
"Uuuhhhh... Aku malu sekali." Keluh Rooney sendirian.
Setelah berpidato dengan hasil yang membuatnya ditertawakan oleh semua murid. Bahkan dia juga sempat melihat ada guru yang tertawa kecil karenanya.
Rooney pun langsung kabur untuk menyembunyikan rasa malunya. Dan tempat yang dia tuju adalah... UKS.
UKS adalah tempat terdekat yang bisa dia capai. Dengan berpura-pura sakit karena panas atau yang lainnya, guru UKS pun mengizinkan Rooney masuk dan tiduran di kasur dengan nyaman. Walau bagian tidak nyamannya adalah, banyak juga anak yang berada di UKS, dari sekedar bolos, atau yang jatuh pingsan kepanasan.
Tapi, setidaknya tidak akan ada yang memperhatikannya, sambil menahan tawa melihat dirinya.
Aku sangat menyesal, harusnya aku pura-pura sakit saja sekalian kalau seperti ini.
Rooney tidak berhenti meratapi penampilan buruknya tadi. Keinginannya untuk bisa lebih dikenal memang tercapai, tapi dia berakhir dikenal dengan cara yang konyol. Yaitu, berpidato seperti hybrid antara anak perempuan baru puber dan orang tua penyakitan.
Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang ke hadapannya.
"Hayo! Ngapain malah tidur disini?"
"Roy? Kok kau bisa tahu aku disini?"
Roy tiba-tiba datang dengan wajah yang kelelahan.
"Gua dari tadi dah nyariin elu, sampai keliling sekolah. Terus pas nanya guru, ada yang bilang elu ke sini."
Kukira dia sudah tahu aku ada di sini.
"Memangnya kenapa kau mencariku? Jangan bilang hanya untuk meledek pidatoku tadi."
"Ya kagaklah! Lu dicariin dari tadi buat ikut lomba."
"Lomba?"
"Masa lu gak tahu? Lu kan dimasukin ke 2 lomba karena kurang orang."
Rooney tidak tahu sama sekali. Dia terlalu berfokus pada namanya yang ada yang dicantumkan sebagai perwakilan pidato. Sampai tidak menyadari, kalau namanya juga terdaftar di beberapa lomba.
Roy langsung menarik paksa Rooney tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut lagi, "Sudah, ikut gua sekarang, lu ikutan lomba bareng gua soalnya."
"Memangnya aku dimasukkan ke lomba apa?" Tanya Rooney sambil mengikuti Roy yang menariknya ke luar UKS.
"Pukul kendi!"
"Apa?"
...****************...
Sekeliling terasa gelap. Rooney tidak bisa melihat apa pun. Tidak, dia tidak menjadi buta karena jatuh saat berlari.
Saat ini, mata Rooney ditutupi oleh sebuah kain hitam yang membuat pandangannya tertutup dan tidak bisa melihat apa pun. Hanya gelap yang bisa dia rasakan.
Di tangannya, Rooney memegang tongkat kayu dengan canggung.
Ini terasa sangat canggung.
Pukul kendi. Itu adalah lomba yang saat ini diikuti (Secara terpaksa) oleh Rooney. Pukul kendi adalah permainan yang biasa diadakan pada beberapa acara, seperti acara kemerdekaan negara atau acara ulang tahun sekolah seperti ini.
Sistem permainan ini adalah, dengan menggunakan 2 orang. Satu orang akan bertindak sebagai pemukul, yang bertugas memukul plastik yang sudah diisi air dan digantung beberapa meter di depan mereka.
Sebelum memukul kantong air tersebut, mereka akan dibuat pusing dengan cara memutar badan mereka agar sulit untuk menentukan arah. Dan orang kedua lah yang bertugas untuk memberikan arahan pada si pemukul, tentang letak kantong air tersebut.
Saat ini, Rooney bertugas menjadi pemukul, sementara Roy bertugas sebagai yang memberikan arahan. Itu adalah keputusan yang mereka ambil setelah melakukan gunting, kertas, dan batu.
