamkannya, walau harus terpaksa makan roti tawar yang kering selama berhari-hari.
Namun, kejadiannya makin parah, dari yang semula hanya meminjam uang kecil untuk membeli makanan, mulai berubah menjadi untuk membeli barang bagi kepuasan pribadi mereka.
"Eh Ron, lu lihat deh sepatu ini."
Pada layar Handphone yang ditunjukkan oleh Anwar, ada gambar sebuah sepatu mahal yang dijual di marketplace.
"Tapi bagus kan? Pasti baguslah, ini sepatu sudah gua incer dari lama. Tapi duit tabungan gua masih kurang sampai sekarang, padahal stoknya tinggal sedikit nih, sisa 5 lagi."
"Eh? Kalau begitu kau harus cepat-cepat membelinya sebelum habis dong."
"Iya, itu niat gua. Jadi Ron, gua tahu gua masih ada hutang ke elu, tapi boleh nggak, gua minjem lagi ke elu, gua cuman perlu sedikit lagi kok."
"Eh tapi, kan uang untuk beli cake dan jus kemarin saja belum kau bayar."
"Iya... Gua tahu, nanti gua bayar deh nanti. Harusnya minggu depan gua udah ada uang lagi."
"Tapi..." Rooney ingin menolaknya, harga sepatu yang diinginkan Anwar sangat mahal, walau Anwar bilang hanya butuh sedikit lagi, Rooney tahu pasti nominalnya tidak sedikit. Dia ingin mengatakan Kenapa tidak tunggu minggu depan saja saat ada uangnya. Tapi dia tidak berani untuk berkata seperti itu.
Anwar mencoba membujuk Rooney lagi, "Ayolah Ron, nanti gua bayar dah."
"..." Rooney hanya terdiam.
Melihat Rooney yang diam tanpa memberikan jawaban, Anwar memasang ekspresi kecewa, "Haaaahhh... Yasudahlah."
Mendengar hembusan napas Anwar yang terdengar kecewa ditambah melihat wajah Anwar yang kecewa, membuat hati Rooney tergerak entah kenapa.
Dengan ragu-ragu, Rooney bertanya, "Eummm... Memangnya kau butuh berapa lagi?"
"Serius nih? Yah... Nggak banyak lah, kurang lebih sekitar..."
Rooney sudah menduga nominalnya akan besar, tapi dia masih kaget mendengar nominalnya. Walau begitu, dengan berat hati, Rooney menyanggupi.
"Emmmm... Baiklah, besok akan kuberikan uangnya."
"Weh! Mantap! Memang temen terbaik dah lu Ron."
Setiap mendengar ucapan "Teman" dari mereka, Rooney selalu melunak dan memaksa dirinya untuk menekan perasaan tidak enak kepada mereka.
Terpaksa, Rooney pun membuka tabungannya demi mendapat uang yang dibutuhkan oleh Anwar.
Hal ini semakin lama semakin buruk, Rooney tidak juga menyadari hal yang salah dari hubungannya dengan kelompok Farizi.
Rooney mulai merasa lelah, ketika dia melihat uang dalam jumlah banyak yang dia berikan pada Anwar, dia mulai merasa berat karena ini adalah tabungan daruratnya.
Namun, ketika dia menyerahkan uang itu, Anwar tersenyum senang dan memuji Rooney sebagai teman yang baik.
Mendengarnya lagi dan lagi, membuat Rooney berpikir, Sebagai teman, ini adalah hal yang normal kan.
-Hari jumat.
Ketika sepatu Anwar datang, dia langsung memakainya di sekolah dan memamerkannya pada teman-temannya.
Melihat Anwar yang senang, Rooney ikut senang karena merasa berjasa bagi kebahagiaan temannya itu.
Melihat Anwar yang asyik memamerkan dan bercerita banyak tentang sepatunya kepada yang lain, Rooney pun ingin ikut mengobrol.
Rooney mencoba masuk ke dalam obrolan dan mencoba bertanya pertanyaan random kepada Anwar, "Eh, itu merek sepatunya apa?"
Seketika hening, suara berisik yang mengelilingi Anwar hilang. Rooney tidak mengerti apa penyebabnya, karena bahkan Anwar pun berhenti bercerita.
"Tch."
Untuk sekejap, terdengar suara seseorang yang mendecakkan lidahnya, Rooney merasa mendengarnya dengan jelas, tapi dia merasa tidak percaya dari mana asalnya.
Mungkin Rooney salah dengar, atau mungkin tidak, suara itu berasal dari Anwar. Rooney pun kebingungan dengan fakta itu.
Eh? Kenapa? Apa dia kesal? Apa pertanyaanku mengganggunya? Tidak mungkin kan? Kan... Kami itu teman.
Lalu Anwar pun menjawab setelah sempat hening dengan nada yang terkesan dingin, "Merek P**A." Anwar hanya menjawab singkat seolah itu bukan pertanyaan dari orang yang penting. Dan kembali bercerita kepada yang lain.
Rooney merasa aneh, entah kenapa rasanya dia seperti diasingkan padahal mereka selalu berkata bahwa Rooney adalah teman yang sangat baik.