Harusnya aku pilih gunting saja, ternyata menjadi pemukul tidak enak.
Rooney tidak suka menjadi pemukul, rasanya sangat canggung ketika matamu ditutup dengan kain hitam hingga tidak bisa melihat apa pun. Tapi, dia terpaksa menerimanya.
Perlombaan pun akan segera dimulai. Melalui aba-aba yang diberikan oleh panitia, Rooney memegang erat tongkat kayu yang diberikan padanya seolah itu adalah benda berharga.
"Satu... Dua..... Tiga! Ayo mulai!" Panitia berteriak untuk memulai perlombaan.
Seketika itu juga, suasana yang awalnya hening, langsung heboh dan berisik oleh suara-suara yang memberikan arahan.
"Ke kiri!"
"Sudah bener itu! Maju terus!"
"Lu salah arah! Puter ke kanan."
"Hati-hati! Lu hampir nabrak!"
Suara semuanya bercampur, membuat Rooney kesulitan untuk mendengar arahan Roy.
Dengan bersusah payah, Rooney mencoba fokus untuk mendengarkan suara Roy.
"Nyerong ke kiri dikit!"
Ini dia!
Rooney mulai mengenali suara Roy, dia segera mengikuti arahan Roy dan menyerong sedikit ke kiri.
"Ayo! Jalan terus Ron!"
Rooney berjalan maju mengikuti arahan Roy, entah sampai mana dia harus terus berjalan.
Bug
"Aduh!"
"Eh maaf."
Rooney menabrak seseorang, entah siapa. Akibatnya dia terjatuh, dan ketika berdiri lagi, dia bingung harus kemana.
Rooney mencoba kembali fokus untuk mendengar suara Roy. Tapi, suara di sekitar semakin ramai setelah ada yang mencapai tempat kantong air digantung.
Sumber suara bukan lagi dari peserta, tapi dari penonton yang berteriak heboh.
"Pukul!!!! Pukul!!!"
"Dikit lagi! Ke kanan dikit!"
"Ayo Dul! Dikit lagi kena itu!"
"Pecah!!! Kita menang!"
Aku tidak bisa mendengar suara Roy.
Rooney berputar kebingungan. Suara Roy bercampur sempurna dengan suara penonton yang menyoraki temannya.
"Euuu... Euuu..."
Bingung karena tidak bisa mendengar suara Roy, Rooney berjalan asal mengikuti instingnya. Bingung dan tidak tahu harus mengikuti apa, Rooney pun berhenti di satu titik. Bingung tentang apa lagi yang harus dia lakukan, Rooney memaksa dirinya, untuk menganggap bahwa dia sudah berada di posisi yang benar.
Aaahhhh... Sudahlah, aku bertaruh saja sekarang. Semoga benar disini.
Benang kesabaran Rooney sudah putus. Dengan brutal, Rooney mengayunkan tongkatnya ke sembarang arah, berharap ada kantong air di hadapannya yang akan pecah setelah dia pukul.
Lambat laun, suara di sekitar mulai mereda, bersamaan dengab terdengarnya suara kantong air yang pecah serta percikan air yang jatuh ke tanah. Namun, suara air yang tumpah bukan berasal dari depannya. Tapi, dari belakangnya.
Barulah saat ini Rooney bisa kembali mendengar suara Roy, "Ron! Lu kebalik! Targetnya di belakang lu!"
Tapi sayangnya, waktu sudah habis.
Priiittt...
Peluit berbunyi, mengakhiri lomba ini. Rooney segera membuka penutup matanya, dan melihat bahwa dia malah memukul udara kosong. Tempat kantong air itu digantung ada jauh belakangnya. Jadi, selama ini, dia hanya sendirian memukul udara kosong. Sementara peserta lain berhasil memukul kantong airnya hingga hancur.
Kacau... Aku kalah, dan yang lebih memalukannya, aku malah memukul udara kosong sendirian disini.
Akibat dari tingkah konyolnya itu, banyak penonton yang tertawa terbahak-bahak. Rooney baru sadar setelah membuka penutup matanya, banyak yang melihat dirinya sambil tertawa.
"Wakakakak... Malah mukul angin."
"Kalau gua, pasti malu tuh."
"Mabok dia pasti."
Puk
Malunya...
Rooney menutupi wajahnya dengan tangannya, untuk menutupi wajahnya yang memerah karena rasa malu.
Dengan pelan-pelan, Rooney meninggalkan lapangan, dan menuju tempat Roy menunggu.
"Lu kenapa gak dengerin petunjuk gua tadi?" Roy langsung bertanya ketika Rooney datang.
"Maaf maaf, tadi berisik sekali, aku tidak bisa mendengar suaramu."
"Yahhh... Jadi kalah deh kelas kita."
"Maaf banget Roy, aku baru pertama kali ikut lomba seperti ini."
"Yaaa... Tapi, aku kan sudah diberi kepercayaan oleh anak kelas."
"Yaelah... Santai saja kali Ron, lagian yah, lu dimasukin ke lomba ini soalnya pada gak mau ikutan. Gak usah terlalu serius kayak si Aji."
"Tapi kan..."
"Ssssttt..." Roy langsung menutup mulut Rooney sebelum Rooney lanjut berbicara, "Sudah gak usah dipikirin lagi, kalau sudah kalah yah mau gimana lagi. Dan gak usah galau lagi lah Ron, gua malas lihat lu galau terus kayak waktu itu."
Rooney dipaksa menurut, dia pun memutuskan untuk tidak memikirkan kegagalannya lagi, "Baiklah, memang benar sih. Meski terus dipikirkan pun, aku tidak akan dapat apa-apa lagi."
"Nah gitu dong. Oh iya, habis ini mau kemana lagi? Lu sudah selesai semua lombanya."
"Entahlah, mungkin aku akan langsung pulang."
"Yaelah, masa pulang. Momen kayak gini tuh harusnya lu seneng-seneng, jangan langsung pulang. Kalau gak ada kegiatan lagi. Mending nontonin gua lomba saja."
"Memangnya kau ikut lomba apa lagi?"
"Sepak bola."
"Eh? Memangnya kau bisa bermain sepak bola? Bukannya kau lebih suka bermain bola basket?"
"Bisalah! Gua memang lebih suka basket, tapi gua juga jago main sepak bola dari kecil. Sudahlah, gak usah banyak omong, langsung ikut gua saja."
"Eh, tapi... Woy tunggu!"
Tanpa menunggu persetujuan, Rooney segera ditarik oleh Roy menuju lapangan sepak bola.
...****************...
"Umpan dari Rafiq kepada Rafin, Rafin menggiring bola. Melewati satu! dua! tiga! Dia melewati tiga pemain saudara-saudara."
"Ayoooo!!! Kelas XI MIPA 4 pasti menang!"
"Semangat anak kelas X IPS 1!!!"
Sorak sorai dari komentator dan para penonton, sangat nyaring terdengar. Semuanya tidak mau kalah untuk menyemangati anak-anak kelasnya yang sedang bertanding. Dan disinilah, Rooney terjebak di antara kerumunan penonton yang heboh, sambil kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan.
Apa aku harus ikut menyemangati?
Rooney berpikir untuk berteriak menyemangati Roy yang sedang bermain. Tapi, dia mengurungkan niatnya karena tidak percaya diri dengan suaranya. Rooney pun memutuskan untuk sekedar menikmati pertandingan saja.
Saat ini, kelas Rooney sedang berada di posisi yang buruk. Skor saat ini adalah 3-2, kelas Rooney tertinggal 1 gol, sementara waktu hanya tersisa 9 menit lagi.
"...Aaahhh... Rafin membawa bola dengan sangat indah bung, ah! Dia mengopernya! Bola melambung ke Akbar yang ada di kotak penalty!"