Glek
Rooney merasa takut entah kenapa, di titik ini seharusnya dia sudah sadar akan hal yang salah. Namun, bukannya menghadapinya, Rooney justru malah kabur dari kenyataan yang ada di hadapannya.
"A-Aku ke kantin yah." Rooney izin pamit seolah- olah dia berkewajiban untuk melakukannya.
Saat dia berbalik, secara samar-samar dia mendengar suara, "Sok asik." Disertai suara tawa mengejek.
Namun Rooney menutup telinganya rapat-rapat dan pergi kabur dari kenyataan.
Di perjalanan ke kantin, ada seseorang yang mencegatnya, dia adalah Aji, "Tunggu Rooney, lu mau kemana?"
Rooney namun Rooney sedang tidak ingin berbicara pada Aji sehingga dia melewati Aji seakan Aji adalah hantu tak kasat mata.
Namun, Aji langsung menarik tangan Rooney untuk mencegahnya pergi.
"Tunggu Rooney, ada yang mau gua bicarain."
Rooney cukup terkejut dengan tindakan Aji, tapi dia tidak berniat untuk mendengarkan Aji sehingga dia langsung menarik tangannya untuk lepas dari Aji.
"Ma-Maaf, tapi aku sedang buru-buru." Ucap Rooney memberikan alasan untuk kabur.
Melihat Rooney yang tidak bisa dibujuk, Aji berkata, "Rooney, kamu tahu kan kalau kamu selama ini dimanfaatin oleh mereka?"
Rooney sempat diam mendengar perkataan Aji, tapi dia kembali berjalan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Aji tidak berniat menyerah, dia mengikuti Rooney sambil terus berbicara, "Kamu sudah tahu kan sebenarnya? Farizi, Fadhil, Alen, dan Anwar, mereka itu tidak berniat berteman denganmu."
Tap Tap Tap
"Kumohon sadarlah, mereka cuma memeras uangmu dengan cara halus. Semua ucapan manis mereka bohong."
Tap Tap Tap
"Jangan tertipu terus, mereka selama ini hanya berpura-pura saja, semua ucapan mereka yang mengatasnamakan pertemanan itu hanya omong kosong."
Tap Tap Tap
"Di belakang, mereka itu selalu mengejekmu, tidak satu pun dari ucapan manis mereka itu memang tulus."
Tap Tap Tap
"Kumohon sadarlah!!!" Aji berteriak kasar sambil menarik pundak Rooney.
Wajah Rooney berbalik menghadap Aji, wajahnya terlihat sedih dan kecewa seolah sudah tahu bahwa dia memang hanya dimanfaatkan saja.
Namun, Rooney adalah seseorang yang tidak punya banyak teman, mendapat teman sebanyak ini adalah suatu hal yang baru dan berharga baginya.
Atas dasar itu, Rooney masih menolak fakta bahwa dia hanya dimanfaatkan dan memilih lari dari kenyataan.
"Tahu apa kau? Ka-Kau tidak tahu apa-apa." Ucap Rooney.
Sebelumnya, Aji goyah karena perkataan Rooney yang menyakitinya, tapi kali ini tidak sama lagi. Dia punya alasan untuk bersikeras.
"Tentu saja aku tahu, aku memperhatikan mereka selama ini! Jika kamu tidak percaya, ikut aku! Akan kuperlihatkan-"
"Diam!" Rooney berteriak menyuruh Aji diam.
Aji yang kaget dan syok menjadi terdiam untuk sebentar, tapi kemudian dia malah bertanya, "Sebenarnya... Kenapa kamu membela mereka terus?"
Rooney sempat ragu untuk menjawabnya, tapi dia sudah memutuskan untuk memakai satu tameng yang sama untuk melindungi dirinya, yaitu, "Ka-Karena... Mereka... Itu... Temanku."
Atas dasar pertemanan, Rooney terus menjadikan kata "Teman" Sebagai alasan dari tindakan mereka.
Aji terlihat kecewa mendengarnya, dia merasa tidak dihargai, "Tapi... Aku ini kan temanmu juga. Kenapa kamu tidak mempercayaiku?"
Rooney terguncang mendengarnya, perkataan Aji mendorongnya ke tepi jurang. Penalarannya menjadi kacau hingga sulit untuk menentukan prioritasnya.
Apa yang harus kulakukan? Kenapa jadi begini? Apa? Apa? Apa? Apa? Apa yang harus kulakukan!!!!!!!?????
Rooney menjerit dalam hatinya, dirinya bimbang dengan semua yang ada. Dia tidak bisa menentukan apa yang mau dia pilih.
Sementara Aji terus menunggu jawaban dari Rooney, Rooney kehilangan kemampuannya untuk menilai.
Dalam keadaan kacau seperti itu, hal yang dipilih oleh Rooney hanya satu. Kabur.
Rooney melepas tangan Aji yang memegang pundaknya dan langsung berlari sekencang mungkin.
Tap Tap Tap Tap Tap
Aji berteriak dari belakang untuk memintanya berhenti, "Hei! Rooney! Kamu mau kemana!? Berhenti!"
Rooney mengabaikan semuanya, dia terus berlari dari kenyataan yang ada di hadapannya, melewati lorong-lorong kosong, Rooney kabur ke tempat dimana tidak ada yang akan menemukannya.