Gawat, kami bisa kebobolan lagi.
Akbar selaku penyerang lawan, bersiap menerima umpan dari temannya, dia lah yang sudah membobol gawang kelas Rooney sebanyak 3 kali, dan sepertinya masih belum puas.
Namun, tepat sebelum bola menyentuh kaki Akbar, seseorang datang dan langsung merebut bolanya.
"Farizi!!! Dia merebut bolanya!"
Farizi yang datang dengan heroik, langsung merebut bola dan segera mengoper kepada teman terdekat.
Alen, dia menerima bola dari Farizi. Lawan segera mengerumuninya untuk kembali merebut bola. Dengan tenang, Alen menendang bola ke arah lawan yang mendatanginya.
Bola yang datang tiba-tiba, membuat lawan tidak siap menerimanya. Sehingga, bola itu dengan mulus melewati celah di antara kedua kakinya. Alen kemudian berlari melewati lawan di hadapannya yang masih kebingungan, mengejar bola yang dia tendang.
Bola yang menggelinding tanpa ada yang menjaganya, mengundang lawan untuk segera merebutnya. Namun, sebelum bola itu sempat di ambil oleh lawan, Alen lebih dulu menyentuh bola dengan satu kakinya, dan dengan lincah, dia mengubah lintasan bola, meliuk seperti ular yang licin.
Lawan gagal mendapat bola, kakinya mendarat di tanah kosong dengan keras dan membuatnya kehilangan keseimbangan hingga hampir jatuh. Alen dengan cepat membawa bola melewati lawannya lagi.
"Ow! Alen dengan gesit melewati 2 lawan dengan sangat cepat! Apakah kelas X IPS 1 akan membalik keadaan."
Wahhh... Alen hebat sekali, tapi kenapa saat menit awal dia tidak bisa seperti ini?
Alen langsung mendribble bola dengan cepat melalui sisi kanan. Lawan kesusahan mengejarnya.
Di ujung lapangan, Alen langsung memberikan umpan lambung yang tinggi. Bola melambung melewati kepala lawan, masuk ke kotak penalty, dan...
Bug
"Gooolll!!!" Komentator langsung berteriak heboh, "Gol tambahan dari Roy! Dengan sundulan yang indah, dia memasukkan bola ke dalam gawang!"
"Kyaaaaa..."
"Uwooooo...!!!!"
"Aaaaaahhhh..."
Roy berhasil mencetak gol tambahan untuk menyamakan kedudukan, skor berubah menjadi 3-3.
"Mantap Roy!"
"Uwoooo!!! Lihat nih!"
Roy berteriak heboh setelah mencetak gol pertamanya. Para penonton dari kelas X IPS 1 tidak kalah hebohnya. Sementara suara kekecewaan terdengar dari penonton lawan.
"Keren. Hanya tinggal mencetak satu angka, kami akan menang."
Setelah kehebohan tadi, pertandingan kembali dilanjutkan.
Lawan segera menyerang untuk merebut angka dalam waktu yang tersisa sedikit lagi.
Namun, karena terlalu buru-buru, bola berhasil terebut oleh Anwar. Anwar kemudian mengoper pada Fadhil. Ketika Fadhil menerima bola, para pemain penyerang langsung maju. Saat itu juga, Fadhil langsung menendang dengan kencang ke depan.
Bola melambung tinggi, terlihat seperti akan keluar dari lapangan. Namun, bola itu dengan mulus mendarat tepat di depan Alen.
Alen segera membawa bola itu maju ke area lawan, saat dia masuk ke kotak penalty, Alen langsung menendang bolanya. Semua menahan napas menunggu hasil. Namun sayangnya, bola ditahan oleh kiper dan terpental keluar.
"Aaahhh... Sayang sekali pemirsa, bola gagal masuk. Dan sekarang akan dilakukan corner kick. Corner Kick kali ini akan menjadi kesempatan terakhir bagi kedua tim."
Anwar bersiap menendang Corner Kick, kedua tim tampak tegang akan hal yang mungkin terjadi ke depannya.
Bug
Bola di tendang dengan keras, bola itu melambung ke atas kepala para pemain, baik lawan mau pun kawan. Hingga sampai ke kepala Roy yang merupakan pemain tertinggi.
Kena!
Kelas Rooney hampir bersiap untuk merayakan kemenangan ketika bola disundul masuk ke dalam gawang.
Namun, kiper lawan maju dan memukul bola yang telah disundul oleh Roy. Bola pun terpental jauh. Beruntung, salah satu pemain dari kelas Rooney, berhasil mengamankan bola.
Waktu hanya tersisa 2 menit lagi, hanya waktu yang singkat. Jika tim Roy gagal mencetak bola, mereka akan terkena serangan balasan yang berpotensi kebobolan. Namun, jika mereka berhasil mencetak gol, peluang mereka menang akan naik.
Pemain dari tim Roy, mengoper bolanya kepada Roy, kemudian Roy menggiring bola ke depan. Pemain lawan dengan sigap menghadangnya, merasa tidak bisa menerobos, Roy langsung mengoper bola pada Alen.
Alen berusaha tenang agar tidak kehilangan bola, dia dengan lincah menggiring bola melewati beberapa pemain hingga masuk ke kotak penalty.
Peluang Alen untuk menembak sangat besar, tapi belajar dari kegagalannya, Alen memutuskan untuk tidak menembaknya. Dia tetap menahan bola hingga melihat Roy yang berlari melewati para pemain yang tidak melihatnya. Saat itu pula, Alen mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Apakah Alen akan melakukan Shoot? Oh! Dia berputar, oh tidak! Dia terpeleset. Oooohhhh... Bukan! Dia mengumpan! Dan disana ada..."
Seseorang datang, melewati para pemain lawan yang terlalu memperhatikan Alen. Dia datang dengan diam-diam, mengambil bola yang diumpan oleh Alen, Dan...
Bug
"Goooolll!!!! Roooyyyy! Dia mencetak gol penentuan!"
"Uwooooohhhhh...."
Semua murid kelas Rooney berteriak kegirangan setelah Roy mencetak gol yang membalikkan skor menjadi 3-4.
Roy langsung berlari dengan heboh dan berteriak heboh setelah menang. Sementara lawannya, tersungkur lemas.
Mereka begitu senang bukan karena menang saja, tapi karena mereka berhasil menang melawan kelas XI MIPA 4 yang diisi oleh anak-anak berbakat yang mendominasi berbagai pertandingan semester sebelumnya.
Dengan skor ini dan waktu yang sudah menipis, kelas XI MIPA 4 kehilangan motivasi dan gagal mencetak gol tambahan. Kelas Rooney berhasil maju ke babak berikutnya.
Seusai pertandingan, Roy langsung mendatangi Rooney.
"Gimana? Gua keren kan? Gol terakhir tadi bener-bener keren banget cuy. Gua sendiri gak nyangka bisa kepikiran buat nerobos pas lawan terlalu sibuk ngelihatin Alen yang lincah."
"Keren, apalagi kalian menang melawan kelas XI MIPA 4 yang semester kemarin berhasil juara 1 pas Class Meeting."
"Iya kan!? Gua sendiri gak nyangka banget. Tapi kok lu pendiem banget sih? Kenapa gak teriak-teriak pas gua nyetak gol tadi?"
"Euummm... Aku bingung sih harus bereaksi apa, soalnya ini pertama kali aku menonton pertandingan ini."
"Lah? Semester kemarin kemana?"
"Owh itu, waktu itu aku terlalu malu untuk ikut nonton, jadi aku sembunyi di UKS dan Toilet sampai pulang. Lalu aku tahu juaranya dari pengumuman mading. Sekarang aku ikut nonton hanya karena diajak kau saja Roy."
"Oooohhh... Eummm... Mau nonton pertandingan gua yang berikutnya?"
"Boleh."